
"Memangnya kenapa, kamu suka melihatnya juga kan, dari tadi juga lirik lirik. Sini lihat langsung tidak usah malu malu," ujrar Ryan tanpa rasa malu.
"Tuan jangan mendekat, Tuan jangan macam macam ya," Dilla merasa terpojok.
"Saya tidak mau macam macam kok, hanya mau satu macam saja," ujar Ryan dengan suara seksi.
"Dilla bilang jangan mendekat," teriak Dilla.
Ryan mengabaikan Dilla dan berjalan semakin mendekati Dilla.
"Sudahlah Dilla kita ini hanya ada berdua di kamar ini, jadi tidak usah malu malu gitu," Ryan ingin sekali tertawa melihat ekspresi ketakutan Dilla yang lucu.
Ryan berusaha keras tetap menjaga ekspresi wajahnya.
"Tuan stop, kalau tidak Dilla tidak akan segan segan memukul Tuan sampai babak belur," kata Dilla yang semakin panik.
Dilla yakin jika Tuannya saat ini sedang dirasuki jin mesum. Tuan Ryan yang dia kenal tidak seperti ini.
"Asal kamu tau Dilla, sekuat kuatnya perempuan maka akan lebih kuat lagi laki laki," sahut Ryan.
Ryan sengaja menggerakkan tangan dan tubuhnya untuk membuktikan kalau dia memang kuat. Tapi Ryan yakin jika dia beneran bergulat sama Dilla dia yang akan kalah. Ini hanyalah action agar Dilla percaya.
"Tuan jangan mendekat lagi, kalau Tuan masih nekat Dilla akan mengadu pada Rio dan Reza kalau Papa nya menyiksa Mommy mereka," ancam Dilla yang teringat sama Rio dan Reza.
Dilla sudah memegang bantal sebagai pertahanannya.
Ryan berhenti berjalan. Ryan yakin jika dilla serius mengancamnya.
"Kamu ini pintar ya, menggunakan Rio dan Reza sebagai ancaman," ujar Ryan berdecak.
Kali ini Ryan merasa kalah.
Ryan kembali melanjutkan memakai bajunya yang tertunda.
"Habis Tuan aneh sih, hanya Rio dan Reza yang Tuan yang takutkan.
Dilla kembali ketempat tidur, sekarang hatinya sudah mulai sedikit tenang.
"Tadi kenapa kamu teriak teriak tidak jelas."
"Ah itu Tuan, Dilla hampir lupa tadi ada kecoak yang lewat."
"Kamu ini sama kecoak yang kecil takut tapi sama preman yang besar tidak," ujar Ryan tak percaya.
"Itu beda Tuan, kecoak itiu bikin merinding," jawab Dilla tidak terima.
"Ya sudah, kamu tidur di kasur dan saya yang tidur dilantai, tidak mungkin kita tidur satu ranjang. Karena saya laki laki tidak masalah tidur di lantai. Tapi kalau kamu tidak keberatan saya tidak masalah sih kita tidur berdua di atas kasur."
Dilla segera melempar bantal dan selimut ke arah Ryan dan menarik selimut untuk dirinya sendiri. Dia tidak mau Ryan berubah pikiran.
Baru sedetik Dilla menutup mata dia mendengar suara aneh.
Uuuh ahh ahh….
Dilla jadi merinding, Dilla makin rapat menutup mata tapi suaranya semakin terdengar.
Uuuh ahh ahh….
Dilla membuka matanya, dia yakin jika dia tidak berhalusinasi.
"Tuan," panggil Dilla.
"Tuan dengar tidak suara aneh itu," sambung Dilla.
"Saya tidak mendengar apa apa sana tidur lagi," ujar Ryan berbohong.
Ryan juga mendengar suara mendesah itu.
Uuuh ahh ahh….
"Tuan itu terdengar lagi," kata Dilla lagi.
"Udah sana tidur lagi, jangan urusi urusan orang," kata Ryan setelah bangun.
Ryan mencoba tidur lagi.
Uhh akh akh….
Kini suara yang seperti mendesah berubah menjadi suara orang kesakitan.
"Tuan itu seperti suara kesakitan," ujar Dilla yakin.
Ternyata di depan kamar mereka ada seorang Ibu hamil yang berteriak kesakitan.
"Tolong ini sakit sekali uuuh akh akh," ujar dia minta tolong.
Dilla dan Ryan mendekati Ibu itu.
"Ibu tenang ya, aduh Tuan bagaimana ini, sepertinya Ibu ini mau melahirkan," kata Dilla.
Duk duk duk....
"Ya ampun Nak, kenapa kamu bisa di sini," ujar Nenek Sumbi dengan khawatir.
"Ayo sini Nenek bantu ke kamar."
" Tidak bisa Nek, sepertinya Surti mau melahirkan sekarang."
"Adu bagaimana ini, Nenek tidak sanggup membawa kamu ke kamar."
"Tuan ayo bantu Ibu ini," pinta Dilla.
Dilla dan Ryan membantu membawa Ibu itu ke kamarnya. Setelah sampai di kamar mereka membaringkannya di atas kasur. Ibu itu tidak mau melepas Ryan lagi setelah dia berada di atas kasur, dia tetap memegang tangan Ryan dengan erat.
"Mas tolong ya, saya mau pegang mas sebagai pengganti suami saya," pinta Ibu itu.
Ryan yang tak tega mengabulkannya.
Dilla segera membantu Nenek Sumbi menyiapkan alat persalinan dadakan.
"Sepertinya sudah mau siap keluar, ayo Nak dorong terus," suruh Nenek Sumbi.
"Ayo buang dan tarik nafasnya dengan semangat," sambung Dilla.
Uuuh akh akh….
Ibu itu menarik tangan Ryan dan mencengkeram dengan sangat kuat sambil mencoba mendorong sekuat tenaga.
Sampai sepuluh menit kemudian baru nampak rambutnya saja.
"Ayo Bu keluarkan semua emosinya, Dilla pernah bantuin orang hamil juga dulu, dengan mengeluarkan emosi bisa sedikit membantu, ayo Bu semangat," Dilla bertuhan memberikan semangat.
"Dasar suami tidak tau diri, setelah aku mengandung anak kamu, kamu malah kabur sama wanita lain," teriak Ibu itu penuh emosi.
Ibu itu menarik rambut Ryan untuk melampiaskan emosinya. Dia menganggap jika yang dipegang adalah mantan suaminya.
'Wowww...,' batin Dilla yang melihat Ryan di aniaya.
"Awas aja kamu kalau ketemu lagi, aku tidak akan biarkan kamu melihat anak kita lagi. Aku akan membuktikan jika aku bisa mengurus anak aku sendiri tanpa kamu."
Ryan mencoba melepaskan tangan Ibu itu tapi dengan pelan karena dia juga merasa kasihan karena di tinggal suami.
Dilla kembali fokus membantu Nenek Sumbi.
Oek oek oek….
Akhirnya setelah menunggu beberapa menit kemudian bayinya lahir juga.
Setengah jam kemudian ibu itu pingsan karena kelelahan. Bayi dan Ibu itu lahir dengan sehat.
"Terima kasih ya kalian sudah membantu Nenek, Nenek merasa bersyukur ada kalian sekarang."
"Iya sama sama Nek, mungkin ini sudah ditakdirkan. Uuuh anak ini lucu sekali," kata dilla sambil melihat bayi laki laki itu.
"Ini sudah larut malam, kalian sebaiknya kembali tidur."
Dilla dan Ryan segera pergi kembali ke kamar. Ryan memijat kepalanya yang terasa sakit, dia merasa pusing.
"Tuan hebat bisa menerima serangan Ibu itu tadi hihihi," kata Dilla sambil ketawa.
"Huhhh, Ibu itu pasti lebih menderita dari saya sekarang. Seharusnya suami ada di samping istrinya saat istrinya melahirkan, ini malah kabur sama wanita lain. Memang suami yang tidak bertanggung jawab," ujar Ryan kesal.
Dilla tersentuh dengan ucapan Ryan, artinya Tuannya ini merupakan orang yang bertanggung jawab.
"Sudah sana lanjut tidur lagi," suruh Ryan.
Mereka kembali lanjut tidur. Keesokan paginya Nenek Sumbi telah mencari bensin untuk mereka berdua. Ryan dan Dilla mengucapkan terima kasih. Nenek Sumbi juga mengucapkan terima kasih karena telah membantu melahirkan cucunya.
Mereka berdua menerima bensin itu dan menuju ke mobil. Mobil itu kembali berjalan setelah mendapatkan bensin, jalanan juga sudah dibersihkan dari batang pohon yang terjatuh.
Bersambung….