
Pada keesokan paginya Ryan, Aditya dan Dafa kembali mencari mereka bertiga. Sedangkan Jelita dan Rita menunggu di rumah. Mereka menunggu dalam keadaan cemas. Jelita kembali memeriksa ponselnya, dia sudah dari kemarin menghubungi Dilla tapi tidak satupun teleponnya diangkat dan pesannya dibaca sama Dilla.
Saat dia ingin mengirimkan pesan kepada Dilla lagi, Jelita melihat bahwa pesannya sudah dibaca sama Dilla. Jelita segera menelpon Dilla kembali.
Rita hanya melihat Jelita yang sedang menelepon, dia pikir itu Dafa.
"Hallo Dilla," kata Jelita.
Rita yang mendengar Jelita menyebutkan nama Dilla baru merespon.
"Siapa Jelita, apakah itu Dilla yang menjawab teleponnya?" tanya Rita.
"Iya Tante, Dilla mengangkat teleponnya. Sebentar ya Tante, Jelita tanya dulu sama Dilla."
Rita kembali mendengar percakapan antara Jelita dan Dilla, tadi Jelita sempat membesarkan volume suara telepon. Mereka berdua menghela nafas lega saat tau jika Rio, Reza dan Rafa telah sampail di tempat Dilla dengan selamat.
Setelah mendapatkan kabar tersebut Jelita mematikan sambungan telepon dan menelepon Ryan dan Dafa untuk menggabari jika mereka sudah ditemukan. Ryan dan Dafa segera kembali lagi ke rumah saat mendapatkan kabar tersebut.
Sekarang mereka akan mendiskusikan langkah apa yang akan mereka ambil untuk kedepannya.
"Sebaiknya biarkan mereka di tempat Dilla dulu, baru besok kita akan menjemput mereka bertiga," kata Rita.
"Tapi Ma, mereka anak-anak Ryan, Ryan tidak mau jauh dari anak-anak Ryan Ma," jawab Ryan.
"Mereka memang anak-anak kamu tetapi mereka menganggap Dilla sebagai Ibu mereka. Mereka sudah lama tidak berjumpa sama Dilla, biarkan mereka untuk melepaskan rindu mereka," tambah Rita.
"Benar seperti yang dikatakan oleh Mama kamu Ryan. Biarkan mereka bertiga untuk sementara waktu tetap di tempat Dilla. Besok pagi baru kita akan menyusul mereka bertiga," lanjut Aditya.
Kesepakatan mereka adalah mereka akan menjemput Rio, Reza dan Rafa pada keesokan paginya.
***
Pada malam harinya Jelita ingin menemui Ryan di ruang kerjanya. Dia ingin membicarakan sesuatu antara Dilla dan Ryan. Tadi siang Jelita telah menghubungi Dilla kembali dan dia telah mendapatkan informasi bawah Dilla tidak jadi menikah.
Setelah mendapatkan izin dari Ryan, Jelita baru memasuki ruang kerja Ryan.
"Ryan, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan sama kamu," kata Jelita.
"Apa yang ingin kamu bicarakan," sahut Ryan setelah mempersilahkan Jelita untuk duduk.
"Aku tidak akan berbasa basi, aku akan langsung menanyakan pada intinya. Aku ingin tahu bagaimana perasaan kamu pada Dilla, kamu taukan maksud perasaan yang aku maksud?" tanya Jelita.
Ryan tidak menyangka dengan pertanyaan Jelita. Dia kaget mendengar pertanyaan dari Jelita.
"Apa maksud kamu menanyakan hal itu?" tanya Ryan balik.
Jelita menghela nafasnya sebelum menjawab pertanyaan Ryan.
"Tadi siang aku telah mendapat kabar bahwa Dillaa menunda pernikahan."
Ryan yang mendengarnya ada sedikit rasa syukur.
"Sekarang coba kamu jujur padaku bagaimana perasaan kamu pada Dilla."
"Apa yang harus aku katakan, sepertinya tidak ada hal yang perlu aku katakan."
"Ryan aku tahu bagaimana karakter kamu. Aku tahu kalau kamu adalah tipe yang setia tapi kamu harus mengingat anak-anak kamu dan perasaan kamu sendiri. Kamu berhak memilih pendamping baru Ryan. Sekarang Dilla mengundurkan pernikahannya, jika kamu benar-benar menyukai dia, kamu masih ada kesempatan untuk mendapatkan dia."
"Kenapa kamu berkata seperti itu, biarpun pernikahan dia tertunda, dia pasti akan melanjutkan pernikahannya."
Jelita merasa gemas dengan jawaban Ryan yang berbelit-belit. Jelita memutarkan pikirannya untuk bisa mengeluarkan perasaan Ryan.
"Sekarang aku akan balik bertanya sama kamu, kamu tinggal jawab saja. Bagaimana perasaan kamu sama Riana, apa yang kamu rasakan saat sama Riana."
Ryan membayangkan sekilas kenangan antara dirinya selama Riana.
"Riana adalah wanita yang berharga bagi aku, dia adalah wanita yang bisa membuat aku nyaman berada disisinya. Dia satu-satunya wanita yang bisa membuat hidupku penuh dengan warna. Kamu kan juga tau aku jarang dekat sama perempuan."
Ryan mengernyitkan alisnya dengan pertanyaan Jelita.
"Kamu jawab saja, jangan tanya balik," perintah Jelita.
Ryan mengingat kembali saat pertemuan dia dengan Dilla. Serta semua momen saat bersama Dilla.
"Dilla gadis yang sangat baik, aku merasa nyaman di dekatnya. Entah kenapa jika dia ada disekitar aku aku tidak merasa risih dengan dia. Dia beda dengan wanita yang lain. Dia anak yang seru saat diajak bercanda," kata Ryan sambil terkekeh sendiri.
Ryan menghela nafas, sepertinya sudah saatnya dia juga bercerita sama orang lain. Dia juga butuh teman curhat.
"Aku tidak tahu apa yang sebenarnya aku rasakan. Di satu sisi aku masih sangat mencintai Riana, tapi saat mendengar Dilla akan menikah sama pria lain, ada bagian di dada aku yang terasa sakit."
Jelita tersenyum mendengar pernyataan Ryan. Sesuai dugaan Jelita, Ryan memang sudah mencintai Dilla, tetapi dia tidak menyadarinya.
"Seperti dugaanku, kamu sebenarnya sudah terlanjur mencari Dilla, tapi karena kamu masih mengingat janji setia kamu sama Riana maka kamu menolak kehadiran Dilla. Kamu tadi tidak menyadarinya, saat kamu menyebutkan Riana ekspresi kamu biasa saja, tapi saat kamu menyebutkan Dilla kamu bisa tersenyum lepas."
Ryan tidak menyadari sama ekspresi dia sendiri. Saat dia berbicara tadi memang saat menyebutkan nama Dilla ada rasa senang tersendiri.
"Apapun yang aku rasakan sekarang sudah terlambat Jelita. Dia akan menikah sama orang lain. Apalagi dia telah mencintai lelaki lain."
"Apa kamu tau siapa lelaki yang disukai sama Dilla?"
"Buat apa juga aku mengetahuinya."
"Jadi kamu tidak menanyakan pada Dilla siapa orang yang dicintai dia?"
Ryan menggelengkan kepalanya.
"Asal kamu tahu Ryan, jika lelaki yang dicintai oleh Dilla adalah kamu sendiri."
Ryan terkejut mendengar pernyataan ini.
Ryan tidak menyangka jika Dilla jatuh cinta sama dia.
"Bagaimana bisa?" tanya Ryan tidak percaya
"Kenapa tidak bisa?" tanya Jelita balik.
"Aku ini adalah seorang duda yang mempunyai dua orang anak. Apalagi Dilla masih sangat muda," kata Ryan tidak percaya.
"Kenapa memangnya jika kamu seorang duda? usia kamu memang lebih tua dari Dilla, tapi di usia Dilla yang masih muda dia bisa bersikap lebih dewasa daripada kamu. Bukankah cinta tidak memandang usia dan status. Apa kamu masih tidak percaya sama perkataan aku?"
"Kamu jangan mengatakan sesuatu hal yang tidak mungkin untuk mempengaruhi aku."
"Buat apa aku mengatakan jika hal itu tidak benar. Apa untungnya bagi aku." tantang Jelita.
"Tapi apa yang dia sukai dari pria seperti aku? aku bahkan sudah pernah bilang sama Dilla untuk tidak menyukai aku walaupun hanya bercanda. Bahkan aku juga pernah menyakiti hatinya," tanya Ryan.
"Memangnya kenapa dengan pria seperti kamu. Kamu ini lelaki baik dan juga perhatian jika sudah dekat. Sekarang coba kamu bandingkan antara kamu dan aku, aku saja sudah berulang kali menolak Dafa, bahkan sering marah-marah sama dia, tetapi dia juga masih tetap mencintai aku. Mungkin hanya dia lelaki satu-satunya dunia ini ada pria seperti dia. Dia masih saja bertahan walaupun aku telah meninggalkan dia dan aku adalah wanita paling beruntung di dunia ini karena aku tidak kehilangan dia."
"Ryan cinta bisa datang karena kebersamaannya. Sepertinya kamu harus memikirkan hal ini matang matang. Kamu hanya mempunyai satu kali lagi kesempatan untuk mendapatkan Dilla. Kamu harus bertindak cepat sebelum kamu akan kehilangan orang yang kamu cintai untuk kedua kalinya. Kali ini bukan hanya kamu yang merasakan betapa sakitnya kehilangan tapi juga kedua anak kamu beserta Dilla," ujar Jelita.
Setelah Jelita berkata begitu, dia segera keluar dari ruangan kerja Ryan. Jelita ingin Ryan memikirkan kembali tentang keputusannya.
Semua perkataan Jelita sekarang berputar di kepala Ryan. Ryan tidak bisa lagi menolak perasaannya, dia akui jika dia takut kehilangan Dilla. Apalagi setelah mengetahui jika Dilla juga mencintai Dia. Setelah memikirkan dengan seksama, Ryan ingin memilih untuk kebahagiaan mereka.
'Maafkan aku Riana.'
***
Keesokan paginya Ryan meminta kepada keluarganya agar tidak ikut menemani Ryan ke kampung halaman Dilla. Ryan mengatakan kepada mereka bahwa dia ingin menjelaskan sesuatu hal penting sama Dilla. Walaupun yang lain penasaran tetapi mereka menyetujui Ryan pergi sendiri.
Jelita yang melihat ada peluang Ryan Ingin membahaskan tentang perasaannya ke Dilla dia ikut membantu memberikan pengertian kepada keluarga.
Bersambung….