Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 35. Siuman



Dilla dan Rio sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Sesuai permintaan Aditya, mereka dipindahkan ke ruang VIP yang memiliki fasilitas terbaik.


Ryan duduk di kursi samping bed Rio. Ryan dari tadi masih memegang tangan Rio. Dia berharap agar anaknya segera bangun. Sekali-kali mata Ryan melirik ke arah bed Dilla. Dia juga berharap Dilla segera bangun.


Rita membukakan pintu rawat tersebut masuk bersama Reza dan Rafa. Rita mendapatkan nomor kamar Dilla dan Rio dari suaminya. Tadi Rita di tengah perjalanan segera menelpon Aditya menanyakan di mana keberadaan mereka.


"Mama kenapa bawa mereka ke mari?" tanya Ryan.


"Mama kasihan sama mereka, dari tadi menangis terus. Mereka khawatir dengan keadaan Dilla dan Rio," jawab Rita.


Reza dan Rafa langsung menuju ke papa dan daddy masing-masing. Mereka memang tidak menangis keras lagi, tapi hanya suara tangisan yang lirih. Dengan mata mereka yang sudah memerah. Ryan dan Dafa mengendong anak mereka.


"Udah jangan menangis lagi ya. Mommy sama adik Rio baik-baik saja kok," jelas Dafa.


"Iya, mommy kalian sama adik Rio baik-baik saja. Sebentar lagi juga akan siuman, jadi jangan menangis lagi ya. Nanti Mommy dan adik Rio juga ikutan sedih," tambah Ryan.


Reza dan Rafa menghapus air mata mereka. Mereka tidak mau mommy sama adik Rio juga ikutan menangis.


"Ryan, Dafa bagaimana keadaan mereka?" tanya Rita cemas.


Ryan dan Dafa saling melirik sebentar saat di tanya.


"Keadaan Rio baik saja Ma. Kata dokter sebentar lagi juga akan sadar, tapi...."


"Tapi apa Ryan," sahut Rita cepat.


"Keadaan Dilla kurang baik Ma. Akibat benturan keras di kepala Dilla, kata dokter bisa ada masalah. Dokter bilang jika Dilla tidak siuman dalam waktu 24 jam, maka bisa jadi dia koma," terang Ryan.


Rita sungguh terkejut mendengar ini.


"Daddy koma itu apa?" tanya Rafa kepada Dafa karena tidak mengerti.


"Koma itu tidur sementara," jelas Dafa dengan bahasa halus yang mudah dimengerti.


"Jadi mommy lagi tidur ya?" tanya Rafa lagi.


"Iya sayang. Makanya kalian tidur juga ya, ini sudah malam. Kalian pulang aja ya," ujar Dafa.


"Biar Papa dan Mama yang menjaga Reza dan Rafa. Kalian di sini saja jaga mereka," terang Aditya.


"Pa, Reza mau tetap di sini, tidur di sini juga, boleh ya," pinta Reza.


"Tidak sayang, besok kalian harus sekolah. Nanti mommy marah kalau kalian tidak masuk sekolah," Ryan menakuti mereka, karena mereka sangat patuh sama Dilla.


"Baiklah Pa," pasrah Reza.


"Ayo sayang kita pulang," ajak Rita.


Reza dan Rafa akhirnya nurut juga. Mereka meninggalkan Ryan dan Dafa serta Rio dan Dilla.


Kini jam menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas menit. Tangan Rio mulai bergerak sedikit, Dafa yang melihatnya menyenggol Ryan yang ada di samping. Ryan tadi hampir tertidur sambil duduk.


"Apaan sih," Ryan merasa terganggu, padahal dia sangat kelelahan.


"Tadi kayaknya tangan Rio bergerak deh," ujar Dafa.


Ryan segera menghampiri bed Rio yang diikuti Dafa.


"Dafa kamu jangan bercanda diwaktu kek gini," kata Ryan kesal karena merasa dibohongi.


"Siapa yang becanda aku serius. Tadi aku beneran melihat tangan Rio bergerak kok," bantah Dafa.


"Buktinya mana, Rio dari tadi masih ti...."


"Tuh tuh tengok," Dafa menunjuk ke arah Rio.


Perkataan Ryan dipotong Dafa. Ryan melihat ke tangan Rio. Rio beneran mulai menggerakkan tangan, mata Rio juga mulai berkedut.


"Dafa cepat panggilkan dokter," suruh Ryan.


Di ruangan Ryan mencium beberapa kali area muka Rio saking senang. Rio hanya melihat sang papa ysng sibuk menciumnya.


Dokter segera mengecek keadaan Rio dan menyuruh suster mencatat perkembangan Rio.


"Alhamdulillah keadaan anak Bapak sudah membaik. Besok sudah bisa dibawa pulang. Tidak ada hal buruk yang terjadi. Cukup istirahat yang cukup untuk beberapa hari," kata sang dokter.


"Terima kasih Dok, Rio sayang kamu dengar kata dokter. Rio baik-baik saja dan besok sudah boleh pulang," ujar Ryan senang.


Ryan sangat senang mendengar bahwa anaknya baik-baik saja.


"Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit dokter.


"Terima kasih Dokter," ucap Dafa sekali lagi.


"Iya sama-sama, mari suster kita periksa pasien yang lain," ajak Dokter.


"Ia Dok," sahut suster.


Dokter dan suster meninggalkan ruang tersebut.


"Syukurlah Ryan, keadaan Rio sudah membaik," syukur Dafa atas keadaan Rio yang membaik.


"Iya terima kasih. Sayang mau apa, apa ada bagian tubuh yang sakit atau mau minum dulu tidak," tawar Ryan.


Rio menganggukkan kepalanya dengan lemah. Ryan segera mengambil minum di meja samping ranjang dan segera memberikan minum kepada Rio. Rio meneguk beberapa teguk kan. Ryan meletakkan kembali minumannya setelah Rio selesai minum.


"Omy...," ujar Rio setelah siap minum.


Itu adalah kata pertama yang Rio ucapkan setelah sadar. Rio ingat apa yang terjadi tadi, ia melihat bagaimana sang mommy tenggelam di depan mata sendiri. Rio ingin tau bagaimana keadaan mommynya.


Ryan dan Dafa hanya bisa diam, mereka kasihan dengan Rio. Mereka tidak tega memberitahukan keadaan Dilla yang sesungguhnya, takut itu akan mengganggu keadaan Rio.


"Mommy baik-baik saja kok," jawab Ryan.


"Omy...."


Rio mencoba bangun mencari sang mommy. Rio tidak melihat batang hidung mommy di depan matanya.


"Sayang jangan bangun dulu ya, tidur lagi. Kan Rio harus banyak beristirahat kata dokter," ujar Ryan khawatir.


Ryan menidurkan Rio kembali tapi Rio memberontak.


"Omy...."


"Itu mommy di samping. Mommy lagi tidur, Rio juga tidur lagi ya. Takutnya nanti Mommy akan bangun karena Rio berisik," Ryan nunjuk ke arah Dilla.


Rio berhenti berontak, kemudian melihat ke arah yang di tunjuk papanya. Di sana Rio melihat Mommy yang lagi tertidur. Setelah melihat mommy baik-baik saja, Rio merasa lega. Perlahan namun pasti mata Rio mulai mengantuk lagi dan akhirnya tertidur juga setelah lelah memandang mommy dan malam juga semakin larut. Karena ini sudah melewati jam tidur Rio.


Ryan segera membetulkan posisi tidur Rio. Setelahnya Ryan menuju ke sofa yang di duduki Dafa.


"Sebaiknya kamu tidur dulu. Biar aku yang jaga mereka, nanti kita gantian," kata Dafa.


"Tapi dia anakku, aku ingin menemaninya," bantah Ryan.


"Siapa yang bilang Rio bukan anak kamu. Kamu tidur duluan saja, kamu juga dalam masa penyembuhan tidak baik jika terlalu lelah, biar Rio dan Dilla aku yang jaga," sambung Dafa.


"Tapi bagaimana dengan kamu sendiri?" tanya Ryan.


"Kamu tenang saja, nanti kita bisa bergantian tidurnya. Sudah sana tidur, jangan banyak tanya lagi," sahut Dafa.


Tanpa protes lagi Ryan menyetujuinya, jujur dia juga sudah lelah.


Untung Ryan punya sepupu kayak Dafa yang mau membantu dalam keadaan begini. Ryan sangat bersyukur ada Dafa di sini. Setidaknya sekarang Ryan bisa beristirahat dengan tenang karena Rio anaknya sudah ada yang jaga.


Bersambung....