
Sudah beberapa minggu sejak pertemuan kembali Rio dan Reza dengan sang papa. Sejak saat itu mereka sering menghabiskan waktu bersama, bahkan Ryan juga sering di 'bawa' Dilla ke halaman balkon kamar. Menurut Dilla tuannya butuh udara segar dan suasana baru bukan di kamar terus.
"Pa, bagaimana kalau hari ini kita main di luar aja. Apa Papa tidak bosen di kamar terus, Reza dah bosan Pa," ngeluh Reza.
"Maaf Reza, Papa tidak bisa keluar."
"Tidak bisa keluar kenapa Pa."
"Oh Reza tau, Papa kan tidak bisa jalan, nanti biar Mbak Dilla aja yang dorong kursi roda Papa. Mbak Dilla mau kan bantu Papa keluar dari kamar ini?" Reza mengalihkan pandangan kepada Dilla.
"Tentu sayang, nanti Mbak Dilla akan dorong kursi roda Papanya," jawab Dilla.
"Tidak usah, kalau Rio dan Reza mau main di halaman belakang rumah, kalian aja yang pergi. Papa tidak bisa ikut."
"Tidak bisa ikut kenapa Pa?" tanya Reza penasaran.
"Karena...," omongan Ryan dipotong Dilla.
"Tentu Papa kalian akan ikut ke taman belakang rumah."
Ryan melotot matanya ke arah Dilla saat mendengar ucapan Dilla. Sedangkan Dilla cuek saja sama pelototan Ryan.
"Maaf Papa tidak bisa ikut. Kalian saja yang pergi ya?" Ryan mengalihkan perhatiannya ke Reza kembali.
"Ayo Rio, Reza, kita pergi ke halaman belakang rumah." kata Dilla mengacuhkan perkataan Ryan.
Dilla langsung mendorong kursi roda Ryan yang diikuti oleh Rio dan Reza dari belakang.
"SAYA BILANG SAYA TIDAK MAU KELUAR, NGERTI TIDAK SIH!" marah Ryan kepada Dilla sambil berteriak keras.
Tanpa Ryan ketahui Reza dan Rio takut dengan teriakan papanya. Mereka langsung bersembunyi di belakang Dilla. Ryan yang melihat anaknya ketakutan jadi sedih, dia tidak bermaksud menyakiti hati anak-anaknya.
Dilla langsung mengendong Rio yang ingin menangis sangking takutnya. Dilla memberikan kata-kata penenang buat Rio agar tidak menangis. Dilla juga melihat Reza yang memeluk kaki Dilla dengan erat karena ketakutan.
Selama beberapa minggu ini Ryan tidak pernah berkata kasar di depan Rio dan Reza. Beda halnya jika berdua sama Dilla. Ucapan Ryan tidak pernah ditanggapi sama Dilla, yang membuat Ryan naik darah.
"Reza maafkan Papa, Papa tidak ber...."
"Mbak Dilla ayo kita pergi saja, kalau Papa tidak mau pergi, kita aja yang pergi," ujar Reza lirih.
Reza menegadahkan kepala melihat Dilla yang lebih tinggi dari dekat.
Dilla dapat melihat mata Reza yang berkaca-kaca. Dilla melirik sebentar ke arah Ryan yang terlihat sekali bahwa Ryan menyesal telah berteriak keras. Dilla tidak mau salah dalam mengambil tindakan.
"Reza, Papa tidak bermaksud gitu kok. Papa mau kok ke halaman depan. Iya kan Tuan?" kata Dilla dengan tersenyum, tapi dengan mata yang melihat Ryan dengan tajam, memberikan kode untuk sang majikan agar setuju.
"Ah... iya...," jawab Ryan ragu.
Sebenarnya Ryan tidak mau keluar, tapi takut anaknya semakin menjauhinya maka dia mengalah. Padahal Ryan baru saja bisa bermain bersama anak-anaknya.
"Papa tidak marah sama Reza?" tanya Reza.
"Papa tidak marah kok sama Reza."
Ryan kelabakan sendiri dengan pertanyaan anaknya. Tidak mungkinkan Ryan bilang pada anaknya bahwa ia marah sama tindakan Dilla. Ryan tidak mau menambah masalah lagi.
"Aaa itu...."
"Ayo kita pergi sekarang," potong Dilla.
Dilla membantu Ryan untuk menghindari pertanyaan dari Reza.
Dilla sudah menurunkan Rio dari gendongannya, Dilla mendorong kursi roda Ryan menuju lift yang ada di rumah itu yang diikuti oleh Rio dan Reza di belakang. Mereka berdua saling bergandengan tangan.
Rumah holang kaya mah beda, ada liftnya, walaupun jarang dipakai.
Kini mereka telah sampai di halaman belakang rumah Suherman. Bi Imah yang melihat majikannya Ryan keluar dari kamar kaget. Padahal tadi bi Imah lagi memegang telur, sangking kagetnya telur yang ada di tangan bi Imah sampai jatuh dan pecah berhamburan.
Poor bi Imah.
***
Mereka berempat bermain riang gembira di halaman belakang. Ryan yang duduk di atas kursi roda, Dilla yang duduk di bangku taman, Rio dan Reza yang main kejar kejaran. Mereka sudah sejam lebih berada di sana. Rio dan Reza tidak juga merasa lelah.
"Ternyata kalian di sini, pantes Dokter cari di atas kalian tidak ada," kata dokter Sultan tiba-tiba.
Dokter Sultan adalah orang yang selama ini merawat dan mengecek keadaan Ryan atau yang disebut dokter pribadi. Dokter Sultan juga teman akrab Ryan dari masa sekolah menengah atas. Mereka sudah lama bersahabat walaupun mereka mengambil jurusan bidang yang berbeda. Dokter Sultan juga berusia 31 tahun sama seperti Ryan, tapi sampai saat ini dia masih betah ngejomblo saja.
"Iya, Nenek dan Kakek pikir kalian main di kamar Papa. Tetapi kalian main di sini rupanya," ujar Rita senang melihat anaknya ada di taman belakang menemani Rio dan Reza bermain.
Rita belum pernah melihat Ryan keluar dari kamarnya sejak kejadian itu. Rita sungguh terharu melihat Ryan yang mau keluar dari kamar dan bermain di taman belakang ini.
Rio dan Reza yang melihat kedatangan kakek dan nenek berhenti berlari-larian. Mereka menghampiri sang kakek dan nenek, Dilla langsung berdiri dari duduknya.
Tadi Sultan, Rita dan Aditya panik saat melihat Ryan tidak ada di kamar, karena biasanya Ryan tidak pernah keluar dari kamar, palingan hanya sampai batas balkon kamar saja. Tapi setelah dicari ternyata mereka ada di halaman belakang.
Saat mereka panik mencari Ryan di mana, kebetulan mereka berjumpa sama bi Imah. Bi Imah mengatakan bahwa Ryan ada di taman belakang rumah, bersama Dilla, Rio dan Reza juga. Mereka hampir tidak percaya sama perkataan bi Imah sampai mereka kini melihat dengan mata kepala sendiri.
Mereka juga bersikap biasa supaya tidak membebankan Ryan, itu adalah saran dari dokter Sultan agar Ryan juga bisa merasakan nyaman. Mereka bertiga sangat bersyukur Ryan sudah mau keluar dari kamar. Ini merupakan perubahan yang sangat baik.
"Ada apa kamu datang ke sini lagi," Ryan berkata datar.
Ryan tidak ingin anaknya melihat Ryan berdebat lagi seperti kejadian beberapa saat lalu.
"Ah itu aku datang seperti biasa mau mengajakmu berobat agar kamu bisa sembuh dan menemani anakmu bermain bersama seperti sekarang ini. Dengan berobat dan terapi kamu akan bisa berinteraksi lebih leluasa dengan anak-anak kamu."
"Aku tidak butuh bantuan kamu, sana pulang."
"Tapi Ry...."
"AKU BILANG PERGI YA PERGI!" teriak Ryan.
Reza dan Rio yang mendengar teriakan Ryan jadi menangis kembali seperti tadi.
Bersambung....