
Jangan lupa like dan komentar buat obat semangat saya ya. Terima kasih.
Selamat membaca
***
Dilla dan lainnya telah tiba di rumah. Rio sudah senantiasa menunggu kepulangan Dilla di teras.
"Omy…," teriak Rio begitu Dilla turun.
Rio segera memeluk kedua kaki Dilla dengan erat.
"Liyo angen," ucap Rio dengan menunjukkan giginya.
"Baru beberapa jam saja sudah kangen," ejek Jelita bercanda.
"Iya dong Mommy. Tan Omy bitin angen ladi ladi dan ladi," jawab Rio.
"Rio tidak nakal kan di rumah?" tanya Dilla.
"Iya Omy. Liyo ndak Natal. Liyo tan anak Omy, Liyo anak bayik," sahut Rio.
"Yang bener?" tanya Dilla pura-pura tidak yakin.
"Benel Omy. Liyo ndak boong. Iya tan Nek?" kata Rio meminta bantuan Rita.
"Iya Dilla, hari ini Rio serius sangat patuh. Rio dari tadi pagi sangat anteng di rumah," ujar Rita.
Dilla dan Jelita menatap Rio tidak percaya. Rio tanpa masalah bukan Rio namanya.
"Tumben Rio tidak nakal kali ini hemmm," kata Dilla sambil berjongkok dan mencolek hidung Rio.
"Hehehe... tan Liyo udah anji cama Omy ndak tan natal dan adi anak bayik. Dan Omy dah anji cama Liyo mau main cama Liyo," jawab sambil tersenyum terlepas bagaikan dapat jackpot.
Dilla bisa merasakan ada sesuatu hal yang akan Rio lakukan sama dia.
"Ayo semuanya masuk," ajak Rita.
Mereka masuk ke dalam rumah.
***
Setelah selesai makan siang, mereka duduk santai di sofa. Rio segera duduk di atas pangkuan Dilla sambil memeluk Dilla bagaikan koala.
"Ma ayo kita bermain, Reza mau main…," ajakan Reza dipotong oleh Rio.
"Omy unya Liyo cetalang. Bang Eja awuh-awuh cana," usir Rio
"Apa salahnya Abang Reza main bersama Rio dan Dilla. Kan Rio masih bersama Mama Dilla juga?" tanya Rita.
"Omy dah anji cama Liyo loh. Omy anji anya main cama Liyo hali ni. Omy ndak boong tan cama Liyo," kata Rio menuntut.
Sekarang Dilla tau kenapa Rio mau menuruti keinginannya pagi ini. Ternyata Rio mau monopoli dia untuk dirinya sendiri. Pantas saja Rio bisa tenang tanpa Dilla tadi pagi.
"Reza main sama Rafa dulu ya nakal," ujar Dilla tidak enak.
"Tapi Reza juga mau main sama Mama," tolak Reza.
"Omy unya Liyo Bang Eja. Tadi padi tan Omy cudah cama Bang Eja, cetalang cama Liyo dingin," jawab Rio.
"Sudah jangan ribut. Ayo sini sama Mommy saja ya. Biar Mommy yang temani kalian bermain," ajak Jelita.
Dengan cemberut Reza mengikuti Jelita.
"Apa Rio tidak bosan memeluk Mama seperti ini terus?" tanya Dilla yang mulai kebas.
Walaupun kecil, tapi lama kelamaan bisa kebas juga kaki Dilla. Rio tidak beranjak sedikit pun.
"Liyo ndak tan bocan cama Omy. Liyo mau cama Omy celamanya," sahut Rio.
"Kalau Mama yang bosan bagaimana?" canda Dilla.
"Omy…," protes Rio.
"Rio turun sebentar ya. Mama haus mau ambil minum dulu, ujar Dilla.
"Omy hawus?" tanya Rio.
Dilla menggerakkan kepala sebagai jawaban.
Rio segara turun buru-buru dan berlari ke arah dapur. Dilla ingin menyusul Rio tapi dicegah sama Rita.
"Kamu disini aja Dilla. Pasti Rio ke dapur mau ambil minum," ujar Dilla.
"Baik Ma," sahut Dilla dan duduk kembali.
"Ni Omy, num," suruh Rio.
"Aduh anak Mama rajinnya," puji Dilla sebelum minum air.
"Nenek juga haus ini," pancing Rita.
Rio melihat ke arah Rita.
"Nenek hawus?" tanya Rio.
"Iya, Nenek haus."
"Num Nek talau hawus, di dapur banaak ail," jawab Rio polos.
Rita menatap Rio tidak percaya. Untuk Dilla Rio segera mengambil air, sedangkan untuk dirinya disuruh ambil sendiri.
"Tidak jadi haus Nenek," ucap Rita pasrah.
"Siang-siang gini paling enak kalau makan cemilan," ujar Dilla mengikuti Rita.
Rio kembali berlari ke dapur untuk meminta cemilan pada pembantu. Siang itu Dilla bagaikan ratu. Rio pasti dengan senang hati memanjakan Dilla.
***
Pada sore hari Ryan dan Dafa pulang dari kantor. Dilla segera mendekat ke arah Ryan untuk menyambut kepulangan Ryan. Dilla mengambil tas yang dibawa oleh oleh Ryan. Ryan membalas dengan memberi kecupan di kening Dilla.
"Papa…," teriak Rio.
Rio segera berlari ke arah Dilla. Tadi Rio pergi ke kamar kecil sendiri karena Rio bilang kalau dia sudah besar. Rio mendorong Ryan agar menjauh dari Dilla.
"Papa angan detat-detat cama Omy hali ni. Omy unya Liyo hali ni," protes Rio.
Ryan mengangkat alisnya tidak mengerti dengan perkataan Rio sepenuhnya. Kemudian Ryan memiliki sebuah ide untuk menjahili Rio. Ryan mengabaikan peringatan Rio dan malah memeluk Dilla dengan erat.
"Mama punya Papa. Jadi terserah Papa dong mau di dekat Mama," usil Ryan.
"Papa…."
Rio tidak terima dengan perkataan Ryan. Rio kembali menyerang Ryan dengan cara mendorong Ryan. Rio sudah berusaha keras untuk memisahkan Ryan dari Dilla tapi tidak membuahkan hasil. Akhir ceritanya Rio menangis keras.
"Huwaaa Papa ahat. Papa ambil Omy dali Liyo. Papa ahat hiks hiks," ujar Rio marah.
"Mas," tegur Dilla.
"Omy, Papa natal," lapor Rio.
"Mas jangan jahil sama anak sendiri. Mas lihat itu, Rio sudah menangis," tegur Dilla lagi.
Ryan melepaskan pelukannya pada Dilla. Dilla mendekati dan memeluk Rio yang sudah menangis tak karuan.
"Sudah ya nangis nya. Katanya Rio sudah besar," kata Dilla.
Rio masih menangis tidak terima. Ryan segera meraih dan menggendong Rio yang masih menangis.
"Dasar kamu ya. Dasar anak nakal," kata Ryan bercanda.
Ryan mengusapkan wajahnya pada perut Rio. Rio yang tadinya menangis kini malah diganti dengan tertawa. Rio geli saat Ryan menggosokkan perutnya dengan muka Ryan.
"Ini rasakan rasakan, rasakan serangan Papa," Ryan semakin menggelitik perut Rio.
"Pa haha, udah Pa, teli," ujar Rio sambil tertawa.
Karena Ryan masih bermain sama Rio. Dilla memutuskan pergi ke kamar untuk meletakkan barang Ryan dan menyiapkan air buat Ryan mandi.
***
Rio benar-benar menempeli Dilla sampai malam. Dilla baru bisa lepas dari Rio saat Rio sudah tertidur. Rio dan Rafa tetap tidur di kamar masing-masing setelah dibujuk oleh Dilla dan lainnya dengan berbagai cara. Mereka mau jika Dilla harus menemani mereka sampai tertidur.
Setelah selesai menidurkan Rio dan Reza, Dilla kembali lagi ke kamarnya. Di dalam kamar ternyata tidak ada Ryan. Sambil menunggu Ryan Dilla mencari surat yang diberikan oleh wali kelas Reza.
"Di mana ya aku meletakkan surat yang diberikan oleh wali kelas Reza. Padahal aku yakin jika aku meletakkan di laci ini," ujar Dilla.
Dilla mulai mencoba mencari di tempat lain. Karena tidak menemukan di lagi yang biasa Dilla gunakan, Maka Dilla mencari di dalam laci bawah. Dilla membuka laci terbawah dan melihat bingkai foto milik Riana dan Ryan.
Dilla segera mengeluarkan bingkai itu untuk melihatnya dengan jelas. Difoto tersebut terlihat Ryan yang memeluk Riana hamil dengan Riana yang memegang tangan Reza.
Ryan yang tiba-tiba masuk melihat Dilla yang sedang melihat bingkai tersebut. Ryan segera mendekati Dilla.
Bersambung....
Rekomendasi salah satu novel yang keren buat kalian ya.