
"Mommy, Mommy sini deh, lihat gambar yang Sam buat untuk Mommy," ujar Sam.
"Sini, coba Mommy lihat," sahut Dilla menerima gambar yang diberikan oleh Sam.
Rio yang sudah sangat hafal dengan suara Dilla segera menuju ke arah suara tersebut. Rio mencoba membuka pintu kamar.
"Omy," panggil Rio dengan senang.
Rio segera berlari menuju arah Dilla.
Dilla yang mendengar suara Rio memanggil dia segera menoleh ke arah pintu. Dilla sangat terkejut ketika melihat Rio di depan pintu. Dilla berdiri dari duduknya dan ingin menghampiri Rio yang berlari ke arah dia.
Sam yang melihat Dilla ingin menghampiri Rio, Sam lebih cepat mencegah Dilla pergi. Sam dengan buru-buru bangun dan memeluk kaki Dilla untuk menghalangi Dilla mendekati Rio. Sam tidak mau Dilla meninggakan dia.
Rio yang melihat Sam memeluk Dilla menjadi marah. Rio dari awal sudah tidak suka dengan Sam, apalagi Sam sekarang malah memeluk Rio. Sekarang kemarahan Rio sudah jadi marah kuadrat. Rio menambah kecepatan lari menuju ke arah Sam dan Dilla.
Karena Rio berlari begitu cepat, Rio tidak bisa rem mendadak. Alhasil Rio malah melewati Dilla dan Sam.
"Rio mau kemana?" tanya Dilla terkekeh.
Dilla gemas dengan tingkah Rio. Sedangkan Sam melihat Rio dengan tatapan datar.
Rio kembali berbalik arah. Kali ini dia tidak lari lagi. Rio berjalan dengan cepat.
"Tenapa Omy teltawa," ujar Rio ngambek.
"Omy kira Rio mau meluk Mama, tau-tau nya malah melewati Mama," sahut Dilla.
"Tan adi Liyo mau meluk Omy. Api Lali Liyo ndak bica dilem," bantah Rio dengan memoyongkan bibir.
"Bodoh," ejek Sam.
"Siapa yang odoh!" teriak Rio tidak terima.
"Bodoh."
"Tamu yang odoh!"
"Rio...," tegur Dilla.
"Mama tidak suka jika Rio tidak sopan. Sam lebih tua dari Rio. Jangan panggil kamu untuk Sam, panggil bang Sam," suruh Dilla.
"Api Omy, dia butan abang Liyo. Liyo ndak cuka cama dia," tolak Rio.
Sam tersenyum menang dan mengejek Rio lagi dengan raut wajah dia.
"Mama tidak mau tau Rio. Anak Mama anak yang baik. Anak Mama selalu mendengarkan apa yang Mama bilang."
"Oh, Liyo ndak denel. Omy ilang apa ya," sahut Rio dengan menutup telinga rapat-rapat.
Rio sengaja menutup telinga pura-pura tidak dengar. Rio tidak mau memanggil Sam dengan sebutan abang.
Dilla memijat kening yang terasa pusing.
"Karena kamu bodoh makanya tidak bisa dengar Mommy bilang sama kamu," Sam semakin membuat Rio kesal.
Sam masih saja memeluk Dilla.
"Tamu peldi-peldi. Angan detat-detat cama Omy Liyo," usir Rio menjauhkan Dilla dari Sam.
"Kamu yang pergi dari sini. Ini rumah daddy aku," usir Sam balik.
"Talau ditu, ayo Omy tita puyang. Tita peldi dali cini. Lumah Papa jauuuh lebih becal," ajar Rio.
"Tidak, tidak boleh. Mommy tidak boleh pergi dari sini," tolak Sam.
"Sudah cukup. Sam sama Rio jangan berdebat lagi," lerai Dilla.
Mereka berdua masih saja berdebat tanpa mendengarkan perkataan Dilla. Mereka tidak mau mengalah satu sama yang lain.
Kepala Dilla jadi semakin sakit melihat perdebatan antara Sam dan Rio yang tidak ada ujungnya. Dilla memilih duduk kembali daripada memisahkan mereka berdua. Dilla duduk sambil meminum dan makan snack yang sudah ada di sana. Dilla memutuskan untuk menonton mereka saja selama mereka tidak saling memukul atau berkata kasar.
"Rumah daddy Sam yang lebih besar," ucap Sam yang tidak terima.
"Lumah papa Liyo ebih-ebih banaaak."
"Tidak…."
"...."
Mereka terus saja beradu anggumen. Mereka yang mulai emosi ingin mendekat dan ingin saling mendorong satu sama lain. Dilla yang sudah tahu gerak-gerik mereka langsung melarang mendekat.
"Et… et… et… jangan mendekat, jangan mendekat. Sam tetap di sana dan Rio tetap di sana. Kalian boleh berdebat tapi jangan mendekat satu sama lain," ujar Dilla.
"Mommy!"
"Omy!"
Teriak Rio dan Sam berbarengan.
"Kenapa sekarang kalian jadi kompak begitu," kata Dilla sambil mencomot cemilan dan memakannya dengan santai.
"Kenapa berhenti? Ayo lanjut," suruh Dilla.
"Kenapa Mommy tidak memisahkan kami. Mommy malah menyuruh kami bertengkar lagi."
"Buat apa Mommy memisahkan kalian jika kalian dari tadi tidak mau mendengarkan Mommy. Jadi silahkan kalian lanjut saja bertengkar nya, biar Mommy jadi penonton saja," sahut Dilla cuek.
Sam dan Rio menatap Dilla tidak percaya.
"Ayo ayo, silahkan lanjutkan. Mama mau nonton siaran langsung. Lumayan menghemat listrik," kata Dilla ngawur dengan tangan digerakkan sebagai kode untuk melanjutkan debat babak dua.
"Mommy!"
"Omy!"
Teriak Rio dan Sam lagi.
"Kenapa? Apa sudah selesai debatnya? Sudah capek?" tanya Dilla.
Mereka berdua menganggukkan kepala.
'Gini nih, kalau disuruh berhenti tidak mau dengar. Giliran disuruh malah berhenti.'
"Ya sudah. Sini duduk, kita makan dan minum dulu. Nanti jika kalian ingin lanjutkan lagi bertengkar, silahkan," ucap Dilla.
Rio segera duduk di sisi kiri dan Sam di sebelah. Mereka mengambil minum dan segera menghabiskan dalam sekali minum. Mereka sangat capek dan haus.
"Nah sekarang bagaimana? Apa sudah baikan?" tanya Dilla.
Mereka menganggukkan kepala.
"Mama tidak suka kalian bertengkar, Mama akan sedih melihat kalian seperti tadi."
"Maap Omy."
"Maafin Sam juga Mommy."
"Iya Mama maafkan, tapi jangan diulangi lagi. Mama sayang sama Rio juga sama Sam. Mama ingin kalian seperti saudara."
"Api Omy unya Liyo," bantah Rio dan memeluk Dilla.
Sam terdiam dan iri melihat Dilla yang begitu lembut mengusap rambut Rio. Sam berdiri dan keluar dari kamar.
"Sam," panggil Dilla.
Sam mengabaikan Dilla dan tetap berjalan.
"Rio di sini sebentar ya. Mama mau bicara sama Sam dulu."
"Ndak mau Omy."
"Ini ada snack, Rio makan ini dulu ya. Mama janji tidak akan lama," bujuk Dilla.
Rio mengalah, Rio menuruti Dilla karena mau makan lagi.
***
"Ryan, mengapa kamu pulang sendiri? Di mana Rio?" tanya Rita yang melihat Ryan masuk sendiri ke dalam rumah.
"Rio menghilang Ma. Oleh karena itu Ryan buru-buru pulang. Siapa tahu Rio pulang ke sini," sahut Ryan.
"Apa maksud kamu. Rio sama sekali tidak pulang ke rumah."
"Jadi Rio tidak pulang ke rumah?" tanya Ryan tidak percaya.
"Iya Ryan, memangnya apa yang terjadi?" sahut Aditya.
"Tadi Rio berpamitan mau pinjam charger sama sekretaris Ryan, tapi Rio malah mengikuti seseorang. Kami tidak tahu siapa yang Rio ikuti."
"Apa kamu sudah melihat semua di CCTV?"
"Sudah Pa. Tapi CCTV yang ada di parkiran sedang rusak, sehingga kami tidak tau Rio kemana."
"Ya ampun Rio, cucu Nenek. Pertama Dilla yang menghilang, sekarang Rio," ujar Rita lemah.
Tiba-tiba Rita jatuh pingsan. Aditya yang berada di dekat Rita segera menangkap tubuh Rita agar tidak jatuh.
"Ma!" teriak Ryan dan Aditya.
Ryan segera membantu Aditya untuk mengangkat Rita ke atas sofa.
"Jadi Rio sekarang dimana."
"Ryan juga tidak tahu Pa. Apa mungkin Rio mencari Dilla?"
"Papa juga berpendapat sama. Bagaimana kalau kita menghubungi paman dan bibi yang di kampung," usul Aditya.
"Jangan Pa. Jika kita menanyakan kepada mereka, Ryan takut jika mereka khawatir. Kita masih belum tau keberadaan Dilla. Ryan akan menyuruh orang untuk menyelidiki, apakah Dilla dan Rio ada di sana."
"Nanti kita laporkan masalah Rio ke polisi juga."
"Iya, Pa."
Bersambung….