
"Tuan ini minumnya," Dilla memberikan kopi tersebut pada Dafa dan juga Ryan.
Mereka segera mengambil gelasnya dan meminumnya. Tapi mereka segera memuntahkan kembali kopi tersebut ke dalam gelas.
"Kenapa Tuan, apa kopinya tidak enak?" tanya Dilla yang melihat kedua Tuannya memuntahkan kembali kopi itu.
"Dilla, berapa banyak sendok kamu kasih," ujar Ryan.
"Seperti biasa Tuan, tiga sendok teh kan," jawab Dilla.
"Masalahnya bukan dijumlah sendoknya Dilla, tapi yang kamu kasih bukan gula tapi garam, kopinya jadi terasa asin," kata Dafa.
"Maaf atas keteledoran Dilla Tuan," ucap Dilla menyesal.
"Iya tidak apa apa, lebih baik kamu ambilkan saja kami air putih saja," suruh Ryan lagi.
Ternyata kesalahan Dilla tidak hanya salah bikin kopi saja. Sudah dua hari ini Dilla bekerja dalam keadaan kurang fokus. Semua anggota keluarga melihat kinerja Dilla yang menurun.
Disisi lain, Dilla masih memikirkan perasaannya. Bagaimanapun ini adalah cinta pertama Dilla. Jadi wajar jika Dilla sering terbayang akan ucapan Ryan. Walaupun sudah mencoba melupakan Ryan, tapi mereka tiap saat selalu bertemu yang membuat Dilla sedikit susah move on.
***
Dilla baru saja mengajak trio R tidur ke kamar masing masing. Sedangkan di ruang keluarga ada Rafa, Ryan, Aditya dan juga Rita.
"Kenapa Dilla sudah dua hari ini banyak sekali buat kesalahan," ujar Dafa tidak mengerti.
"Mungkin sudah saatnya Dilla mengambil libur," kata Rita.
"Bukankah kami baru dua hari yang lalu pergi liburan Ma," sahut Ryan.
"Dilla itu pergi sama kalian karena sebatas pekerjaannya, itu tidak bisa di hitung sebagai hari libur Dilla. Sudah setengah tahun lebih Dilla bekerja di sini tapi dia belum sehari pun dia meminta libur. Dia pasti sudah sangat lelah. Lebih baik besok beri waktu buat dia menghabiskan waktu sendirian," saran Rita.
"Iya ma, Papa setuju, Dilla pasti punya dunianya sendiri," setuju Aditya.
"Ryan besok lebih baik kamu ajak saja Rio ke kantor sama kamu sehari, soalnya kami kalau pagi juga ada urusan, siang baru pulang. Nanti Rafa dan Reza bisa kami jaga setelah mereka pulang sekolah," lanjut Rita.
"Baik Ma," jawab Ryan.
***
"Dilla, hari ini kamu dibebas tugaskan, kamu bisa pergi kemana saja yang kamu mau selama 10 jam. Nanti jam 6 sore kamu harus pulang," beritahu Rita tiba tiba.
"Maksud Tante apa?" tanya Dilla.
"Kamu kan sudah bekerja di sini setengah tahun lebih, apa kamu tidak ada niat buat jalan jalan, kamu pasti penat di sini terus," sambung Rita.
"Dilla tidak apa apa kok Tante, Dilla juga tidak tau mau ke mana," jawab Dilla.
"Selama dua hari ini kamu banyak sekali melakukan kesalahan. Pasti karena kamu sudah sangat capek dan butuh waktu libur. Kamu tidak pernah keluar dari rumah ini sendiri. Kamu terserah pergi kemana saja, yang penting kamu senang."
Dilla juga merasa dia banyak melakukan kesalahan. Mungkin ini waktu yang pas buat Dilla memperbaiki moodnya.
"Terima kasih banyak Tante, Dilla akan menikmati waktunya."
"Liyo itut," ujar Rio.
Mereka saat ini memang lagi sarapan sehingga semua orang mendengarnya.
"Rio ikut sama Papa saja ya hari ini, biar Mommy main sendiri, kasian Mommy sudah sangat capek urus kalian, nanti Mommy bisa sakit kalau tidak istirahat," nasehat Ryan.
"Nanti Rio bisa keliling perusahaan Papa, Rio belum pernahkan ke perusahaan Papa, perusahaan Papa tinggi lho," rayu Ryan.
"Benelan Pa?" tanya Rio penasaran.
"Bener, jadi mau kan hari ini ikut sama Papa," pinta Ryan.
"Tapi Omy," kata Rio tidak rela.
"Sayang biarkan Mommy waktu buat sendiri ya, apa Rio tidak kasihan sama Mommy," ujar Rita lagi.
Rio memang penasaran sama kantor Papanya. Tapi dia tidak mau dipisahkan sama Mommy nya.
"Kan nanti malam kalian bisa bertemu lagi," tambah Aditya.
"Ote, Liyo itut Papa," akhirnya Rio mau ikut.
Mereka berdua juga menyetujuinya dengan berat hati. Padahal menunggu sampai pulang sekolah saja sudah lama, apalagi harus berpisah selama sepuluh jam.
Setelah semuanya pergi, Dilla juga pergi. Karena tidak tau mau ke mana, Dilla memutuskan untuk pergi ke taman dekat rumah. Taman jam segini biasanya masih sepi. Tidak ada yang bisa Dilla lakukan selain menangis di taman itu.
Dilla mau menangis untuk hari ini sepuasnya. Dilla tidak berani menangis di rumah karena takut dilihat sama yang lain. Dilla menumpahkan semua kesedihannya siang itu. Dilla bertekad besok tidak akan ada lagi air mata.
***
Di sisi lain di sebuah jalanan. Terlihat Sultan lagi mengangkat telpon.
"Ya ampun Ma, sudah berapa kali Sultan katakan, Sutan tidak mau di jodohkan, Sultan sudah punya pacar sendiri," teriak sultan di telpon.
"...."
"Sultan tidak bohong Ma, Sultan serius."
"...."
"Ma, dia tidak bisa datang hari ini, kalau dia sudah ada waktu nanti Sultan ajak kok."
"...."
"Hallo hallo Ma."
Mama Sultan mematikan telpon dari sana.
"Ahhh, kenapa Mama ngotot sekali sih jodohin aku, sudah di bilang aku masih betah sendiri masih aja mau dijodohin," Sultan mendumel sendiri.
"Om bunga Om," tawan anak kecil yang menawarkan bunga mawar.
"Maaf Dek, saya lagi tidak butuh bunga," tolak Sultan.
"Tolong beli dong Om, ini bunga yang tumbuh di rumah kami, kami butuh uang buat makan Om," ujar anak itu.
Sultan yang merasa iba akhirnya membeli bunga tersebut. Sultan memberikan satu lembar uang ratusan.
"Tidak ada uang kecil Om, ini tidak ada uang kembalian Om, bunganya hanya 10 ribu," ujar anak itu sambil membolak balik uang tersebut.
"Sudah kamu ambil aja semuanya, tidak usah di kembalikan," kata Sultan.
"Makasih banyak ya Om, semoga Om makin banyak duitnya."
Anak itu segera berlari dengan terburu buru. Mungkin anak itu memang lagi butuh uang.
Sultan melihat dua tangkai mawar di tangannya. Sultan memutusnya untuk membawanya saja. Nanti dia mau kasih bunga ini buat Mamanya, biar Mamanya luluh mungkin.
Sultan Sultan, mau nyogok kok pakai dua tangkai mawar rumahan.
Karena sudah siang Sultan memutuskan untuk makan siang. Dia segera masuk ke sebuah restoran, ternyata di dalam sudah ada Dilla. Sultan segera menghampiri meja Dilla.
"Hai Dilla," sapa Sultan.
Sultan segera duduk di sana tanpa permisi. Dilla hanya melihat Sultan saja tanpa berniat menjawab. Dilla sebenarnya mau sendiri, tapi kini Sultan sudah menggangunya.
"Kenapa sama matamu, kamu habis menagisya, itu masih ada bekas air mata," ujar Sultan.
Dila segera menghapuskan air matanya.
"Kenapa kamu menagis?" tanya Sultan lagi.
"Tidak apa apa dokter," jawab Dilla parau.
"Tidak apa apa tapi mata kamu sampai seperti itu, atau jangan jangan kamu lagi patah hati ya," tebak Sultan.
Dilla segera menghindar pandangan Sultan.
"Ternyata benar kamu lagi patah hati."
Sultan bisa menebaknya dari reaksi dilla. Dilla yang begitu polos.
"Aku tau ini bukan waktu yang tepat, tapi apa kamu mau menjadi pacar aku?" tanya Sultan sambil memberikan dua tangkai bunga yang dia beli tadi.
Bersambung....