Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 121. Akad Nikah



"Ibu ayo berangkat," ajak Yanto.


Wulan memalingkan wajahnya dari sang suami.


"Ibu kenapa lagi?" tanya Danang mendekati Wulan bdan Yanto.


"Ibumu kembali merajuk tuh," jawab Yanto.


"Ibu kenapa lagi, bukankah Ibu sudah sepakat kita akan pergi bersama ke akad Pernikahan Dilla?" tanya Danang.


"Danang Ibu masih tidak terima kamu melepaskan Dilla begitu saja. Jika kamu berusaha pasti Dilla akan menikah sama kamu dan menjadi menantu Ibu," sahut Wulan.


Semalam Danang dan Yanto sudah berusaha keras membujuk Wulan untuk ke tempat Dilla. Tapi saat mereka mau berangkat Wulan kembali merajuk dan menolak pergi.


"Ibu tidak baik begitu," tegur Yanto. 


"Iya Bu, Dilla itu mencintai orang yang akan dia nikah kan sekarang. Ibu juga sudah tahu semuanya." 


"Tetap saja Ibu masih tidak terima semua ini Danang." 


"Sudah lah Bu, ayo kita berangkat sekarang, acara akan segera dimulai. Tidak baik kita sebagai kepala desa telat datang."


Wulan mengambil tasnya dengan kasar. Dia berjalan keluar rumah dengan menghentakkan kaki.


"Ayo berangkat, apalagi yang kalian tunggu," kata Wulan dengan nada tak bersahabat.


Danang dan Yanto mengikuti langkah Wulan dari belakang.


***


Pada hari akad nikah untuk yang kedua kalinya, Dilla sudah dihias lagi seperti saat dia  menikah dengan danang, tetapi yang beda sekarang raut wajahnya yang berseri-seri dibandingkan sama kemarin.


Jelita memasuki kamar Dilla, Dilla menoleh saat pintu dibuka.


"Bagaimana sudah siap menjadi nyonya Suherman," goda Jelita.


"Mbak," tegur Dilla. 


Dilla masa malu digoda sama Jelita.


"Mbak sekarang senang, akhirnya kalian berdua bisa bersatu. Mbak harap semoga pernikahan kalian langgeng dunia dan akhirat," doa Jelita.


"Terima kasih Mbak," ucap Dilla.


"Btw jangan lupa kasih adik buat Rio ya," kata Jelita menaik turunkan alis.


"Mbak…," tegur Dilla lagi. 


"Mbak jangan bicara yang aneh-aneh." 


"Aneh bagaimana? wajar kalau menikah kita punya momongan."


"Dilla akad nikah aja belum Mbak, Mbak sudah bicara momongan. Mbak juga tahu jika Rio masih kecil, Dilla ingin melihat mereka besar dulu."


"Itu mah bisa diatur Dilla, jadi gimana mau kasih Rio dan Reza berapa orang adik?" 


"Mbak…." 


"Iya iya, aku tidak akan menggoda kamu lagi."


Dilla tak habis pikir dengan omongan Jelita. Dilla memang ingin punya anak kandung sendiri. Tapi mengingat Reza dan Rio masih kecil, Dilla memilih mengalah. Dilla ingin mereka tumbuh lebih dewasa dulu, dia tidak mau Rio dan Reza tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian ekstra saat anak-anak. Dilla percaya jika Tuhan akan memberikan yang terbaik untuknya. 


Tuk Tuk Tuk


Dilla dan Jelita mendengar suara ketukan pintu. 


"Sebentar ya, biar Mbak bukakan pintunya."


"Siapa?" tanya Dilla karena Jelita menghalangi orang tersebut masuk.


Jelita mengeserkan badannya sehingga Dilla bisa melihat siapa yang datang. 


"Dilla apakah kita bisa sebentar? kamu tenang saja, saya telah minta izin sama Ryan kok," kata Danang. 


"Karena kamu akan menikah, saya harap agar kita tidak bicara berdua," kata Danang. 


Dilla memberikan kode kepada Jelita, Jelita mengangukkan kepalanya dan mempersilahkan Danang masuk. Jelita tidak keluar dari kamar karena tidak baik seperti perkataan Danang.


"Ada apa Bang Danang?" tanya Dilla 


"Saya hanya ingin mengucapkan selamat kepada kamu, semoga kamu dan Ryan bisa menjadi keluarga yang samara."


"Maaf Bang Danang jika Dilla menyakiti Bang Danang."


"Kamu tidak perlu sungkan sama saya, sekarang kamu bisa menganggap saya sebagai Abang kamu sendiri seperti saat kita masih kecil. Jika ada masalah kamu jangan sungkan untuk bercerita sama saya. Saya ikut senang jika bisa melihat kamu bahagia dengan pilihanmu sendiri. Sudah ya, saya hanya ingin mengatakan itu, saya pamit keluar lagi."


Danang segera keluar dari sana, dia tidak mau terlalu lama didalam. Apa yang ingin dia sampaikan telah usai.


"Dia adalah lelaki yang baik, semoga dia bisa menemukan pasangannya."


Didalam hati Dilla mengaminkan doa Jelita.


***


Dilla keluar saat dia disuruh keluar sama Marni. Marni menuntun Dilla duduk di samping Ryan. 


"Sudah Pak Penghulu." 


"Baiklah kita akan mulai akad nikahnya."


"Bagaimana saksi, apakah sah?" 


"Sah," sahut mereka semua.


Mereka bersyukur akad nikah Dilla dan Ryan berjalan dengan baik dan lancar.


Ryan kembali memasangkan sebuah cincin pasangan ke tangan Dilla. Setelah bertukar pasang cincin Dilla mencium tangan kanan Ryan dan Ryan juga mencium kening Dilla. 


"Horeee... akhirnya kita punya Mommy," teriak Reza.


Rio dan Reza mendekati Ryan dan Dilla. Mereka berdua memeluk Ryan dan Dilla.


"Cetalang Omy Omy na Liyo."


"Iya, Mommy Reza dan Rio."


Setelah mengucapkan selamat dan berbincang-bincang, para tamu dan lainnya segera meninggalkan kediaman Abdul dan Marni.


***


"Omy anti tita dul cama ya, ada Omy, Liyo, Bang Eja dan Papa uga," pinta Rio mencuri start.


"Reza setuju, Reza juga mau tidur bersama," sambung Reza.


"Rio dan Reza kenapa masih panggil Mommy? sekarang kan Mommy telah menikah sama Papa, jadi sekarang kalian memanggil Mommy dengan sebutan Mama, kan pasangan Papa adalah Mama," kata Jelita yang mendengar obrolan Dilla dengan Rio dan Reza. 


"Reza tidak masalah jika memanggil Mommy dengan sebutan Mama, asal Mommy eh maksud Reza Mama bisa bersama Reza," jawab Reza.


Dilla tersenyum mendengar jawaban Reza.


"Liyo ndak mau," tolak Rio.


"Kenapa sayang?" tanya Dilla mewakili yang lain yang penasaran juga dengan penolakan Rio.


"Liyo ndak cuta, Liyo mau andil Omy aja bial telen," jawab Rio memberikan jempol buat Dilla.


Mereka ketawa mendengar jawaban Rio yang begitu menggemaskan. 


"Jadi selama ini Rio bisa ucap Mommy?" tanya Jelita penasaran.


"Ica dong."


"Kalau begitu ayo bilang Mommy," suruh Marni yang ikut tersihir dengan kegemasan Rio.


"Ndak mau, ndak telen."


"Bilang aja Rio tidak bisa," pancing Ryan.


"Ica Papa," bantah Rio.


"Masak? Papa kok tidak yakin?"


"Liyo Ica andil Omy denan Mommy," sahut Rio tidak terima.


Mereka kembali tertawa, mereka bisa membohongi Rio dengan mudahnya.


"Papa ahat, Papa boongin Liyo, Omy Papa natal," adu Rio sambil memeluk Dilla.


Dilla mengusap bahu Rio.


"Benar apa yang dikatakan Tante Jelita, Rio dan Reza sekarang harus memanggil Mommy dengan sebutan Mama. Nanti kalau Rio masih panggil Mommy juga maka orang pikir Mommy nikahnya sama Daddy," ujar Rita.


"Ndak mau, Liyo unya Papa butan Andy," tolak Rio.


"Jadi Rio biasakan panggil Mommy dengan Mama ya."


"Tapi Mama ndak telen Nek, bental Liyo mitil dulu."


Mereka memandang Rio dengan penasaran kembali.


"Ahaaa Liyo tau, Liyo atan mandil Ama aja bial telen," jawab Rio bagaikan menemukan harta karun.


Mereka kembali tertawa dengan sikap lucunya Rio. Rio mau beda daripada yang lainnya.


"Dimana Omy boyeh, boyeh andil Ama aja," tawar Rio.


"Mama setuju," jawab Dilla mengucapkan hidungnya ke hidung Rio.


Rio tertawa senang dengan jawaban dan apa yang dilakukan oleh Dilla.


"Kalau begitu mari kita siap-siap sekarang, sebentar kita berangkat ke Villa karena hari semakin sore," kata Aditya.


Mereka semua mengemaskan barang bawaan yang akan mereka bawa. Mereka akan menginap semalam karena acara syukuran kecil-kecilan akan diadakan besok pada siang hari dan sorenya Dilla dan Ryan akan pergi honeymoon.


Bersambung….


Jangan lupa like, vote dan tinggalkan kritikan dan saran ya. Mungkin sekitar 2-3 bab lagi akan tamat Season 1.