Nanny And Duda

Nanny And Duda
Extra Part 3



Mau Gendong Adik Syifa 


***


Kini usia Syifa memasuki dua bulan. Dilla dengan telaten mengurus Syifa tanpa mengabaikan Rio dan Reza. Reza yang sudah besar sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Sehingga sedikit membantu Dilla. 


Sedangkan Rio juga mulai belajar mandiri seperti Reza karena ingin adiknya bangga kepadanya. Tidak sekali dua kali Rio yang belajar membuat kerjaan Dilla semakin banyak.


Contohnya ketika Rio mau memakai baju. Tanpa rasa bersalah Rio menarik baju yang berada dari tumbukan di bawah dengan alasan baju itu lebih dia sukai. Alhasil semua baju jadi berantakan. Dilla hanya bisa menghela nafas bersabar dengan proses mandiri Rio.


Sifat mereka sangat membantu Dilla di lain sisi. sekarang Dilla bisa lebih fokus mengurus Syifa yang masih sangat kecil. Reza dan Rio juga tidak mau kalah dalam menjaga Syifa. 


Reza kalau ada Rio tidak terlalu dekat dengan Syifa. Rio akan menceramahi Reza panjang lebar jika ketahuan. Reza akan mencuri kesempatan bila Rio tidak ada.


Saat ini Dilla sedang mengendong Syifa sambil mengayun Syifa ke kiri dan ke kanan. Syifa sangat suka bila digendong sambil diayunkan atau berjalan. Perlakuan Dilla membuat Syifa tertawa senang.


Rio cemburu melihat Syifa tertawa dalam gendongan Dilla. Rio juga bisa membuat Syifa tertawa. Disana juga ada Ryan, Reza dan Rita buat menikmati watu sore hari.


"Omy, Liyo Mau endong dek Cipa uga," pinta Rio menarik baju Rio.


"Sayang, sekarang adik Syifa masih kecil. Adik Syifa belum bisa digendong sembarangan. Nanti kalau adik Syifa sudah besar baru Rio boleh menggendongnya ya," jawab Dilla.


"Tenapa Omy celalu lalang-lalang Liyo endong dek Cipa. Talau Omy bica bebas endong dek Cipa," protes Rio.


"Itu beda sayang. Mama sudah besar. Jadi Mama bisa pegang adik Syifa dengan benar," jawab Dilla.


"Liyo uga udah becal, Omy," balas Rio.


"Sudah jangan ribut lagi Rio. Nanti ada saatnya Rio bisa mengendong Syifa," lerai Rita.


"Mau na cetalang Nek," ucap Rio menunjukan muka minta belas kasihan.


"Rio sayang. Bukannya Mama tidak mau kasih adik Syifa kepada Rio. Tapi Rio belum punya tangan yang panjang buat memegang adik Syifa. Coba Rio perhatian adik Syifa yang begitu aktif. Nanti adik Syifa bisa jatuh kalau Rio gendong sekarang," bujuk Dilla.


"Apa Rio mau adiknya jatuh? Apa Rio tidak sayang sama adik Syifa?" tanya Ryan. 


"Adi Liyo halus anjang angan ulu ya, Omy? Bila Liyo bica endong adik Cipa?" tanya Rio balik.


"Iya sayang," sahut Dilla.


Dilla yang sudah lelah berdiri duduk si samping Ryan. Tidak bagus juga jika Dilla terlalu lama mengayun Syifa. Nanti yang ada Syifa akan ketagihan.


"Belati anti malam Liyo mau culi uwang Papa cama Nenek ya," lapor Rio sebelum mau mencuri.


"Apa maksud Rio?" tanya mereka semua.


"Tan tata Omy, Liyo halus anjang angan. Tan talau menculi tu adi angan anjang," jelas Rio polos.


Ada persimpangan muncul di jidat mereka. Mereka tidak menduga jika Rio punya pemikiran sampai ke arah sana.


"Rio, mencuri itu tidak bagus," tegur Ryan.


"Liyo anya mau endong adik Cipa, Pa," ucap Rio mempertahankan pendapatnya.


"Sayang, mencuri itu hanya istilah panjang tangan. Bukan berati setelah mencuri tangannya akan panjang. Dan, mencuri itu bukan perbuatan baik. Mama tidak mau melihat dan mendengar jika ada anak Mama yang mencuri," ujar Dilla kepada Rio dan Reza.


"Liyo anya mau endong dek Cipa aja," kata Rio dengan lesu dan memeluk Syifa dalam gendongan Dilla.


"Nanti ya, kalau adik Syifa sudah bisa duduk dengan benar. Baru Rio boleh mengendong adik Syifa. Kalau mau jadi abang yang baik memang harus banyak bersabar," ujar Dilla dengan lembut mengusap kepala Rio.


"Bayik Omy," jawab Rio dengan tidak ikhlas.


Rio memainkan tangan Syifa untuk menghibur diri sendiri. Sekali-kali dia mencium pipi Syifa. 


Ulah Ryan mengganggu kesenangan Rio. Dia sudah bisa membangkitkan semangat kembali. Sekarang malah diganggu sama Ryan. 


"Papa!" teriak Rio tidak terima.


"Iya Rio," sahut Ryan pura-pura tidak terjadi apapun.


"Papa, itu adiknya Rio. Angan diambil," ucap Rio memukul kaki Ryan.


"Ini memang adik Rio. Tapi Rio jangan lupa jika ini anaknya Papa," goda Ryan dengan  mencubit hidung Rio.


"Omy…." mengadu Rio meminta bantuan kepada Dilla. 


Dilla sudah terbiasa melihat adegan ini. Suaminya itu suka sekali menggoda Rio melalui Syifa.


"Sudah Mas, jangan mengganggu Rio lagi. Rio bisa rewel jika marah. Nanti seisi rumah bisa heboh," kata Dilla menegur Ryan.


"Omy, Liyo ndak lewel," bantah Rio tidak terima.


"Iya iya. Rio tidak rewel, hanya suka mengambek dan marah-marah," ejek Ryan.


"Omy… Papa natal," tunjuk Rio ke hidung Ryan.


"Suda, sini Rio sama Omy dulu. Rio sudah main sama adik Syifa dari pagi. Biar adik Syifa main sama Papa sebentar," ujar Dilla.


Dilla menarik Rio ke pangkuannya. Rio masih saja cemberut. Rio mengawasi Syifa dengan mata bulat besarnya. Jika ada yang macam-macam maka Rio tidak akan segan menggigit mereka. 


Reza fokus melihat Syifa dari tadi. Reza sekali-kali membuat muka lucu agar Syifa tertawa. Reza duduk sedikit menjauh dari Syifa. Dia memilih jaga harus aman dari Rio.


"Adik Syifa melihat abang Reza ya. Apa adik Syifa mau main sama abang Reza," ucap Ryan yang tahu jika Syifa merespon mimik Reza.


Ryan mendekatkan Syifa ke arah Reza. Reza yang terbuai juga ikut mendekat dan memegang tangan Syifa yang terbungkus dengan sarung tangan. 


"Bang Eja angan egang-engang tu adiknya Liyo!" teriak Rio.


Rio segera bangkit dari atas Dilla. Rio mendorong Reza agar menjauh dari Syifa. Rio dengan cepat duduk antara Ryan dan Reza agar bisa memisahkan mereka. 


"Wah... sepertinya ada yang cemburu," ejek Ryan lagi.


"Iya, Liyo cembulu. Nih, Bang Eja egang angan Liyo aja," tawar Rio menyerahkan tangannya.


"Oek… oek… oek…."


Syifa mulai menangis dengan perlahan. Sekarang sudah waktunya Syifa minum susu.


"Adik Cipa tenapa nanis. Angan nanis ya. Ada Bang Liyo di cini," ujar Rio menepuk Syifa.


"Syifa sudah lapar ya. Sini adik Syifa nya. Biar Mama kasih susu dulu," pinta Dilla kepada Ryan. 


Ryan menyerahkan Syifa ke Dilla. Syifa sudah membuka menutup mulutnya pertanda dia sudah lapar. Dilla membawa Syifa ke kamar agar tidak ada yang ganggu.


"Rio mau kemana?" cegat Ryan.


"Liyo Mau cucul Omy," jawab Rio memberontak.


"Rio di sini saja sama Papa," ujar Ryan memeluk Rio dengan erat.


"Papa!" teriak Rio membahana.


Bersambung….