
Sedikit penjelasan tentang bab kemarin. Maksud dari dorongan kemarin adalah bahwa Riana menyuruh Dilla untuk maju terus ke depan atau memberikan izin kepada Dilla agar terus berada di keluarga kecilnya. Mungkin penyampaian saya yang kurang jelas ya. Dan kenapa perginya sore, karena siangnya Ryan bekerja dan tidak sempat pergi. ^_^.
Terima kasih komentar kalian semua ya, saya sangat senang. Jangan lupa kritikan dan masukan lagi ya. Itu menjadi batu loncatan agar saya bisa mengembangkan novel ini. Salam sahabat ❤NAD❤.
Selamat membaca.
***
Dilla dan Ryan tiba di rumah saat matahari sudah tidak nampak lagi. Di depan rumah terlihat Rita yang sedang mondar-mandir. Ryan dan Dilla segera mendekat ke arah Rita setelah keluar dari mobil.
"Kenapa Mama muter-muter dari tadi?" tanya Ryan heran.
"Akhirnya kalian pulang juga," kata Rita sedikit lega.
"Memangnya ada apa Ma," tanya Dilla lagi.
"Itu si Rio, Rio sepertinya dia sedang ngambek karena dia tau kamu pergi," sahut Rita.
"Bukannya tadi dia pergi sama Mama dan Papa," ujar Ryan.
"Tadi saat dia pergi bersama Mama dia baik-baik saja dan terlihat cukup senang dan penuh semangat. Tapi begitu pulang ke rumah dan tau dilla pergi, semangatnya langsung turun seketika. Sebaiknya kalian masuk saja dulu kalian lihat sendiri. Rio sudah menunggu kalian di dalam," kata Rita.
"Reza nya mana Ma?" tanya Dilla.
"Reza sedang bermain sama Rafa di atas," ucap Rita.
***
Mereka bertiga melangkah memasuki ke dalam rumah. Di ruang tamu memang Rio sedang menunggu Ryan dan Dilla pulang.
"Uduk," kata Rio dengan melipatkan kedua tangannya.
Mata Rio menatap lurus ke arah Ryan dan Dilla yang baru masuk.
Ryan dan Dilla saling bertatapan sebentar. Di dalam benak mereka, mereka sedang bertanya sekarang, siapa anak dan siapa orang tua. Ryan dan Dilla sekarang bagaikan tersangka yang sedang pacaran secara sembunyi-sembunyi. Sekarang mereka ketahuan sama orang tua mereka.
Dengan patuh Ryan dan Dilla segera duduk menuruti kemauan Rio.
"Dali mana?" tanya Rio dengan wajah sok serius.
Ryan, Dilla dan Rita menahan tawanya melihat tingkah laku Rio saat ini.
"Angan teltawa," kata Rio semakin menjadi.
Dilla merasa dejavu dengan kejadian sekarang. Dia ingat dulu Rio sempat marah seperti ini saat Ryan dan Dilla pergi tanpa membawa Rio. Dilla dan Ryan beserta Rita mencoba menahan tawanya. Mereka ingin mengikuti permainan yang sedang dimainkan oleh Rio. Permainan orang tua dan anak yang terbalik.
"Dali mana?" tanya Rio sekali lagi.
"Tadi Papa sama Mama pergi makan di restoran. Makanannya sangat enak dan lezat," kata Ryan menggoda Rio.
"Jadi Papa matan wenak ndak ajak-ajak Liyo," ucap Rio tidak percaya.
"Rio kan tadi pergi sama Kakek dan Nenek. Jadi bagaimana Papa bisa mengajak Rio?" tanya Ryan serius.
"Tan Papa bica tunggu Liyo pulang?" kata Rio beralasan.
"Kasihan Mana sendiri di rumah kalau harus menunggu Rio pulang," bantah Rio.
"Papa cama Omy tetap salah," Rio menolak bantahan Ryan.
"Salah apa sayang?" tanya Dilla gemas.
"Papa cama Omy salah, coalna peldi ndak ajak-ajak Liyo," sahut Rio.
"Kan tadi Papa sudah bilang kalau Rio tadi ikut sama Kakek dan Nenek. Bagaimana Mama bisa mengajak Rio pergi? Apa perlu Mama panggil super hero Rio?" tanya Dilla.
Rio memonyongkan bibirnya tidak terima. Rio tidak terima kalah bicara.
"Tenapa tadi Omy nolak itut cama TaTek dan Nenek?" tanya Rio balik.
"Soalnya mama sudah janji sama Papa jika Papa akan menemani Mama untuk pergi ke tempat makam Riana," kata Ryan memilih kata-kata dengan hati-hati untuk melihat respon Rio.
Rita dan Dilla dengan cepat menoleh ke arah Ryan. Ryan menatap balik ke arah Rita dan Dilla. Mata Ryan seakan berbicara bawa Rio sudah saatnya mengenali siapa ibu kandungnya.
Dilla menganggukkan kepalanya. Memang sudah saatnya Rio mengetahui siapa ibu kandungnya
"matam itu apa Pa?" tanya Rio ya tidak mengerti.
"Makam itu adalah tempat peristirahatan orang terakhir," jawab Ryan.
"Atau bisa dikatakan jika orang itu sudah ada di surga," tambah Ryan.
"Culda itu di mana Pa?" tanya Rio penasaran.
"Surga itu ada di langit," kata Ryan berbohong.
"Di langit?" tanya Rio dengan mata berbinar.
"Iya," jawab Ryan tidak yakin.
Entah kenapa Ryan ngeri dengan mata berbinar Rio.
"Talau ditu Liyo mau te lanit uga," ucap Rio semangat.
"Tidak!" jawab Dilla dengan nada keras.
Dilla tidak mau jika Rio mau nyusul Riana. Mereka bertiga sempat terkejut dengan teriakan Dilla.
"Omy malah?" tanya Rio takut.
Ryan segera memeluk dan mengusap bahu Dilla. Mungkin Rio memang tidak tahu makna apa yang diucapkan sama Rio. Makanya Dilla bisa panik seperti itu saat mendengar ucapan Rio. Bagaimana pun perkataan adalah doa. Dilla takut jika ada malaikat yang kebetulan lewat dan mencatat perkataan Rio.
"Rio jangan bilang seperti itu lagi ya. Mama tidak suka," kata Dilla.
"Omy ndak cuta?" tanya Rio balik.
"Apa Rio tega ninggalin Mama sendiri?. Apa Rio tega melihat Mama sedih ditinggalkan sama Rio?" tanya Dilla dengan pura-pura sedih.
Dilla tidak mau jika Rio mengucapkan hal seperti itu lagi. Karena ucapan adalah doa. Siapa tau nanti ada malaikat yang lewat tanpa permisi dan mencatat perkataan Rio. Rio segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke arah Dilla.
"Maap Omy. Liyo anji ndak atan nindalin Omy," jawab Rio sedih.
Dilla memeluk Rio dengan erat.
"Ryan, sebaiknya kamu jangan membahas dulu tentang Riana kepada Rio. Sepertinya Rio masih terlalu kecil untuk bisa menerima semua ini," kata Rita.
Ryan menganggukkan kepalanya.
'Mungkin ini memang sekarang adalah bukan waktu yang tepat untuk memberitahukan pada Rio. Bagaimana Rio masih sangat kecil.'
Karena Ryan dan Dilla telat pulang dan tidak membawa Rio, maka Rio menghukum mereka dengan Rio boleh tidur dengan mereka berdua. Ryan dan Dilla yang tidak mau memperpanjang lagi dengan ocehan Rio, maka mereka menyetujui saja.
Jika mereka menolak pasti Rio akan kembali protes. Rio semakin lama semakin banyak berbicara dan semakin pintar dalam protes jika tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Sedangkan Reza sudah tidur sendiri di kamarnya.
***
Dalam alam mimpi Dilla
Di alam mimpi Dilla sedang melihat Rio dan Reza sedang bermain kejar-kejaran. Sedangkan Dilla duduk di bawah pohon. Dilla hanya menatap mereka berdua, sesekali Rio dan Reza melambaikan tangannya ke arah Dilla. Dilla membalas lambaian tangan mereka.
Tiba-tiba Dilla mendengar seperti ada suara langkah di sampingnya. Dilla segera menoleh dan ternyata adalah seorang perempuan. Perempuan itu duduk tanpa permisi ikut duduk di samping Dilla. Dilla menatapnya dengan heran. Dilla yakin seperti pernah melihat perempuan tersebut. Perempuan itu sangat cantik dan anggun.
"Mbak siapa?" tanya Dilla.
Dilla yakin jika perempuan yang ada di sampingnya lebih tua daripada dirinya. Perempuan itu tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kepada Dilla kemudian perempuan itu melihat lagi ke arah Rio dan Reza yang sedang bermain dengan riang gembira. Dilla juga mengikuti arah pandang perempuan itu yang menatap ke arah Rio dan Reza.
"Terima kasih, terima kasih kamu telah menjaga anak-anakku dan juga Ryan. Sekarang aku benar-benar lega," ujar Ryan.
Perempuan berbicara tanpa menoleh ke arah Dilla. Dilla yakin jika Perempuan yang ada di sampingnya adalah perempuan bayangan yang sama persis sama dia lihat tadi sore. Dan Dilla yakin jika wanita yang disampingnya itu adalah Riana almarhum istrinya Ryan. Dilla ingin berbicara tetapi suaranya tidak kunjung keluar. Seakan-akan ada yang menahannya.
"Sekarang aku bisa pergi dengan tenang."
Setelah berkata seperti itu Riana langsung hilang begitu saja.
"Mama," panggil Rio.
Dilla terkejut saat Rio memanggilnya dengan sebutan Mama. Rio tidak pernah atau tidak mau memanggil Dilla dengan sebutan Mama. Dilla juga heran dengan kehadiran gadis kecil yang ada di tengah mereka berdua.
Saat Dilla ingin bertanya, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil Dilla dari arah belakang. Dilla segera menoleh ke belakang, yang dia lihat adalah wajah Rio yang kabur.
Bersambung....
Rekomendasi Novel bagus buat kalian sambil menunggu up selanjutnya…