Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 182. Kesepakatan



"Jadi? apa ada yang bisa menjelaskan kepada aku?" tanya Ryan kepada Daniel dan Bella.


"Maaf, ini semua adalah kesalahan aku. Aku yang telah menculik Dilla," sahut Daniel. 


"Tetapi kenapa kamu menculik Dilla? Apa yang sebenarnya terjadi Daniel?" tanya Bella penasaran. 


"Iya, kenapa kamu menculik istri aku?" sambung Ryan. 


"Mas yang sabar. Dengarkan dulu penjelasan dari Daniel," ucap Dilla.


"Semuanya bermula ketika Sam menyukai Dilla. Selama ini Sam selalu diabaikan oleh ibu kandungnya sendiri. Mantan istri aku, Jessica, dia tidak pernah merawat Sam. Jesicca sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan aku sebagai ayahnya juga jarang berinteraksi sama Sam. Tetapi aku masih tetap memperhatikan Sam walaupun sibuk tidak seperti ayah pada umumnya. Ketika kemarin Sam berulang tahun yang ketujuh, dia meminta Dilla sebagai hadiah ulang tahun," terang Daniel. 


"Kamu gila Daniel! apa kamu akan memberikan apapun yang akan minta oleh Sam. Apa yang diminta oleh Sam itu tidak masuk akal. Jika ketika kecil saja seperti ini kamu menuruti kemauan dia yang tidak wajar, bagaimana dengan nanti ketika dia besar. Apa kamu juga akan mengabulkan permintaan Sam," potong Ryan emosi.


"Iya, aku tahu aku salah. Tetapi aku tidak tega melihat Sam sedih. Dia hanya ingin di perhatian sama Dilla," akui Daniel.


"Jadi kamu tidak memikirkan bagaimana kondisi anak aku dan aku. Apalagi saat ini Dilla sedang mengandung besar," kata Ryan yang semakin emosi.


"Iya benar. Aku tidak memikirkan lebih panjang lagi. Karena bagi aku saat itu adalah kebahagiaan Sam," ucap Daniel putus asa.


"Kamu benar-benar tidak waras Daniel!" teriak Ryan.


"Aku tahu jika aku tidak waras. Sam adalah segalanya bagiku," balas Daniel.


"Aku benar-benar tidak bisa mempercayai Jalan pikiranmu, Daniel."  


"Mas yang sabar. Mas dengarkan dulu semua penjelasan dari Daniel," ujar Dilla menenangkan Ryan yang sudah siap mau bertengkar babak kedua.


Ryan mencoba menstabilkan emosi. Ryan tidak mau lepas kendali. Ryan takut jika masalah bukannya kelar tapi malah bertambah. Dilla pasti akan marah pada dia. Dilla tidak suka kekerasan jika bisa diselesaikan dengan baik-baik.


"Apakah benar semua yang kamu katakan Daniel?" tanya Bella yang masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. 


"Iya, apa yang aku katakan semua itu adalah benar," sahut Daniel lemah. 


"Terus bagaimana kamu bisa ke sini dan mencari aku?" tanya Bella lagi.


"Aku… aku mencari kamu karena bujukan dari Dilla," jawab Daniel tidak enak. 


"Apa? apa maksud kamu. Jadi kamu tidak serius ingin berhubungan sama aku?" tanya Bella kecewa.


"Tidak, bukan seperti itu Bella. Kamu jangan salah paham," ujar Daniel ingin menjelaskan.


Daniel tidak mau jika Bella salah paham dan semuanya jadi kacau. Mereka baru beberapa menit bersama. 


"Mbak Bella dengarkan penjelasan saya dulu. Ini semua tidak sepertu yang Mbak pikirkan," bela Dilla agar masalah bisa diselesaikan.


"Cerita asal mulanya begini. Ketika itu asisten Daniel, tuan Gio, dia tidak sengaja membahas topik tentang Mbak Bella yang menjadi cinta pertama tuan Daniel. Tuan Gio juga bilang jika tuan Daniel mencintai Mbak Bella. Jadi saya meminta tuan Gio untuk mencari tahu tentang Mbak Bella. Awalnya tuan Gio sempat menolak tetapi dengan bantuan Sam akhirnya dia mau mencari data tentang Mbak Bella. Setelah saya dapat informasi tentang Mbak Bella maka saya berinisiatif untuk mempersatukan Mbak Bella sama tuan Daniel. Bagaimanapun kalian berdua sama-sama saling mencintai," terang Dilla.


Dilla sengaja tidak bilang niat pertama mencari data tentang Bella supaya dia bisa bebas dari Daniel. Jika Dilla menceritakan nya pasti ada masalah baru. Biarlah Dilla simpan sendiri.


"Jadi kalian ke sini ingin menjodohkan Daniel dengan Bella?" tanya Ryan yang sudah tau jalan cerita. 


"Iya Mas, dengan begitu Sam memiliki ibu sendiri dan tidak mengharapkan Dilla lagi. Kemudian Tuan Daniel dan Mbak Bella bisa memperjuangkan cinta mereka. Jadi kita semua bisa sama-sama bahagia," ujar Dilla senang dengan pemikiran dia. 


"Tapi tetap saja aku tidak bisa menerima semua ini Daniel. Tindakan kamu ini sangat beresiko." 


"Mas, Mas yang sabar. Kita ambil hikmahnya saja. Sekarang Dilla juga tidak apa-apa. Berkat kejadian ini, mereka bisa memiliki apa yang mereka inginkan. Lala akan mempunyai ayah, Sam memiliki ibu serta Mbak Bella dan Tuan Daniel bisa bersama. Mungkin memang caranya yang salah Mas, tapi ini sudah terlanjur. Jika Daniel tidak membawa Dilla, pasti kejadian seperti ini tidak akan terjadi," bujuk Dilla. 


Ryan mencoba mendengarkan apa yang dikatakan sama Dilla. Apa yang dikatakan Dilla adalah benar. Kejadiannya sudah terjadi dan semuanya baik-baik saja. Sekarang hanya bisa mengambil hikmahnya saja. Setiap kejadian pasti ada rahasia tersendiri.


"Jadi apa yang akan kalian lakukan selanjutnya. Jika hubungan kalian sampai tidak lanjut, maka aku akan benar-benar menuntut kamu Daniel. Jangan sampai pengorbanan Dilla menjadi sia-sia," ujar Ryan dengan nada mengancam.  


"Terima kasih Ryan. Aku janji, aku akan memperjuangkan hubungan ini," ucap Daniel senang. 


Akhirnya Daniel bisa terbebas dari kasus penculikan. Daniel sekarang juga bisa dekat dengan Bella. Sekarang Sam akan memiliki Mommy baru. Mereka akan memiliki keluarga yang utuh.


"Syukurlah kalau semuanya baik-baik saja. Tetapi Tuan Daniel, bagaimana dengan kedua orang tua Tuan? Apa Tuan perlu bantuan?" tanya Dilla menawarkan bantuan. 


"Apa semua itu tidak terlalu cepat Daniel?" ucap Bella memotong perkataan Daniel.


"Bella, semakin cepat orang tua aku tahu tentang hubungan kita, maka akan lebih baik," sahut Daniel.


"Bagaimana jika nanti kedua orang tua kamu masih tidak setuju dengan aku. Apa kita pelan-pelan saja, tidak perlu terburu-buru?" 


"Aku akan tetap berusaha Bella. Bila perlu aku akan meninggalkan kedua orang tuaku. Aku ingin hidup bahagia. Cepat atau lambat tidak akan ada pengaruhnya. Sudah cukup selama ini mereka mengatur kehidupan aku. Sekarang aku ingin menata kehidupan aku sendiri," kata Daniel.


"Bagus Daniel, aku salut dengan perjuangan kamu. Jangan sampai sia-sia hubungan kalian. Cinta memang perlu pengorbanan. Dulu kamu sudah banyak berkorban, sekarang kamu patut mendapatkan apa yang kamu inginkan," puji Ryan bangga.


"Ryan," panggil Daniel.


"Hemmm."


"Karena berhubung aku ingin menemui kedua orang tuaku. Apakah aku boleh minta tolong sama kamu Ryan, Dilla?" tanya Daniel tidak enak.


Ryan mulai mencium bau yang tidak enak. Daniel bertanya dengan halus, bukan ciri khas seorang Daniel.


"Apa yang ingin kamu minta tolong," sahut Ryan menatap curiga.


"Sebenarnya aku juga tidak enak sama kalian, tetapi karena sudah terlanjur tanggung basah ya sekalian mandi saja," kata Daniel basa basi.


"Sudah, kamu tidak usah basa-basi. Apa yang ingin kamu tanyakan," ujar Ryan mendengus.


"Apa kalian bisa menjaga Sam sama Lala sebentar?" tanya Daniel pada intinya. 


"Apa katamu?" tanya Ryan dengan nada ditekankan. 


"Aku tidak mungkin membawa Lala dan Sam bersama kami. Aku ingin meluruskan dulu hubunganku dengan benar di depan kedua orang tuaku. Aku tidak mau anak-anak melihat semua itu, bisa jadi ada perdebatan. Aku percaya jika kamu dan Dilla bisa menjaga mereka dengan baik," kata Daniel.


"Kamu bener-benar ya! Dasar tidak tahu terima kasih. Sudah dikasih hati minta jantung, ginjal sama paru-paru. Kamu benar-benar ingin minta dihajar lagi ya. Sini kamu, aku pukul kepala kamu lagi biar jadi waras," teriak Ryan emosi dan sudah selesai menggulung lengan baju.


Ryan sudah mau bangun dari duduk tapi….


"Au…," teriak Ryan kesakitan.


"Mas kalau ngomong yang sopan," ujar Dilla setelah mencubit pinggang Ryan.


"Tapi sayang, kamu sudah mendengar sendiri apa yang diminta oleh Daniel. Beberapa menit yang lalu aku masih saja marah dan baru saja memaafkan dia. Sekarang dia malah minta yang tidak-tidak," bantah Ryan tidak terima.


"Ya ampun Mas, Tuan Daniel hanya meminta kita menjaga Sam dan Lala sebentar. Kan tidak ada salahnya, nanti mereka bisa jadi teman bermain buat Rio, Reza dan Rafa."


"Tapi sayang… " 


"Sudah lah Mas. Jika Mas tidak mau jaga mereka tidak apa. Biar Dilla yang jaga sendiri."


'Sudah ada tiga bocah saja sudah bikin pusing apa lagi ditambah dua. Daniel sungguh terlalu.'


Ryan menatap Daniel dengan tatapan mematikan. Daniel hanya memberikan senyum tak enak. 


"Apa itu tidak akan merepotkan mereka Daniel?" tanya Bella.


"Itu calon istri kamu saja tahu. Kamu memang tidak tahu malu," ujar Ryan mencibir.


Bella tersipu malu mendengar perkataan Ryan. Bella tidak menyangka jika Ryan akan secara blak-blakan berkata seperti itu. Padahal Daniel saja tidak mengucapkannya. 


Setelah melakukan kesepakatan antara Ryan dan Daniel, akhirnya Sam dan Lala ikut pulang dengan Ryan dan Dilla bersama Rio. Sedangkan Daniel dan Bella memilih berangkat ke kediaman milik keluarga Daniel. Daniel ingin segera menyelesaikannya


Bersambung….


Rekomendasi novel buat kalian sambil menunggu bab selanjutnya.