Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 25. Berlatih



Beberapa hari berlalu setelah Rio yang bisa berbicara dan Ryan yang sudah bisa menggerakkan tangannya. Rio yang sudah bisa bicara sekarang suka sekali mengoceh. Menanyakan apa yang membuatnya penasaran dan tingkahnya yang semakin lucu dan manja sama Dilla. Serta Rio selalu memanggilnya mommy, sudah berapa kali Dilla menyuruh memanggilnya mbak Dilla tapi Rio tidak mau, tetap memanggil mommy.


Sedangkan Ryan tangannya sudah bisa bergerak leluasa, sedangkan anggota tubuh yang lainnya masih tetap sama. Ryan malas sekali kalau disuruh pergi terapi ke rumah sakit. Sehingga kesembuhan Ryan tidak ada kemajuan yang lebih baik lagi.


Oleh karena itu, sekarang pekerjaan Dilla makin bertambah dengan harus menjaga dan merawat Ryan lagi. Rita kini lebih mempercayai Dilla yang merawat Ryan daripada mencari perawat yang baru. Rita berkata dengan adanya Dilla kesehatan Ryan ada kemajuan, jadi Rita berharap mulai sekarang Dilla yang merawat Ryan dan menyuruh Dilla agar mau membantu Ryan menggerakkan anggota tubuhnya.


Dilla sebenarnya ingin menolak tapi melihat raut keputusasaan Rita, akhirnya dia menerima dengan sangat sangat sangat berat hati. Karena belakangan ini Ryan sering sekali menggodanya dan itu sangat menyebalkan. Dilla merasa sudah seperti ibu-ibu yang mengurus tiga anaknya sekarang.


Rita juga akan menaikkan gaji Dilla menjadi dua kali lipat jika dia mau merawat Ryan. Dilla yang diiming-imingkan dengan gaji dua kali lipat akhirnya menerima dengan senang hati. Setidaknya dengan Dilla diberi gaji dua kali lipat, maka Dilla bisa mengirimkan uang lebih banyak ke kampung.


Sekarang Rio, Dilla dan Ryan sedang berada di taman belakang rumah lagi. Dilla berencana melatih tubuh Ryan sambil mengajak main Rio sekalian.


"Rio main yang tenang dengan mainannya ya, Mbak Dilla mau melatih Papa Rio dulu," ujar Dilla.


"Oteh omyyy...," jawab Rio.


Kini Rio sudah mulai asyik main dengan mainannya di atas karpet yang dibentangkan Dilla di taman belakang rumah. Kini Dilla beralih ke Ryan.


"Tuan Ryan, Dilla gerakan dulu kaki dan tangannya sebentar ya. Sebelum Tuan berlatih agar Tuan tidak keram," kata Dilla.


Kini Dilla sudah berjongkok di depan Ryan.


"Tidak langsung dipeluk aja," goda Ryan.


Entah kenapa Ryan sekarang memiliki rutinitas yang baru selain menemani anaknya bermain. Jika dulu Ryan hanya iseng saja untuk menggoda Dilla, tapi entah kenapa sekarang Ryan jadi suka menggoda Dilla. Dilla sangat berbeda sama cewek-cewek yang selama ini Ryan kenal, jika dulu banyak gadis yang mengejarnya tapi Ryan abaikan.


Bagaimanapun semasa dulu Ryan banyak sekali disukai sama cewek, bahkan setelah dia menikah juga ada yang terang-terangan menggodanya. Ryan menggoda Dilla hanya sebatas usil saja, tidak lebih. Karena Dilla pun terlalu muda untuk di goda Ryan beneran dan Ryan masih sangat mencintai almarhumah istrinya. Ryan menggoda Dilla juga karena Dilla dulu beberapa kali mengerjainya. Jadi menurut Ryan apa salahnya mengerjai Dilla balik asal tidak melewati batas.


Dilla sebisanya mengabaikan perkataan Ryan yang tidak masuk akal. Dilla memegang kaki kanan Ryan, digerak-gerakan kaki Ryan ke atas, ke bawah, ke depan dan ke belakang sebentar dengan cara pelan-pelan dan kemudian di


lanjutkan dengan kaki kiri.


"Jika kamu tidak ingin memeluk dulu tapi pegang-pegang dulu juga boleh. Saya tidak masalah," sambung Ryan lagi karena diabaikan Dilla.


Kini ada perempatan yang muncul di dahi Dilla. Seandainya bukan majikannya mungkin Dilla sudah melempar Ryan ke kali mungkin.


'Untung majikan dan bayarannya gede, pegang apa coba maksudnya. Bikin orang lain yang mendengar salah paham saja,' Dilla mendumel.


Dilla sudah selesai menggerakkan kedua kaki Ryan. Kini dia akan membangunkan Ryan, agar bisa berdiri.


"Tuan nanti pegangan pada bahu Dilla ya, saat Dilla bantuin Tuan berdiri," ucap Dilla.


"Iya, saya akan memeluk kamu balik kok, kamu tenang aja," Ryan makin ngeselin bagi Dilla.


"Pegang Tuan, bukan meluk," sebal Dilla.


"Iya ya, melukkan?" tanya Ryan sok polos.


Dilla makin sebal, tapi tetap meletakkan tangan Ryan di bahunya. Dilla meletakkan tangannya di ketiak Ryan, setelah Ryan sudah bisa berdiri Dilla mengkaitkan kedua tanggannya di belakang tubuh Ryan untuk menahan agar tubuh Ryan tidak jatuh. Jika di lihat dari sisi lain mereka nampak seperti berpelukkan.


Rio yang melihat Dilla dan Ryan sedang berpelukkan dibuangnya mainannya ke samping. Rio mendekati mereka berdua.


"Omyyy...," rengek Rio.


"Mommy anaknya panggil tuh," Ryan berkata saat Rio mulai merengek dan menarik celana sopan yang dipakai sama Dilla.


Ryan tidak marah saat anaknya lebih memperhatikan Dilla dari pada dirinya, karena dia sadar, dia kurang dekat dengan anaknya. Sedangkan Dilla selalu menemani mereka dari bangun tidur sampai tidur kembali


"Rio kenapa sayang," ujar Dilla.


Dilla sudah kebal dengan godaan Ryan, diabaikannya godaan Ryan.


"Yo uga auu yuk," kata Rio makin menarik celana Dilla.


Rio cemburu melihat papanya dipeluk Dilla, sedangkan dia tidak.


Ryan tidak paham apa yang dikatakan Rio tapi beda halnya dengan Dilla yang sudah banyak pengalaman. Dilla tau apa yang dikatakan Rio.


"Rio, Mbak Dilla sedang melatih papa Rio kok, bukan memeluknya. Rio main lagi ya, nanti Mbak Dilla akan memeluk Rio kok, jika Rio mau dipeluk sama Mbak. Tapi sekarang Mbak Dilla lanjut melatih papa ya," kata Dilla menjelaskan.


Kini Ryan paham apa maksud dari perkataan Rio. Ternyata Rio salah paham. Mungkin anaknya lagi cemburu.


"Peyuk...," bantah Rio.


Rio tidak mau mendengar omongan Dilla. Rio mau dipeluk sekarang juga.


"Rio, Mommy itu lebih suka memeluk Papa dari pada Rio, ini buktinya," kata Ryan kini malah menggoda anaknya.


"Uwahhh... yukkk... Yo au yukkkk uga...," ujar Rio tidak terima.


Rio makin kencang menarik celana Dilla. Rio tidak terima jika sang mommy hanya memeluk papanya saja.


"Rio jangan ditarik-tarik dong. Nanti Mbak Dilla sama papa Rio bisa jatuh," kata Dilla panik.


Dilla semakin panik karena terus-menerus di tarik sama Rio. Keseimbangannya kini goyah, dia tidak sanggup menahan badan Ryan sambil ditarik-tarik celananya. Dan hal yang tidak dinginkan pun terjadi.


" HUWAAA...," teriak Dilla keras lantaran kaget dan panik.


Dilla akhirnya kehilangan keseimbangan dan mereka terjatuh di karpet yang ada di samping Rio. Sedangkan sang pelaku hanya melihat apa yang sedang terjadi tanpa merasa bersalah sedikit pun.


Bersambung....