
Setelah mengantar Rafa dan Reza ke sekolah, Jelita hanya menemani Dilla dan Rio yang sedang bermain. Dia tidak ada kerjaan lain, dia hanya melihat mereka bermain mainan Rio. Biasanya jam segini dia sudah sibuk motret di mana mana. Sejak dia vakum dari kerjaannya sebagai model dia hanya duduk diam di rumah atau pergi jalan jalan.
Dilla masih menemani Rio bermain mobil mobilan. Tiba tiba muncul Mina lewat dengan memegang sebuah map.
"Kenapa buru buru Mbak Mina?" tanya Dilla yang melihat Mina lewat.
Mina segera berhenti saat mendengar Dilla menegurnya.
"Ah ini Dilla ada dokumen Tuan Ryan yang tertinggal. Tadi Tuan suruh di antar sekarang. Jadi Mina mau kasih ini ke Pak Jaka, biar Pak Jaka yang akan mengantarkannya," jawab Mina.
"Tunggu," cegat Jelita.
Mina yang mau lanjut jalan di cegat sama Jelita langsung berhenti.
"Sini dokumennya, biar aku aja yang antar, kamu sana lanjut kerja saja," kata Jelita.
Jelita segera mengambil dokumen itu dari tangan Mina.
"Baiklah Mbak, kalau gitu Mina pamit dulu ya," pamit Mina.
Mina segera pergi dari sana, dia masih banyak pekerjaan yang harus diurus. Jelita melihat sebentar isi dokumennya.
'Sepertinya ini dokumen yang penting.'
"Ini."
Jelita menyerahkan dokumen itu sama Dilla.
"Kenapa Mbak memberikan dokumen ini pada Dilla. Bukannya ini dokumen Tuan Ryan ya," ujar Dilla melihat dokumen yang ada di tangannya.
Jelita memutar mata malas.
"Apa kamu tidak mengerti kenapa saya kasih ini sama kamu?" tanya Jelita.
Dilla menggelengkan kepalanya karena sama sekali tidak paham.
"Begini ya, tadi pagi kamu sudah bantuin saya agar bisa mengantar Rafa ke sekolah, jadi sekarang kamu antar dokumen ini ke Ryan. Kamu harus sering berinteraksi sama Ryan agar Ryan tidak lepas dari kamu," ujar Jelita.
Dilla paham sekarang apa maksud dari Jelita.
"Tapi Mbak, saya lagi jaga Rio sekarang jadi tidak bisa mengantar dokumen ini," jawab Dilla.
"Kamu kan bisa bawa Rio sekalian. Tidak mungkin kan kamu suruh saya yang jaga dia. Dia pasti akan ikut kemanapun kamu pergi, sudah sana. Kamu ganti baju dulu, pakai baju yang rapi jangan baju begini," kata Jelita melirik penampilan Dilla dari atas sampai ke bawah.
Dilla melirik ke tubuhnya. Memang pakaian yang Dilla pakai sekarang tidak cocok pergi ke kantor. Nanti dia bisa jadi pusat perhatian karena memakai baju rumahan.
"Udah sana ganti baju, biar saya yang jaga Rio di sini," suruh Jelita lagi.
"Rio di sini bentar ya, Mommy mau ganti baju dulu, baju Mommy sudah kotor, Mommy tidak akan lama kok," kata Dilla memberi alasan agar Rio tidak minta ikut.
"Oteh Omy," jawab Rio.
Rio kembali bermain dengan mobil mobilan nya. Dilla segera pergi mengganti baju. Jelita melihat ke arah Rio yang sibuk bermain.
"Rio," panggil Jelita.
"Iya Ante," jawab Rio.
"Rio Tante boleh minta tolong tidak?" tanya Jelita.
"Minta olong?" tanya Rio balik.
"Iya, nanti Rio ajak Papa makan siang sama Mommy ya, Rio jangan minta pulang dulu sebelum makan siang," ujar Jelita.
"Matan ciang?" tanya Rio lagi.
"Iya makan siang, nanti Rio bisa minta makan yang banyak sama Papa tapi jangan bilang Tante yang bilang ya," kata Jelita membujuk Rio.
"Holeee Liyo cenang matan banaak," jawab Rio senang.
Rio bahkan sudah membuang mainannya mendengar kata makanan. Dia meloncat loncat kegirangan.
"Tapi ingat ya, jangan bilang sama siapa pun jika ini Tante yang kasih tau ya," bujuk Jelita lagi.
Karena bisa gawat jika Rio membocorkan rahasia. Jelita tidak mau ambil resiko. Dia bari saja di terima di sini, dia tidak mau di kira meracuni Rio yang masih polos.
"Oteh ante, Liyo ndak atan ilang talau Ante yang ilang," jawab Rio yakin.
"Nah anak pintar," puji Jelita sambil mengelus rambut Rio.
"Iya Rio memang anak yang sangat pintar," ulang Jelita.
"Nah tu alu etul," jawab Rio bangga.
Jelita memuji kepintaran Rio. Anak sekecil ini sudah mulai pintar dan bisa diajak kerja sama.
Beberapa saat kemudian Dilla telah tiba dengan mengganti baju yang lebih sopan.
"Dilla semangat ya," Jelita memberi semangat kembali pada Dilla.
"Terima kasih Mbak," jawab Dilla.
Dilla segera mengambil dokumen dan meraih tangan Rio dan menggandeng tangan Rio. Dilla pergi diantar sama Pak Jaka.
Kini Dilla telah tiba di perusahaan. Dilla melihat betapa tinggi dan megah nya perusahaan Suherman.
Mereka berdua keluar dari mobil. Pak Jaka lebih memilih menunggu di luar gedung.
"Mau cari siapa Mbak," tegur Satpam karena melihat wajah yang baru.
"Maaf pak saya kesini untuk…."
"Tami mau cali Papa," Rio memotong ucapan Dilla.
"Oh ada Bos kecil, Bos kecil mau cari Bos besar?" tanya Satpam terbut.
"Iya, ayo Omy, tita cali Papa. Papa ada di angit inggi," Rio segera menarik Dilla.
Dilla segera memberi hormat kepada Pak Satpam karena tidak enak dan mengikuti langkah Rio. Di depan lobi Dilla di cegat kembali sama Resepsionis.
"Maaf Mbak, jika ingin berkunjung harus melapor dulu," tegur Resepsionis.
"Maaf Mbak, saya mau bertemu dengan Tuan Ryan," jawab Dilla.
"Apa Mbak sudah ada buat janji?" tanya Resepsionis lagi.
"Tidak ada Mbak," jawab dilla menggeleng.
"Maaf Mbak, jika belum janji tidak boleh bertemu sama Bos. Mbak harus buat janji dulu sebelum menemui Bos, itu adalah peraturan di sini," kata sang Resepsionis .
"Tapi Mbak, saya datang ke sini mau mengantar dokumen Tuan Ryan yang ketinggalan," beritahu Dilla.
"Omy epat, angan ama ama," Rio kembali menarik Dilla tidak sabaran.
"Maaf Mbak saya permisi," pamit Dilla mengikuti Rio.
Rio sudah tidak tahan menunggu Dilla yang berbicara. Bagi Rio Mommy sangat lama. Rio sudah tidak sabar mau minta makanan sama sang Papa.
"Apa perlu kita telpon Bos bahwa ada orang asing masuk dengan Bos kecil?" tanya Resepsionis itu pada temannya.
"Lebih baik telpon saja, beritahu Bos, dari pada kita kena marahnya nanti," saran temannya.
Resepsionis itu segera menelpon Ryan.
"Maaf Bos, ada yang ingin bertemu sama Bos," beritahu Resepsionis.
"Siapa?" tanya Ryan.
"Saya tidak tau Bos, katanya dia mau mengantarkan dokumen penting yang ketinggalan di rumah dan dia datang bersama Bos kecil."
"Oh itu orang suruhan rumah, tadi memang saya yang suruh antar dokumen itu. Biarkan mereka masuk," jawab Ryan.
"Baik bos, mereka sudah naik ke atas."
Resepsionis mematikan telpon kembali.
"Bagaimana?"
"Katanya orang suruhan rumah,"
"Ya sudah kalau begitu, yang penting kita sudah memberi tahu Bos. Ayo kita lanjut bekerja."
Bersambung....
Jangan lupa vote ya, tiap orang minimal cukup 10 poin perbab. Dukung cerita ini agar bisa masuk 50 besar ya.
Terima kasih.