
Rio dan Reza sekarang sudah selesai ganti baju, mereka sudah wangi dan rapi. Sehingga mereka semakin lucu dan mengemaskan. Ingin sekali Dilla rasanya mengunyel-unyel pipi mereka berdua, terlebih lagi terhadap Rio. Kalau bukan anak majikan mungkin pipi Rio sudah Dilla gigit karena gemes.
"Ayo, sekarang kita turun ke bawah buat makan siang," ujar Dilla
"Ayo...," ujar semangat Reza.
Sedangkan Rio mengangguk kepala dan merentangkan tangan petanda minta digendong lagi. Dilla dengan senang hati mengendong Rio.
Mereka bertiga turun ke lantai satu, di meja makan sudah ada Rita dan Aditya di sana.
Makan siang hari ini sungguh terasa hangat, Reza dengan senang hati menceritakan kegiatan selama di sekolah hari ini. Rita dan Aditya senang atas perubahan baik cucunya. Mereka bersyukur atas perubahan cucu-cucunya dan mereka sangat berterima kasih kepada Dilla.
Dilla siang itu pun di ajak makan bersama di meja makan. Dilla yang merasa sungkan sama majikannya sempat menolak, tapi sekali lagi dengan kekeh Rita berkata.
"Saya tidak menerima penolakan."
Yang akhirnya Dilla mengalah setelah Reza dan Aditya juga setuju dengan ajakan Rita. Bahkan Aditya juga menyuruh memanggilnya Om saja seperti Dilla memanggil istrinya Tante. Dan cukup memanggil cucunya dengan nama saja tanpa embel embel tuan muda lagi.
***
Selesai makan siang Reza, Rio dan Dilla langsung ke lantai atas. Sesuai keinginan Reza tadi, ia ingin menjumpai papanya. Sedangkan Rita dan Aditya langsung berangkat ke kantor lagi karena ada hal mendadak yang harus diurus tiba-tiba.
Saat ingin membuka pintu kamar Ryan, pintu terlebih dahulu di buka dari dalam oleh bi Imah. Bi Imah yang menganti Rita mengurus Ryan bila Rita lagi sibuk sekarang. Rita belum sempat mencari perawat yang baru sangking sibuknya. Bi Imah baru saja selesai memberi makan Ryan, hal itu dapat dilihat dari nampan dan piring serta gelas yang kosong di tangan bi Imah.
"Tuan Muda mau jumpa sama Papa ya. Papa baru selesai makan, sana masuk terus," ujar bi Imah.
"Iya Bi, mereka ingin menemui Papa mereka," Dilla mewakili menjawab pertanyaan bi Imah.
Rio dan Reza hanya diam, Reza merasa sedikit gugup untuk bertemu dengan papa kembali. Sedangkan Rio memang belum bisa bicara dan tidak mengenal siapa itu papa. Rio hanya mengikuti ke mana Dilla membawanya tanpa protes. Reza dan Rio berpegangan di masing-masing tangan Dilla, Rio di kiri dan Reza di kanan.
"Kalau begitu Bibi permisi dulu ya, mau ke dapur. Bibi masih banyak kerjaan," pamit bi imah
"Iya Bi, terima kasih."
Bi Imah langsung turun ke lantai satu. Dilla mengajak masuk Reza dan Rio. Ryan yang merasa ada yang masuk ke kamarnya dia menoleh, Ryan begitu terkejut melihat kedua putranya memasuki kamarnya. Biasanya kedua putranya hanya dia lihat dari kejauhan, sekarang hanya beberapa meter di depan Ryan. Ryan rasanya pengen sekali memeluk dan mencium anak-anaknya, tapi karena lumpuh dia tidak bisa bergerak dan melakukan niatnya.
"Reza... Rio...," ujar Ryan dengan sedih.
"Papa...," sahut Reza dengan sejuta rasa.
"...," Rio bingung siap yang memanggilnya.
Reza melihat ke arah Dilla, setelah melihat Dilla mengangguk, Reza langsung lari memeluk Papanya begitu erat, menyalurkan rasa rindunya. Ryan sangat terharu dipeluk oleh anaknya. Tak terasa Ryan mengeluarkan air matanya.
"Rio tidak mau memeluk Papa seperti Abang Reza," ujar Dilla.
Seketika Ryan menoleh ke arah Dilla dan Rio. Ryan berharap harap cemas untuk respon Rio yang masih kecil.
"Ini adalah Papa Rio, Papa yang seperti di TV yang Rio tonton. Rio tau kan apa artinya Papa?" tanya Dilla.
Rio melihat ke arah Ryan, kemudian dia melangkah ke arah papanya ikut memeluk sang papa seperti abangnya. Rio adalah anak yang pandai seperti Reza, dia cepat menangkap apa yang di lihat. Sekarang ia punya yang namanya papa, seperti yang sering dia dilihat di TV.
Ryan menangis terharu melihat anak-anaknya. Andai saja tangannya bisa digerakkan, maka Ryan ingin sekali merengkuh kedua anaknya ke dalam pelukannya.
"Dilla terima kasih," ujar Ryan terharu.
"Sama-sama Tuan."
Dilla tersenyum melihat keluarga kecil di depannya, dia jadi rindu sama paman, bibi dan adik sepupunya di kampung.
Sekarang Reza, Rio dan Dilla duduk di atas karpet di depan Ryan, masih dalam kamar Ryan, dengan Ryan yang duduk di atas kursi. Tadi Rio ingin duduk di pangkuan Ryan tapi dicegat oleh Dilla, yang menuai protes dari Rio. Setelah dijelaskan bahwa papa lagi sakit dan tidak boleh diganggu baru Rio memaklumi. Rio mengelus paha Ryan dan dicium sebentar kemudian Rio duduk kembali di atas pangkuan Dilla.
Siang menjelang sore itu mereka berempat bercerita dengan seru, yang sebenarnya Reza lah yang bercerita dengan semangat dan ditanggapi oleh Ryan. Sedangkan Rio dan Dilla hanya menjadi pendengar yang budiman.
Kalau dilihat oleh orang lain mereka nampak seperti keluarga kecil yang bahagia, seperti lagi mendengar curhatan sang anak.
Tidak ada yang menyadari bahwa ada dua pasang mata yang mengawasi mereka, mereka adalah Rita dan Aditya. Rita dan Aditya menangis terharu melihat momen yang sudah sangat lama hilang, diusapnya air mata mereka. Mereka meninggalkan kamar itu, tidak mau manganggu momen keluarga kecil itu. Tadi niat mereka mau menjenguk Ryan tapi tidak jadi masuk saat mendengar tawa Reza saat bercerita. Mereka tidak jadi pergi karena saat memasuki mobil mendapatkan kabar jika masalah sudah bisa diatasi.
Cie cie keluarga kecil ^_^
***
Rita dan Aditya memasuki kamar mereka.
"Ma, Papa merasa senang melihat mereka seperti tadi," Aditya berkata sambil duduk di atas kasur.
"Mama juga senang Pa, Mama tidak menyangka kalau keluarga kita bisa berubah. Mama harap Dilla terus membawa kebaikan dan keberuntungan di rumah ini Pa," Rita mengikuti jejak suami untuk duduk di atas kasur.
"Iya, semoga Dilla menjadi kunci dari musibah kita yang lalu ya Ma."
"Papa ingin sekali melihat Ryan bisa melupakan kejadian itu dan memulai kehidupan baru bersama anak-anaknya. Papa merasa menjadi kepala keluarga yang buruk yang tidak bisa menjaga anggota keluarga sendiri."
"Pa ini bukan kesalahan Papa. Ini adalah cobaan bagi keluarga kita."
Rita memegang tangan suaminya memberikan semangat.
"Semua orang di dunia ini pasti akan diuji Pa. Mungkin ini adalah ujian yang harus kita jalani, kita harus tegar Pa. Kalau kita tidak tegar bagaimana dengan keluarga ini kedepannya."
"Iya Ma, Papa akan mencoba membujuk Ryan lagi agar mau terapi, dengan begitu kita bisa menjalani kehidupan yang normal kembali."
"Iya Pa."
Bersambung....