
Setelah mencari Sam di berapa tempat, ternyata Sam berada di tepi kolam renang sambil merendam kaki. Dilla ikut menyusul Sam duduk di tepi kolam. Dilla mengikuti apa yang dilakukan oleh Sam.
"Kenapa duduk di sini?" tanya Dilla basa basi.
"Mommy," panggil Sam tanpa menoleh ke arah Dilla.
"Iya sayang," sahut Dilla dengan mengelus rambut Sam.
"Mommy, apakah Mommy tidak bisa menyayangi Sam seperti Mommy menyayangi Rio?" tanya Sam dengan menatap lurus pada mata Dilla.
Gerakan Dilla terhenti. Memang kasih sayang yang Dilla berikan kepada Sam berbeda kepada Rio.
"Apakah Sam anak yang nakal sehingga Sam tidak bisa mendapat Mommy yang benar-benar sayang sama Sam?" sambung Sam dengan bibir bergetar.
"Jika Sam bisa memilih, Sam ingin jadi seperti Rio dan Reza. Sam ingin disayang sama Mommy. Sam ingin tertawa bersama Mommy seperti Mommy tersenyum dan tertawa bersama Rio. Sam ingin… ingin…," ucapan Sam terhenti karena tetesan air mata sudah keluar.
Dilla menyapu air mata yang keluar dari mata Sam.
"Sam, maafkan Mommy. Mommy tidak bisa menyayangi Sam seperti Mommy sayang kepada Rio," ujar Dilla.
Dilla tidak mau memberikan harapan palsu buat Sam. Dilla tidak mau membahagiakan Sam dengan kebohongan. Jika nanti Sam tahu, hati Sam akan lebih terluka.
"Tapi Mommy tetap sayang kepada Sam juga."
"Kenapa tidak bisa Mommy?" tanya Sam dengan air mata yang keluar lebih deras daripada tadi.
"Sam, yang nama kasih sayang itu berasal dari sini," tunjuk Dilla pada hati Sam.
"Kita bisa sayang sama seseorang karena kita terbiasa. Jika kita saring berinteraksi pasti akan ada jika kita sama-sama tulus. Rasa sayang muncul pun bisa berbeda-beda."
"Jadi, jika Mommy sering sama Sam, apa Mommy akan lebih sayang Sam juga," ujar Sam penuh harapan.
"Maaf Sam, Mommy tidak bisa menyayangi Sam sama seperti Mommy sayang sama Rio. Mulut kita bisa berbicara bebas, tapi hati tidak akan pernah bisa berbohong. Mommy tidak mau Sam kecewa sama Mommy nanti. Mommy sudah punya keluarga sendiri."
"Sam benar-benar ingin disayang sama seperti Mommy menyayangi Rio dan Reza," kata Sam dengan memeluk erat Dilla.
Dilla mengelus bahu kecil Sam.
"Apakah Sam percaya sama Mommy?" tanya Dilla.
Sam melepaskan pelukannya pada Dilla.
"Maksud Mommy apa? Sam selalu percaya sama Mommy," sahut Sam dengan melepaskan kembali pelukan mereka.
"Mommy yakin, jika Sam akan memiliki Mommy yang akan menyayangi Sam sama seperti Mommy sayang pada Rio."
Sam terdiam.
"Sam ingatkan sama tante Bella yang Mommy ceritakan semalam?"
Sam mengangguk lemah.
"Mommy sudah dapat semua info tentang tante Bella. Tante Bella juga menyayangi daddy Sam sama seperti daddy Sam sayang ke tante Bella. Seperti yang Mommy bilang semalam, pasti tante Bella sayang sama Sam seperti Mommy sayang Sama Rio."
"Tapi, jika Sam tidak mau, ya tidak apa-apa. Padahal tadi Mommy berniat menyatukan daddy Sam sama tante Bella. Mungkin sekarang waktu yang pas buat daddy dan tante Bella bersama. Jika Sam ragu, maka nanti Sam tidak akan ada kesempatan kedua. Yah seperti kita lihat barang di toko, jika kita tidak segera beli ya di ambil orang."
"Ya sudah ayo kita masuk," ujar Dilla sambil berdiri.
'Sepertinya aku harus menyusun rencana baru. Sam tidak terbujuk sama rayuan aku. Tapi bagaimana caranya aku bisa pulang jika rencana ini gagal,' batin Dilla.
Dilla berjalan di depan. Baru selangkah, Sam malah menarik baju Dilla.
"Kenapa Sam?" tanya Dilla yang melihat Sam menunduk.
"Jika… jika tante Bella jahat seperti Mommy Sam dulu bagaimana?" tanya Sam balik.
Sam menatap Dilla ragu-ragu.
Senyum Dilla merekah.
'Akhirnya termakan juga umpannya.'
"Mommy yakin jika tante Bella sama seperti Mommy Dilla," ujar Dilla yakin.
"Jika nanti tante Bella tidak sama seperti Mommy, maka Mommy harus jadi Mommy Sam ya," tawar Sam.
'Kenapa malah nawar. Memangnya aku ini barang tukar nambah. Tapi aku iya kan saja dulu. Biar Sam semakin percaya.'
"Iya Mommy janji."
Sam senang mendengar janji Dilla.
"Ayo kita balik ke kamar. Kasihan Rio dari tadi sendiri di kamar," ajak Dilla.
Senyum Sam luntur mendengar nama Rio.
"Baik Mommy," sahut Sam terpaksa.
Sam tidak mau dicap jelek sama Dilla.
***
Ketika Dilla dan Sam kembali lagi ke kamar, Rio sudah tertidur pulas di karpet tempat Dilla dan Sam menggambar. Dilla dengan perut yang besar masih sanggup mengangkat Rio ke atas tempat tidur walaupun sedikit kesusahan. Dilla tidak mau Rio sakit karena tidur di lantai.
"Ayo Sam sini."
Sam segera naik ke atas tempat tidur.
"Sekarang Sam tidur siang dulu ya. Nanti akan Mommy bangunkan. Sam pasti sudah sangat capek juga."
Sam mengangguk kepala dan menutup mata. Setelah memastikan Sam tertidur, baru Dilla keluar dari kamar.
***
"Ryan, bagaimana dengan Rio?" tanya Rita begitu sadar.
"Belum ada kabar sama sekali Ma," sahut Ryan.
"Bukannya tadi pagi Rio minta HP Dilla. Apa dia masih memegang HP Dilla?"
"Iya Ma, HP Dilla masih sama Rio."
"Kalau begitu kenapa kita tidak mencari melalui GPS saja," usul Rita.
"HP yang dibawa Rio sedang mati Ma. Mungkin saja Rio tidak bohong habis baterai. Jadi kita tidak bisa melacak keberadaan Rio"
"Rio cucu Nenek. Di mana kamu Rio, Nenek khawatir sama kamu."
Tit tit, tit tit.
"Siapa Ryan?" tanya Rita begitu mendengar pesan masuk di HP Ryan.
"Ini dari polisi Ma. Kata mereka, mereka ada kabar terbaru tentang Rio. Ryan disuruh segera menghadap polisi."
"Kalau begitu kamu cepat berangkat. Semoga kita menemukan petunjuk dimana Rio berada," suruh Rita.
"Iya Ma. Ma, Pa, pamit dulu ya."
"Iya Ryan. Kau hati-hati dijalan. Jangan bawa mobil ngebut-ngebut."
"Baik Pa."
Ryan segera keluar dari kamar Rita dan meninggalkan Rita dan Aditya.
"Pa cucu Mama."
"Iya Ma. Mama yang sabar ya. Kita pasti menemukan cucu kita. Kita juga pasti akan segera menemukan Dilla."
"Sekarang bagaimana keadaan Reza. Dia pasti cemas jika mengetahui Rio juga menghilang."
"Untuk sementara kita jangan memberitahukan hal ini dulu kepada Reza. Takutnya Reza nanti akan berbuat hal nekat. Reza bisa saja akan mencari Rio dan Dila sendiri. Mama tahu sendiri, dulu dia pernah nekat pergi mencari sendiri Dilla ke kampung halaman."
"Iya Pa. Lebih baik kita menjaga Reza. Mama takut jika Reza juga menghilang. Ayo Pa kita cari Reza," ajak Rita.
Bersambung....