Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 176. Keputusan Daniel



Kring kring kring....


Suara HP Daniel berbunyi. Daniel melihat panggilan masuk dari siapa.


"Kenapa Ryan menelpon? Apa masih ada masalah," duga Daniel.


"Halo Ryan," sapa Daniel.


"Iya Daniel," sahut Ryana.


"Ryan ada apa?" tanya Daniel.


"Daniel aku ingin menanyakan sesuatu sama kamu," kata Ryan.


"Apa yang ingin kamu tanyakan kepada aku," sahut Daniel.


"Saat kamu di parkiran atau menuju ke parkiran apa kamu melihat Rio, anak aku?" tanya Ryan to the point.


"Rio? aku tidak melihat dia. Memangnya ada apa dengan Rio?" tanya Daniel balik.


"Rio anak aku tadi menghilang dan menuju ke arah parkiran mobil. Kami sudah mencari ke mana-mana tapi tidak menemukan dia. Jadi kamu beneran tidak melihat Rio."


"Iya Ryan. Aku sama sekali tidak melihat dia. Buat apa aku berbohong sama kamu. Setelah dari ruangan kamu, aku langsung pulang," sahut Daniel.


"Baiklah kalau begitu. Terima kasih waktunya."


Daniel menatap HP sebentar. Sekarang Daniel merasa ada sesuatu yang aneh.


"Kenapa bisa Rio menghilang di tempat parkiran. Apa mungkin dia mengikuti aku. Lebih baik aku segera mengeceknya. Jika dia memang ke sini, dia pasti bersama Dilla."


Daniel segera berlari menuju ke kamar Sam. Daniel yakin jika Rio memang mengikuti dia, pasti tujuan Rio mencari Dilla.


***


Daniel membuka pintu kamar Sam dengan cepat. Daniel kaget melihat Rio memang benar-benar ada di sana.


"Tuan Daniel," ucap Dilla.


"Ada apa Tuan ke sini?" tanya Dilla.


Daniel masuk ke dalam kamar dan menatap Rio mengabaikan Dilla.


"Bagaimana kamu bisa ada di sini?" tanya Daniel.


Dilla melihat ke arah Rio. Tadi Dilla terlalu senang jika Rio ada di sana sehingga Dilla tidak memikirkan bagaimana Rio bisa ada di sana. Dilla juga penasaran bagaimana Rio bisa ada di sana.


Rio menatap Daniel dengan polos.


"Rio sayang, bagaimana Rio bisa ada di sini sayang?" tanya Dilla dengan memegang kedua bahu Rio.


"Adi Liyoo itut cama om tu Omy," kata Rio dengan menunjuk ke arah Daniel.


"Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam mobil. Tadi aku sama sekali tidak melihat kamu di mobil?"


"Liyo tan pintal Om. Adi caat om cedang nepon, Liyo diyam-diyam macuk te mobil. Telus telus Liyo cembuni di belatang Om. Om tan ndak liyat Liyo, api Liyo liyat Om bawa mobil. Telus telus telus, cetelah Om tulun, Liyo uga tulun dong. Telus Liyo cali Omy. Talena Liyo kapal, Liyo empat matan tuwe wenak lho di dapul. Abis matan tuwe balu Liyo cali Omy agi," cerita Rio dengan komplit.


'Jadi Rio tadi yang membuat heboh di dapur. Syukur deh, ternyata memang tidak ada hantu. Apalagi di saat siang bolong.'


Dilla sempat melihat dan mendengar beberapa pembantu yang bekerja di dapur lagi heboh menceritakan tentang hantu yang menghabiskan cake. Walaupun ada beberapa pegawai yang lain tidak percaya kepada dua orang yang membuat cake itu.


Daniel menepuk jidatnya yang merasa kecolongan.


'Untung saja Rio yang ikut. Jika Ryan tadi yang ikut, semuanya bisa gawat.


"Terus bagaimana kamu bisa tau jika Dilla ada di sini?" tanya Daniel lagi.


"Tan adi Om atuhin capu telbang."


"Sapu terbang?" tanya Dilla dan Daniel barengan.


"Iya, capu telbang, capu angan atuh tan telbang," sahut Rio.


"...."


Dilla dan Daniel sama-sama no komen.


"Telus dali capu telbang tu Liyo ciyum ada bau Omy. Adi Liyo itutin deh," ujar Rio santai.


Dilla rasanya mau pingsan. Dilla sanggup memikirkan kenekatan Rio.


Daniel juga tidak menduga jika dari sapu tangan yang diberikan oleh Dilla jadi petunjuk buat Rio.


'Ryan, sepertinya kamu harus belajar dari anak kamu. Anak kamu yang kecil saja sudah duluan menemukan Dilla. Tapi kamu jangan sepintar Rio juga, yang ada kamu juga menemukan kami.'


"Jadi Tuan, sekarang bagaimana?" tanya Dilla.


Dilla takut jika Daniel marah dan berbuat yang tidak-tidak pada Rio.


"Rio sudah ada di sini, sebaiknya kamu mandi kan mereka dulu. Nanti setelah itu kamu pergi ke ruangan kerja saya. Ada hal yang ingin aku bahas sama kamu," kata Daniel.


"Baik Tuan," sahut Dilla.


Daniel segera keluar dari sana. Daniel menuju ke ruang kerja.


***


Daniel duduk di kursi kerja. Daniel membuka sebuah laci. Daniel mengambil foto milik Bella yang dia simpan sejak dia masih kuliah. 


"Bella, apakah kamu mau menerima aku? Sekarang aku telah memutuskan, aku ingin memperjuangkan kamu. Mungkin ini sudah terlambat, tetapi aku berharap jika kamu masih mau memberikan kesempatan buat aku. Saat kedua orang tuaku mengancam kamu, aku benar-benar tidak tahu sama sekali tentang hal itu. Aku harap kamu mau memaafkan aku."


Terdengar suara pintu yang diketuk.


 "Tuan."


"Iya Dilla. Silahkan masuk," suruh Daniel. 


Dilla masuk ke ruangan Daniel. 


"Tuan, apa yang ingin Tuan bicarakan sama Dilla?" tanya Dilla penasaran. 


"Bagaimana dengan Sam dan Rio?" tanya Daniel basa basi 


"Sam dan Rio saat ini sedang makan siang Tuan. Untung saja Dilla berhasil membujuk Rio untuk tinggal bersama Sam. Rio suka menempel pada Dilla, Tuan."


Daniel mengangguk kepala dengan jari telunjuk mengetuk di atas meja. Daniel tidak tahu darimana memulai pembicaraan.


"Tuan Daniel," panggil Dilla yang melihat Daniel termenung.


"Ah iya."


"Jadi apa yang ingin Tuan bicarakan sama Dilla?" tanya Dilla ulang. 


"Uhuk," Daniel berpura-pura batuk. 


"Jadi saya telah memikirkan tawaran yang kamu berikan."


"Jadi bagaimana keputusan Tuan," tanya Dilla bersikap biasa saja. 


Tetapi beda di dalam hati Dilla. Dilla berharap-harap cemas dengan jawaban Daniel. Jika hal itu tidak berhasil, maka Dilla tidak tahu lagi bagaimana untuk membujuk Daniel lagi.


"Aku telah memutuskan bahwa…."


Daniel menjeda perkataannya menunggu reaksi Dilla. Dilla menatap Daniel dengan mata yang besar seperti kucing yang mau minta ikan. 


"Uhuk…."


Daniel kembali pura-pura batuk untuk fokus pada perkataan dia nanti.


"Jadi aku telah memutuskan, jika aku ingin menemui Bella."


"Yang benar Tuan," potong Dilla dengan reflek.


"Maaf Tuan Daniel," ujar Dilla dengan malu.


Daniel mengangguk kan kepala tidak mempermasalahkan sikap Dilla. 


"Apa yang kamu dengar tadi adalah benar." 


"Tapi kenapa Tuan bisa dengan cepat mengambil keputusan?" tanya Dilla yang heran.


Daniel menghela nafas. 


"Tadi saya masih ragu untuk mengambil keputusan. Tapi karena anak kamu Rio, makanya saya ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah ini."


"Maksud Tuan?" tanya Dilla tidak mengerti. 


"Asal kamu tahu, Ryan saat ini sedang mencari kamu. Sekarang ditambah dengan Rio yang juga ikut menghilang, jadi aku yakin jika Ryan semakin banyak mengerahkan orang untuk mencari kalian. Jadi saya ingin agar kamu cepat kembali," kata Daniel. 


Dilla terharu dengan Ryan yang mencari dia dengan sepenuh hati.


"Jadi bagaimana langkah kamu selanjutnya tentang Bella?" tanya Daniel. 


"Dilla sarankan agar Tuan segera menemui mbak Bella secara langsung. Apa lagi Tuan dan mbak Bella sama-sama telah dewasa, jadi pasti akan lebih mudah berbicara," saran Dilla.


"Bertemu langsung? Tapi nanti apa yang harus aku katakan pada Bella?"


"Tuan ya jelaskan saja apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa Tuan sama sekali tidak tahu tentang apa yang kedua orang tua Tuan lakukan." 


"Baiklah, saya akan menemui Bella. Tetapi kamu juga ikut saya untuk membantu saya." 


"Saya juga ikut Tuan?" tanya Dilla memastikan lagi. 


"Ya, kamu ikut saya. Jika masalah ini cepat selesai, saya janji akan segera mengantar kamu pulang," tawar Daniel. 


"Baik Tuan. Dilla akan membantu Tuan," sahut Dilla dengan semangat. 


"Terus Tuan, bagaimana dengan kedua orang tua Tuan?"


Daniel benar-benar tidak ingat sama kedua orang tua dia.


"Pasti kedua orang tua Tuan tidak menyukai mbak Bella." 


"Nanti urusan kedua orang tua saya, biar saya sendiri yang mengurus jika saya dan Bella bisa bersama."


"Baik Tuan."


"Kalau begitu besok pagi kita berangkat ke tempat Bella. Semakin cepat masalah ini selesai maka kamu akan semakin cepat pulang." 


"Iya Tuan," sahut Dilla. 


Dilla keluar dari ruang kerja Daniel. 


Bersambung….


Yuk mampir di novel teman author sambil nunggu up.