
Jangan lupa like dan komentar supaya menjadi obat semangat buat saya ya. Terima kasih.
Selamat membaca...
***
Dafa melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 4 pagi dini hari.
"Ya sudah, sebaiknya aku coba telepon Ryan dulu. Aku juga tidak tega melihat Rio yang menangis sejak tadi. Dia pasti sudah rindu sama Dilla karena sudah seharian tidak bertemu sama Dilla. Lagian mungkin mereka sudah selesai," ujar Dafa.
"Baiklah, sini berikan Rio sama aku," ucap Jelita.
Dafa menyerahkan Rio kepada Jelita, kemudian dia mencoba menghubungi Ryan. Dafa berjalan sedikit jauh dari Jelita dan lainnya.
"Bagaimana Dafa?" tanya Jelita sambil mengayunkan tubuh Rio.
"Ryan masih tidak mengangkat. Coba aku telepon sekali lagi," sahut Dafa setelah dia beberapa kali menelepon Ryan.
Pada panggilan kelima baru Ryan menjawab telepon dari Dafa.
"Halo Ryan," ucap Dafa.
"Hemmm," jawab Ryan dengan suara orang baru bangun tidur.
"Ada apa kamu pagi-pagi buta menelepon aku?" tanya Ryan dengan suara kecil.
"Apa kalian sudah selesai," bisik Dafa kecil.
"Kenapa kamu bertanya begitu," tanya Ryan balik.
"Saat ini Rio sedang menangis keras. Dia ingin bertemu dengan Dilla," sahut Dafa.
Diseberang telepon Ryan terdiam sebentar.
"Ya sudah, kamu bawa saja Rio ke depan pintu kamar sebentar. Aku akan buka pintunya segera," jawab Ryan kemudian langsung mematikan sambungan telepon.
"Rio sudah ya menangisnya. Sebentar lagi Papa akan bukakan pintu agar Rio bisa masuk," terang Dafa kepada Rio yang masih menangis dari tadi.
"Benelan hiks Addy? Addy ndak boong hiks cama Liyo?" tanya Rio disela menangisnya.
"Daddy tidak bohong sama Rio. Jadi berhenti menangis ya," bujuk Dafa lagi.
Rio mulai berhenti menangis sedikit demi sedikit. Rio segera merentangkan tangan agar Dafa mau menggendongnya. Tanpa berkata lagi Dafa menyambut uluran tangan Rio.
"Reza juga mau ikut balik ke kamar Papa dan Mama," sahut Reza.
"Ayo kalau begitu," ajak Rafa.
Reza buru-buru turun dari tempat tidur dan mendekati Dafa.
"Kalau Rafa di sini saja ya sama Mommy," ucap Jelita.
"Iya Mommy, Rafa mau di sini saja," jawab Rafa sambil mengucek mata karena masih mengantuk.
Rafa segera membaringkan tubuhnya lagi dan menarik selimut.
Ketika Dafa membuka pintu, Ryan sudah ada di depan pintu.
"Omy mana?" tanya Rio yang tidak melihat Dilla.
"Mama saat ini masih tidur. Sekarang kan masih pagi. Rio jangan berisik ya, sudah jangan menangis lagi nanti bisa membangunkan Mama,"kata Ryan.
Rio menganggukkan kepalanya mengerti.
Dafa menyerah Rio kepada Ryan. Rio menyandarkan kepalanya pada bahu Ryan. Rio sebenarnya masih sangat mengantuk saat ini.
"Terima kasih ya kamu telah menjaga Rio dan Reza hari ini," ujar Ryan.
"Tidak apa-apa. Lagian kamu kemarin juga sudah menjaga Rafa. Jadi tidak perlu ada terima kasih segala. Sudah sana masuk, kasihan mereka kalau masih terbangun jam segini," sahut Dafa.
Ryan menganggukkan kepalanya, kemudian Ryan masuk kembali setelah menutup pintu. Reza segera berlari ke arah tempat tidur yang di tempati sama Dilla.
"Reza hati-hati naik nya, jangan mengguncangkan kasur, nanti Mama bisa terbangun," cegah Ryan ketika melihat Reza yang mau melompat ke atas kasur.
"Baik Pa," sahut Reza.
Reza naik dengan pelan agar tidak membuat Dilla terbangun. Reza melihat sangat mama yang tertidur sambil memeluk bantal guling. Reza menarik bantal guling dan membuangnya ke sembarang arah. Kemudian Reza membaringkan tubuhnya di dekat Dilla. Reza segera memeluk Dilla.
Dilla meraba sebentar untuk mencari bantal guling yang sudah hilang dengan kondisi yang masih tertidur. Dilla yang menganggap Reza adalah bantal guling membalas pelukan Reza.
Ryan membaringkan Rio di samping Reza yang sudah masuk ke alam mimpi.
"Rio tidur lagi ya. Kalau mau main bersama Mama besok saja. Ini sudah malam dan Mama juga masih tidur," ucap Ryan.
Rio menganggukkan kepalanya dengan lemah. Setelah membandingkan Rio di atas tempat tidur, Rio langsung terlelap kembali. Ryan juga ikut kembali tidur bersama mereka bertiga dengan memeluk tubuh Rio.
***
Dilla yang terbangun duluan menatap Rio, Reza dan Ryan yang masih tertidur. Dilla sebenarnya heran kenapa Rio dan Reza bisa ada di sana.
'Kenapa mereka bisa ada di sini ya padahal kan semalam….'
Dilla sudah selesai mandi dan menata dirinya sendiri dengan rapi. Dilla mencoba membangunkan mereka bertiga, tetapi mereka bertiga tidak ada satu pun yang mau terbangun. Malahan yang ada, mereka malah dengan kompak menarik selimut kembali meneruskan mimpi mereka.
"Tidak ayah tidak anak sama saja. Jam segini masih saja tidur," omel Dilla.
Karena usaha Dilla tidak berhasil membangunkan mereka bertiga, Dilla memutuskan untuk merapikan kamar dari barang yang berhamburan. Setelah membersihkan kamar Dilla juga menyikap gorden yang sudah nampak sinar matahari.
Dilla kembali mencoba membangunkan mereka bertiga tetapi mereka juga tidak mau bangun.
"Kenapa kali ini mereka bertiga sangat kompak tidak mau bangun. Padahal jam sudah menunjukkan jam 8 pagi. Apa yang mereka lakukan sih tadi malam sampai susah bangun," ujar Dilla pada dirinya sendiri.
"Daripada aku bosan menunggu mereka bangun,lebih baik aku mengajak Mbak Jelita untuk mencari makanan saja. Siapa tau Mbak Jelita belum pergi."
Dilla segera meraih dompet dan jaketnya untuk pergi keluar. Dilla mencoba mengetuk beberapa kali pintu kamar milik Jelita dan Dafa. Tetapi mereka tidak ada respon sama sekali.
"Mereka ke mana ya? apa mereka sudah sarapan duluan? ini sudah lewat waktu makan pagi juga sih. Bisa jadi mereka sudah selesai sarapan di bawah. Ya sudahlah aku pergi sendiri saja. Lagian minimal marketnya juga tidak jauh dari sini."
***
Dilla kembali lagi dengan menenteng beberapa belanjaan di tangannya. Mulai dari makanan ringan sampai makanan buat sarapan untuk mereka nanti. Dilla juga membeli makanan lebih karena dia menduga kalau Dafa, Jelita dan Rafa juga mau. Dilla membukakan pintu kamar, Dilla masih melihat mereka bertiga yang masih tidur dengan posisi yang sangat berantakan.
"Mas, bangun Mas," panggil Dilla untuk membangunkan Ryan .
Ryan tidak merespon dan malah membalikkan badan. Kemudian Dilla beralih kepada Reza dan Rio, tetapi mereka berdua juga tidak bangun. Dilla mulai kesal karena mereka juga tidak ada yang bangun, dengan langkah lebar Dilla mengambil dua sebuah kaleng minuman yang sempat dia beli.
Dengan sekali minum satu kaleng habis, kemudian Dilla juga menghabiskan kaleng yang kedua. Setelah itu Dilla memukul dua kaleng tersebut dengan keras sehingga memunculkan suara gaduh.
Duak duak duak
"Bangun-bangun, kebakaran kebakaran," teriak Dilla dengan terus memukul kedua kaleng.
Mereka bertiga segera bangun karena kaget.
"Mana-mana," teriak mereka bertiga.
"Dimana kebakarannya Dilla?" tanya Ryan ulang.
"Itu," tunjuk Dilla pada matahari yang sudah sangat terik.
"Kalian ini sudah dari tadi Mama bangunkan tapi kalian tidak mau bangun-bangun juga. Sekarang kalian bertiga pergi ke mandi. Mama sudah siapkan sarapan buat kalian bertiga," suruh Dilla.
Mereka bertiga tanpa protes mengikuti perintah Dilla.
Tok tok tok
Mendengar suara ketukan pintu, Dilla membuka pintu.
"Mbak Jelita," ujar Dilla.
"Hai," sapa Jelita.
"Mbak dari mana tadi, oh ya Mbak ayo masuk dulu," ajak Dilla.
"Mbak sama Mas Dafa tadi sarapan di mana? Tadi saat Dilla keluar, Dilla sempat mengetuk pintu Mbak Jelita tapi tidak ada suara. Kemudian saat melihat Restoran pun, Mbak juga tidak ada?" tanya Dilla ketika mereka mulai masuk.
Jelita hanya tersenyum.
"Itu Ma, hari ini kami bertiga telat bangun," jawab Rafa.
Dilla menaikkan alisnya karena heran.
"Kenapa kalian semua hari ini kompak telat bangun?" tanya Dilla yang tidak tau apapun.
Ryan, Reza dan Rio keluar dari kamar mandi sudah rapi dengan pakaian.
"Ya sudahlah, itu tidak penting. Sekarang ayo kita sarapan bersama. Tadi Dilla sempat membeli sarapan yang lebih," ajak Dilla mengabaikan pertanyaan sendiri.
Mereka mulai makan sarapan pagi.
"Tenapa di lehel Omy ada melah-melah?" tanya Rio ketika melihat warna merah di leher Dilla.
Dilla segera meraba lehernya dan menutupi dengan kerah baju.
"Ahh… ini hanya digigit… ya digigit sama nyamuk," jawab Dilla berbohong dan salah tingkah.
"Kemarin Mommy juga merah-merah di leher. Jangan-jangan Mommy juga digigit sama nyamuk lagi," sambung Rafa.
"Kenapa hotel bagus begini banyak nyamuk ya? pasti hotel ini jorok," kata Reza.
"Yang pasti nyamuknya sangat besar," tambah Rafa.
"Ih celem," sahut Rio.
Yang dewasa hanya tersenyum mendengar percakapan trio R.
Bersambung….
Rekomendasi Novel yang keren buat kalian ya....