
"Hallo Ma," jawab Dilla sesudah ada di balkon kamar agar bisa mendapatkan sinyal yang bagus.
"Mama hanya mau bilang kalian tidak usah pulang. Biar kami yang mencari Rio di sini. Kalian nikmati saja waktu kalian bersama," ujar Rita.
"Ma, Mama dan yang lainnya tidak usah khawatir lagi. Sekarang Rio ada bersama kami dengan selamat, Rio baik-baik saja," kata Dilla.
"Apa? kok bisa?" tanya Rita kaget.
"Ternyata Rio bersembunyi di dalam koper pakaian milik kami. Rio sudah menceritakan semuanya kepada kami. Rio menyembunyikan semua pakaian Dilla dan Ryan di bawah kasur," ucap Dilla menjelaskan.
"Mama tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Rio. Karena Rio sudah ada bersama kalian Mama sekarang sudah bisa tenang. Mama akan segera mengkabari yang lainnya jika Rio sudah ditemukan."
"Iya Ma."
"Ya sudah ya, Mama tutup teleponnya dulu. Biar yang lainnya tidak khawatir lagi dengan keadaan Rio."
Dilla dan Rita sama-sama menutup sambungan telepon. Dilla kembali masuk ke dalam kamar. Dilla berjalan ke arah Rio dan Ryan yang sedang duduk di atas tempat tidur.
Rio segera turun menuju Dilla dan memeluk kaki Dilla.
"Apa sekarang kamu senang Rio?" tanya Dilla.
"Liyo cenang Omy," jawab Rio tersenyum Pepsodent.
"Jadi Rio senang sudah membuat yang lainnya khawatir?" tanya Dilla lagi.
"Maap Omy," jawab Rio melepaskan pelukan dari kaki Dilla.
"Rio tau, Kakek, Nenek dan lainnya semua panik mencari Rio yang hilang. Apa Rio mau melihat yang lainnya sedih," tegur Dilla.
"Maap omy," ulang Rio dengan air mata yang sudah keluar.
"Dilla sudah ya, Rio sudah mulai menangis, dia juga sudah minta maaf," lerai Ryan.
"Mas sebaiknya diam saja dulu jika tidak mau menertibkan Rio. Rio harus tau mana yang benar dan mana yang salah. Jika Rio berbuat salah Mas tidak boleh mengabaikannya. Mas harus bisa menasehati Rio agar ke depan Rio tidak mengulang kembali," tegur Dilla ke Ryan.
"Emmm ok," jawab Ryan pendek karena tidak mau kenak ceramah Dilla lebih panjang lagi.
Ryan menyerahkan masalah Rio pada Dilla. Ryan yakin jika Dilla yang menase maka Rio pasti lebih menurut.
"Apa Rio mengakui kesalahan Rio?" tanya Dilla lagi setelah kembali berfokus pada Rio.
"Maap Omy, Liyo calah. Liyo anji ndak tan natal lagi," jawab Rio dengan memainkan ujung bajunya.
"Apa kesalahan yang Rio buat?"
"Emmm itu... Liyo…."
"Itu apa?" tanya Dilla dengan melipatkan kedua tangannya.
"Gala-gala Liyo belcembuni di dalam topel Omy," jawab Rio pelan.
Dilla menghela nafasnya karena Rio tau di mana letak salahnya. Dilla mendekati Rio dan berjongkok di depan Rio.
"Sekarang Rio sudah tau di mana letak salahnya. Lain kali Mama tidak mau melihat Rio berbuat nekat begini. Jika Rio masih nakal Mama akan pulang ke kampung lagi," kata Dilla memperingati.
"Liyo anji Omy, Liyo ndak ulang agi," jawab Rio dengan menunjukkan dua jari sebagai bukti.
"Jika Mama catat semua janji Rio sama Mama, maka janji Rio sudah lebih panjang dari struk belanja bulanan," kata Dilla mencubit hidung Rio.
Rio tertawa dengan perlakuan Dilla. Rio tau jika Omy nya sudah tidak marah lagi.
Dilla berdiri kembali dan menghadap ke arah Ryan yang dari tadi menyaksikan interaksi Dilla dan Rio.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan Mas?" tanya Dilla kepada Ryan.
"Sepertinya kita tidak bisa memulangkan Rio. Rio pasti tidak kalau di antar pulang," jawab Ryan.
"Iya, Liyo ndak mau puyang. Mau cama Omy di cini. Talau Papa mau puyang, Papa puyang aja cendili. Angan ajak-ajak Omy," sahut Rio dengan memeluk kaki Dilla.
"Dasar kamu ya, anak nakal," ujar Ryan bercanda.
Ryan membaringkan Rio di atas kasur dan mengetik pinggang Rio.
"Hahaha udah Pa teli," ujar Roio sambil tertawa kegelian.
"Sudah Mas, jangan menggelitik Rio lagi. Rio sudah susah berbicara karena geli. Jika Mas lanjut nanti dia bisa mengompol," tegur Dilla.
Dilla menyingkirkan tangan Ryan dari tubuh Rio. Rio masih saja tertawa saat Ryan sudah mengelitik Rio lagi.
"Tuh Mas lihat, Rio tidak bisa berhenti tertawa."
Setelah menunggu beberapa saat Rio baru berhenti tertawa. Dilla mengambil tissue dan mengelap air mata yang dikeluarkan oleh Rio.
"Sekarang bagaimana dengan sema baju kita Mas? semuanya sudah dikeluarkan sama Rio. Sedangkan koper yang satu lagi hanya berisi perlengkapan lainnya," tanya Dilla setelah berhasil menenangkan Rio.
Ryan menghembuskan nafas dan menatap ke arah Rio yang sudah duduk dan berhenti tertawa.
"Sebaiknya kita menyuruh orang rumah mengirimkan barang kita saja. Besok pagi pasti sudah sampai," usul Ryan.
"Boleh juga Mas, tapi kita harus meminta untuk membawa baju Rio juga," kata Dilla.
"Baiklah, biarkan Mas kirim pesan ke Mama. Nanti biar Mama saja yang mengurus mengirimkan semua keperluan kita juga keperluan Rio."
Dilla menganggukkan kepalanya sebagai bentuk persetujuan.
***
"Bagaimana Ma, apa yang dikatakan sama Dilla dan Ryan?" tanya Aditya.
"Ternyata Rio bersama dengan Dilla dan Ryan," beritahu Rita.
"Kok bisa? bagaimana Rio bisa bersama mereka?" tanya Dafa.
"Tidak mungkinkan dia pergi sendiri ke sana?" tanya Jelita lagi.
"Dilla bilang, Rio bersembunyi di dalam koper milik mereka."
Mereka terkejut mendengar jawab dari Rita.
"Pantas saja Rio kemarin tidak membantah lagi untuk ikut Ryan dan Dilla. Ternyata dia sudah merencanakan semua ini," ujar Jelita setelah sadar dari rasa terkejut. s
"Sepertinya Rio memang sudah merencanakan semua itu. Makanya dia diam-diam saja," sambung Rita.
Tit tit tit
HP Rita berbunyi karena ada pesan masuk.
"Siapa?" tanya Aditya yang duduk di samping Rita.
"Ini Ryan sms. Dia bilang untuk mengirimkan pakaian punya dia, Dilla dan juga punya Rio," jawab Rita.
"Nek, Reza juga mau ikut sama Mama dan Papa. Kenapa hanya Rio saja yang bisa ikut," pinta Reza.
Rita dan Aditya saling pandang.
"Tidak adil jika hanya Rio yang boleh ikut. Tau gitu Reza juga ikut Mama dan Papa," sambung Reza lagi.
"Pa bagaimana ini?" tanya Rita.
"Walaupun Reza tidak ikut, tapi acara Dilla dan Ryan pasti juga sudah terganggu dengan kehadiran Rio. Jadi tidak masalah jika Reza juga ikut," kata Abdul.
Reza senang di bela sama Abdul. Reza menatap kembali ke arah Rita dan Aditya dengan tatapan belas kasihan.
Bersambung....