
Karena hari sudah sangat siang dan sudah memasuki waktu makan siang, Dilla memutuskan untuk mengajak Rio makan siang di luar. Dilla tadi sangat puas melihat Rio bisa bermain dengan anak lainnya sehingga Rio nampak tidak semurung tadi pagi lagi. Rio bahkan sempat tertawa dengan dua anak itu. Dilla bersyukur Rio sudah kembali tertawa.
Dilla memilih makan pada tempat yang terbuka. Walaupun hari sedikit panas tapi dengan adanya hembusan angin bisa membuat udara tidak terlalu panas. Setelah mereka selesai makan, Dilla memilih untuk duduk sebentar di situ.
Rio turun dari kursi untuk mendekati seorang ibu yang berada di dekat mereka bersama seorang bayi. Dilla hanya melihat dan mengawasi Rio agar dia tidak hilang.
"Maaf permisi Mbak," kata salah satu pelayan.
"Iya Mbak, ada apa?" tanya Dilla tidak mengerti.
"Maaf Mbak, karena semua meja sudah penuh, apa boleh Mbak ini duduk bersama Mbak," tanya pelayanan itu sambil menunjukkan seorang tamu perempuan.
"Saya tidak keberatan kok. Silahkan duduk Mbak," suruh Dilla.
Perempuan itu segera duduk karena dia sudah masuk ke beberapa tempat dan sudah penuh.
"Terima kasih ya," kata perempuan itu.
"Iya Mbak, sama-sama," sahut Dilla.
Setelah itu, perempuan itu memesan makanannya.
"Perkenalkan nama saya Nadilla Putri, panggil aja Dilla," kata Dilla ramah dengan memperkenalkan diri setelah perempuan itu memesan makanan dan pelayan itu pergi.
"Aku Lisa Mentari," sahut Lisa sambil menyambut tangan Dilla.
"Kamu sendiri ke sini?" tanya Lisa basa-basi.
"Saya tidak sendiri Mbak, saya di sini dengan anak saya. Itu dia sedang bermain di sana," tunjuk Dilla ke arah Rio.
Lisa melihat ke arah yang dituju oleh Dilla. Setelah itu dia kembali melihat ke arah Dilla kembali.
"Itu anak kamu?" tanya Lisa tidak percaya.
"Iya Mbak, itu anak saya," jawab Dilla.
"Aku tidak menyangka kamu sudah mempunyai satu orang anak sebesar itu. Tetapi kamu masih terlihat muda seperti umur dua puluh tahunan," kata Lisa tidak percaya.
Dilla tersenyum mendengar perkataan Lisa.
"Kamu selama ini pakai produk kecantikan apa sehingga muka kamu bisa awet seperti ini," tambah Lisa.
"Saya tidak menggunakan apa-apa Mbak dan memang umur saya masih 20 tahun," ujar Dilla.
"Kok bisa, bukankah anak kamu itu sekitar tiga atau empat tahunan," kata Lisa semakin tidak percaya.
"Dia memang anak aku Mbak, tapi dia bukan anak kandung saya. Dia adalah anak sambung saya. Walaupun mereka bukan anak kandung saya, saya menyayangi mereka seperti anak kandung saya sendiri," ucap Dilla sambil tersenyum dengan melihat ke arah Rio.
Lisa bisa melihat betapa tulusnya rasa sayang Dilla kepada Rio dari tatapan matanya.
"Maksudnya mereka bukan satu?"
"Iya Mbak, dia bungsu. Yang sulung sudah masuk sekolah dasar," ujar Dilla.
"Aku tidak menyangka jika kamu menikahi seorang duda dan bisa menerima anaknya," ucap Lisa.
"Saya yang lebih tidak menyangka Mbak. Semua ini sudah digariskan tetapi saya sangat bersyukur dengan apa yang saya miliki saat ini," ujar Dilla.
Lisa sangat salut melihat kondisi Dilla sekarang. Sangat jarang ada ibu sambung yang bisa menyayangi anak sambungnya sendiri. Bukan seperti….
***
Dengan langkah kecil Rio mendekati ibu yang sedang menggendong seorang bayi. Rio penasaran dengan bayi yang ada di gendongan ibu itu. Rio menatap ibu dan anak itu dengan tatapan penasaran.
"Kamu ingin melihatnya?" tanya ibu itu melihat tingkah Rio.
Rio segera mengangguk-angguk kepalanya. Ibu itu menurunkan gendongannya sedikit sehingga Rio bisa melihat bayi itu.
"Milip," ucap Rio spontan.
"Tentu dong mirip, ini anaknya Tante. Bagaimana cantik tidak?"
"Antik dan lucu," kata Rio dengan mata berbinar.
"Tapi tenapa bica milip?" tanya Rio polos.
Ibu itu tertawa mendengar pertanyaan Rio.
"Anak perempuan memang sering mirip sama ibunya dan jika anak laki-laki pasti mirip dengan bapaknya. Kamu pasti mirip sama Papa kamu kan," kata ibu itu sambil memegang pipi Rio.
Rio mengangguk-angguk kepalanya lagi.
"Jadi jita Liyo unya adik apa atan milip cama Omy Liyo?" tanya Rio penuh harap.
"Tentu adik kamu nanti akan mirip dengan Mommy kamu. Pasti akan secantik Mommy kamu," jawab ibu itu.
Rio yang mendengarnya seketika matanya jadi berbinar-binar bagaikan bintang di langit.
Rio kembali mendekat dan memegang tangan bayi itu. Sang bayi itu refleks menggenggam tangan Rio. Rio mata Rio semakin bersinar melihatnya.
"Sepertinya anak Ibu menyukai Rio. Apa Rio mau menjadi Abang untuk anak Ibu," tawar ibu itu.
Rio menatap antara ibu itu dan sang bayi.
"Liyo ndak mau," tolak Rio langsung.
Ibu itu hatinya terasa retak seketika karena langsung ditolak sama Rio mentah-mentah. Ibu itu tidak bisa berbuat apa-apa karena anak-anak memang berkata yang sejujurnya. Dia hanya bisa mengelus dada.
"Kenapa Rio tidak mau?" tanya ibu itu penasaran.
"Liyo ndak mau. Liyo anya mau jadi Abang tuk adik Liyo," jawab Rio yakin.
Ibu itu menganggukkan kepala, entah kenapa dia bangga dengan Rio.
"Pasti adik kamu nanti akan senang memiliki Abang seperti kamu," kata ibu itu.
"Tentu," jawab Rio pendek.
Di dalam hati Rio sedang berbunga-bunga membayangkan jika dia mempunyai seorang adik perempuan yang mirip dengan Dilla yang bisa diajak bermain seperti sekarang. Setelah puas bermain dengan bayi itu, Rio kembali lagi kepada Dilla.
***
"Rio," panggil Dilla.
Rio segera mendekati Dilla dan Lisa menatap mereka dengan heran. Rio semakin mendekat dan meminta duduk di pangkuan Dilla. Setelah duduk di pangkuan Dilla, Rio menatap sosok asing bagi nya. Lisa menatap mereka sambil meneruskan makan siangnya.
"Mbak, kenalkan ini namanya Rio, Mario Suherman," ujar Dilla.
Lisa menghentikan makannya saat mendengar nama Rio Suherman. Dia ingat sekarang, jika nama itu adalah nama keponakan nya.
'Bukannya anak Mbak Riana namanya juga Mario dan juga sama-sama dari keluarga Suherman.'
"Mario Suherman?" tanya Lisa.
"Iya Mbak, ayo Rio kenalan sama Mbak Lisa," ujar Dilla
Rio mengikuti instruksi Dilla.
"Liyo, calam tenal," ucap Rio.
Lisa kembali berfikir.
'Apa mungkin dia adalah keponakan aku dan dia adalah istrinya Ryan.'
Lisa terkejut, dia tidak menyangka jika dia bisa bertemu dengan istri Ryan secepat ini.
"Apa maksud kamu dia anaknya Ryan Suherman dan cucu dari Rita dan Aditya Suherman?" tanya Lisa memastikan.
"Iya Mbak. Tapi kenapa Mbak bisa tahu detailnya?" tanya Dilla penasaran.
"Ah… aku pernah dengar tentang keluarga Suherman," kata Lisa berbohong.
'Jadi ini adalah istrinya Ryan. Pantas saja Ryan mati-matian membelah Dilla. Memang Dilla bisa menyayangi Rio dengan tulus. Jika tadi aku tidak duduk di sini, mungkin aku tidak tau bagaimana istrinya Ryan. Dilla bahkan menganggap Rio adalah anak kandungnya sendiri. Sekarang aku bisa lega melihat kedua keponakannya memiliki ibu berganti sebaik Dilla. Mbak Riana sekarang pasti sudah bisa tenang juga karena sudah ada yang mengurus anaknya dengan baik.'
Lisa akhirnya memutuskan untuk makan lagi yang setempat tertunda tadi. Sambil makan dia juga melihat manjanya Rio pada Dilla. Tiba tiba Lisa jadi teringat perkataan Ryan.
"Rio," panggil Lisa.
Rio menoleh kearah Lisa.
"Rio mana lebih sayang antara Papa sama Mama?" tanya Lisa.
"Liyo lebih cayang Omy. Liyo cayang Omy banaak-banaak," jawab Rio.
"Rio tidak sayang sama Papa?"
"Liyo cayang Papa, tapi ndak banaak," jawab Rio.
"Kalau Rio di suruh memilih ikut antara Papa dan Mama, Rio mau pilih ikut sama siapa?" tanya Lisa pada intinya.
"Liyo atan itut Omy. Tan Liyo cayang Omy," jawab Rio.
Rio kemudian mengecup Pipi Dilla sekilas sebagai bukti sayang Rio pada Dilla. Mereka kembali melanjutkan obrolan sambil menemani Lisa makan siang.
Bersambung….
Tebak-tebak buah manggis. Siapa yang mengira jika Lisa menjadi pelakor? Padahal sudah di infokan jika di sini tidak ada pelakor ^_^. Tapi saya senang jika novel saya tidak bisa ditebak, jadi seperti aja kejutan begitu. Semoga kalian bisa terus menyukai dan mendukung karya saya.
Terima kasih buat para readers semuanya. Jangan lupa like dan komentar lagi ya. Jangan lupa ikut event vote juga nanti periode tanggal 17-30 Agustus ya (infonya sudah ada di bab sebelumnya). Sampai jumpa di bab selanjutnya.
Rekomendasi novel tim yang bagus dan keren sambil menunggu novel saya up lagi.