Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 93. Pancingan 2



Ryan dan Dafa memasuki kamar rawat Jelita. Di dalam ruangan hanya Jelita yang terbangun. Reza dan Rafa tidur satu tempat di ranjang Rafa. Sedangkan Dilla dan Rio tidur di sofa dengan Rio dalam pelukan Dilla. Tadi Dilla hanya mengikuti kemauan Rio yang meminta Dilla tidur di sampingnya, Dilla yang merasakan hembusan AC yang sejuk membuat dia tertidur lelap juga.


Rita sudah pamit pulang, katanya sebentar lagi juga balik.


"Ini kenapa pasien yang menjaga?" tanya Dafa heran.


Dafa mendekati Jelita dan mencium keningnya sekilas.


"Mereka kecapean karena dari tadi bermain, jangan terlalu ribut, nanti mereka terbangun," kata Jelita memperhatikan anak anak supaya tidak terjaga.


Ryan menuju Reza dan Rafa, dia membetulkan selimut mereka biar tidak kedinginan. Kemudian dia melangkah ke arah Dilla dan Rio. Ryan melepaskan jasnya dan menyelimuti mereka berdua.


Jelita yang melihatnya tersenyum lebar, Dafa juga melihat ke arah pandangan Jelita. Kening Dafa berkedut heran melihat Ryan yang menyelimuti Dilla dengan jasnya.


"Tumben Ryan gitu," kata Dafa heran.


"Gimana, mereka cocokkan?" tanya Jelita.


"Apa maksud kamu dengan kata cocok."


Jelita membungkam mulut Dafa. Jelita tidak mau Ryan mendengar pembicaraan mereka.


"Kamu tidak lihat tu, Ryan perhatian banget sama Dilla."


"Ryan itu hanya menyelimuti Rio, apanya yang salah?" tanya Dafa.


'Cowok memang tidak peka'


"Kamu kenapa tidak balik ke rumah dulu, baru ke sini?" tanya jelita mengalihkan pertanyaan.


"Nanti aja pulangnya," jawab Dafa.


Dilla terganggu karena jas Ryan. Dilla menyingkirkan jas itu.


"Tuan sudah ada di sini," kata Dilla sambil menguap.


"Omyyy," panggil Rio yang juga ikut terbangun.


"Rio tidur lagi ya, ini masih siang," kata Dilla.


Ryan, Dafa dan Jelita terkekeh kecil. 


"Kenapa ada yang lucu?" tanya Dilla persis seperti Rio buang kebingungan.


"Dilla coba kamu lihat ke jendela," seru Jelita.


Dilla segera menoleh kearah jendela, di luar sudah tidak terik lagi karena sudah sore.


"Ya ampun Mbak, sudah berapa jam Dilla tertidur," teriak Dilla kaget.


Rafa dan Reza ikut terbangun mendengar suara jeritan Dilla.


"Omyyy," Panggil Rio lagi.


Dilla segera memangku Rio.


"Kenapa Mbak tidak membangunkan Dilla?"


"Kamu pasti lelah, makanya tidak Mbak bangunkan. Lebih baik kalian cuci muka dulu."


Dilla segera membawa Rio kekamar mandi. Reza dan Rafa juga ikut masuk.


Kruk kruk


Perut Dilla berbunyi keras karena tadi siang makan sedikit. Semua yang ada di situ bisa mendengar perut Dilla. Dilla jadi malu.


"Sebaiknya kamu cari makan di kantin saja Dilla, kasihan perut kamu yang berbunyi keras," kata Jelita.


"Ah iya Mbak, Rio mau ikut Mommy?" tanya Dilla.


"Ndak Omy, mau cama Papa," Jawab Rio.


"Mommy Reza ikut ya," sahut Reza.


"Baiklah, Mommy akan pergi sama Reza saja."


Dilla mengandeng Reza ke kantin.


Ryan sangat senang jika Rio mau tinggal bersamanya dari pada ikut sama Dilla. Ryan segera duduk dan memangku Rio di atas pahanya.


Beberapa saat hening karena tidak ada yang berbicara.


"Pa," panggil Rio sambil memutar dasi yang digunakan Ryan.


"Iya sayang," sahut Ryan.


Ryan semakin senang melihat Rio yang bermanja sama dia.


Rio menatap lekat mata Papa nya.


"Pa, tapan Papa dan Omy atan menitah?" tanya Rio.


Bukan Ryan yang terbatuk tapi Dafa yang sedang minum.


Ryan dan Dafa sama sama kaget, mereka tidak menduga Rio akan bertanya begitu.


"Tapan Pa?" tanya Rio lagi.


"Kenapa Rio bertanya begitu, siapa yang bilang sama Rio?" tanya Ryan balik.


"Tata Ennek dan Ante Pa, tata na nitah tu bica adi Papa cama Mama."


"Ahhh itu…."


"Ah Liyo awu, Papa cama Omy dah nitah, butan Papa cama Mama, api Papa cama Omy," kata Rio dengan pemikirannya sendiri.


Ryan merasa gerah mendengar pertanyaan Rio.


"Api tenapa Papa cama Omy ndak cepelti Om cama Ante?" tanya Rio penasaran.


"Tidak sama seperti apa Rio?" tanya Jelita yang penasaran.


"Tenapa Omy cama Papa ndak catu tamal cepelti Om dan Ante," sambung Rio.


Jelita dan Dafa barengan melihat Ryan. Mereka penasaran sama jawaban Ryan. Ryan meringis kecil mendengar pertanyaan Rio yang tidak sepatutnya sama usianya.


"Itu karena Papa sama Mommy belum menikah jadi tidak boleh satu kamar," jawab Ryan.


"Tenapa Papa ndak nitah cama Omy."


"Menikah itu harus saling suka dulu."


"Tenapa Papa ndak cuta cama Omy?" tanya Rio lagi.


"Tan Omy aik, antik, celing baca liyo butu celita." sambung Rio.


"Memangnya kamu tidak suka sama Dilla," pancing Jelita.


"Aku suka sama Dilla karena dia pengasuh Reza dan Rio. Kalian juga tau bagaimana Dilla merawat anak kita dengan baik, mana mungkin aku membencinya" jawab Ryan.


"Rio sini deh, tadi Rafa dapat mainan baru," panggil Rafa.


Rio segera menuju Rafa, kini Rio sudah lupa sama pertanyaan karena sudah ada mainan.


"Apa tidak ada rasa lain begitu?"


"Rasa lain bagaimana maksudnya?" tanya Ryan balik.


'Dasar pria tidak peka no 2'


"Maksudnya aku seperti suka secara romantis," kata Jelita to the poin.


Ryan diam mendengar pertanyaan Jelita.


"Kenapa kamu tanya begitu sayang, bagaimana caranya Ryan bisa menyukai Dilla?"


"Dafa, kamu diam dulu, aku lagi tanya sama Ryan. Sekali lagi motong lebih baik kamu pulang saja," Ancam Jelita gemas.


Dafa langsung diam. Mana mau dia meninggalkan Jelita sendiri di rumah sakit.


"Jadi bagaimana Ryan."


"Kalian kan tau aku sangat mencintai Riana. Hanya Riana yang memiliki hati aku," jawab Ryan ragu.


Dulu jika dulu ditanya siapa yang paling dia suka maka dengan lantang dia akan menjawab dia adalah Riana. Tapi belakangan ini entah kenapa rasa sukanya sedikit memudar.


"Kamu jangan egois Ryan, anak kamu butuh sosok figur seorang Ibu. Asal kamu tau, tidak mungkin Dilla mau menjaga anak kamu seumur hidup, dia pasti akan memiliki keluarga sendiri," ujar Jelita.


"Sebaiknya kamu harus membuka hati kamu buat wanita lain. Aku rasa Dilla wanita yang cocok buat anak anak kamu. Dan sebaiknya kamu harus bertindak cepat karena Dilla sudah dilamar orang," sambung Jelita.


Jelita yakin 1.000% jika tipe seperti Ryan tidak akan mempan di serang dari samping. Orang seperti Ryan harus di serang dari depan sekalian pakek toa biar suaranya masuk ke hati.


'Apa maksudnya Jelita, Sultan sudah melamar Dilla, sejak kapan hubungan mereka sudah sejauh itu.'


Ryan salah target tentang yang melamar Dilla.


"Jika kamu tidak segera cepat tangkap, siap-siap saja anak anak kamu akan ditinggal Dilla. Sekarang kamu harus segera memilih, membuka hati kamu untuk Dilla atau membiarkan Dilla meninggalkan kamu dan anak anak kamu."


"Oh ya satu hal yang harus kamu tau, jika Dilla beneran pergi maka aku bisa pastikan jika psikis Rio yang jadi taruhannya. Bagaimana pun Rio sangat sayang pada Dilla, kamu bisa melihat sendiri bagaimana keadaan Rafa saat aku meninggalkannya, saat itu usia Rafa malah lebih tua dibanding Rio. Rio pasti juga akan membenci kamu karena Dilla pergi."


Jelita sengaja menambahkan bumbu agar Ryan semakin terpancing dengan omongan dia.


"Sebaiknya kamu fikirkan dulu Ryan, apa yang terbaik buat kamu juga buat anak anak kamu," tambah Dafa.


"Biarkan aku berpikir dulu," sahut Ryan akhirnya.


"Sebaiknya kamu jangan lama berfikir, jika janur kuning sudah melengkung, kamu akan kehilangan dia untuk selamanya."


Ryan satu sisi tidak rela melihat Dilla pergi, dia sudah merasa nyaman di dekat Dilla seperti saat bersama Riana. Tapi dia masih terbayang akan janjinya sama Riana jika cinta mereka akan dibawa sampai mati. Satu sisi lain dia juga tidak mungkin membiarkan anak anaknya tumbuh tanpa sosok seorang ibu.


Bersambung….