Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 116. Pilihan



"Apa yang ingin kamu bicarakan sama aku?" tanya Ryan. 


"Bagaimana keadaan Dilla selama di kota?" tanya Danang balik. 


Ryan mengernyitkan alisnya mendengar pertanyaan Danang. 


"Kenapa kamu bertanya tentang Dilla?" 


Danang terkekeh sebentar. 


"Jika kita saling bertanya siapa yang akan menjawabnya?" ujar Danang.


"Ekhem." 


Ryan berdehem berpura-pura tenggorokannya gatal. Dia membenarkan perkataan Danang.


"Aku hanya ingin tahu keadaan Dilla saja. Apa dia selama di kota baik-baik saja. Apa yang dia lakukan, dengan siapa dia berteman atau sejenisnya," kata Danang.


"Jika kamu ingin mengetahui hal itu, kamu dapat menanyakan langsung sama Dilla. Kamu tidak perlu bertanya kepada aku, aku rasa Dilla yang lebih berhak menjawab pertanyaan itu daripada aku," sahut Ryan.


Danang menganggukkan kepalanya. Beberapa detik berlalu, mereka berdua sama-sama terdiam.


"Apakah kamu mencintai Dilla,? tanya Danang to the point.


Danang bertanya tanpa melihat ekspresi wajah Ryan, dia menatap lurus ke arah depan halaman rumah Dilla.


"Apa maksud kamu menanyakan hal itu?" tanya Ryan balik.


Ryan tidak tau tujuan Danang menanyakan hal tersebut.


"Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaan kamu sama Dilla, karena sebentar lagi kami akan menikah," ujar Danang menoleh ke arah Ryan. 


Ryan merasa terganggu dengan pernyataan Danang. Dia tidak bisa menerima jika Dilla menikah dengan Danang. Ryan menahan emosinya dengan menggenggam kursi yang dia dudukin.


"Jika kalian mau menikah kenapa kamu masih bertanya jika aku mencintai dilla atau tidak," jawab Ryan.


"Aku ingin tahu bagaimana dengan perasaan kamu terhadap Dilla. Karena semua keputusan aku ada pada jawaban kamu." 


"Apa maksud dengan perkataan kamu kali ini. Aku benar-benar tidak mengerti dengan semua obrolan kita ini."


"Aku bukanlah lelaki yang egois, jika memang kalian saling mencintai aku tidak akan menghalangi hubungan kalian. Bagiku jika Dilla bisa bahagia dengan orang yang dicintainya itu sudah cukup. Daripada dia bersama aku tetapi dia mencintai orang lain dan dia tidak bahagia dengan pernikahan kami," kata Danang sambil melihat ke depan lagi.


Danang tahu jika langkah yang dia ambil ini bisa membuat dia akan kehilangan Dilla untuk selamanya. Tapi dia tidak mau jika Dilla menikah sama dia karena terpaksa. 


"Bisa dikatakan kali ini aku memberi kesempatan kepada kamu untuk mendapatkan Dilla. Tapi semua itu tergantung dari jawaban kamu," sambung Danang.


"Sebenarnya aku belum yakin seratus persen jika aku mencintai Dilla. Tetapi aku merasa nyaman saat bersama dia. Ketika dia bilang akan menikah dengan lelaki lain hatiku terasa sakit."


Danang menganggukan kepalanya atas jawaban Ryan.


Mungkin saat ini kamu belum menyadari sepenuhnya tetapi suatu saat kamu pasti bisa mencintai Dilla dengan sepenuhnya. Sekarang aku menyerahkan Dilla sama kamu. Semoga kamu bisa menjaga dia dengan baik," ujar Danang dengan serius.


Danang merasa berat untuk melepaskan Dilla, tapi dia tidak mau memaksa Dilla untuk menikah dengannya jika dia mencintai orang lain dan orang tersebut juga mencintai Dilla balik.


"Kamu tenang saja, aku pasti akan menjaga Dilla dengan baik," jawab Ryan meyakinkan Danang.


"Jika kamu ingkar janji maka aku tidak akan segan-segan merebut Dilla kembali dan aku tidak akan membiarkan kalian berdua untuk bertemu kembali," ancam Danang.


"Kamu tenang saja, kamu tidak akan melihat dia menangis." 


Danang menepuk bahu Ryan sebentar. Danang mencoba menguatkan diri untuk mengikhlaskan Dilla. Ini merupakan langkah yang berat bagi Danang, dia harus bisa melepaskan orang yang dia sayangi. Sekarang dia hanya bisa menganggap Dilla sebagai adiknya seperti saat mereka masih kecil.


Mereka kembali berbincang-bincang sampai Paman dan Bibi Dilla sudah pulang dari pasar. 


"Selamat siang Paman, Bibi," sapa Danang. 


"Selamat siang," sahut Abdul.


Marni dan Abdul penasaran dengan tamu yang datang ke rumah mereka. 


"Selamat siang Paman dan Bibi. Saya Ryan Papa dari Rio dan Reza," sapa Ryan.


Abdul dan Marni saling melirik. Abdul memberikan kode kepada Marni untuk segera masuk ke dalam rumah. Abdul ingin membicarakan sesuatu sama Ryan. 


Danang tahu, pasti Abdul ingin membicarakan sesuatu hal dengan Ryan. Dia tidak mau menghalangi percakapan mereka berdua.


"Iya nak Danang. Nak Danang hati-hati dijalan," kata Abdul. 


Setelah kepergian Danang Abdul kembali berfokus kepada Ryan.


"Jadi kamu adalah Papa dari Rio dan Reza?"


"Iya Paman."


"Apakah kita bisa bicara sebentar?" tanya Abdul. 


"Bisa Paman," sahut Ryan.


"Kalau begitu ayo ikut Paman." 


***


Abdul sengaja mengajari Ryan pergi dari sana agar tidak didengar sama Marni dan orang lain. Abdul mengajak Ryan ke daerah perkebunan. Ryan mengikuti langkah Abdul dari belakang. Dia jadi penasaran apa yang ingin Abdul bicarakan sama dia. Padahal mereka belum pernah bertemu sama sekali. Abdul berhenti berjalan, dia melirik Ryan dari atas sampai ke bawah. Ryan tidak tahu kenapa Abdul melihat dia seperti itu.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Abdul. 


"Saya ke sini mau menjemput kedua anak saya dan keponakan saya Paman," sahut Ryan. 


"Hanya itu saja kedatangan kamu?" tanya Abdul lagi.


Ryan terdiam, dia tidak tahu maksud lain daripada pertanyaan Abdul.


"Jika kamu ingin bawa mereka bertiga silahkan kamu bawa saja. Kamu jangan sampai bertemu sama Dilla," kata Abdul tersinggung.


"Maaf Paman, masuk saya kesini saya juga ingin membawa Dilla ke kota bersama kami."


"Untuk apa kamu membawa Dila ke kota kembali?" 


"Saya mau Dilla merawat anak saya."


"Jadi kamu hanya ingin Dilla merawat anak anak kamu saja. Jika itu mau kamu, kamu bisa mencari orang lain, jangan Dilla."


"Tapi Paman,mereka bertiga sudah terlalu terikat sama Dilla. Mereka tidak mau sama yang lain. Selain itu saya…."


Ucapan Ryan terhenti, sia tidak tahu bagaimana cara mengatakan pada Abdul jika dia juga membutuhkan Dilla. 


"Dilla memang keponakan saya, tetapi saya telah menganggap Dilla sebagai anak kandung saya sendiri. Dilla sudah cukup umur untuk menikah dan untuk memiliki anaknya sendiri bukan hanya mengurus anak orang lain atau anak yang tidak ada hubungannya dengan Dilla sama sekali," kata Abdul.


"Apa Dilla bagi kamu hanya menjadi pengasuh anak kamu saja?" sambung Abdul bertanya kembali.


"Apa maksud dari perkataan Paman?" tanya Ryan balik. 


"Apakah kamu tidak memiliki perasaan lain terhadap anak saya." 


Ryan kembali terdiam mendengar pernyataan Abdul. 


Sekarang saya akan memberikan dua pilihan sama kamu. Pilihan pertama kamu bawa pulang mereka bertiga sekarang juga. Pilihan kedua saya akan memberikan kamu kesempatan satu minggu untuk memikirkan kembali apakah kamu hanya ingin Dilla sebagai pengasuh anak kamu saja atau kamu benar mencintai anak saya. Setelah satu minggu kamu kembali lagi kesini, saya akan menunggu jawaban dari kamu. Jika memang kamu ingin Dilla ikut sama kamu, kamu harus membawa kedua orang tua kamu saat datang kembali," ujar Abdul.


Ryan terkejut mendengar perkataan Abdul, dia tidak menyangka jika Abdul akan memberikan dia dua pilihan tersebut. Dan hal yang membuat dia sangat terkejut adalah bahwa kesimpulan dari perkataan Abdul maka Abdul menyetujui hubungannya dengan Dilla. Abdul  ingin Ryan segera memberikan jawabannya, apakah dia ingin menikah dengan Dilla segera atau tidak. Jika dia tidak memilih sekarang maka akan dipastikan jika kesempatan lain tidak akan pernah ada lagi.


"Bagaimana? kamu pilih yang mana?" ulang Abdul. 


"Berikan saya waktu untuk berpikir kembali Paman."


"Saya berikan kamu waktu satu minggu. Jika dalam satu minggu kamu masih tidak ada jawaban, maka saya mau kamu menjauhi Dilla beserta dengan anak kamu juga. Setelah itu saya akan tetap menikahkan Dilla sama Danang. 


Ryan menimbangkan perkataan Abdul, ini memang kesempatan dia satu-satunya seperti yang dikatakan oleh Danang. 


"Hanya itu yang ingin saya sampaikan kepada kamu. Sekarang kita pulang kembali," ajak Abdul.


Mereka kembali pulang dengan diam, sama seperti saat mereka berangkat.


Bersambung….