Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 147. Adik



Jangan lupa like dan komentar ya.....


Terima kasih.


Selamat membaca.


***


"Mendingan Mas pergi saja ke kantor. Mas ada rapat dengan klien yang penting. Tidak mungkin mas meninggalkan tamu Mas. Lebih baik biar Dilla saja yang antar Rio ke rumah sakit," saran Dilla.


"Apa kamu tidak apa-apa pergi ke rumah sakit sendiri?" tanya Ryan.


"Tidak apa-apa Mas. Lagian Rio juga sepertinya hanya demam biasa " sahut Dilla.


"Tapi…."


"Liyo ndak mau te lumah atit," kata Rio memotong perdebatan Ryan dan Dilla.


Rio berkata dengan suara lesu. Rio merasa jika papa dan mama nya bertengkar karena Rio. Rio memikirkan itu jadi sedih.


"Tapi sayang, badan Rio sedikit demam dan Rio juga kurang semangat hari ini," ucap Dilla mendengar Rio tidak mau ke rumah sakit.


"Liyo ndak mau te lu mah atit Omy," kata Rio lagi dengan mata yang berkaca-kaca pertanda ingin menangis.


"Mama tidak akan membawa Rio ke rumah sakit jika Rio tidak mau ke rumah sakit. Tapi habis makan Rio minum obat ya," ujar Dilla khawatir dengan sikap aneh Rio.


"Liyo ndak  mau num obat," jawab Rio menggeleng lemah.


"Rio harus mau pilih minum obat setelah makan atau Rio mau dibawa ke rumah sakit?" tanya Ryan memberikan pilihan.


"Papa ndak cayang lagi cama Liyo hiks hiks hiks… Papa ndak cuta lagi cama Liyo hiks hiks hiks…," kata Rio dengan menangis keras dan air mata yang bercucuran.


Rio jadi mengingat kembali omongan Ryan dan Dilla yang mau punya adik. Rio menganggap jika Ryan memaksa Rio karena Ryan tidak peduli lagi sama Rio.


Semua terkejut melihat reaksi Rio pada hari itu. Tadi Ryan hanya bermaksud menyuruh Rio mau minum obat saja. Tapi Rio malah menangis keras seperti itu.


"Sudah ya sayang, jangan menangis lagi," kata Dilla sambil mengayun dan mengelus punggung Rio.


"Kenapa Rio tidak mau minum obat? Nanti sakitnya bisa tambah parah?" tanya Rita.


"Liyo ndak mau num obat Omy hiks hiks hiks," ulang Rio kepada Dilla.


"Bener apa yang dikatakan Nenek sayang. Nanti deman Rio bisa tambah parah," sahut Dilla.


"Omy hiks, Omy ndak cayang lagi cama Liyo hiks?" tanya Rio sambil menatap wajah Dilla.


"Sayang, Mama selalu sayang kok sama Rio. Rasa sayang Mama tidak akan menghilang," jawab Dilla tanpa mengetahui maksud dari perkataan Rio yang sesungguhnya.


Tangisan Rio mulai mereda mendengar perkataan Dilla. Rio memeluk leher Dilla dengan sisa tangisan.


Semua orang melihat Rio dengan khawatir.


"Apa ini tidak apa-apa Ma?" tanya Ryan pada Rita.


"Rio hanya demam sedikit saja. Tidak apa jika Rio tidak minum obat sekarang, tapi dia harus istirahat dan tidak boleh capek serta menangis seperti ini," sahur Rita 


 "Kamu juga lihat sendiri kalau Rio sudah menangis begitu. Jika kita paksa pasti Rio akan menangis lagi dan bisa tambah parah. Nanti jika demamnya semakin parah baru kita bahwa dia ke rumah sakit," tambah Rita.


Pada hari itu Reza diantar oleh Jelita karena Dilla menemani Rio yang menempel pada Dilla. Dilla juga tau kalau  suasana hati Rio sedang tidak baik. Rio tidak mau menceritakan pada siapapun.


*** 


Dilla memutuskan untuk membawa Rio bermain di taman bermain. Hanya ada beberapa orang saja di taman karena hari masih siang. Taman biasanya ramai jika sudah sore hari.


Dilla menduduki kursi taman yang ada bersama seorang ibu. Ibu itu adalah ibu dari anak yang sedang bermain bersama Rio. Mereka mengawasi anak-anak bermain sambil berbicara ringan.


"Ini," kata anak yang usianya lebih tua kepada rio sambil menyerahkan sebuah ember dan skop mainan kepada Rio.


Anak ini membagikan mainan kepada Rio karena Rio dari tadi memperhatikan mereka. Rio menerimanya dengan ragu-ragu tetapi dia akhirnya juga mau bermain juga. Dengan lesu Rio masukkan pasir itu ke dalam ember yang dipinjamnya.


"Adik itu tidak boleh di makan. Ayo buang,"  kata anak yang besar dengan suara yang lancar.


Dia menghentikan adiknya yang tadi ingin memakan pasir yang ada di dalam genggaman tangannya. Anak itu menggunakan bajunya untuk membersihkan pasir tangan adiknya. Rio menatap interaksi mereka dengan serius.


"Nah sekarang sudah bersih tangannya. Ingat ya ini tidak boleh dimakan," Nasehat sangat abang.


Yang kecil menganggukkan kepalanya.


 "Oh iya, nama aku Dicky dan ini adik aku namanya Vicky," kata anak itu memperkenalkan dirinya sendiri dan adiknya. 


"Liyo," jawab Liyo dengan suara kecil. 


Mata Rio masih saja terfokus pada Dicky dan Vicky.


"Oh Liyo," ucap Dicky.


"Bukan Liyo tapi Liyo," kata Rio mengoreksi Dicky.


"Liyo kan?" tanya Dicky.


"Butan, tapi Lllliyo," kata Rio ingin mengucapkan Rio dengan susah payah.


"Oh maksud kamu Rio," kata Dicky saat tau jika Rio masih cadel.


Rio menganggukan kepalanya.


"Sini main bersama kami," ajak anak itu.


Mereka kembali bermain sekali Rio melihat Dicky yang perhatian sekali sama Vicky. Rio bisa melihat jika Dicky sangat peduli pada Vicky.


"Apa Ditti ndak malah cama Pitti?" tanya Rio penasaran.


Dicky sempat merasa aneh dengan panggilan Rio. Tapi mengingat Rio masih cadel jadi Dicky tidak mempermasalahkannya.


"Marah kenapa?" tanya Dicky balik tanpa melihat ke arah Rio.


"Talau unya adik, Papa cama Omy ndak cayang lagi. Papa cama Omy atan cayang adik," kata Rio.


"Siapa yang bilang seperti itu?" tanya Dicky lagi.


Rio terdiam dengan pertanyaan Dicky.


"Papa dan Mama Dicky masih sayang  kok sama Dicky. Mama dan Papa tidak pernah membedakan Vicky dan Dicky. Malahan jika kita punya adik maka kita akan ada teman bermain. Dicky sangat senang memiliki Vicky. Dicky sangat sayang sama Vicky. Vicky adalah segalanya bagi Dicky," sahut Dicky.


"Ditti ndak cembulu cama Vitti?" tanya Rio penasaran.


"Cemburu kenapa?"


"Lagian jika Papa dan Mama lebih sayang kepada adik itu karena Vicky masih kecil. Jadi Vicky harus lebih banyak diperhatikan. Kan misalnya kita sudah bisa pakai baju sendiri sedangkan Vicky masih belum. Dicky tidak cemburu. Malahan Dicky mau memanjakan Vicky lebih daripada Papa dan Mama, kan Dicky sayang Vicky," Sambung Dicky.


"Oh," hanya itu respon pendek dari Rio.


Mereka akhirnya kembali bermain pasir. Sesekali Vicky ingin memasukkan pasir ke dalam mulutnya tapi dicegah sama Dicky. Sedangkan Rio hanya bermain dalam diam sambil memperhatikan mereka.


Bersambung….


Rekomendasi novel yang bagus buat kalian sambil menunggu up selanjutnya.