
Setelah pembahasan itu selesai, mereka berdua memutuskan untuk lanjut berjalan-jalan di sekitar persawahan dan kampung halaman. Mereka ingin menikmati momen Ayah dan anak.
Pada keesokan harinya Dilla memutuskan untuk berjalan-jalan sendiri mengelilingi kampung. Dilla menyapa semua orang yang dia temui di jalan, di kampung ini mereka selalu menyapa satu sama lain bila bertemu. Kampung ini merupakan kampung yang ramah, semua orang akan saling bantu membantu.
Di dalam perjalanannya Dilla bertemu dengan Danang. Danang yang melihat Dilla memutuskan segera mendekati Dilla.
"Bagaimana kabarmu Dilla?" tanya Danang.
"Baik Bang Danang, Abang apa kabar?" jawab dan tanya Dilla balik.
"Kamu mau kemana jalan-jalan sendiri?" tanya Danang lagi.
"Dilla hanya ingin jalan-jalan saja Bang Day, Dilla ingin melihat suasana kampung lagi. Dilla sudah rindu dengan suasana kampung," jawab Dilla.
"Kalau begitu mari Abang Danang temani Dilla jalan-jalan di perkampungan," ajak Danang.
Dilla yang kebetulan tidak ada kawan menerima ajakan Danang. Lagian Dilla tidak berani menolak ajakan Danang. Mereka memutuskan untuk berjalan berdua, mereka berjalan sambil berdiam diri beberapa saat. Mereka telah melewati beberapa perumahan.
"Bagaimana pekerjaan kamu di kota?" tanya Danang untuk memulai percakapan supaya suasana tidak sunyi.
"Pekerjaan Dilla baik-baik aja Bang Danang," sahut Dilla.
"Kamu di kota bekerja sebagai apa Dilla?" tanya Danang lagi.
"Dilla bekerja sebagai pengasuh di sana."
"Oh ya, berapa banyak anak yang kamu asuh?"
"Dilla di sana mengasuh tiga orang anak, anak yang pertama yang paling kecil dia bernama Rio, kemudian Abangnya Reza dan sepupunya Rafa. Mereka bertiga sangat lucu dan juga pintar kalau mereka bersama mereka seringkali bertengkar. Tapi jika mereka jauh mereka akan saling merindukan satu sama lain. Mereka sangat menggemaskan," curhat Dilla tanpa sadar.
Dilla jika sudah menyangkut mereka bertiga pasti moodnya langsung membaik.
Danang dari tadi memperhatikan mimik wajah bahagia Dilla saat Dilla menceritakan ketiga bocah itu.
"Sepertinya kamu sangat menyayangi ketiga anak asuh kamu itu," ujar Danang.
Dilla menatap sebentar wajah Danang yang juga menatap Dilla.
"saya tahu, kamu itu memang gadis yang sangat baik. Sehingga sama siapa saja kamu akan cepat berteman. Tidak hanya dengan dekat dengan yangi sebaya saja, baik itu anak anak atau orang yang sudah tua pun, kamu pasti bisa cepat akrab," puji Danang.
Dilla terdiam mendengar pujian Danang.
"Saya tidak hanya memuji kamu Dilla, tapi memang itu adalah sifat kamu sendiri. Kasih sayang yang kamu tujukan pada orang lain bukan dengan di buat-buat. Tapi itu murni dari ketulusan hati kamu," sambung Danang.
Dilla yang mendengar pujian Danang tidak tahu harus menjawab bagaimana.
"Oleh karena itu, saya dan keluarga saya tidak menyesal memilih kamu menjadi pendamping hidup saya," kata Danang sambil tersenyum ramah.
Langkah Dilla terhenti. Dilla tidak tau jika Danang memandang begitu tinggi dirinya. Dilla jadi merasa bersalah. Danang dengan tulus menerima Dilla, tapi Dilla masih mencintai lelaki lain.
"Kenapa berhenti, ayo kita lanjut berkeliling," ajak Danang lagi.
"Ah iya," jawab Dilla kikuk.
Mereka terus berjalan sambil bertanya satu sama lain. Yang bertanya banyak adalah Danang karena Dilla tidak tau mau menanyakan apa. Danang sendiri pun tidak masalah jika banyak dia yang bertanya.
"Cie cie yang sebentar lagi jadi pasangan baru, lagi kencan?" tanya Ibu-ibu yang lagi belanja di warung.
Beberapa warga sudah mengetahui tentang pernikahan Dilla dan Danang akan segera berlangsung. Apalagi Danang adalah anak Kepala Desa. Para warga desa sengaja menggoda Dilla dan Danang, di kampung ini tidak ada yang ditutup-tutupi. Jika ada pasangan baru makanan akan selalu digoda.
"Kalian mau kemana, kok mesra sekali sih jalan-jalan berdua?" tanya salah satu warga yang lain.
Dilla hanya tersenyum kecil.
"Kami hanya jalan-jalan saja Ibu-ibu," sahut Danang.
"Haduh, anak jaman sekarang maunya berduaan terus. Padahal sebentar lagi juga kamu nikah," ujar Ibu-ibu yang lain.
Danang hanya tersenyum kecil juga.
"Sudah Nak jangan dengarkan Ibu-Ibu ini. Sebaiknya kalian terus aja berjalan mengelilingi kampung. Apalagi Dilla, selama ini sudah jarang di kampung karena kerja di kota."
Dilla dan Danang segera pamit dari sana. Mereka melanjutkan perjalanan mereka yang sempat tertunda.
"Mereka itu memang pasangan yang paling serasi ya."
"Betul, mereka berdua adalah jebolan gadis dan pemuda di kampung kita."
"Semoga saja pernikahan mereka langgeng ya Ibu-Ibu."
***
Keesokan hari berikutnya datanglah sebuah paket kiriman dari Wulan, Ibunya Danang. Wulan menyuruh seseorang mengantarkan baju pernikahan untuk Dilla kenakan saat akad nikah nanti. Bibi Dilla menerimanya dengan senang.
"Dilla ayo kesini, silahkan di coba dulu baju pengantinnya," ujar Marni.
Dilla segera mendekat, Dilla melihat kebaya putih yang dipadukan dengan rok batik.
"Ini, sekarang coba kamu pakai baju ini. Apakah ukurannya sudah pas apa belum," suruh Marni.
Dilla mengambil baju itu dan segera memasuki kamar. Dilla tidak langsung memakai baju itu, tetapi dia hanya menatap sekilas sebentar. Dilla segera memakai baju itu setelah menatap beberapa saat. Dia tidak mau Bibinya menunggu terlalu lama. Setelah selesai berpakaian Dilla segera keluar kembali.
"Bagaimana apakah ukurannya cocok?" tanya Marni.
"Iya Bi, ukurannya sangat pas sama Dilla," jawab Dilla.
"Kalau begitu kamu saja yang simpan baju ini. Kan baju ini akan kamu pakai saat kamu akan menikah dengan Danang nanti."
Dilla mengangguk patuh. Dilla segera melepaskan kembali baju itu dan meletakkannya di atas lemari.
Sekarang rumah Dilla sudah dihiasi dengan pernak-pernik untuk acara pernikahan. Hari ini adalah hari pernikahan Dilla dan Danang. Para warga ikut bergotong royong membuat acara akad pernikahan itu. Itu sudah menjadi tradisi kampung itu bila ada pernikahan. Yang punya rumah tinggal menunggu beres saja.
Dilla sekarang sudah dirias dengan make up tipis dan memakai kebaya pengantin yang dikasih sama Ibu Danang.
Dilla menatap dirinya di cermin, wajahnya yang sudah di make-up tidak bisa menutupi wajahnya yang sendu. Dilla di detik ini sangat rindu dengan anak-anak asuhnya juga Ryan. HP dilla sudah di sita sama Marni tinggal hari yang lalu.
Para pengantin di desa ini masih melakukan tradisi pingitan. Sehingga HP Dilla juga ikut disita. Mereka takut jika Dilla dan Danang saling menghubungi di belakang mereka.
"Bagaimana Dilla, apa kamu sudah siap? para rombongan pengantin pria sudah sampai. Bapak penghulu juga sudah datang dari tadi. Sekarang tinggal menunggu kamu keluar," tanya Marni yang baru masuk.
"Dilla…."
Bersambung….
Apakah pernikahan Dilla dan Danang akan terjadi?
Wkwkwk pasti sudah tau jawabannya.
Pertanyaannya adalah siapakah yang menggagalkan pernikahan mereka….
A. Ryan
B. Jelita
C. Rio
D. Reza
E. Rafa
F. hanya author yang tau
G. Terserah siapa saja
H. Tulis jawaban kreatif menurut readers sendiri.
Jangan lupa like dan vote ya, serta share juga.