
Beberapa hari kemudian Bibi Dilla sudah diperbolehkan pulang. Mereka segera membereskan semua barang-barang bawaan mereka dan segera pulang. Mereka pulang dengan menggunakan becak dan di bantu sama Danang.
Danang sengaja datang karena tau hari ini Marni sang Bibi Dilla akan pulang. Tanpa banyak bicara Danang membantu apa yang dia bisa.
Di saat mereka tiba di rumah ternyata kedua orang tua Danang ada di depan pintu rumah Dilla. Karena mereka juga tahu jika Marni sudah diperbolehkan pulang.Kedua orang tua Danang juga sudah mengetahui jika Dilla sudah pulang, makanya mereka segera ingin menunggu kepulangan mereka di rumah.
Dilla yang melihat orang tua Danang segera menyalami kedua orang tua Danang sebagai bentuk sopan santunnya.
"Ya ampun Nak kamu sudah sebesar ini, kamu semakin cantik saja," puji Wulan Ibunya Danang.
"Terima kasih Tante," ucap Dilla sambil tersenyum kecil.
Wulan yang melihat Danang hanya diam saja tanpa mengajak Dilla bicara dari tadi segera menyenggol anaknya, dia memberikan kode kepada anaknya supaya lebih akrab sama Dilla. Ayah Danang hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya.
"Sudahlah Bu, jangan goda anakmu mereka sudah besar," tegur Yanto Ayah Danang.
"Aduh Ayah ini apa sih, mereka berdua baru saja bertemu, jadi seharusnya sudah saling tegur sapa jangan berdiam diri begini. Padahal mereka sejak kecil sering main bersama," jawab Wulan tidak terima.
"Itu beda Bu, sekarang mereka sudah dewasa, sudah bukan anak-anak yang lagi," sahut Yanto.
Wulan yang mendengar perkataan suaminya sedikit sebal, tapi rasa kesalnya segera menghilang saat dia melihat raut wajah Dilla.
Mereka semua memasuki rumah Paman dan Bibi Dilla. Dilla segera membawa barang-barangnya dibantu sama Budi dan Yudi. Sebenarnya Danang juga ingin membantu tapi dicegah sama Abdul, Paman Dilla, karena merasa tidak enak.
Setelah menyimpan semua barang Dilla segera membuatkan minuman buat tamu dan yang lain. Dilla segera menghidangkan minuman tersebut di atas meja. Setelah menata minuman Dilla ingin segera meninggalkan ruangan itu tapi dicegat sama Marni.
"Dillaa sini duduk dulu Nak. Kamu duduk sini samping Paman dan Bibi," panggil Marni.
Dilla dengan patuh duduk di antara Paman dan Bibi tanpa protes.
"Jadi sekarang kamu sudah ada di sini, semua keputusan ada di tangan kamu. Kamu sudah tahu kan kalau keluarga Danang sudah melamar kamu?" tanya Marni langsung.
Dilla melihat kesemuanya terlebih dahulu.
"Tapi apa ini tidak terlalu cepat Bisa, Bibi kan baru saja pulang dari rumah sakit," ujar Dilla.
"Bibi sudah tidak apa-apa, kamu bisa lihat kondisi Bibi bagaimana sekarang. Jika kamu menikah dengan Nak Danang Bibi akan lega. Nak Danang ini orang baik, kamu juga sudah mengenalnya sendiri. Nak Danang pasti bisa menjaga dan melindungi kamu," sahut Marni dengan meraih tangan Dilla.
Dilla hanya diam. Dia tau, mau sekarang atau nanti, masalah ini pasti akan dibahas juga.
"Jadi bagaimana Dilla, apa kamu mau menerima anak kami sebagai suami kamu?" tanya Yanto.
Dilla hanya menganggukkan kepala saja dengan lemah. Dia tidak berani mengatakan tidak kepada keluarga Danang. Keluarga Danang sudah banyak membantu keluarga mereka. Dilla tau mereka tidak pernah mengharapkan balasan karena mereka membantu dengan ikhlas. Tidak hanya keluarga Dilla saja, tapi keluarga Danang juga sering membantu keluarga yang lain.
Keluarga Danang yang melihatnya merasa senang, Wulan segera mendekati Dilla dan memeluk Dilla dengan hangat.
"Tante sangat senang jika kamu mau menikah dengan Danang," ujar Wulan dengan senang tanpa dibuat-buat.
Dilla melihat semua ekspresi yang ada disana, kemudian saat pandangannya jatuh pada Danang, Danang hanya memberikan senyuman kecil kepada Dilla. Wulan segera duduk kembali ke tempat semula.
"Jadi kapan kita akan menikah mereka berdua?" tanya Yanto.
"Bagaimana jika minggu depan saja, bukankah minggu depan adalah hari yang baik," sahut Marni semangat.
"Apa itu semua tidak terlalu cepat?" tanya Bibi Dilla.
"Iya, betul apa yang dikatakan sama Marni, Bu sepertinya itu terlalu cepat jika minggu depan. Kita juga harus tanyakan juga kepada Danang dan Dilla, karena semua itu mereka yang akan menjalani semuanya," ujar Yanto
"Tapi Yah, jika bukan minggu depan, pernikahan mereka harus menunggu tiga bulan lagi. Jika tidak pernikahan mereka akan banyak rintangan Yah. Jika menunggu tiga bulan lagi itu terlalu lama," sahut Wulan.
"Benar yang dikatakan Wulan. Dari tanggal lahir mereka, mereka hanya cocok menikah minggu depan atau tiga bulan lagi," lanjut Abdul.
"Jadi bagaimana ini?" tanya Marni.
"Sekarang bagaimana menurut kamu Dilla, karena keputusan nya ada ditangan Dilla dan Nak Danang?" tanya Paman Dilla.
"Semua terserah kepada Paman dan Bibi saja, Dilla akan menurut pilihan kalian," sahut Dilla lemah.
Paman Dila hanya menepuk-nepuk bahu Dilla sebentar mendengar jawaban Dilla.
"Kalau begitu Dilla sudah setuju, sekarang bagaimana dengan keputusanmu Danang?" tanya Wulan.
"Danang juga menurut, jika Dilla tidak keberatan menikah minggu depan, maka Danang juga tidak keberatan Bu," jawab Danang.
Mereka semua senang dengan keputusan Dilla dan Danang. Akhirnya mereka memutuskan akan menikahkan Dilla dan Danang minggu depan. Mereka kembali melanjutkan membahas apa yang diperlukan untuk pernikahan Dilla dan Danang.
Dilla segera minta pamit kepada Paman dan Bibinya untuk menuju ke belakang. Dilla sudah tidak sanggup lagi untuk mendengar apa yang mereka bahas. Paman Dilla menatap kepergian Dilla dengan pandangan yang sulit diartikan.
Dilla segera memasuki kamarnya. Di dalam kamar Budi dan Yudi sudah menunggu kedatangan Dilla dari tadi.
"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Dilla.
"Mbak ada bawa oleh-oleh tidak?" tanya Yudi balik.
Dilla segera membongkar tasnya, Dilla sudah jauh-jauh hari menyiapkan oleh-oleh untuk mereka berdua. Dilla segera menyerahkan dua buah mainan robot.
"Yang warna biru buat Budi dan yang merah buat Yudi. Bagaimana, apa kalian suka?" tanya Dilla.
Mereka berdua menerima hadiah itu dengan raut wajah senang yang tidak tertutupi. Mata mereka berbinar bagaikan lampu yang sedang menyala. Sekarang mereka punya mainan robot yang bagus. Mereka bisa memamerkannya pada teman-teman mereka. Teman-teman yang sering mengolok-olok mereka karena tidak punya mainan.
"Ini sangat bagus Mbak, Budi sangat suka," jawab Budi.
"Yudi juga suka Mbak, Terima kasih ya Mbak," sambung Yudi.
Yudi dan Budi memeluk Dilla erat.
"Mbak senang jika kalian suka," ucap Dilla.
"Tentu kami sebagian Mbak, kami jarang punya mainan. Tapi sekali punya mainan, mainannya sebagus ini," kata Budi bangga.
Mereka mulai memainkan robot itu, Dilla hanya memperhatikan mereka bermain. Tiba-tiba Dilla jadi keingat sama trio R, mereka juga sering main robot. Pandangan Dilla seolah-olah mereka bertiga yang sedang bermain. Dilla segera menghapus air mata yang keluar tanpa sadar. Dilla tidak mau Yudi dan Budi melihat Dilla menangis.
Mereka bermain sudah hampir satu jam. Dilla mulai bosan melihat mereka bermain tanpa melakukan yang hal lain, dia hanya menjadi penonton saja.
Bersambung....