
Mulai dari sini flashback keluarga Ryan setelah ditinggalkan Dilla.
***
Tiga hari berlalu begitu saja. Rio setiap hari menanyakan kapan Dilla akan pulang kepada Papa dan lainnya. Setiap pagi Rio pasti akan menunggu Dilla di teras rumah. Dia akan menolak siapa saja yang membujuknya masuk ke dalam rumah. Rio akan menunggu dari pagi sampai sore.
Reza dan Rafa juga menemani Rio setelah mereka pulang sekolah. Mereka duduk di depan kadang sambil membuat tugas.
Rio semakin hari semakin kurang nafsu makannya. Dia hanya makan saat perut nya sudah berbunyi. Rio juga sudah jarang berbicara bahkan Rio tidak pernah tersenyum sekalipun setelah kepergian Dilla.
Reza kembali menjadi pendiam seperti sedia kala. Dia sudah tidak lagi sering berbicara, dia hanya berbicara jika ada yang bertanya dengan jawaban yang singkat. Reza hanya sering bicara saat membujuk Rio.
Ryan dan lainnya sedang menikmati sarapan pagi kecuali Rio. Rio hari ini telat bangun makanya tidak ikut sarapan bersama. Ryan sengaja tidak membangunkan Rio. Mereka makan dengan suasana sunyi, tidak ada yang berbicara.
"Reza, kenapa makannya sedikit sayang,ayo ditambah lagi," kata Rita.
"Tidak usah Nek, ini sudah banyak," sahut Reza.
Rita bisa melihat di piring Reza hanya ada sedikit nasi serta lauk pauk yang sedikit pula. Rita tahu, mungkin saat ini Reza juga sedang merindukan Dilla. Tapi mau bagaimana lagi jika Dilla sudah mau menikah. Mereka tidak mungkin tetap menahan Dilla.
"Ma, biarkan saja jika Reza tidak mau makan banyak. Nanti jika sakit dia juga yang merasakan rasa sakitnya," kata Ryan dengan terus menyuapkan makanan.
Ryan tidak mau anaknya tergantung sama Dilla lagi. Ryan berharap agar anak-anaknya segera bisa melupakan Dilla. Ryan juga tidak suka mereka menyebutkan nama Dilla.
"Ryan," tegur Rita.
"Sudahlah Ma, percuma Mama bicara sama Ryan," tegur Aditya.
Jelita, Rafa dan Dafa hanya menjadi penonton saja. Jelita kasihan sama kondisi Reza dan juga Rio. Dilla baru saja pergi tiga hari tapi mereka mulai turun nafsu makan. Apalagi dengan Rio yang tidak mau mendengarkan siapapun.
Mereka melanjutkan sarapan pagi. Tiba-tiba Rio berlari dengan cepat, mereka hanya melihat sekilas Rio yang sedang berlari. Rio berlari masih dengan memakai piyama tidur.
"Kenapa Rio lari terburu-buru?" tanya Rita khawatir.
"Rio pasti menunggu Dilla di depan rumah lagi Tante," sahut Jelita.
Reza segera turun dari kursi serta mengambil tas sekolah. Reza menyusul Rio di depan teras. Rafa juga ikut menyusul Reza dan Rio.
Mereka mengakhiri sarapan dan juga menyusul Rio, Reza dan Rafa pergi ke teras rumah. Rio memang duduk di teras kembali dengan ditemani sama Reza dan Rafa.
"Kenapa Rio duduk di sini, Rio kan belum makan. Bahwa Rio juga belum mandi," kata Rita.
"Liyo telat angun Nek, anti Omy ulang Liyo ndak da di epan buwat nundu Omy," jawab Rio.
Ryan sedih melihat kondisi anaknya yang takut telat menunggu kepulangan Dilla. Rio bahkan rela tidak mandi dan sarapan pagi demi menunggu dilla pergi. Ryan yakin jika Rio tau dilla tidak akan kembali lagi pasti dia akan marah besar.
Semua orang mulai khawatir dengan sikap Rio. Mereka tidak tau harus mengatakan apa pada Rio agar Rio berhenti menunggu Dilla.
"Pa, tapan Omy alik agi? Liyo angen Pa," tanya Rio untuk kesekian kalinya.
"Rio, kamu harus bisa…."
"Sebaiknya Rio makan dulu ya atau rio mau mandi terlebih dahulu," potong Rita.
Rita takut jika Ryan akan mengatakan langsung jika Dilla tidak akan kembali lagi.
"Liyo ndak mau matan Nek. Liyo ndak lapal, Liyo mau nundu Omy," jawab Rio.
"Rio mandi dulu ya,pasti jika Mommy datang dan melihat Rio belum mandi seperti ini yang masih bau asem, pasti Mommy tidak akan suka," ujar Jelita.
Rio yang mendengar perkataan Jelita buru-buru berdiri dan berlari kembali ke arah kamar. Rio tidak mau Mommy melihat dia bau, Mommy tidak suka hal jorok.
mereka menatap kepergian Rio dengan pandangan khawatir. Rio hanya bereaksi jika bersangkutan sama Dilla.
"Kalian berangkat saja sekarang, urusan Rio biar Mama dan Jelita yang urus," suruh Rita.
Tidak sampai sepuluh menit Rio melewati mereka dengan cepat. Rio telah berganti pakaian asal-asalan, tadi dia mandi secepat kilat dengan muka yang cemong dengan bedak yang biasa dipakai sama Dilla. Rio duduk kembali di depan teras dengan nafas yang terengah-engah.
"Rio sayang," panggil Rita.
Rita dan Jelita kembali keluar, mereka tidak ingin hal buruk terjadi sama Rio.
"Nek tapan Omy atan ulang, Rio udah angen cama Omy Nek," ujar Rio menatap sedih ke arah Rita.
"Rio makan dulu ya, nanti kita bahas masalah Mommy lagi," sahut Rita.
Rio diam tidak menyahut perkataan Rita.
"Rio makan ya, nanti kalau tidak makan Rio bisa sakit. Nanti Mommy khawatir sama Rio," bujuk Jelita.
Rio menganggukan kepala pelan, Rio memutuskan untuk makan takut Dilla khawatir. Rita yang tidak melihat Rio bergerak segera masuk dan mengambil makanan buat Rio. Rita menyerahkan makanan itu pada Jelita. Jelita menyuapkan makanan buat Rio.
Rio hanya makan sedikit, Jelita tidak memaksa Rio buat makan lebih banyak. Setidaknya perut Rio tidak dalam keadaan kosong. Jelita membantu merapikan pakaian Rio yang acak-acakan, serta menghapus bedak yang digunakan sama Rio yang belepotan.
***
"Pa tapan Omy ulang?" tanya Rio untuk kesekian kalinya.
Rio mengikuti Ryan yang baru saja pulang dari kantor.
"Rio cukup, Papa tidak mau Rio menyebutkan dia terus-terusan," jawab Ryan sedikit emosi.
Tadi siang Ryan memiliki masalah di kantor dan membuat emosi dia naik. Ditambah Rio yang terus-menerus menanyakan Dilla membuat Ryan semakin pusing.
"Tenapa papa malah cama Liiyo, Liyo mau Omy Papa, Liyo angen," jawab Rio.
"Ryan, kamu jangan begitu sama Rio. Rio adalah anak kamu," tegur Rita.
"Ryan tidak mau mereka menyebutkan nama dia lagi dirumah ini Ma.Mereka harus tau kalau Dilla tidak akan pernah balik lagi ke sini," jawab Ryan.
"Apa atcud papa Omy ndak alik agi, liyo mau Omy," kata Rio sambil menangis.
"Iya mulai sekarang kalian lupakan dia, dia itu tidak akan balik lagi, jadi lupakan dia."
"Ndak, papa bohong cama Liyo, Omy asti tembali, Liyo mau Omy. Liyo ndak pelcaya cama Papa, Papa ahat," teriak Rio.
"Rio Papa tidak suka…."
"Ryan sudah, Rio masih kecil," tegur Jelita.
"Iya Ryan, Rio belum bisa melupakan Dilla begitu saja," sambung Rita.
"Mereka harus bisa segera melupakan dia Ma."
"Apa maksud kamu dari tadi bilang dia dia? dia punya nama, namanya Dilla," tanya Jelita.
Rita dan lain juga baru menyadari jika Ryan tidak menyebutkan nama Dilla langsung.
"Ndak mau, Liyo mau Omy," teriak Rio lagi.
Rio yang tidak menerima segera lari ke kamarnya. Rio berlari dengan cepat di anak tangga.
"Rio," panggil Rita dan Ryan.
Rio terus berlari sudah di tengah tangga, tapi kaki Rio kesandung sama kakinya sendiri. Rio tidak sempat memegang apapun. Tubuh Rio oleng ke belakang dan terjatuh terguling dari tangga.
"RIOOO…," teriak histeris mereka semua.
Bersambung….