
"Ya ampun Tuan...," lirih Dilla terkejut dengan tangan yang diletakan di mulut.
Reza melihat ke arah Dilla tidak mengerti kenapa Dilla sangat terkejut.
"Tuan, tangan Tuan sudah bisa digerakkan," Dilla memberitahukan Ryan.
Ryan langsung melihat ke arah tangannya, dia juga ikut terkejut. Ryan benar-benar tidak sadar menggerakkan tangannya. Ryan ingat tadi kedua tangannya berada pada pegangan kursi. Ryan mencoba lagi untuk menggerakkan tangannya. Awal coba Ryan tidak bisa menggerakkannya. Ryan terus berusaha beberapa kali untuk menggerakkan tangannya.
"Ayo Tuan, ayo coba gerakin lagi, pasti Tuan bisa," ujar Dilla memberi semangat.
Ryan mencoba lagi kali ini hanya jari tangan yang bergerak sedikit.
"Ayo Pa, berusaha lagi," sahut Reza.
Reza yang sudah paham juga ikut menyemangati papanya.
Dengan usaha yang lebih keras Ryan mencoba lagi, kini tangannya sudah bisa menggenggam. Rio yang tidak paham dan melihat abang dan Dilla sedang menyemangati papa juga ikut ikutan tanpa tau untuk apa menyemangati papanya.
" Yoo... yoo... Pa... Pa...."
Dengan suara yang cadel dan mengemaskan, Rio juga memberikan semangat. Rio malah bertepuk tangan kegirangan.
Ryan makin bersemangat lagi mendengar kedua anaknya memberi semangat. Kini usahanya tidak sia-sia kedua tangannya sudah bisa digerakkan sedikit. Sekarang air matanya kembali jatuh dengan deras.
'Ya Tuhan, terima kasih. Kini tangan aku sudah bisa digerakkan lagi,' batin Ryan menangis terharu.
"Tuan hebat sudah bisa menggerakkan tangan sekarang. Rio dan Reza di sini dulu ya, Mbak Dilla mau panggil nenek dan kakek kalian dulu. Mbak mau beritahu berita bagus ini kepada mereka."
Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Dilla langsung lari keluar saking senang dan semangatnya.
Rio dan Reza melihat ke arah Dilla pergi, karena tau Dilla mau memanggil nenek dan kakek maka mereka pun kembali menyemangati papanya.
"Ayo Pa gerakin lagi. Papa pasti bisa," ujar Reza lagi.
"Yoo... Pa... Pa... ica...," ujar Rio pelan.
Ryan mencoba mengerakkan tangannya lagi. Ryan sesekali mencoba mengangkatnya ke atas walaupun hanya bisa mengangkat sebentar saja tetapi Ryan merasa sangat senang.
"Ayo Pa, naikin lagi tangannya, yang lebih tinggi."
"Iya sayang, ini Papa lagi mencoba menggerakkannya," sahut Ryan.
"Yoo... yoo... Pa...."
"Kalian senang tidak, jika Papa bisa bergerak lagi?" tanya Ryan.
"Tentu Reza senang Pa, sangat senang malahan. Papa harus terus mencoba ya."
"Iya sayang, Papa akan melakukan yang terbaik."
***
Dilla dengan buru-buru mengetuk pintu kamar Rita. Dari suaranya bukan lagi mengetuk tapi seperti mau mendobrak pintunya.
Buak buak buak....
Dilla mengambil nafas yang dalam, nafas Dilla masih tidak beraturan. Dilla sangat capek lari dari lantai dua ke lantai satu, ditambah rumahnya yang luas semakin buat Dilla capek.
Buak buak buak....
Dari dalam kamar Rita dan Aditya mendengar suara gedoran pintu yang sangat keras.
"Siapa sih Ma?" tanya Aditya pada sang istri.
"Tidak tau juga sih Pa. Biar Mama cek dulu siapa yang mengetuk pintu sampai sekeras itu malam malam begini."
Rita bangun dari duduknya ingin membukakan pintu, Rita akhirnya membuka pintu kamarnya.
"Ternyata kamu Dilla. Ada apa sih Dilla, ketuk pintunya tidak sabaran. Kek bukan kamu aja," ujar Rita.
"Itu apanya, kalau bicara yang jelas, tarik nafas dulu."
Rita dapat mendengar suara nafas Dilla yang cepat. Dilla menarik nafas kuat-kuat lalu menghembuskan nya beberapa kali.
"Itu Tante, tuan Ryan... tuan Ryan sudah bisa menggerakan tangannya tadi. Tuan Ryan tanpa sadar memeluk Rio saat Rio memanggil tuan Ryan papa," ujar Dilla cepat.
Prakkkkkk
Terdengar suara pecahan gelas.
Tadi Aditya mau minum, tapi mendengar perkataan Dilla dia jadi terkejut dan tanpa segaja gelas yang dia pegang lepas, sehingga gelas tersebut jatuh dan pecah. Aditya langsung menghampiri Dilla.
"Apa yang kamu katakan benar Dilla. Anak saya sudah bisa bergerak," ujar Aditya tidak percaya.
"Iya Om, sekarang Rio dan Reza lagi menemani tuan Ryan di kamar."
Tanpa basa-basi dan banyak bicara lagi, Rita dan Aditya langsung berlari ke lantai dua tanpa menunggu Dilla. Mereka tidak ingat umur lagi, padahal sudah tua, tapi mendengar anaknya ada perkembangan mereka seakan berumur 25 tahun lagi. Dilla segera mengikuti mereka dari belakang.
"Ryan anakku," Rita segera memeluk Ryan saat tiba di kamar.
Rio dan Reza langsung minggir dan berdiri di masing sisi sang papa. Ryan kini mengangkat tangannya untuk memeluk ibunya. Dengan pelan namun pasti, kini kedua tangannya sudah berada di punggung Rita. Rita malah makin menangis histeris. Aditya menghampiri mereka berdua yang lagi berpelukan ditepuknya bahu Ryan dengan bangga.
"Akhirnya kamu sudah ada kemajuan Ryan. Papa sama Mama sangat senang." ucap Aditya.
Aditya menepuk bahu Ryan beberapa kali lagi.
"Iya sayang, Mama sangat senang. Pa ayo cepat telpon dokter Sultan. Kabari tangan Ryan sudah bisa digerakkan," suruh Rita.
Aditya segera keluar untuk menelpon dokter Sultan.
***
Di dalam sebuah kamar, tepatnya di dalam kamar dokter Sultan. Kini Sultan baru saja masuk ke alam mimpi. Dia tidur dengan timun di matanya lengkap dengan baju piyama tidur bergambar bebek. Karena beberapa hari lalu banyak bergadang, kini matanya Sultan seperti mata panda. Maka dari itu perlu perawatan menurut Sultan.
Sultan sengaja memakai timun karena bahannya alami dan mudah dicari untuk mengurangi mata panda.
Ring ring ring.... (anggap aja nada HP Sultan)
Ring ring ring....
Dinada kedua Sultan mulai terganggu dari acara tidurnya.
Ring ring ring....
Dengan masih mengantuk Sultan meraba meja yang berada di samping tempat tidur untuk mengambil HP. Setelah didapat HP, Sultan segera menjawab panggilan dengan mata yang merem.
"Dengan Dokter Sultan di sini, apa ada yang bisa saya bantu," ujar Sultan.
Walaupun capek dan lelah Sultan lebih mengutamakan kesopanan apalagi dia seorang dokter.
"Sultan ini Om Aditya," jawab Aditya.
Sultan langsung bangun dari tidur dan timun dimatanya otomatis jatuh. Sultan melihat sejenak siapa yang menelponnya, di layar HP tertera nama om Aditya.
"Iya Om, ada apa telpon malam malam?" Sultan bertanya setelah meletakkan HP di telinganya kembali.
"Sultan, Om mau mengkabari bahwa tangan Ryan sudah bisa bergerak. Apa kamu bisa datang kemari sekarang, Om ingin kamu segera mengecek keadaan Ryan."
"APAAA...," kaget Sultan dengan mata melotot mengetahui informasi ini.
Ryan susah sekali diajak ikut terapi untuk mempercepat kesembuhannya. Tapi kini tangannya sudah bisa digerakkan, ini adalah suatu keajaiban.
"Kamu kenapa teriak-teriak sih, kaget Om tadi. Pokoknya kamu segera kemari. Om tunggu sekarang," Aditya langsung mematikan HP nya.
Sultan tanpa ganti baju langsung mengambil kunci mobil dan tas kerjanya menuju ke kediaman Suherman.
Bersambung....