Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 21. Omyyy



"Uwaaah... uwaah... uwaaah...."


Rita dan Dilla yang mendengar suara tangisan Rio dengan keras jadi khawatir. Rita segera masuk ke dalam rumah yang diikuti Dilla dengan mendorong kursi roda Ryan. Di ruang tengah mereka melihat Rio yang duduk di karpet sedang menangis keras. Di sampingnya ada Reza yang menenangkan adiknya, kemudian ada juga bi Imah dan Mina yang mencoba mendiamkan Rio tapi dihiraukan sama Rio.


"Uwaaah... uwaaah... uwaaah...."


"Sudah ya Tuan Muda, jangan menangis lagi. Sebentar lagi Mbak Dilla nya akan pulang kok," kata Mina menenangkan.


"Ada apa ini, kenapa Rio menangis keras?" tanya Rita.


Rio yang melihat Dilla masuk langsung bangun. Rio berlari ke arah Dilla dan memeluk erat kaki Dilla yang diikuti oleh Reza berdiri di sampingnya. Dilla dapat melihat jika Reza juga seperti habis menangis dengan adanya bekas air mata di sudut matanya. Reza ikut menangis melihat adiknya yang menangis keras.


Dilla segera membawa Rio ke gendongannya. Dilla mencoba menenangkan Rio. Dilla mengerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.


"Itu Nyonya, sepertinya Tuan Muda Rio menangis mencari Dilla. Dari saat dia bangun, dia langsung mencari Dilla. Karena tidak menemukan Dilla, Tuan Muda mulai menangis karena tidak ada Dilla di sampingnya," jelas Mina.


"Mungkin Tuan Muda sudah terbiasa ada Dilla di sampingnya, makanya Tuan Muda tidak mau sama yang lain. Bahkan ada Tuan Muda Reza aja, Tuan Muda Rio tetap menangis," sambung bi Imah.


Rita yang mendengarnya memakluminya, karena anak kecil akan mencari siapa yang akan membuatnya nyaman. Sedangkan Ryan merasa orang yang tidak berguna, karena anaknya malah lebih sayang dan peduli sama orang lain dari pada keluarganya.


Rio yang sudah di pelukkan Dilla kini mulai tenang.


"Bi lmah, Mina tolong antar Ryan ke kamar ya. Sekalian kasih makan siang Ryan dan habis itu tolong kasih obat ini ya," ujar Rita.


Rita menyerahkan obat Ryan pada bi Imah.


"Baik Nyonya," jawab bi Imah.


Bi Imah mengambil obat yang Rita kasih sedangkan Mina berinisiatif sendiri mendorong kursi roda Ryan ke kamar atas. Kasian jika bi Imah yang mendorong Ryan.


"Rio dan Reza sudah makan siang sayang?" setelah kepergian mereka Rita bertanya kepada cucunya.


Rio dan Reza kompak menggelengkan kepala, petanda mereka belum makan.


"Kalau gitu ayo kita makan siang bersama, ayo Dilla," ajak Rita.


***


Makan siang sudah berlalu beberapa menit yang lalu. Rita juga sudah pergi keluar, ada arisan katanya. Kini Dilla membantu Reza membuat PR di ruang tamu di depan TV. Rio sedang menonton film keluarga dengan serius. Dilla sengaja menyuruh Rio nonton dulu agar tidak mengganggu Reza yang lagi belajar.


Dilla sekali-kali juga melihat apa yang di lakukan Rio. Takutnya nanti saat dia lengah Rio sudah pergi dari sana. Film yang ditonton Rio itu cerita tentang seorang ibu dan ada seorang anak kecil. Di mana sang ibu yang selalu menemani sang anak. Di mana ada adegan sang anak yang lagi sedang memanggil sang ibu, seketika Rio juga ikut berbicara.


"Omyyy...," lirih Rio dengan suara yang kecil dan pelan.


Dilla menengok sekilas ke arah Rio, karena seperti mendengar sesuatu.


'Kayaknya aku salah dengar deh, kan Rio belum bisa berbicara.'


Dilla memfokuskan kembali kepada Reza yang lagi buat tugas sedangkan Reza tidak mendengar apa-apa. Mereka melanjutkan kegiatan mereka.


"Omyyy...," ujar Rio lagi dengan suara yang lebih keras dari tadi, walaupun tidak sebesar suara orang normal berbicara.


Rio kini sudah beralih menatap Dilla. Dilla dan Reza seketika menoleh ke arah Rio secara spontan saat mendengar Rio berbicara. Kini mereka termenung.


"Omyyy...," ujar Rio lagi dengan satu tangan yang menunjuk ke arah TV, namun tatapannya masih ke arah Dilla.


Dilla kini telah sadar dari keterkejutannya, Dilla langsung menghampiri Rio. Reza juga ikut menghampiri adiknya, diletakkan peralatan tulisnya secara sembarangan, karena Reza juga penasaran.


"Sayang kamu sudah bisa berbicara, ayo ulangi lagi. Mbak Dilla mau denger lagi," ujar Dilla semangat.


"Omyyy...," ujar ulang Rio dengan tersenyum dan semangat. Karena Rio mengira bahwa Dilla senang jika dipanggil olehnya.


"Reza dengar, Rio sudah bisa berbicara," ujar Dilla senang.


"Iya Mbak Dilla. Reza juga dengar," kata Reza tidak kalah antusias.


"Omyyy...," kini Rio malah memeluk Dilla.


Reza juga memegang adiknya, Reza duduk di samping Dilla.


"Coba katakan lagi Rio," suruh Dilla.


"Omyyy...."


"Mommy Mommy, sini main sama Nino."


Ini buka suara Rio, tapi suara dari TV yang masih menyala. Yang menampilkan seorang memanggil ibunya yang lagi meminum teh.


Dilla pun segera mengerti, ternyata Rio mengikuti suara TV, tapi hal ini merupakan hal yang bagus.


"Oh maksud Rio Mommy ya," terka Dilla.


"Omyyy...," Rio mengangguk kepalanya.


"Sekarang coba panggil Mbak Dilla ya sayang. Emmm... baaak... Diiilll... laaa...," ujar Dilla dengan cara mengeja agar mudah diikuti sama Rio.


Rio diam sebentar, kemudian menjawab dengan riang.


"Omyyy...."


"Bukan Mommy sayang. Emmm... baaak... Diiilll... laaa...," ujar Dilla lagi lebih pelan.


"Omyyy...."


"Kok Mommy lagi sih. Ayo coba lagi Emmm... baaak... Diiilll... laaa...."


"Omyyy...."


'Ni anak kenapa dari tadi bilang Mommy terus sih. Coba nama abangnya kali ya.'


"Sekarang coba panggil nama abang Reza ya, Reee... zaaa...."


Reza yang mendengar Dilla menyuruh adiknya memanggil namanya jadi deg degan penasaran. Reza menatap adiknya dengan sangat fokus. Rio juga melihat ke arah Reza.


"Ejaaa...," ucap Rio sambil memiringkan kepalanya.


Saat Rio mengatakan itu, Rio nampak lebih imut dari biasanaya. Apalagi ditambah Rio memiringkan kepalanya.


"Nah pinter, sekarang coba panggil Mbak Dilla lagi ya. Emmm... baaak... Diiilll... laaa...."


"Omyyy...."


"Bukan sayang, tapi Mbak Dilla"


"Omyyy...," kekeuh Rio.


"Bukan, bukan begitu, sekali lagi ya sayang. Emmm... baaak... Diiilll... laaa...."


Dilla terus mencoba mengulang agar Rio mau mengucap namanya dengan benar, tapi hasilnya malahan begini....


"OMYYY...."


Kini Rio berteriak keras karena disuruh ulang terus.


Dilla terkejut, karena Rio hampir menangis. Mungkin Dilla terlalu memaksa Rio, biarlah nanti lagi Dilla ajari Rio lagi.


"Udah ya, jangan menangis lagi. Mbak Dilla yang salah."


"Omyyy...."


'Lah Mommy lagi, dia pikir saya ibunya kali ya. Kalau nama Reza aja sekali disuruh langsung bisa. Mungkin itu kata yang diucap pertama, makanya diulang terus. Ya ya pasti begitu,' yakini Dilla pada diri sendiri.


"Ya sudah sekarang kita mandi dulu ya. PR abang Reza juga sudah siap, ayo kita ke atas."


"Omyyy...," kata Rio manja dengan merentangkan tangan, Rio ingin digendong.


"Rio manja ya...."


Kini mereka sudah selesai membereskan ruang tamu, mereka langsung berangkat ke lantai dua.


Bersambung....