
Setelah menenangkan Rio, Dilla membawa Rio dan Reza ke ruang tamu. Dilla ingin segera menemui majikannya. Rio berada dalam gendongan Dilla sedangkan Reza mengikutinya dari belakang.
"Tuan Muda Reza di sini dulu ya, jagain adik Rio sebentar ya. Mbak Dilla mau menemui Nenek kalian dulu. Tadi Nenek kalian bilang bahwa Mbak Dilla harus ke ruang kerjanya," ujar Dilla.
"Hem."
Dilla menduduki Rio di atas karpet yang tersedia di depan TV. Reza tanpa disuruh langsung duduk di samping Rio.
Ya iyalah, dia yang punya rumah terserah mau duduk dimana.
"Tuan Muda Rio di sini dulu ya, main sama Abang Reza. Mbak Dilla mau bertemu Nenek Rita sebentar," pamit Dilla.
Rio yang melihat gerakan Dilla yang ingin meninggalkannya langsung menggelengkan kepala. Rio juga menarik lengan baju yang digunakan Dilla agar Dilla tidak pergi jauh dari Rio.
"Sebentar aja kok Mbak Dilla pergi. Tuh di ruang sana," tunjuk Dilla ke arah yang ingin di tuju dengan tangan yang tidak dipegang oleh Rio.
"Tuan Muda Rio main aja dulu di sini dengan Abang Reza ya," ucap Dilla sekali lagi.
Dilla mengusap-usap kepala Rio.
Merasa Dilla tidak akan pergi jauh, Rio melepaskan tarikannya pada lengan baju Dilla.
Setelah melepaskan lengan baju Dilla, Rio bermain dengan Reza. Mainan telah Dilla siapkan dari tadi agar Rio dan Reza betah bermain di sana. Melihat Rio dan Reza yang mulai sibuk bermain Dilla segera pergi ke dapur terlebih dulu buat menitipkan anak majikan kepada bi Imah.
"Bi Imah, Dilla titip Tuan Muda dulu ya. Dilla dipanggil sama Nyonya Rita ke ruang kerjanya. Tuan Muda keduannya ada di ruang tamu," beritahu Dilla.
"Iya Dilla, kamu lebih baik sekarang bertemu sama Nyonya Rita aja dulu. Biar Tuan Muda Bibi yang jaga. Lagian Bibi sudah tidak ada kerjaan sekarang," ujar Bi Imah.
"Terima kasih Bi, tapi kira kira apa ya yang ingin Nyonya bicarakan sama Dilla. Dilla jadi agak takut Bi."
"Memangnya kamu ada berbuat salah?" tanya bi Imah.
Dilla menggelengkan kepalanya petanda tidak melakukan kesalahan.
"Ada melanggar peraturan yang ada disini?" tanya bi Imah lagi.
Bi Imah melipatkan tangan di depan perut, karena tidak mungkin meletakkan di depan dada. Secara Bi Imah orangnya gendut dan buncit, maklum anak sudah ada tiga.
"Dilla tidak merasa ada berbuat salah kok, sueer deh Bi," kata Dilla yakin dengan menggangkat tangan dan memperlihatkan telunjuk dan jari tengahnya sedangkan jari yang lain di lipat.
"Kalau yakin tidak ada salah, sana segera jumpai Nyonya. Pasti Nyonya tidak akan mecat kamu kek Sinta. Kalau Sinta mah wajar dipecat, lah anaknya kurang ajar begitu. Masak Tuan Muda Rio main di cubit aja, memang Tuan Muda Rio itu kue cubit apa. Neneknya aja tidak pernah nyakitin dia. Siapa dia yang orang luar berani cubit Tuan Muda Rio," sewot bi Imah.
"Iya Bi Imah, sekali lagi terima kasih ya Bi Imah."
"Iya sama-sama. Sana pergi, kasian Nyonya lama menunggu kamu dari tadi. Bibi sudah siapkan teh dari tadi untuk Nyonya."
Ketika Dilla mau ke ruangan Rita, Sinta lewat dengan koper dan barang-barang bawaan dia lainnya.
"Ngapain kamu masih di sini, sana pergi! kamu sudah tidak di butuhkan lagi di sini. Kamu memang orang yang tidak berperasaan. Anak kecil yang tidak bersalah aja kamu cubit sampai memerah. Jika saja Bi Imah ada di posisi Nyonya Rita, maka Bi Imah akan jambak rambut kamu sampai botak tau tidak," kata bi Imah mengeluarkan unek-uneknya.
"Kenapa situ yang sewot," balas Sinta santai.
"Kamu ini ya, tidak tau terima kasih sedikit pun."
"Ngapain aku harus berterima kasih sama Nenek peot kek kamu. Tidak ada untungnya juga tau," balas Sinta dengan mulut pedasnya.
"Kamu itu...," bi Imah masih ingin melabrak stinta tapi dihentikan sama Dilla.
"Bi udah, tidak baik berdebat begitu," Dilla menengahi mereka berdua.
"Tapi Dilla, Bi Imah masih kesal."
"Tahan Bi."
"Kamu jangan sok suci deh. Gadis kampungan kayak kamu bisa apa," ujar Sinta meremehkan.
"Tanpa kalian suruh pun aku juga mau pergi. Ngapain lama-lama aku di sini. Cuma buang-buang waktu tau tidak."
Setelah berkata begitu Sinta langsung pergi dari sana.
"Baru kali ini Bi Imah lihat orang paling nyolot kek gitu. Sudah salah tidak mau ngaku lagi, habis tu pura-pura tidak berbuat salah," ucap bi Imah masih kesal.
"Sabar Bi, Bi Imah jangan ikut emosi juga. Nanti Bi Imah bisa jatuh sakit."
"Iya Dilla, terima kasih ya sudah mengingatkan Bibi. Kalau tidak, mungkin Bibi sudah memukul dia pakai wajan penggorengan."
"Iya sama sama Bi. Dilla sekarang pamit ke ruangan Nyonya dulu ya, sudah dari tadi di tungguin."
"Iya Dilla, ini tehnya jangan lupa di bawa."
"Baik Bi."
***
Dilla menenangkan hatinya dulu sebelum menemui Nyonya Rita. Dilla yang merasa hatinya mulai tenang segera ke ruangan kerja Rita. Dilla yang kini berada di depan ruang kerja Rita mengetukkan pintu.
"Permisi Nyonya, ini saya Dilla."
"Iya masuk aja Dilla."
Dilla masuki keruangan kerja Rita dan tidak lupa menutup pintunya kembali. Dilla menghampiri Rita yang ada di sofa dekat sudut ruangan.
"Silahkan duduk Dilla."
"Terima kasih Nyonya," jawab Dilla.
Walaupun agak canggung Dilla segera menduduki diri di atas sofa.
Dilla dapat mengetahui dari raut wajah majikannya, beliau menyimpan banyak beban.
"Dilla kamu sudah tau kan, saya tadi telah memecat babysitter Reza dan Rio," Rita mulai pembicaraan.
"Iya Nyonya," jawab Dilla seadanya.
"Menurut kamu bagaimana tentang cucu saya. Rio dan Reza," tanya Rita basa basi.
"Mereka anak-anak yang lucu Nyonya."
"Dilla saya ingin kamu berkata jujur tentang mereka berdua," kata Rita sekali lagi.
"Maaf Nyonya, maksud Nyonya bagaimana ya?" tanya Dilla yang tidak mengerti dengan arah pertanyaan Rita.
"Maksud saya, saya ingin kamu membandingkan mereka dengan anak seusianya."
"Maaf Nyonya, bukankah tidak baik jika kita membanding-bandingkan mereka. Setiap anak pasti memiliki sifat yang berbeda-beda."
"Iya saya tau, saya hanya ingin mendengar pendapat kamu saja dengan jujur."
Kini Dilla melihat raut wajah putus asa pada wajah Rita.
"Maaf Nyonya, menurut saya mereka terlalu cepat dewasa diusianya sekarang. Seharusnya Tuan Muda Reza masih suka bermanja-manja, bukan bersikap dewasa seperti sekarang. Dan untuk Tuan Muda Rio juga, seharusnya Tuan Muda Rio sudah mulai bisa berbicara diumur nya yang sekarang. Maaf Nyonya jika saya lancang."
"Iya tidak apa-apa. Kadi menurut kamu mereka begitu ya."
"Iya Nyonya," jawab Dilla tidak enak.
Bersambung....