
Jelita segera bangun ingin menghampiri Rafa, dia telah membuka kedua tangan ya buat memeluk Rafa. Tapi Rafa malah memeluk kaki Dilla.
"Mommy ayo kita ke tempat tadi saja, di sini tidak enak," ajak Rafa.
Jelita yang mendengar Rafa memanggil orang lain dengan sebutan Mommy sangat terkejut. Jelita pikir Rafa sudah memaafkannya seperti Dafa.
Dafa segera merangkul Jelita untuk menyemangati.
"Lho bukannya tadi Rafa juga mau menunjukkan hasil gambar ke Daddy ya?" tanya Dilla.
"Tidak jadi Mommy, lain kali saja ayo kita pergi," Rafa segera menarik tangan Dilla agar segera pergi dari sana.
Dilla hanya pasrah di tarik begitu sama Rafa.
'Tumben sekali Rafa bersikap begini, apa ini ada hubungannya dengan kedatangan Mbak Jelita. Seharusnya Rafa senang dengan kedatangan Mommy kandungnya.'
Reza dan Rio segera mengekori Dilla dan Rafa yang kembali ke ruang tadi..
"Rafa," panggil Jelita tidak percaya.
Jelita kembali menangis, kenapa anaknya bisa memanggil wanita lain sebagai Mommy. Dia yang Mommy kandungnya tidak sedikitpun dilirik.
"Jelita sudah ya, Rafa masih memerlukan waktu," ujar Dafa menenagkan Jelita.
"Tapi kenapa Rafa malah memanggil wanita lain sebagai Mommy Dafa bukannya aku," ucap Jelita tidak terima.
"Itu karena kesalahanmu sendiri yang meninggalkan Rafa, kalau aku jadi Rafa juga tidak mau melihat batang hidung kamu lagi," kata Ryan sinis.
"Ryan," tegur Rita.
"Walaupun Jelita bersalah dia sudah mau mengakui kesalahannya, yang penting Jelita mau berubah," Rita menjelaskan.
"Mama bela aja terus, nanti dia bakal gede kepala," Ryan tidak suka melihat tipe wanita seperti Jelita yang sangat egois.
"Sudahlah Jelita jangan menagis lagi, mereka bertiga memang sudah lama memanggil Dilla Mommy, karena mereka membutuhkan sosok Ibu, jadi kamu jangan memasukkan ke dalam hati ya. Walaupun kamu adalah ibu kandungnya tapi Rafa mendapatkan kasih sayang seorang Ibu dari Dilla. Bagaimana pun Rafa masih anak anak yang sangat membutuhkan kasih sayang seorang Ibu. Dafa bisa saja menerima kamu kembali dengan cepat tapi beda sama anak anak. Mereka akan sulit menerima seseorang yang telah menyakitinya walaupun itu orang terdekatnya. Apalagi Rafa sudah menemukan apa yang dia inginkan pada diri Dilla," Rita menjelaskan kepada Jelita.
Jelita makin menangis, luka yang dia berikan kepada Rafa memang begitu besar. Jadi mana mungkin anaknya akan memanggilnya Mommy secara langsung. Tapi hatinya begitu sakit saat Rafa mengabaikannya dan memanggil Dilla Mommy.
"Jelita kamu yang sabar ya, nanti Rafa bakalan maafin kamu kok," Dafa mencoba menenangkan Jelita kembali.
"Lebih baik kamu mendekati Rafa secara perlahan melalui Dilla, karena Rafa sangat patuh sama Dilla," saran Rita.
Jelita segera melihat ke arah Rita. Dia memikirkan saran Rita, apakah dia memang harus meminta bantuan sama Dilla yang seorang Baby sitter. Jelita sudah sangat rindu sama Rafa dan ingin segera memeluknya.
"Sudah ya, kita ke kamar saja, apa kamu tidak capek menangis terus. Ayo kita ke kamar, kamu lebih baik istirahat dulu," ajak Dafa.
"Tante dan Om, kami pamit ke kamar ya, Jelita butuh istirahat," pamit Dafa.
Setelah mendapat persetujuan, mereka segera pergi ke kamar.
"Kasihan sekali Jelita yang mendapat penolakan langsung dari Rafa," ujar Rita merasa iba.
"Ma itu wajar saja, Jelita sudah sangat keterlaluan, jika aku jadi Dafa, aku tidak akan semudah itu menerima Jelita kembali dengan tangan terbuka. Jelita yang masih di sambut baik sama Dafa aja masih beruntung, tidak usah mengharapkan semua seperti saat dia tinggalkan. Yang dia tinggalkan punya hati Ma, bukan batu" kata Ryan yang tidak bisa menerima kehadiran Jelita.
"Sudah lah, Ryan mau ke kamar dulu mau mandi dan ganti baju. Ini masalah Dafa, Ryan tidak mau ikut campur lebih, jika Dafa tidak membutuhkan pertolongan," Ryan segera naik ke lantai atas.
Rita dan Aditya hanya melihat kepergian Ryan. Mereka juga berharap agar Ryan bisa segera mendapatkan seorang pendamping yang baru, yang baik seperti Dilla. Bisa menyayangi Ryan dan anak anaknya.
***
Makan malam kali ini terasa berbeda karena kemunculan Jelita. Jelita mencoba mencari simpati Rafa dengan menawarkan lauk pauk untuk makan malam. Rafa tidak menerima atau menolaknya, tapi dia akan menyisihkan makanan itu dipinggir piring. Rafa tidak mau makan apa yang diberikan sama Jelita.
"Rafa, kenapa makanannya tidak dihabiskan, kan Mommy Rafa sudah baik hati mau mengambilnya buat Rafa," tegur Dilla.
Dilla sudah tau siapa dan status Jelita sekarang. Terima kasihlah pada Bi Imah yang mau menjelaskannya. Dilla juga ikutan sedih melihat Rafa yang secara terang terangan menolak Jelita. Tapi Dilla akui jika sikap Jelita sudah keterlaluan.
Rafa tidak menjawab, dia tetap melanjutkan makannya, makan makanan yang di berikan Dilla, sedangkan yang diberikan Jelita tidak dia sentuh sedikitpun.
"Rafa sudah siap," ujar Rafa.
"Tapi makanan Rafa masih banyak," kali ini Rita juga ikut menegur.
"Rafa sudah kenyang, ayo Mommy kita pergi main bersama lagi," ajak Rafa buru buru.
Rafa tidak suka berada di dekat Jelita. Jelita yang melihat betapa keras anaknya menolaknya, hatinya terasa sangat terluka.
Setelah memastikan Rio dan Reza selesai makan, baru mereka berempat pergi dari sana. Ryan juga pergi dari sana, pergi ke ruang kerjanya.
"Jelita kamu yang sabar ya, pelan pelan aja dekati Rafa, Rafa perlu waktu untuk menerima kamu kembali," bujuk Rita lagi.
Jelita hanya mengganggukkan kepalanya.
Mereka setelah selesai makan juga pergi ke kamar masing masing. Jelita bisa mendengar suara tawa Rafa di ruang keluarga. Hati Jelita sungguh tertusuk melihat kebahagian anaknya tanpa kehadirannya. Belum pernah Jelita melihat anaknya yang tertawa seperti itu. Jangankan melihat ketawa Rafa, kesehariannya aja tidak pernah dia urus.
Dafa segera membimbing Jelita untuk masuk ke kamar. Tadi Rafa sempat melihat Jelita yang melihat mereka bermain dengan gembira. Rafa hanya melihat kepergian Mommy dan Daddy nya dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Rafa lihat apa sih?" tanya Dilla penasaran.
Dilla melihat ke arah yang di lihat sama Rafa, tapi tidak ada apapun yang aneh di sana.
"Tidak ada kok Mommy ayo lanjut main." kata Rafa sedikit lesu.
Rafa dan lainnya lanjut bermain sampai batas waktu mereka istirahat.
Dilla segera mengendong Rio yang mulai mengantuk. Setelah memastikan Rio tidak kedinginan Dilla segera mengantar Reza dan Rafa.
***
Kini Dilla sudah ada di kamar sendiri. Dilla kembali memikirkan sifat Rafa ke Jelita. Dilla memaklumi jika Rafa masih membutuhkan waktu untuk menerima Jelita. Karena apa yang telah Jelita berikan buat Rafa dulu hanyalah kenangan pahit.
Ini mungkin adalah hasil dari benih yang pernah Jelita tabur di masa lalu. Maka Jelita harus bisa menerima hasil dari benih itu sendiri.
Dilla yang mulai mengantuk memutuskan untuk segera tidur. Dilla harus cukup istirahat agar bisa menjaga mereka bertiga.
Bersambung....