
Jangan lupa follow bagi yang belum, like dan komen ya. Terima kasih.
Selamat membaca.
***
"Kenapa kalian diam saja? Kenapa tidak memisahkan mereka?" tanya Dilla.
"Bukannya kami tidak mau memisahkan mereka Dilla, tapi Ryan dalam keadaan emosi tinggi. Ryan saat ini sedang lepas kendali. Kami kesulitan memisahkan mereka," terang Dafa.
"Dasar laki-laki pengecut," hina Dilla yang geram.
Jika Dilla tidak dalam kondisi hamil, maka Dilla dengan mudah bisa memisahkan mereka. Dilla tidak mau terjadi apa-apa sama kandungan.
Akhirnya Dilla masuk lagi ke dalam rumah dan mengambil satu baskom air. Dengan susah payah Dilla mengangkut air itu. Tanpa berkata lagi Dilla menyiram mereka yang masih berkelahi hingga basah kuyup.
Byurrr….
Mereka kaget dengan apa yang dilakukan oleh Dilla, termasuk Ryan dan Daniel. Perbuatan Dilla berhasil membuat mereka berhenti berkelahi.
"Say.... "
"Apa?" sahut Dilla judes.
Ryan kicep melihat Dilla yang emosi. Semarah-marah nya Ryan maka marah Dila lebih menyeramkan. Ryan tidak mau jika Dilla mengamuk.
"Jika kalian masih bertengkar, Dilla tidak hanya menyiram kalian pakai yang ada di dalam bak mandi, tapi Dilla akan menyiram kalian pakai air comberan. Kalian sudah besar tapi tidak bisa jadi contoh yang baik buat anak-anak. Apa kalian mau jika Rio dan Sam mengikuti sikap bar-bar ayah mereka," tegur Dilla.
"Iya sayang. Mas tidak akan berkelahi lagi," sahut Ryan.
Daniel menyeka darah yang keluar di pinggir bibir yang sobek. Tinjuan Ryan membuat Daniel banyak memiliki memar segar.
"Pak, tangkap dia. Dia yang telah menculik anak dan istri saya," suruh Ryan.
Polisi segera meringkus Daniel. Kedua tangan Daniel ditahan di belakang tubuh. Para polisi memasangkan borgol di tangan Daniel.
Daniel yang diringkus sama sekali tidak melawan. Daniel tau jika dia bersalah. Daniel tidak mau menambah masalah lagi dengan dia memberontak.
"Apa-apaan ini Pak, Tuan. Kenapa Bapak dan Tuan menangkap Daniel. Tidak mungkin Daniel menculik Dilla. Tadi Dilla dan Daniel datang secara bersama. Ini pasti ada kesalahpahaman," bela Bella.
"Kamu siapa?" tanya Ryan.
"Saya…."
Bella tidak tau stastus dia dan daniel sekarang. Daniel baru mengajak Bella untuk bersama, memberikan kesempatan buat Daniel. Daniel belum resmi melamar Bella. Jika pacaran juga tidak mungkin.
"Kamu hanya orang asing. Lebih baik kamu diam dan jangan ikut campur. Asal kamu tahu, dia adalah penculik. Dia telah menculik anak dan istri aku. Aku akan membawa ke jalur hukum, biar pengadilan yang memutuskan semua," ujar Ryan dengan tegas.
"Ayo Pak, bawa dia."
"Tunggu sebentar Pak dan Tuan. Daniel ayo jawab. Kamu bilang ke mereka jika kamu bukan penculik. Daniel, kenapa kamu diam saja. Jelaskan dong," pinta Bella.
"Jelaslah dia diam. Memang dia yang menculik anak dan istri saya," kata Ryan menyindir Daniel.
"Daniel, itu semua tidak benarkan?" tuntut Bella.
Bella tidak percaya Daniel akan berbuat seperti itu. Bella masih ingin percaya sama Daniel.
Daniel melihat ke samping. Daniel tidak berani menatap mata Bella secara langsung.
"Jadi benar kamu menculik Dilla Daniel?" tanya Bella tidak percaya dengan keterdiaman Daniel.
Diam nya Daniel membuat keyakinan Bella runtuh.
"Om, lepaskan Daddy Sam, Om. Daddy Sam tidak bersalah. Sam yang bersalah," mohon Sam mendekati Ryan.
Sam menarik celana Ryan.
"Sam yang menyuruh Daddy membawa Mommy Dilla. Sam yang salah Om. Jika Om mau tangkap, tangkap Sam saja, jangan Daddy. Jangan bawa Daddy Sam. Om.l," ujar Sam menggelengkan kepala dan menangis.
"Sam sudah. Daddy tidak apa-apa. Sam jangan menangis lagi ya. Ini salah Daddy, bukan salah Sam. Daddy yang bawa Mommy Dilla, bukan Sam," ucap Daniel.
"Tidak, tidak boleh ada yang bawa-bawa Daddy Sam. Sam yang minta sama Daddy untuk Membawa Mommy Dilla kepada Sam. Jadi Daddy tidak bersalah. Sam yang nakal. Pak polisi, tolong lepaskan Daddy Sam. Pak polisi bawa Sam saja," kata Sam yang merasa bersalah.
Sam berkata dengan air mata yang sudah mengalir deras. Beberapa kali Sam juga cegukan.
"Mas, apa kamu tidak bisa mencabut laporan ini. Aku dan kandungan aku baik-baik saja," pinta Dilla yang tidak tega sama Sam.
"Bagaimana aku tidak dia sayang. Dia yang telah menculik kamu. Bagaimana jika terjadi sesuatu sama kamu dan calon anak kita nanti," tanya Ryan.
"Tapi semuanya baik-baik saja Mas. Kami semua tidak apa-apa."
"Pokoknya Mas akan tetap membawa ini ke jalur hukum. Daniel akan merasakan apa yang telah dia perbuat," tolak Ryan.
"Om, jangan Om. Tolong kasihanilah Daddy Sam. Sam akan memberikan apapun yang dan punya," tawar Sam.
"Tuan, saya tidak tahu apa yang sebenar terjadi, tapi apa kita tidak bisa membicarakan ini baik-baik. Masalah ini mungkin bisa diselesaikan dengan musyawarah," bujuk Bella.
"Pa, Pa," panggil Rio menarik celana Ryan.
"Iya sayang," sahut Ryan.
"Ciapa pentulik Pa?" tanya Rio yang belum paham sepenuhnya.
Ryan berjongkok di depan Rio. Ryan mengelus rambut Rio sebelum menjawab.
"Om itu yang telah menculik kamu dan Mama," kata Ryan.
"Om tu?" tanya Rio
Rio melihat antara Daniel, Ryan dan Dilla.
"Api Om tu ndak ulik Liyo Pa. Tan Liyo cendili yang itut Om itu," kata Rio menjelaskan.
"Om itu juga bersalah sayang. Om itu tidak memberitahukan di mana Rio kepada Papa," sahut Ryan.
Rio melepaskan pegangan Ryan pada bahunya. Kemudian Rio mendekat ke arah Daniel yang ditahan oleh polisi.
"Om, apa benel yang Papa ilang Om. Talau Om ndak ilang Liyo cama Papa?" tanya Rio pada Daniel.
Daniel menggelengkan kepalanya.
"Apa Papa ada anya cama Om?'
Daniel kembali menggelengkan kepalanya.
Setelah mendapat jawaban dari Daniel, Rio kembali mendekati Ryan.
"Papa denel tan apa Om ilang. Adi butan Om calah, api Papa," ujar detektif Rio.
"Kenapa Papa yang salah?" tanya tersangka Ryan
"Calah Papa lah. Tenapa Papa ndak anya cama Om talau Liyo itut cama Om atau ndak," ucap Rio.
'Kenapa ini sangat dejavu ya. Tadi Rio juga bilang seperti itu.'
Mereka memuji kepintaran Rio. Rio yang kecil sudah bisa menjadi sepintar itu. Ryan sedikit berkutik dengan analisa Rio. Tapu Ryan masih mempertahankan pendapat sendiri.
"Pokoknya Papa akan tetap memenjarakan itu. Om itu telah menculik Mama kamu juga," final Ryan.
"Om tu ndak ulik Omy Pa. Talau Om tu pentulik, mata Om tu ndak atan acih Omy matanan yang wenak. Pentulik tu wadah na celam. Telus, angan dan tati atan di itat ulu Pa. Ndak acih alan-alan ama ndak acih matan," terang Rio tentang penculik.
Ryan tidak tahu lagi apa yang harus dia katakan kepada Rio. Rio masih saja bisa mengelak perkataan Ryan. Ryan mendengus kasar.
"Pak, apa tidak sebaiknya jika Bapak membicarakan saja hal ini dengan cara kekeluargaan. Apalagi kondisi anak dan istri Bapak baik-baik saja," saran polisi.
Ryan tidak terima jika Daniel bebas begitu saja. Ryan menggenggam kepalan tangan dengan kuat.
Dilla yang melihat Ryan masih emosi mendekati Ryan. Dilla memegang salah satu genggaman tangan Ryan.
"Mas, Dilla dan Rio tidak apa-apa. Semua bisa kita selesaikan dengan baik-baik. Mas dengarkan dulu penjelasan Dilla dan juga Daniel. Nanti setelah Mas mendengar penjelasan, baru Mas ambil keputusan lagi," bujuk Dilla.
Emosi Ryan sedikit turun mendengar perkataan Dilla. Ryan juga kasihan melihat Sam yang dari tadi masih menangis meminta Daniel dilepaskan.
"Iya sayang, Mas akan mendengarkan penjelasan kalian," sahut Ryan mengalah.
Bella dan Daniel menghela nafas lega. Mereka sangat bersyukur.
"Pak, saya tidak langsung membawa dia ke penjara. Saya mau mendengarkan penjelasan mereka terlebih dahulu," ujar Ryan.
Para polisi melepaskan Daniel.
"Kalau semuanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan, maka kami pamit permisi dulu ya Pak "
"Iya Pak, terima kasih."
Polisi meninggalkan rumah Bella.
"Ayo Tuan, kita bicara di dalam saja," ajak Bella masuk.
Rio segera berlari masuk ke dalam rumah terlebih dahulu. Rio sudah ingat kembali sama HP Dilla yang sedang dicas. Lala juga mengejar kepergian Rio.
"Apa Sam tidak mau ikut sama Rio dan Lala?" tanya Dilla.
"Jika Sam khawatir sama Daddy, Sam tidak perlu khawatir lagi. Daddy baik-baik saja. Sana kamu pergi bermain sama Lala dan Rio," suruh Dilla.
Sam mengangguk-angguk kepalanya setelah melihat Daniel sebentar. Sama segera berlari ke dalam rumah. Mereka berempat juga menyusul masuk ke dalam rumah.
Bersambung…..
Rekomendasi novel keren karya teman saya sambil menunggu up selanjutnya.