
Setelah foto bersama mereka memutuskan untuk makan siang, sudah saat ya untuk makan siang. Mereka memilih tempat yang rindang untuk makan siang.
Dilla sudah mulai menyiapkan bekal yang sudah disiap mkan sama Bi Imah. Tapi trio R malah ingin memakan makanan yang lain. Mereka bilang bosan sama makanan rumah terus. Dilla hanya menghela nafas. Kalau begini hanya ada satu pilihan Dilla.
"Jadi kalian tidak ingin makan makanan yang sudah capek capek Mommy bawa, padahal Mommy selalu menjaga makanan ini agar tidak rusak," ucap Dilla pura pura kecewa dan sedih.
"Kami mau kok makannya, Mommy jangan sedih ya," ujar Reza ikutan sedih.
"Iya Mommy, kami mau makan bekalnya," sambung Rafa.
"Liyo uga mau matan, tapi... tapi matan cama tu ya Omy," tawar Rio sambil menunjukkan ke penjual ikan bakar yang ada di dekat mereka.
Memang ikan itu sangat menggoda sekali, apalagi baunya yang sangat harum membuat siapapun yang menciumnya jadi lapar.
"Iya Mommy, Rafa juga mau makan ikan bakar itu, kita makan bekalnya pakai ikan bakar ya ya," minta Rafa.
"Apa Reza juga mau makan ikan bakar?" tanya Ryan.
"Iya La, Reza juga mau, jadi boleh minta ikan bakarnya Pa," jawab Reza.
"Ya sudah Mommy, kita makan bekalnya sama ikan bakar saja," putus Ryan.
"Papa ini terlalu memanjakan anak anak," kata Dilla mendumel tapi menurut.
Dilla segera membungkus kembali bekal makan siang tersebut. Dilla mengandeng Rio menuju tempat jual ikan bakar. Tidak mungkin lagi jika Dilla membujuk mereka hanya makan bekal makan sianhy saja jika sang Papa sudah menyetujui keinginan mereka yang lebih mengiurkan.
Mereka segera memilih tempat duduk yang paling strategis. Setelah pesanan ikan bakar sampai, mereka segera menyantap makan siang dengan lahap. Mereka bertiga sambil makan masih saja bercerita yang sekali kali di sahut sama Ryan. Dilla sudah menegurnya tapi sang Papa semakin m ikut ikutan. Dilla hanya menghela nafas lagi. Dilla sudah seperti Ibu Ibu yang menasehati 4 orang anak, four R. Dilla tetap melanjutkan makannya dengan tenang.
Setelah siap makan siang mereka memilih duduk dulu di sana, tapi beda halnya dengan trio R, mereka langsung minta main lagi setelah 10 menit siap makan. Dilla dan Ryan padahal masih ingin duduk.
Akhirnya Dilla menyarankan agar mereka bermain rumah yang terbuat dari balon saja, karena mereka bisa mengawasi trio R dari tempat duduk tadi. Dilla juga memperingati mereka agar menjaga Rio serta bermain dengan baik, jangan sampai ada yang terluka
Trio R segera berlari ke arah rumah balon setelah Ryan memberikan tiket kepada mereka. Mereka segera loncat sana sini tanpa berhenti sama seperti anak anak yang lainnya begitu naik ke rumah itu.
"Dilla terima kasih ya untuk hari ini, saya sangat senang melihat anak anak saya bisa ketawa seperti sekarang ini, bahkan saya tidak pernah membayangkan hal seindah ini terjadi," kata Ryan tersenyum sambil melihat anak anaknya yang sedang bermain tanpa menoleh kerah Dilla sedikit pun.
'Ya ampun, Tuan Ryan kalau tersenyum sangat tampan sekali.'
Dilla yang melihat senyuman Tuannya jadi tersipu sendiri. Hati Dilla juga berdetak lebih kencang. Dilla segera menenengkan diri agar Tuannya tidak mendengar suara jantung serta mukanya yang mulai memerah.
'Aduh jantung, jangan berdetak kencang begini dong, nanti tummTuan bisa dengar, lagian mana pantas kamu suka sama orang seperti Tuan, Tuan itu orang yang tidak mungkin kamu raih'
"Dilla kamu tidak apa apa?" tanya Ryan.
Ryan merasa cemas melihat sikap Dilla seperti orang lagi sakit, muka Dilla seperti orang yang lagi demam.
"Atau kamu sudah capek, apa lebih baik kita pulang saja, tidak usah lanjut bermain" ujar Ryan.
"Dilla baik baik aja Tuan, Dilla tidak capek kok, sayang kalau kita harus pulang cepat, Tuankan sudah janji sama anak anak kalau kita akan pulang sampai malam," sahut Dilla.
"Kamu ini sangat perhatian sekali sama anak anak saya. Beneor seperti yang dikatakan Sultan, siapapun yang akan menjadi suamimu nanti, dia pasti laki laki yang sangat beruntung. Anak yang bukan anak kandung kamu saja bisa kamu rawat dengan baik, apalagi anak anak kalian nanti," kata Ryan tiba tiba.
Dilla yang mendengarnya merasa senang.
"Tuan bisa aja memujinya, saya ini hanya seorang Babysitter Tuan, jadi wajar jika saya merawat mereka dengan baik, kalau tidak nanti saya bisa dipecat Tuan," sanggah Dilla.
Dilla tersipu mendengar pujian Ryan. Menurut Dilla, Tuannya terlalu berlebihan.
"Saya bukan memuji kamu, tapi ini adalah kenyataannya, kamu memang calon Ibu yang sangat baik," tambah Ryan.
Dilla merasa tiba tiba mukanya semakin memanas, Dilla menundukkan pandangannya agar Ryan tidak melihat dia yang sudah sangat malu. Padahal Ryan sudah dari tadi melihat wajah Dilla yang tersipu.
'Ya ampun Tuan, jika Tuan terus memuji Dilla seperti ini bisa gawat, bisa copot jantung Dilla. Jantung ayo tenang, dia adalah Tuan kamu.'
Dilla berkomat kamit menghafalkan bahwa yang di depan adalah Tuannya, bukan orang yang pantas untuk dia sukai apalagi mencintai Tuannya. Dilla menyakinkan diri kalau dia hanya kagum pada Tuannya.
'Anak ini sungguh polos sekali, baru di puji sedikit saja sudah tersipu, aku goda sedikit lagi ah,' Ryan tersenyum evil.
"Atau kamu mau jadi Ibu dari anak anakku," kata Ryan sok serius, padahal dalam hati ingin tertawa.
Ryan merasa senang bisa membuat Dilla jadi tersipu. Seakan akan dia seumuran dengan Dilla.
"Tuan...," seru Dilla.
Dilla masih sadar dia sedang berada di mana saat ini.l, sehingga tidak mungkin dia berkata keras. Muka Dilla sudah seperti kepiting rebus.
"Iya iya, aku akan berhenti menggoda kamu, kamu ini baru aku aja yang goda sudah tersipu begitu, apa lagi nanti di goda sama pacar kamu," ujar Ryan sambil geleng kepala.
"Padahal aku ini sudah tua, sudah jadi Om Om, ternyata masih bisa juga membuat gadis muda sepertimu tersipu, apa cowok jaman sekarang sudah tidak pandai merayu lagi ya," tambah Ryan.
"Tuan mau bercanda jangan begitu dong, ini sangat keterlaluan," kata Dilla menutupi wajahnya yang memerah.
"Ah... atau ini pertama kali ini dirayu, sama Om om lagi," sahut Ryan.
Dilla segera segera mencubit Ryan kesal, ia tau ini tidak sopan, tapi Tuanya sudah sangat keterlaluan. Bener seperti kata Tuannya, belum ada yang pernah menggodanya, sehingga Dilla jadi mudah termakan rayuan gombal, apalagi rayuan buaya macam Tuannya ini.
Ryan menghentikan rayuannya setelah melihat Dilla yang sudah mulai kesal.
Bersambung....