
Jangan lupa like dan tinggalkan komentar ya. Like dan komentar kalian sudah cukup jadi penyemangat buat saya. Terima kasih banyak.
Selamat membaca.
***
Dalam perjalanan menuju ke kediaman suherman, Lala duduk dengan tidak tenang. Mereka baru jalan setengah perjalanan. Tapi Lala sudah merasa lapar. Lala hanya memegang perutnya. Lala tidak berani bilang kepada siapapun. Lala merasa malu untuk meminta.
Lala memutuskan untuk mengelus perutnya sesekali agar tidak terasa sakit lagi. Rio yang duduk di samping Lala sekali-kali melihat Lala yang terus memegang perut.
Kriyukk….
Suara perut Lala berbunyi kecil. Rio yang sudah fokus sama tingkah Lala bisa tahu jika suara itu berasal dari perut Lala. Rio melihat Sam yang melihat ke arah luar. Sam tidak tahu jika Lala sedang gelisah karena lapar.
"Papa," panggil Rio.
"Iya sayang," sahut Ryan dengan masih mengendarai mobil.
"Papa, Liyo lapal Liyo mau matan Pa," kata Rio.
Lala melihat ke arah Rio.
"Abang Liyo lapal uga?" tanya Lala senang karena ada kawan.
"Angan anggil Liyo abang. Liyo ndak cuta," ujar Rio yang kesekian kalinya.
"Jadi Lala juga lapar ya sayang?" tanya Dilla kepada Lala.
"Iya Ante, Lala lapal uga," sahut Lala.
"Mas, bagaimana kalau kita berhenti di restoran yang di depan? Kasihan anak-anak kelaparan," tanya Dilla pada Ryan.
"Baik sayang. Nanti kita akan berhenti di depan jika ada restoran," jawab Ryan.
"Rio dan Lala sabar sedikit lagi ya. Sebentar lagi kita akan cari makan," bujuk Ryan.
"Bayik Om," sahut Lala senang dan kembali bersemangat.
"Jadi Lala lapar ya?" tanya Sam ulang.
"Iya Bang Cam. Lala udah lapal dali adi," ucap Lala.
"Maaf Abang Sam ya. Abang Sam tidak tahu jika Lala lagi lapar," ujar Sam sedih.
Sam merasa dirinya bukan abang yang baik buat Lala. Lala lapar saja Sam tidak tahu. Bagaimana menjadi abang yang baik nanti.
"Ndak apa-apa. Tan tita uga mau matan," sahut Lala.
***
Mereka berhenti pada sebuah restoran yang terdekat. Mereka segera turun dari dalam mobil. Sam dengan segera meraih tangan Lala agar Lala tidak hilang. Sam tidak mau jika Lala kenapa-kenapa. Sedangkan Rio segera menuju Dilla. Rio memegang tangan Dilla dengan erat.
"Ayo kita masuk," ajak Ryan.
Mereka mengikuti langkah Ryan yang berjalan di depan. Ryan membukakan pintu untuk mereka berempat.
"Selamat siang Tuan dan Nyonya. Silahkan masuk. Mari saya antar ke meja," kata pelayan.
Pelayan mengantarkan mereka pada sebuah meja yang kosong. Karena hari sudah mulai siang, sudah ada beberapa pengunjung di sana. Restoran itu termasuk restoran favorit dilihat dari banyaknya pengunjung yang keluar masuk.
"Ini Tuan dan Nyonya menunya. Silahkan dilihat dulu," kata pelayan sambil menyerahkan daftar menu.
Ryan, Dilla dan lainnya mulai memilih makanan yang mereka suka. Rio yang pada dasarnya suka makan, Rio memesan makanan yang cukup banyak walaupun dia tidak terlalu lapar. Tadi Rio hanya kasihan kepada Lala yang lapar.
"Rio lapar sekali ya. Pesanannya lumayan banyak," kata Ryan.
"Emm… iya Pa, Liyo lapar," sahut Rio.
"Kalau begitu tunggu sebentar ya Tuan dan Nyonya. Makanan akan segera kami siapkan," ucap pelayan.
"Iya Mbak. Terima kasih," sahut Dilla.
"Sama-sama Nyonya," kata pelayan itu dengan ramah.
Pelayan meninggalkan mereka semua. Kurang dari dua puluh menit, semua makanan sudah disajikan di atas meja sedemikian rupa.
"Ayo Lala, Sam dan Rio, kita makan," ajak Dilla.
Lala dengan malu-malu mengambil makanan. Lala jarang makan makanan yang enak dan mewah. Itu pertama kali Lala melihat makanan semewah itu.
"Ayo sayang, tambah lagi. Ini Tante ambilkan ya," ujar Dilla sambil menyerahkan lauk pauk yang lain kepada Dilla.
"Omy, Liyo uga mau," kata Rio mencari perhatian.
"Rio juga mau? Tapi piring Rio masih penuh sayang," ucap Dilla.
Rio semakin memonyongkan bibirnya. Dilla yang tahu Rio lagi cemburu segera menaruh lauk lain di piring Rio. Dilla tidak mau jika nanti Rio malah cemberut.
"Makan yang habis ya," ucap Dilla lagi.
"Iya Omy. Liyo atan matan cemua na," sahut Rio dengan semangat.
Semangat Rio muncul lagi. Rio dengan cepat-cepat.
"Makannya yang pelan-pelan. Tidak usah buru-buru. Tidak ada yang mengambil jatah makanan kamu Rio. Kamu lihat itu, Lala. Dia yang lebih muda dari Rio makannya bisa rapi," tegur Ryan.
"Bayik Papa," sahut Rio cemberut.
"Kalian sungguh keluarga yang harmonis," sapa sepasang suami istri yang duduk di samping mereka.
Pasangan suami istri itu usianya hampir setara dengan orang tua Ryan. Mereka yang telah selesai makan melihat tingkah laku Rio dan lainnya.
"Senang rasanya melihat jika orang tua dan anak akur seperti kalian," puji mereka.
"Terima kasih Tuan dan Nyonya," sahut Dilla.
"Ternyata masih ada satu yang sedang bersembunyi," ujar ibu itu lagi.
"Sudah berapa bulan," tanya dia ramah.
"Sekarang ini sudah mau memasuki bulan ke tujuh Nyonya," jawab Dilla dengan mengelus perut.
"Wahhh berarti tidak akan lama ya. Mereka akan mempunyai adik baru. Mereka pasti senang."
"Iya Nek. Liyo cudah ndak cabal inin unya adik," jawab Rio bangga.
Rio bukan orang yang suka bicara jika dia rasa tidak penting. Tapi jika ada yang membahas tentang adik Rio, maka Rio akan senang hati menjawabnya. Rio ingin semua orang tau jika dia akan mempunyai adik.
"Bukannya ini adik kamu?" tanya bapak itu sambil menuju akan ke arah Lala yang hanya memperhatikan mereka bicara.
"Dia but…."
Ryan segera menutup mulut Rio agar Rio tidak melanjutkan pembicaraan. Ryan tidak mau jika omongan Rio nanti bisa salah paham. Bisa jadi nanti Ryan dikira menculik anak orang.
Ibu dan bapak itu menatap Ryan dengan tatapan heran. Mereka merasa ada yang aneh dengan sikap Ryan.
"Masuknya anak saya, dia ingin punya adik yang masih kecil. Iya kan Rio?" tanya Ryan harap-harap cemas.
'Semoga Rio tidak berbicara yang aneh-aneh,' batin Ryan.
"Iya Pa. Liyo mau unya adik yang tecil. Adik yang milip cama Omy," sahut Rio.
"Aduh pintarnya. Walaupun masi kecil ternyata kamu sudah pandai ya," puji Bapak itu.
"Iya Tek. Tan Liyo anak na Omy," jawab Rio bangga.
Ryan mendengus mendengar jawaban Rio. Rio itu anak kandungnya tapi Rio tidak pernah mengakui jika kepandaiannya turun dari Ryan.
"Beneran senangnya jika punya banyak anak seperti kalian. Setiap hari pasti rame."
"Buatnya pasti juga repot karena dekat-dekat," kata bapak itu usil.
Ryan dan Dilla terbatuk-batuk mendengar perkataan Bapak tersebut.
"Bapak ini ada-ada saja. Bapak ini kalau bicara jangan seperti itu. Di depan kita ada anak kecil. Maaf ya atas kelancangan suami saya. Kalau begitu kami permisi dulu. Kami sudah selesai makan," pamit mereka.
"Iya Tuan dan Nyonya. Tidak apa-apa," sahut Dilla tidak enak.
"Om maksud kakek itu repot buatnya bagaimana?" tanya Sam penasaran.
"Sudah-sudah. Kalian tidak usah banyak bertanya. Sana lanjut makan saja. Jika kalian masih bertanya saat makan, kita segera pulang saja," kata Ryan mengalihkan pembicaraan.
Mereka yang masih mau makan tidak lagi bertanya. Mereka melanjutkan makan. Selesai makan, mereka kembali lagi melanjutkan perjalanan pulang.
Bersambung….
Jangan lupa untuk selalu memberi dukungan ya. Terima kasih.
Rekomendasi novel buat kalian dari author lainnya yang juga tidak kalah seru. Novelnya sangat keren dan bagus sambil kalian menunggu up saya selanjutnya.