Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 102. Pulkam



Dilla segera turun dari kereta api ketika kereta api berhenti berjalan. Dilla mengambil semua barang-barang bawaannya dengan lesu.


"Dilla," panggil seorang lelaki begitu kaki Dilla sudah keluar dari kereta.


"Bang Danang," sahut Dilla.


Ternyata lelaki itu adalah Danang, lelaki yang telah melamar Dilla. Danang telah menunggu kepulangan Dilla di depan pintu keluar kereta api. Dilla segera mendekati Danang yang tidak jauh darinya. 


"Apa kabar Dilla?" tanya Danang.


"Baik Bang Danang, Abang apa kabar?" tanya Dilla balik.


"Abang juga baik," sahut Danang.


"Apa hanya ini semua barang-barang kamu, apa ada yang lain?" tanya Danang.


"Tidak ada yang lain Bang Danang, hanya ini barang bawaan Dila," ujar Dilla. 


"Kalau begitu sini biar Bang Danang yang bantu bawakan barang Dek Dilla," pinta Danang.


Danang ingin menawarkan bantuannya untuk membantu Dilla. 


"Tidak usah Bang Dananh, Dilla bisa membawa sendiri, karena barang bawaannya tidak terlalu berat," sahut Dilla.


"Kamu ini jangan sungkan sama Abang, sini Abang bantu bawakan," kata Danag sambil mengambil tas yang dipegang Dilla.


"Sekarang  ayo kita segera ke parkiran, " ajak Danang saat tas Dilla sudah ada di tangannya.


Dilla tidak berani meminta tasnya kembali, dia tidak mungkin menolak bantuan Danang, takut tersinggung.


Dilla dan Danang segera menuju ke tempat parkiran. Danang hanya membawakan sepeda motor. Setelah mempersilahkan Dilla naik dibelakang, mereka berangkat menuju ke rumah sakit. 


Dilla sengaja menyuruh Danang mengantarnya ke rumah sakit karena dia sangat khawatir sama keadaan Bibinya. Dilla ingin segera melihat kondisi Bibinya. Danang tanpa protes mengiyakan permintaan Dilla. 


Sepeda motor itu terus melaju dengan kecepatan sedang, dalam perjalanan tidak ada terjadi percakapan apapun. Mereka sama-sama diam, Dilla tidak tahu mau menanyakan apa kepada Bang Danang, terlebih lagi tentang perihal lamaran dia.


Mereka telah tiba di rumah sakit, tanpa basa-basi lagi mereka segera menuju ke ruang rawat inap Bibi Dilla. Danang membukakan pintu untuk Dilla saat mereka tiba di kamar inap. Di dalam ruangan ada Paman dan juga kedua sepupu Dilla, Budi dan Yudi.


Budi dan Yudi yang melihat kedatangan Dilla segera menghampiri Dila. Mereka memeluk Dilla dengan sangat erat. Mereka sudah sangat rindu kepada Dilla.


"Mbak Dilla," ujar mereka berdua.


"Kalian baik-baik sajakan ketika Mbak Dilla tidak ada?" tanya Dilla.


"Kami baik-baik saja Mbak, tapi kami sangat kangen sama Mbak Dilla. Mbak Dilla perginya terlalu lama," ujar Yudi.


"Maafkan Mbak Dilla ya, Mbak Dilla pulang lama karena Mbak di sana pergi berkerja, jadi tidak mungkin jika Mbak pulang ke kampung dalam waktu cepat. setelah ini Mbak akan terus bersama kalian karena sudah tidak akan pergi ke kota lagi," ujar Dilla.


Yudi dan Budi yang mendengarnya merasa senang, sekarang Mbak Dilla akan selalu menemani mereka. 


Setelah bicara sebentar sama Yudi dan Budi serta melepaskan pelukan mereka, Dilla mendekati Paman dan Bibinya. Dilla segera menyalami Paman dan Bibi.


"Bibi bisa saja, Dilla makan kok, dan badan Dilla juga tidak kurusan, malahan Dilla merasa jika Dilla sudah kegemukan," sahut Dilla.


"Nak Danang lihatlah, gadis jaman sekarang punya badan segini dibilang gemuk, kalau badan segini dibilang gemuk bagaimana jika kurusnya," canda Paman Dilla.


Danang hanya tersenyum mendengar candaan Paman Dilla. Sedangkan Dilla cemberut dan merasa sedikit malu dengan candaan Pamannya. 


"Sudahlah Yah, jangan ganggu Dilla. Dilla pasti sudah capek karena baru datang dari jauh-jauh. Biarkan dia istirahat terlebih dahulu, jangan Ayah ganggu Dilla lagi," ujar sang Bibi.


"Kenapa kamu tidak pulang ke rumah dulu Nak. Padahal ini sudah malam, kamu pasti sangat capek juga," sambung Bibi kepada Dilla.


"Dilla ingin segera melihat Bibi, jadi Dilla sengaja menyuruh Bang Danang untuk mengantarkan Dilla kemari Bi," sahut Dilla.


"Ya sudah kalau begitu, lebih baik kamu duduk aja dulu di sana. Bibi sebenarnya juga ingin sekali banyak bercerita sama kamu tetapi karena kamu masih capek lebih baik kita bicarakan lain kali saja ya." 


"Dilla tidak capek kok Bi, tapi bagaimana dengan kondisi Bibi sendiri. Katanya Bibi tadi pagi masih belum sadar?" tanya Dilla.


"Kamu Jangan dengarkan kata Budi, dia hanya khawatir saja. Bibi baik-baik saja sekarang, mungkin kemarin karena masih pengaruh obat makanya Bibi belum sadar. Sekarang kamu bisa lihat sendiri kondisi Bibi saat ini. Bibi baik-baik sajakan." 


Dilla merasa syukur melihat keadaan Bibinya yang baik-baik saja. Dilla yang juga merasa lelah segera duduk di atas karpet yang ada di sana. Budi dan Yudi segera menghampiri Dilla. Mereka langsung rebahan di kaki Dilla, mereka sudah sangat ingin bermanja-manja ria sama Dilla lagi.


"Budi, Yudi, Mbak kalian baru saja sampai, jangan kalian ganggu Mbak kalian dulu. Dia pasti sudah sangat capek," Tegur Paman Dilla.


"Tapi Budi sudah sangat kangen sama Mbak Dilla Ayah.Mbak Dilla perginya terlalu lama," ujar Budi.


Budi segera melingkarkan tangannya di pinggang Dilla yang duduk di atas karpet. Dia menolak permintaan sang Ayah yang memintanya menjauh dari Dilla. Yudi juga melakukan hal yang sama seperti Budi. Paman dan Bibi Dilla hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua anaknya.


"Tidak apa kok Paman, Bibi, mereka sudah lama tidak berjumpa sama Dilla. Ya wajar jika mereka sangat ingin bermanja-manja sama Dilla," sahut Dilla.


"Paman, Bibi, Danang mau pamit pulang ya, ini sudah mulai larut malam," pamit Danang.


"Kenapa kamu cepat sekali pulang Danang?" 


"Ayah ini bagaimana sih, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 tapi ayah masih bilang masih cepat. Kamu pulangnya sendiri saja Nak atau apa kamu pulangnya sama Dilla aja. Sekalian Dilla pulang ke rumah biar dia bisa istirahat dengan baik."


"Dilla istirahat di sini aja. Tidak apa-apa kok," sahut Dilla. 


"Tidak apa-apa Paman, Danang bisa pulang sendiri. Lagian tidak enak jika Dilla pulang sama Danang malam-malam begini. Tidak enak dilihat sama warga dan orang lain nanti," ucap Danang.


"Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan ya, jangan bawa sepeda motornya dengan cepat," ucap Paman menasehati.


"Baik Paman, kalau begitu Dalam pamit dulu ya Paman, Bibi dan Dilla," sahut Danang. 


Setelah berpamitan sama Paman, Bibi dan Dilla, Danang menyalami mereka terlebih dahulu, setelah itu baru keluar dari ruangan itu. 


Tidak membutuhkan waktu yang lama mereka bertiga tertidur di atas karpet. Tadi Dilla hanya berniat berbaring sebentar saja di samping mereka. Tapi karena tubuh dan pikirannya yang sudah sangat lelah makanya dia juga ikutan tertidur. 


Paman dan Bibi Dilla yang melihatnya hanya menggelengkan kepala saja. Mereka tahu jika Dilla pasti sudah sangat kelelahan, makanya dia langsung tertidur. Paman Dilla segera mengambilkan sebuah selimut dan menyelimuti mereka bertiga. 


Bersambung....