Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 112. Cemas



Setelah membersihkan noda teh dari pakaian yang dipakai Rita, Rita segera kembali ke kamar Rio. Tetapi Rita tidak melihat satupun cucu-cucunya. Rita berkeliling mencari mereka bertiga.


"Rio, Reza, Rafa dimana kalian," panggil Rita. 


Rita kembali mencari mereka ke seluruh ruangan dan sekitar balkon. Rita mulai khawatir karena tidak menemukan mereka bertiga. Beberapa saat kemudian Jelita datang dengan membawa beberapa es krim.


"Ada apa Tante? apa yang Tante cari?" tanya Jelita yang melihat Rita sedang mencari trio R.


"Jelita apakah kamu melihat Rio, Reza dan Rafa, tadi Tante pamit ke toilet sebentar karena Reza tidak sengaja menumpahkan teh yang ada di atas meja. Saat Tante keluar dari kamar mandi mereka sudah tidak ada," ujar Rita.


"Kenapa bisa begitu Tante, pasti mereka membawa kabur Rio. Mereka pasti ingin mencari Dilla. Dan Jelita yakin jika Reza sengaja menumpahkan teh biar Tante meninggalkan mereka. Apalagi tadi Rafa juga minta es krim biar Jelita juga pergi," kata Jelita yakin.


"Kita sekarang mencari mereka bertiga di sekitar rumah sakit, siapa tau mereka masih di sekitar sini," usul Rita.


Mereka berdua mencari ke seluruh sudut rumah sakit sampai halaman luar rumah sakit. Mereka tetap tidak menemukan mereka bertiga. 


"Bagaimana jika kita tidak menemukan mereka? Bagaimana ini Jelita, padahal kami Rio masih sakit," tanya Rita khawatir.


"Bagaimana kalau kita tanya sama Satpam saja. Siapa tau mereka melihat Rio, Reza dan Rafa," usul Jelita.


"Ayo kita tanyakan sama mereka," jawab Rita cepat.


Jelita dan Rita mendekati Satpam yang berada di gerbang pintu rumah sakit. 


"Permisi Pak," Panggil Rita.


"Iya, apa ada yang bisa kami bantu?" sahut Satpam. 


"Pak, apa Bapak ada melihat tiga anak kecil lewat di sini. Anak kecil yang dua umurnya 7 tahun dan satu lagi umur 3 tahun." 


"Sepertinya saya memang melihat mereka bertiga, anak kecil itu tadi keluar dengan buru-buru." 


"Itu pasti Rio, Reza dan Dafa. Aduh bagaimana ini Jelita."


"Tenang Tante, sekarang kita hubungi Ryan dan Dafa terlebih dahulu," ujar Jelita.


Mreka segera kembali ke dalam rumah sakit. Mereka ingin mengambil HP dan menghubungi Dafa dan juga Ryan, mereka tadi tidak membawa barang apapun.


***


"Hallo Ryan."


"Iya Ma, ada apa," tanya Ryan dibalik telepon.


"Ryan, apakah kamu bisa ke rumah sakit sekarang. Sekalian saja Dafa juga kamu ajak ke rumah sakit," suruh Rita.


"Ada apa Ma, kenapa kami harus segera ke rumah sakit? sebentar lagi kami juga akan pulang," jawab Ryan.


Rita melirik Jelita. 


"Biar Jelita saja Tante yang berbicara," ujar Jelita.


Rita menyerahkan telepon kepada Jelita. 


"Begini Ryan, Rio, Reza dan Rafa mereka bertiga kabur dari rumah sakit."


"Bagaimana mereka bisa kabur?" tanya Ryan.


"Tadi Rafa menyuruhku untuk membeli es krim. Sedangkan Reza menumpahkan teh ke Tante, sehingga Tante harus ke toilet. Saat kami tidak ada mereka langsung pergi Ryan." 


Ryan segera mematikan telepon.


"Bagaimana Jelita?" tanya Rita.


"Ryan langsung mematikan teleponnya Tante, sepertinya Ryan akan segera kemari," jawab Jelita.


Beberapa puluh menit kemudian Ryan dan Dafa tiba di rumah sakit.


"Ma, apa yang sebenarnya terjadi? kenapa mereka bertiga bisa kabur dari rumah sakit?" tanya Ryan.


"Mama juga dia tahu Ryan, mungkin mereka bertiga pergi mencari Dilla,"ujar Rita.


"Tapi bagaimana mereka mencari Dilla jika kita saja tidak tahu dimana rumah dia?" tanya Dafa. 


"Mungkin kita memang tidak tau, tapi siapa tau saja mereka pernah menceritakan di mana rumah Dilla," jawab Jelita.


Mereka mengganggukan kepala membenarkan perkataan Jelita. 


"Karena mereka bertiga sangat dekat dengan Dilla, bisa saja Dilla pernah mengatakan dimana rumahnya," sahut Rita.


"Sekarang biar aku telepon kembali Dilla, siapa tau HP nya sudah aktif kembali," ujar Jelita. 


Jelita kembali menghubungi Dilla, tetapi nomor Dilla masih saja tidak aktif.


"Bagaimana ini, nomor Dilla masih tidak aktif Tante," kata Jelita.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan. Mereka bertiga masih sangat kecil. Mama sangat takut jika suatu terjadi sama mereka. Apa yang bisa mereka lakukan," ujar Rita menangis.


"Mama tenang dulu, kita pasti bisa menemukan mereka bertiga," kata Aditya menenangkan.


"Tante, mereka memang masih kecil, tapi Tante jangan lupa jika mereka anak yang pintar. Mereka pasti sudah merencanakan semua ini dengan baik," sahut Jelita.


"Bagaimana kalau kita lapor ke polisi saja," usul Ryan.


"Bagaimana kita melaporkannya? biasanya mereka tidak akan mau mencari sebelum 24 jam," sahut Dafa.


"Kita tidak bisa menunggu selama 24 jam, karena mereka masih sangat kecil," kata Ryan tidak terima.


"Iya kita tau mereka masih sangat kecil, tapi mereka juga mempunyai prosedurnya sendiri Ryan. Mereka tidak bisa bertindak sesuka mereka," bantah Dafa.


Ryan menggenggam kedua tangan dengan erat. Ryan takut jika dia kehilangan kedua anaknya. Dia tidak sanggup untuk kehilangan orang yang dia sayangi.


"Sekarang yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa. Semoga saja mereka bisa sampai dengan selamat ke tempat Dilla," Doa Rita. 


"Kalau begitu kami pamit dulu ya Ma. Kami ingin mencari mereka di sekitar rumah sakit ini. Siapa tau mereka belum pergi jauh dari sini," pamit Ryan.


"Tante dan Om, Dafa juga ingin mencari mereka ya," sambung Dafa.


"Kalian perginya, hati-hati di jalan."


Mereka berdua memutuskan berpisah untuk mencari ketiganya supaya lebih cepat menemukan mereka. Sampai malam pun larut mereka juga tidak menemukan jejak mereka bertiga. 


***


"Bagaimana? apakah kalian menemukan mereka?" 


"Maaf Tante, kami tidak menemukan mereka bertiga." 


Rita lemas mendengar perkataan Dafa. Aditya membantu menopang tubuh Rita agar tidak terjatuh.


"Sabar Ma, kita pasti menemukan mereka," kata Aditya menenangkan.


"Iya Ma, besok Ryan akan mengerahkan semua karyawan Ryan untuk mencari mereka bertiga."


Aditya membawa Rita ke ruang keluarga. Ryan dan lainnya mengikuti.


"Permisi dulu ya Tante dan Om, Dafa ingin menyimpan berkas yang penting ini dulu."


Dafa meninggalkan mereka berempat di ruang keluarga. Da pergi ke kamar sendiri. Dafa membukakan loker brankasnya, tapi dia terkejut saat melihat semua uang yang dia simpan di dalam lemari telah hilang semua.


Dafa buru-buru kembali ke ruang keluarga.


"Bi Imah, Mina," teriak Dafa.


"Dafa," tegur Jelita. 


"Kenapa kamu berteriak berteriak begitu."


Rita, Aditya dan Ryan hanya melihat Dafa yang panik.


"Maaf sayang, aku hanya ingin tau siapa yang  masuk ke kamar kita," sahut Dafa.


"Memangnya kenapa sayang?" tanya Jelita.


Bi Imah dan Mina tiba di depan Dafa. 


"Apa kalian melihat siapa yang masuk ke kamar aku?" tanya Dafa to the point.


"Tidak Tuan, kami tidak melihat siapapun yang masuk kecuali Tuan Muda Reza dan Rafa," sahut Bi Imah.


"Iya sayang, tadi aku juga melihat mereka datang dari arah kamar kita. memangnya apa yang terjadi?"


Dafa meremas kedua rambutnya.


"Sepertinya mereka berdua mengambil uang di brankas kita."


Mereka kaget mendengar pernyataan Dafa. 


"Kok bisa?" tanya Ryan.


"Aku juga tidak tahu, uang dari bangka aku sudah tidak ada satu lembar pun. Mereka pasti membutuhkan uang untuk mencari Dilla."


"Memangnya kamu tidak mengunci brankas kamu Dafa?" tanya Rita.


"Dafa selalu mengunci brankas Dafa, tapi sepertinya Rafa mengetahui sandi kode brankas milik Dafa."


"Berapa jumlah uang yang mereka bawa?" tanya Ryan lagi.


"Mereka membawa semua uang milikku Ryan, kurang lebih ada puluhan juta."


Mereka kembali terkejut.


"Buat apa mereka membawa uang sebanyak itu?"


"Dafa juga tidak tahu, mungkin mereka membawa semuanya pasti tidak tau berapa biaya yang diperlukan mereka untuk mencari Dilla." 


"Sekarang tambah satu masalah kita, mereka masih kecil tapi membawa uang sebanyak itu. Kalau diketahui sama orang jahat mereka dalam bahaya."


Tingkah laku Reza dan Rafa semakin membuat semuanya bertambah khawatir. Mereka takut terjadi sesuatu sama mereka bertiga, apalagi kondisi Rio yang masih belum sembuh-sembuh sempurna.


Bersambung....