
Sultan membawa Dilla ke arah kolam renang, di daerah itu lumayan sepi. Sultan tidak mau ada yang mendengar percakapan mereka berdua.
"Udah Dok, tangannya sudah bisa di lepas," ujar Dilla.
Dilla segera menarik tangannya dari genggaman Sultan.
"Dilla saya mohon ya, saya mohon sama kamu, jangan sampai Mama saya tau kalau kita ini hanya pacaran bohongan," pinta Sultan.
"Tapi Dokter, mau sampai kapan ini akan berlangsung," ujar Dilla.
"Kamu bertahan sebentar lagi ya, sekitar satu bulan saja. Nanti kita akan berpura pura putus setelah saya dapat pasangan," sahut Sultan.
Dilla jadi bingung, dia sudah janji akan membantu Dokter Sultan, tapi di sisi lain dia merasa ini bukan hal yang benar untuk dilakukan.
"Dilla plis ya, saya janji ini tidak akan lama, kamu hanya berpura pura saat ada keluarga saya saja. Kamu kan jarang menemui meraka ya ya," harap Sultan.
Dilla tidak tega melihat Sultan yang memohon padanya. Dilla tipe orang yang tidak tegaan.
"Tapi Dokter janji ya akan segera mencari pasangan, Dilla tidak mau masalah Dokter Sultan bisa menyebabkan kerugian pada Dilla," ucap Dilla.
"Iya saya janji, kamu tenag aja, nanti biar saya yang bereskan semua, kamu hanya perlu bersandiwara saja ya. Lagian saya sudah bilang kamu nanti boleh minta satu permintaan apapun sama saya, saay akan memberikannya jika saya bisa," janji Sultan.
"Baiklah, tapi ingat hanya satu bulan ya," Dilla memperingati Sultan.
"Iya, hanya satu bulan saja samapao saya mendapat pasangan atau kamu mau jadi pacar saya saja. Jadi saya tidak usah capek capek cari pacar lagi," ujar Sultan dengan ide gilanya.
"Dokter mau saya bantu atau tidak," kata Dilla yang melihat Sultan mulai bicara ngawur.
"Iya mau dong, padahal tadi saya juga serius bilang bahwa siapa tau aja kita bisa cocok," ujar Sultan.
Dilla hanya melihat muka Sultan dengan bosan.
"Ya sudah, ayo kita segera balik, Dilla tidak mau mereka menunggu Dilla lebih lama. Dilla sudah lama meninggalkan mereka. Mereka pasti sedang mencari Dilla sekarang." ucap Dilla.
Dilla segera pergi dari sana mau melihat trio R, beberapa saat kemudian Sultan juga menyusul. Dia ada hal yang perlu di bahas sama Ryan.
Mereka tidak menyadari jika Jelita dari tadi mendengar ucapan mereka sejak awal. Jelita sengaja menguping pembicaraan mereka karena mereka terlihat sangat mencurigakan. Ternyata benar sesuai dugaan Jelita.
***
Sultan segera mencari Ryan di ruangan kerja, mereka sudah janji akan membahas bisnis mereka di ruang kerja Ryan. Walaupun berbeda jurusan mereka tetap ada melakukan investasi bisnis bersama.
Sultan tidak melihat batang hidung Ryan di ruang kerjanya. Dia memutuskan untuk pergi ke kamar Ryan. Sultan tanpa mengetuk pintu langsung membuka pintu dan masuk.
Ryan hanya melihat Sultan yang masuk begitu saja ke kamarnya. Ryan mengabaikan Sultan dan melanjutkan membuka jas yang dia pakai.
"Kamu di sini ternyata, pantes aja aku cari di ruang kerja kamu, kamu tidak ada," ujar Sultan.
Ryan hanya menatap Sultan sekilas kemudian melanjutkan membuka lengan baju.
"Kenapa kamu diam saja," kata Sultan.
Sultan telah duduk manis di sofa yang ada di kamar Ryan. Ryan segera mendekat dan duduk di sofa samping Sultan.
"Kalau mau tanya ya tanya aja, kenapa kamu serius gini sih," sahut Sultan.
Sultan merasa risih yang melihat ekspresi Ryan.
"Kamu ada hubungan apa sama Dilla, apa maksud kamu kamu pacaran sama Dilla?" tanya Ryan.
Sultan diam sebentar, dia sedang memikirkan apa dia harus bercerita sama Ryan atau tidak.
'Tidak usah deh, lagian hal ini tidak ada hubungannya sama Ryan.'
"Ya, seperti yang kamu denger tadi, aku dan Dilla saat ini sedang pacaran," ucap Sultan santai.
Ryan yang mendengar pengakuan Sultan tidak suka. Entah kenapa dia merasa marah sama Sultan.
"Kenapa harus Dilla, bukankah masih banyak wanita yang lain yang bisa kamu pacari, apalagi usia kalian beda jauh," kata Ryan.
"Kamu ini aneh deh Ryan, cinta itu tidak mengenal usia dan siapa orangnya. Kita tidak bisa memutuskan kepada siapa kita cintai. Lagian jarak umur aku sama Dilla hanya 12 tahun. Bahkan banyak tu orang yg menikah yang usianya beda lebih jauh lagi," sahut Sultan.
"Pokoknya aku tidak suka kamu pacaran sama Dilla, lebih baik kamu putus saja sama dia, dan cari wanita yang lain."
"Kenapa kamu yang sewot, Dilla aja tidak masalah pacaran sama aku."
Sultan tidak menyadari jika Ryan sudah mulai terbawa emosi. Sultan dengan terang terangan mengatakan jika dia suka sama Dilla.
"Aku tidak mau kamu membawa Dilla pergi dari sini, Dilla itu pengasuh anak anak aku, aku tidak mau membuat kedua anak aku menangis dengan kamu membawa Dilla pergi," ujar Ryan dengan nada yang mulai naik.
"Ryan kamu jangan egois, Dilla juga punya kehidupan dia sendiri. Tidak mungkin seumur hidup dia menjaga anak anak kamu. Pasti suatu saat dia akan menikah sama seorang laki laki dan ikut sama suaminya. Jika kami ingin ada orang yang menjaga anak an ak kamu seumur hidup, lebih baik kamu cari saja wanita yang mau menikah sama kamu dan menyayangi anak anak kamu. Kamu harus ingat Dilla itu hanya pengasuh anak anak kamu bukan istri kamu," Sultan juga ikut emosi mendengar perkataan Ryan.
Sultan tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ryan. Kenapa yang menjalani Dilla tapi Ryan yang membatasinya. Memangnya Dilla itu istrinya Ryan. Kenapa Ryan harus ngatur ngatur.
Ryan memikirkan perkataan Sultan bagaimana jika Dilla pergi nanti, Dilla pasti suatu saat akan menikah dan ikut suaminya. Ryan merasa tidak rela di lubuk hatinya jika Dilla harus pergi. Dia menyakinkan diri bahwa semua itu untuk anak anaknya, untuk masa depan anak anaknya.
"Tapi setidaknya tunggu sampai mereka besar," ujar Ryan lemah.
"Ryan, semakin lama mereka bersama maka akan semakin besar batin mereka akan terikat. Bagaimana nanti jika anak anak kamu tidak mau melepaskan Dilla. Apa kamu mau menikahinya," ujar sultan geram.
Ryan kaget, dia tidak pernah berpikiran akan menikahi Dilla. Ryan nasib sangat mencintai Riana, Ryan tidak mau mengkhianati cinta Riana yang begitu tulus sampai mengorbankan nyawanya untuk melindungi Rio, anak mereka.
"Sudahlah, aku tidak mau membahas ini lagi, Dilla akan tetap tinggal di sini bersama anak anakku," sahut Ryan.
"Ryan akan aku pastikan jika aku menikah sama Dilla, aku akan membawa dia pergi dari rumah ini, bila perlu jauh dari keluarga kamu, aku tidak mau Dilla anak yang polos kamu batasi geraknya, padahal kamu ini hanya ayah dari anak yang dia asuh bukan ayah atau suaminya" ujar Sultan emosi.
Setelah berkata begitu Sultan segera pergi. Sultan jadi ikutan emosi mendengar perkataan Ryan yang sangat egois.
'Apa apaan itu, dia mau anak orang hanya untuk mengasuh anaknya saja, sekalian aja cari baby sitter baru.'
Ryan mengeram marah mendengar perkataan Sultan. Dia akan pastikan Dilla akan tetap bekerja di sini sampai anaknya besar.
Bersambung....