
Hallo jangan lupa buat ngevote ya. Bantu cerita ini untuk naik perangkingan. Rangking novel ini selalu sekitar rangking 100. Buat cerita yang alur berbeda ini diketahui sama orang lain.
Cara vote yang bagi belum tau caranya lihat pada halaman depan novel. Ada kata detail dan episode. Pilih bagian detail dan lihat ada kata VOTE, klik kata vote itu, kemudian vote menggunakan poin, ada tiga pilihan 10 poin, 100 poin dan 1000 poin.
Jika ingin vote 30 poin maka klik di 10 poin sebanyak tiga kali ya...
Poin bisa di peroleh dari melakukan misi, jika di MT berada di beranda dan klik kata misi dan di NT ada di beranda klik di bagian poinku. Jika melakukan misi bisa mendapatkan kurang lebih 50 poin di MT dan 50 di NT per hari.
Atau poin bisa diperoleh di grup dari berbagi kotak hadiah. Tapi ingat jangan sembarang ambil kotak hadiahnya ya, kadang ada yang lagi main games.
Ayo dukung cerita ini sampai bisa masuk peringkat 20 besar. vote sebanyak banyaknya ya....
Terima kasih....
***
Daniel melihat ke arah Dilla dan Ryan secara bergantian.
"Apa dia istri baru kamu Ryan?" tanya Daniel yang salah paham karena perkataan Rio.
"Itu…."
"Dasar jelek," kata Sam sambil melihat tajam ke arah Dilla.
Di dahi Dilla muncul persimpangan. Baru kali ini ada anak kecil yang terang terangan mengatakan dia jelek. Dilla cukup yakin jika dia itu lumayan cantik.
"Omy antik ndak jeyek," bantah Rio tidak terima.
"Jelek," ulang Sam.
"Tamu yang jeyek," kata Rio emosi.
"Jelek," ulang Sam lagi.
Rio yang tidak menerimanya mendorong Sam dengan keras. Untung saja Daniel bisa menangkap Sam, kalau tidak Sam bisa terjatuh.
"Rio," tegur Ryan dan Dilla.
"Cam natal Omy, Liyo ndak cuta cama Cam," Rio berkata hampir menangis.
Dia tidak suka jika ada yang menjelekkan Omy nya .
"Jelek jelek jelek jelek jelek," ulang Sam beberapa kali.
Rio kembali mendorong Sam. Rio dan Sam kini malah ribut, mereka saling mendorong dan bahkan tangan kecil mereka ikut memukul.
Ryan dan Daniel segera memisahkan mereka berdua.
"Rio sudah, jangan begitu tidak baik," ujar Ryan sambil menggendong Rio.
"Epas Pa, epas. Cam ahat, Liyo ndak cuta" Rio memandang Sam tajam.
Ryan kualahan memegang Rio yang memberontak di gendongannya. Dilla mendekati mereka mencoba menenangkan Rio.
"Rio sudah ya Mommy tidak apa kok," kata Dilla.
Dilla mengambil alih Rio dan mengelus bahunya, Dilla berharap agar Rio tenang. Dilla tau Rio saat ini sedang emosi, nafas Rio cepat seperti habis berlari.
"Sam, Papa tidak pernah mengajarkan Sam bersikap begitu," tegur Daniel.
Sam diam, dia merasa tidak bersalah. Dia malah memalingkan wajahnya tidak peduli.
"Maafkan anak saya ya Ryan, ini bukan salah Rio, ini salah Sam. Tidak biasanya Sam berujar begitu," terang Daniel tidak enak.
"Iya tidak apa apa." sahut Ryan mengerti.
Mereka sama sama saling membujuk anak mereka, Rio tidak mau memaafkan Sam yang sudah jahat kepada Omy sedangkan Sam tidak mau meminta maaf karena merasa tidak bersalah. Mereka berdua hanya bisa menganggap ini hanya masalah kecil. Mereka tidak mau masalah sepele begini mempengaruhi hubungan dan kerja sama mereka.
"Perkenalkan saya Daniel sedang bertemu dengan kamu lagi, maaf jika anak saya membuat suasana kurang nyaman" ujar Daniel.
Daniel kembali memperkenalkan diri di depan Dilla setelah suasana sedikit lebih tenang.
"Saya Dilla, iya tidak apa apa, namanya aja anak anak, tapi kapan kita pernah bertemu?" tanya Dilla.
Daniel terkekeh sebentar.
Dilla berpikir kembali dan mencerna perkataan Daniel, sekarang dia baru ingat. Memang benar laki-laki ini yang dia tabrak tadi di depan lift tadi pagi karena di tarik sama Rio.
"Ryan aku pamit duluan ya, aku sedang buru buru," pamit Daniel.
Setelah berpamitan Daniel segera pergi tanpa menunggu jawab Dilla. Daniel sudah cukup puas melihat reaksi Dilla yang lucu.
"Kamu kenal dengan Daniel Dilla?" tanya Ryan penasaran.
"Itu Tuan, tadi pagi Dilla tidak sengaja menabrak dia saat mau naik lift," jawab Dilla.
"Oh begitu, ya sudah, ayo Dilla kita juga pulang, saya akan mengantar kalian pulang dulu nanti baru." ujar Ryan.
***
Daniel dan Sam sudah berada di luar restoran. Mereka sedang menuju ke parkiran mobil.
"Sam, Papa tidak suka kamu bersikap tidak sopan seperti tadi di depan teman Papa. Lain kali Papa tidak mau melihat Sam seperti itu," kata Daniel tegas.
Sam meremas kedua tangannya. Sam melihat ke arah Papanya dengan tegas seolah menantang sang Papa, sikap turunan langsung dari Daniel.
"Sam tidak suka sama mereka," sahut Sam datar.
"Kenapa kamu tidak suka, kan kalian baru kali ini bertemu. Biasanya saat kamu bertemu sama teman papa lainnya tidak begitu," ujar Daniel lagi.
"Pokoknya Sam tidak suka sama mereka berdua titik," kini Sam menaikkan nada suara.
"Sam turunin nada suaranya, Papa tidak suka," Daniel juga ikutan emosi melihat anaknya yang menaikan nada suara.
"Kenapa, apa Papa juga tidak suka sama Sam, sama seperti Mama, Sam benci melihat mereka berdua dekat. Sam benci Mama, Sam benci Papa, Sam benci kalian semua, SAM BENCI," setelah berteriak begitu Sam segera berlari dari hadapan Daniel.
Daniel segera mengejar Sam yang sudah lari jauh di depannya. Bagaimana pun itu anaknya. Dia yang salah sudah ikut emosi. Daniel yakin jika anaknya sekarang sedang cemburu melihat interaksi antara Rio dan Dilla.
"Sam tunggu Papa," teriak Daniel.
***
Dilla, Rio dan Ryan juga sedang menuju ke parkiran, tapi mereka parkir di parkiran bawah gedung, tempatnya lumayan sepi. Tiba tiba ada satu orang yang menodong pisau ke arah mereka.
"Serahkan semua harga berharga kalian," kata perampok pria yang berpakaian hitam dengan menggunakan penutup wajah.
Dilla segera menyembunyikan Rio di belakang tubuhnya.
"Cepat serahkan!" teriak perampok itu.
Ryan dan Dilla memundurkan langkah mereka.
"Cepat serahkan barang berharganya atau wanita ini yang akan terluka," ujar perampok lainnya.
Tiba tiba muncul perampok lain dari belakang mereka dan menyandera Dilla. Perampok itu mengapit leher Dilla dan menodongkan senjata tajam ke arah leher Dilla. Perampok itu menarik tubuh Dilla menjauh dari Ryan.
Ryan panik melihat kondisi yang gawat.
"Lepaskan dia, jangan sampai kalian membuat dia terluka, aku akan memberikan semua barang barang aku," kata Ryan panik.
Ryan mulai melepaskan jam tangannya. Para perampok merasa sedang ketika target mereka menyerah.
Dilla menunduk, pria yang berdiri dan yang menyanderanya berdiri sangat dekat dengannya, bisa dibilang hanya dibatasi sama baju yang mereka pakai. Dilla tidak terima, ini merupakan pelecehan bagi Dilla. Dilla segera menyiku perut perampok yang di belakang dengan sekuat tenaga.
Perampok itu mengaduh kesakitan dan jatuh tersungkur, pisau yang dia pegang juga terjatuh di dekat kaki Dilla. Dilla segera menendang pisau itu sejauh mungkin.
Ryan yang tadi mau menyerahkan jamnya terkejut dengan reaksi Dilla. Ryan segera mengaman Rio yang ada di dekatnya. Takut perampok itu akan menyerang Rio.
Perampok yang satu lagi ingin menyerang Dilla karena tidak terima kawannya dihajar.
Dengan kencang Dilla mengayunkan tasnya yang berisi mainan Rio dan barang lainnya dengan kencang sehingga mengenai tangan perampok itu dan pisau terlempar jauh.
"Kurang ajar," kata perampok itu tidak terima.
Tangan perampok itu kesakitan karena terkena tas Dilla. Dia mau memukul Dilla dengan tinjunya, tapi kalah cepat sama Dilla, Dilla dengan sekuat tenaga menonjok perut perampok itu sampai perampok itu berlutut kesakitan. Pukulan Dilla tidak main main.
Bersambung....