Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 172. Petualangan



Dalam membahas penculikan tentang Dilla menghabiskan waktu kurang lebih satu jam lebih. Untuk perkembangan kasus masih saja belum menemukan titik terang. Para polisi keluar dari ruang kantor Ryan. 


"Permisi Pak," ujar sekretaris Ryan. 


"Iya, ada apa," sahut Ryan. 


"Pak, ini ada laporan yang baru saja masuk."


"Kamu letakkan di atas meja saja. Nanti saya cek," suruh Ryan.


"Baik Pak."


Sekretaris itu meletakkan di atas meja. 


"Sekarang di mana Rio?" tanya Ryan tanpa melihat ke arah sekretaris. 


"Rio? Saya tidak melihat Rio, Pak."


"Bukannya tadi Rio bilang ingin pinjam charger sama kamu?"  


"Maaf Pak. Tapi saya sama sekali tidak bertemu sama Rio sejak Bapak membawa dia masuk tadi."


"Apa katamu!" teriak Ryan.


"Bagaimana mungkin, jelas-jelas saya mendengar sendiri."


"Beneran Pak, Rio sama sekali tidak mencari saya." 


"Kalau Rio tidak mencari kamu, kemana dia pergi. Rio sudah pergi lebih dari satu jam. Saya pikir Rio sedang bermain sama kamu," ujar Ryan dengan emosi.


"Maaf Pak, saya juga tidak melihat Rio keluar dari sini. Tadi saya lagi urus dokumen."


Ryan membanting barang-barang yang ada di atas meja. Masalah Dilla belum temukan titik terang, sekarang Rio malah menghilang. 


"Sekarang kamu bantu saya cari Rio sampai ketemu. Kamu cari dia jangan buat kehebohan. Saya tidak mau masalah ini diketahui orang banyak. Kamu minta tolong sama satpam juga," ucap Ryan.


"Baik Pak."


Ryan segera mengambil jas dan HP. Ryan mencari Rio di dalam gedung. Setelah berkeliling lima belas menit, Ryan sama sekali tidak menemukan Rio di mana pun. 


"Apa kalian menemukan Rio?" tanya Ryan.


"Tidak Pak. Kami sudah membagi tugas dan tidak melihat keberadaan bos kecil."


"Apa kalian sudah mencari di semua tampat?"


"Sudah Pak." 


"Sebaiknya kita lihat di CCTV saja Pak. Pasti di CCTV bisa merekam ke mana Rio pergi," usul salah satu satpam.


"Ayo kita cek di CCTV," ajak Ryan.


Ryan memutuskan untuk mencari menggunakan CCTV gedung. Ryan berjalan dengan langkah lebar dan cepat. Ryan membuka ruang monitor dengan kasar. Orang yang bekerja di sana terkejut dengan kedatangan Ryan. 


"Ada apa Pak," ujatujar pengawas monitor CCTV.


"Kamu coba putar CCTV satu setengah jam yang lalu. Kamu coba lihat di depan ruangan saya," perintah Ryan tanpa basa basi.


"Baik Pak," tanpa bertanya lebih lanjut mereka segera memutar rekaman CCTV saat Ryan masuk bersama Rio dab Daniel.


"Coba dipercepat sedikit setelah orang itu keluar."


"Ya di sana. Berhenti." ujar Ryan. 


Di dalam CCTV terlihat kalau Rio sedang berjalan bersembunyi-sembunyi.


"Siapa orang yang Rio ikuti coba dicek."


Karena masih pagi dan di waktu yang sibuk, mereka tidak bisa menentukan siapa orang yang dikuti boleh Rio.


"Mala sambungannya lagi?" tanya Ryan.


"Maaf Pak, CCTV dari ruangan ini dan menuju tempat parkiran sedang diperbaiki saat ini."


"Bagaimana disaat yang mendesak seperti ini CCTV diperbaiki," teriak Ryan kesal.


"Maaf Pak, beberapa hari yang lalu CCTV mengalami masalah. Baru sekarang para teknisi bisa datang," jawab mereka dengan gemetar.


Ryan sekarang merasa menjadi lelaki yang tidak berguna. Ryan tidak bisa menjaga orang yang dia sayangi.


'Sekarang apa yang harus aku lakukan."


***


Mobil milik Daniel memasuki pekarangan rumah Daniel. Daniel mengerem mobil dengan tiba-tiba. Rioyang ada di belakang dan masih tertidur kepala dia berbenturan sama pintu mobil.


Buak.


"Suara apa itu?" tanya Daniel. 


Daniel segera menoleh ke arah belakang dan melihat ke sekeliling. Daniel tidak menemukan apapun yang mencurigakan. 


"Apa tadi aku salah dengar ya. Ya sudahlah, aku harus cepat mengambil dokumen penting yang tertinggal."


Dengan buru-buru Danirl turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. 


"Aduh tepala Liyo atit. Om tu dimana cih bawa mobil. Ndak ati-ati. Tan tepala Liyo adi ada unung," ujar Rio sambil mengusap kepala yang sakit.


"Liyo ampil upa. Liyo tan te cini mau cali Ony," kata Rio yang teringat sama tujuan dia pertama mengikuti Daniel.


Rio mencoba mengintip dari dalam mobil. Di perkarangan rumah tidak banyak penjaga yang berjaga di depan rumah. Rio dengan hati-hati membuka pintu mobil dan menutup dengan pelan agar tidak menimbulkan bunyi. 


***


"Omy di mana ya," ujar Rio sambil melipat tangan dan satu tangan memegang dagu. 


Ketika ada yang orang lewat, Rio segera bersembunyi di balik vas bunga yang setinggi orang dewasa, sehingga tubuh Rio tertutup dengan keseluruhan.


"Di mana Sam saam Dilla?" tanya Daniel pada kepala penjaga villa.


"Mereka sedang bermain di kamar Sam Tuan," lapor penjaga 


"Kamu tetap jaga dan awasi dia baik-baik. Aku tidak mau dia kabur dari sini. Jika dia kabur, kalian akan tanggung akibatnya," ancam Daniel.


"Baik Tuan. Kami akan menjalankan tugas sebaik mungkin."


Daniel kembali lagi ke kantor setelah selesai bicara.


"Benal piling Liyo talau om tu tahu di mana omy belada. Api tenapa omy ada di cini ya. Tan papa ilang talau omy ada di tampyung. Apa nenek dan tatek omy ada di cini uga ya. Wah liyo bica ajak main bang Budi dan bang Udi nanti. Liyo cali omy dulilu deh. Liyo angen omy," ujar Rio dengan pemikiran polos.


Setelah penjaga rumah itu pergi, Rio kembali berpetualangan. Rio dengan hati-hati menjelajah rumah itu. Rio sudah memasuki beberapa ruangan tapi tidak juga menemukan Dilla di mana pun.


Kruk kruk kruk.


Bunyi suara perut Rio.


"Aduh, Liyo lapal. Liyo beyum matan ciang," kata Rio sambil memegang perut yang berbunyi.


Rio kembali berjalan menyelusuri rumah itu. Sekarang tujuan Rio adakah mencari makanan. 


***


Hidung tajam Rio dengan cepat menemukan dapur. Rio kembali mengendap agar tidak ketahuan. Rio bersembunyi di bawah meja yang tertutup sama kain penutup meja yang panjang 


Para pembantu sedang membuat cake buat Sam dan Dilla.


Rio dengan hati-hati dan tanpa bersuara mengambil cake yang sudah jadi ke bawah meja. Dengan senang hati Rio memakan cake tersebut dengan semangat.


"Lho, di mana cake yang sudah jadi?"


"Bukannya tadi di atas meja," sahut rekan pembantu.


"Iya, aku juga yakin telah menaruhnya di atas meja. Tapi sekarang sudah tidak ada lagi."


"Kok bisa?"


"Aku tidak tau."


Clap clap clap.


"Suara apa itu?" tanya mereka ketakutan.


Clap clap clap.


Terdengar lagi suara Rio yang sedang mengisap atau membersihkan tangan dari noda cream menggunakan mulut.


"Kok seram ya. Tidak ada orang tapi ada suara," ujar mereka semakin ketakutan.


Hik hik hik.


Suara Rio yang cegukan karena makan tanpa minum.


"Hantu…," teriak mereka berdua sambil berlari dan meninggalkan dapur.


Hik hik hik.


"Liyo hik hawus hik," luar Rio disela cegukan.


Rio mengintip lagi apa ada orang atau tidak. Karena tidak ada orang, Rio segera keluar dari bawah meja. Rio meletakan kembali piring yang sudah kosong di tempat semula. Kemudian Rio mengambil air minum.


"Liyo cetalang udah tenyang. Liyo mau cali omy lagi ah," ujar Rio yang melanjutkan petualangan dia.


"Dimana hantu nya. Kenapa di siang bolong ada hantu segala," ujar salah satu penjaga yang mereka temukan sebagai pelindung mereka. 


"Beneran tadi ada hantu."


"Iya, cake yang kami buat juga hilang."


"Ini apa?" tanya penjaga itu sambil menunjukkan bekas piring cake.


"Kok bisa ada di sini. Tadi beneran hilang."


"Bilang aja kalian yang makan semua. Pakek alasan di makan hantu segala."


"Kami tidak bohong."


"Tadi beneran cake nya hilang."


"Sudah, kalian jangan ganggu aku. Aku harus berjaga. Nanti tuan Daniel bisa marah."


Penjaga itu segera pergi dari dapur karena tidak ada lagi masalah.


"Gimana ini."


"Aku juga tidak tau."


"Kenapa tempat ini jadi angker sih."


Apakah Rio akan bertemu Dilla atau Daniel?


Tunggu di Bab selanjutnya.


Bersambung….