Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 113. Perjalanan



Mereka bertiga keluar dari rumah sakit dengan buru-buru.


"Sekarang kita naik apa pergi ke stasiun?" tanya Rafa. 


"Bagaimana jika kita naik taksi saja, kalau naik taksi kan kita cepat sampai," sahut Reza.


"Oke, ayo kita cari taksi," kata Dafa. 


Mereka segera mendekati pintu gerbang rumah sakit. Mereka menunggu taksi yang lewat.


"Itu di sana ada taksi yang lewat," kata Reza.


Reza dan Rafa langsung menghentikan taksi tersebut. 


"Ayo ayo cepat naik," suruh Rafa.


Mereka berdua dengan hati-hati menuntun Liyo masuk ke dalam taksi. 


"Kalian bertiga mau pergi kemana? apa tidak ada orang dewasa yang mengawasi kalian bertiga?" tanya sang Supir.


Mereka bertiga saling melirik, Reza dan Rafa saling memberi kode, sedangkan Rio hanya duduk diam.


"Kami ingin pergi ke tempat Mommy kami Paman,"jawab Reza.


"Memangnya di mana ayah kalian?" tanya sang Supir lagi.


"Papa kami jahat dia memisahkan kami dari Mommy," jawab Rafa.


Sang Supir mengangguk kepala. 


"Baiklah, Paman akan membantu kalian, Paman aakn mengantar kalian. Sekarang kalian mau pergi ke mana?" tanya sang Supir lagi.


"Paman tolong bawa kami ke stasiun X ya, kami akan pergi ke situ," ujar Rafa.


Taksi tersebut membawa mereka ke stasiun X.


"Kita sudah sampai, itu stasiun X." 


"Terima kasih Paman, berapa kami harus bayar Paman?" tanya Reza.


"Ongkos taksinya 187.000." 


"Rafa, kalau 187.000 itu kita butuh berapa lembar uang seratu?" tanya Reza. 


Rafa menggunakan tangannya untuk membantu menghitung. 


"Kita butuh 2 lembar," sahut Rafa. 


Reza menyerahkan dua lembar uang merah. 


"Ini Paman," kata Reza.


Pak Supir mengembalikan uang kembalinya.


"Semoga kalian cepat menemukan Mommy kalian ya." 


"Terima kasih Paman."


Mereka kembali menuntun Rio keluar. Mereka segera mencari di mana tempat penjualan tiket. 


"Tante kami ingin membeli 3 tiket menuju kota Y," pinta Reza.


"Kalian pergi dengan siapa? di mana wali kalian?" tanya penjual tiket.


"Kami hanya pergi bertiga." 


"Maaf Dek, kalau hanya kalian bertiga, kalian tidak bisa membeli tiketnya. Kalian masih kecil, harus ada yang mendampingi kalian bertiga." 


"Bagaimana ini?" tanya Rafa.


"Kita tidak bisa mencari bantuan orang yang kita kenal. Kita harys mencari orang yang mau membelikan kita tiket," sahut Reza.


Mereka sedang memikirkan bagaimana cara memperoleh tiket.


"Lepaskan, lepaskan aku, apa yang kalian lakukan," teriak seseorang.


Reza dan Rafa melihat orang yang lagi ditahan oleh dua Satpam. Orang tersebut telah menjadi pusat perhatian. 


"Biarkan aku pulang naik kereta, tadi aku sudah membeli tiket, tapi tiket dan dompet aku sudah dicuri sama orang lain," teriak orang itu lagi. 


"Maaf Pak, jika anda tidak punya tiket, anda tidak bisa naik kereta," ujar sang Satpam. 


"Tidak bisa begitu, aku harus segera pulang ke kampung karena Ibu aku sedang sakit."


"Tapi jika Bapak tidak ada tiket, Bapak tidak bisa naik kereta. Sekarang silahkan Bapak pergi dari sini," usir Satpam itu. 


Orang itu menarik rambutnya dengan keras dan kesal. Dia ingin segera pulang ke kampung karena Ibunya sedang sakit, sekarang malahan uang hasil kerja keras dia selama ini beserta tiket mana diambil sama orang lain. 


"Rafa bagaimana kalau kita minta tolong sama orang itu saja. Kita minta tolong dibelikan tiket, nanti kita berikan tiket dia pulang," tanya Reza. 


"Rafa setuju, ayo kita coba sama-sama," ajak Rafa.


Mereka bertiga mendekati pria yang sedang marah-marah.


Orang itu melihat ke arah mereka bertiga.


"Ya," sahut dia tidak bersahabat.


"Paman mau pulang ya?" tanya Rafa basa-basi.


Pria itu tidak menanggapi Rafa, dia kembali menari rambutnya dengan kesal. Rafa dan Reza saling melirik, mereka saling memberikan kode.


"Paman mau tidak membelikan kami tiket, nanti kami akan belikan tiket buat Paman," tawar Reza. 


Orang itu baru merespon mereka bertiga saat mendengar tawaran Reza.


"Memangnya kalian bertiga punya uang?" 


"Punya dong Paman, jadi bagaiimana? apa Paman mau bantu kami beli tiket, nanti kami bantu Paman beli tiket juga," ulang Reza.


"Kalian ini masih anak kecil mana mungkin punya uang banyak. Jika kalian ingin menipu kalian salah orang," remeh orang itu.


"Kami tidak berbohong, bohong dosa lho Paman. Kalau Paman masih tidak percaya sama kami, coba Paman lihat uang kami ini," suruh Reza.


Reza membuka tasnya dan dibantu sama Rafa. Mereka menunjukkan uang yang mereka bawa pada Paman. Orang tersebut terkejut melihat betapa banyaknya uang yang Reza bahwa. Sia segera menutup kembali tas Reza dan melihat ke sekeliling.


"Apa yang kalian lakukan, kalian tidak boleh menunjukkan uang sebanyak itu sembarangan orang. Bagaimana kalau kalian menemukan orang jahat."


"Jadi Paman ini orang jahat ya?" tanya Rafa. 


Orang itu menepuk jidatnya tidak percaya sama tingkah Reza dan Rafa.


"Jika Paman orang jahat mungkin Paman sudah membawa kabur semua uang kalian." 


"Kalau bukan orang jahat berati Paman orang baik dingin," puji Rafa.


Orang itu menghela nafas. 


"Kalian bertiga mau ke pergi mana?" 


"Kami mau mencari Mommy kami," sahut Reza.


"Memangnya Mommy kalian kemana?" 


"Mommy sedang pulang ke kampung." 


"Terus Ayah kalian kemana?" 


"Paman kenapa jadi banyak bertanya. Apa Paman mau membelikan kami tiket atau tidak. Kalau Paman tidak mau beli kami akan minta bantuan orang lain," kata Rafa pura-pura kesal.


Mereka memberikan gesture ingin pergi. 


"Tunggu dulu, jadi benar kalian ingin belikan Paman tiket sebagai gantinya?"


"Iya dong Paman, tolong belikan kami 3 tiket menuju ke kota Z ya."


Orang itu memikirkan kembali tawaran yang diberikan oleh mereka. Karena dia merasa tidak punya pilihan lain, dia memilih menyetujui tawaran mereka.


"Ayo ikut Paman ke tempat pembelian tiket."


Reza dan Rafa bertepuk tangan karena bisa membujuk orang itu untuk membelikan mereka bertiga tiket. 


"Mbak saya ingin membelikan empat tiket ke kota Yang dan tiga tiket ke kota Z."


"Baik Tuan, mohon tunggu sebentar akan saya proseskan." 


Tidak lama kemudian tujuh tiket diberikan oleh penjual tiket. 


"Sekarang mana uangnya." 


"Sebentar Paman," kata Reza.


Reza membukakan tasnya, tapi orang tersebut malah menutup kembali tas Reza. Dia hanya mengambil uang seperlunya saja dan segera menutup kembali tas milik Reza. 


Mereka bertiga duduk di kursi tunggu ditambah dengan sangat Paman. Orang itu melirik ke kiri dan ke kanan, apakah ada orang yang lewat atau tidak.


"Kalian jika ingin membawa uang sebanyak itu jangan menunjukkan sembarangan orang, nanti bukan hanya uang kalian yang diambil tapi bisa membahayakan kalian juga." 


"Iya Paman, terima kasih telah membantu kami," sahut Reza.


"Kenapa tadi Paman bisa didorong sama para penjaga itu?" tanya Rafa kepo.


"Tadi Paman habis kecopetan dan uang Paman semuanya ada di dompet itu beserta dengan tiket, jadi Paman tidak punya uang sedikitpun untuk pulang ke kampung. Padahal orang tua Paman sedang sakit, jadi Paman harus segera pulang ke kampung." 


"Jadi Paman tidak ada uang lagi?" tanya Reza 


"Iya, yang penting Paman bisa pulang naik kereta terlebih dahulu. Nanti Paman setelah dari stasiun Paman juga belum tahu mau bagaimana, mungkin Paman akan meminta tolong kepada siapapun yang ada di sana." 


"Bagaimana jika Paman antar kami sampai ke rumah Mommy kami, nanti kami akan berikan uang buat Paman," tawar Rafa.


Akhirnya mereka bertiga bisa ketempat Dilla dengan aman karena ada yang menemani mereka bertiga. Mereka bertiga berpisah setelah Rio, Reza dan Rafa tiba di depan rumah Dilla. Orang itu buru-buru pulang karena mendapatkan telepon dari rumah kalau Ibunya memanggil dia. Reza tidak lupa memberikan uang imbalan buat Paman tersebut.


Bersambung....