
Selamat Membaca, Semoga Suka. Terima Kasih.
***
"Sayang, kamu lagi lihat apa sih?" tanya Ryan sambil duduk di samping Dilla.
Ryan kemudian memeluk Dilla dari samping dan mencium pipinya sebentar. Baru kemudian matanya beralih pada bingkai foto yang dilihat oleh Dilla. Ryan melepaskan kembali pelukannya saat Dilla menatap foto itu dengan serius.
"Mas, apa ini wajahnya ibu dari Rio dan Reza?" tanya Dilla balik tanpa melihat ke arah Ryan sambil mengelus bingkai tersebut.
"Iya, itu foto Riana. Almarhumah istri Mas dan ibu dari Rio dan Reza," jawab Ryan.
Ryan sedikit cemas dengan Dilla, dia takut jika Dilla cemburu karena dia masih menyimpan foto itu. Ryan segera meraih foto yang ada di tangan Dilla.
"Foto ini sudah lama mau Mas simpan di gudang. Mas selalu lupa," kata Ryan memberi alasan.
"Mas," panggil Dilla.
Ryan menoleh ke arah Dilla tanpa berkata apapun. Dilla meraih kembali bingkai foto yang ada di tangan Ryan. Kemudian Dilla melihat kembali foto itu dengan seksama.
"Kenapa Mas mau menyimpan bingkai ini di gudang," katanya Dilla.
"Mas tidak mau kamu cemburu dan berpikir bahwa Mas masih memikirkan almarhumah Riana," jawab Ryan jujur.
"Mas, Dilla tidak akan pernah cemburu sama Mbak Riana. Walau bagaimana pun, Mbak Riana telah hadir di kehidupan Mas. Jika Mbak Riana tidak hadir di kehidupan Mas, maka Dilla juga tidak akan pernah hadir di kehidupan Mas," ujar Dilla.
"Bagaimana pun lagi Mbak Riana adalah ibu dari Rio dan Reza. Dilla tidak masalah jika Mas meletakkan foto Mbak Riana di samping foto kita," kata Dilla sambil meletakkan bingkai foto itu di samping foto pernikahan milik mereka.
Ryan tersentuh dengan pemikiran Dilla yang tidak pendek. Biasanya para perempuan akan cepat cemburuan. Ryan kembali memeluk Dilla yang membelakanginya.
"Mas senang jika kamu percaya sama Mas," ucap Ryan sambil mencium tekuk Dilla.
Dilla memegang tangan Ryan yang melingkar di badannya.
"Tentu Mas. Mas adalah suami Dilla. Sudah seharusnya Dilla percaya sepenuhnya sama Mas. Dilla harap Mas juga sebaliknya," ujar Dilla.
"Iya, Mas juga akan percaya sepenuhnya sama kamu. Sekarang dan nanti," sahut Ryan.
Beberapa menit waktu terdiam dengan tangan Ryan masih memanjakan Dilla. Setelah beberapa menit mereka terdiam masing-masing dengan Ryan yang masih memeluk Dilla dan Dilla yang memegang tangan Ryan, Dilla memutuskan untuk berbicara.
"Mas boleh tidak jika Mas membawa Dilla ke tempat peristirahatan terakhir Mbak Riana?" tanya Dilla hati-hati.
Ryan melepaskan pelukannya, kemudian dia membalikkan badan Dilla.
"Kenapa kamu mau pergi ke sana sayang?" tanya Ryan sambil memegang kedua bahu Dilla.
Dilla segera meraih tangan kanan Ryan dan menggenggamnya.
"Dilla ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada Mbak Riana," kata Dilla.
"Ucapan terima kasih bagaimana? Mas tidak paham. Kalian kan belum bertemu sebelumnya," ucap Ryan bingung.
"Mas, mengucapkan terima kasih tidak perlu bertemu Mas. Dilla mau terima kasih kepada mbak Riana yang telah menghadirkan dua malaikat yang telah menyatukan kita," ujar Dilla dengan menatap Ryan dan tersenyum lembut.
Ryan membalas senyuman Dilla. Kemudian mengangkat tangannya dan mengelus pipi Dilla.
"Baik, Mas akan membawa kamu bertemu dengan Riana. Mas semakin takjub sama kamu," ujar Ryan bangga.
"Terima kasih Mas," ucap Dilla sambil memeluk Ryan.
Ryan membalas pelukan Dilla.
***
Seperti pagi hari pada rutinitas biasanya, Dilla segera bangun dia menyiapkan dirinya sendiri. Baru Dilla membangunkan Ryan. Setelah Ryan masuk ke kamar mandi, Dilla menyiapkan perlengkapan Ryan untuk pergi ke kantor. Setelah itu, Dilla pergi ke kamar Reza untuk membangunkan Reza supaya tidak telat ke sekolah. Setelahnya baru Dilla membangunkan Rio.
Setelah memastikan Rio sudah wangi dan rapi, Dilla membawa Rio ke kamar untuk melihat Ryan. Ryan sudah memakai pakaiannya. Rio dan Dilla mendekati Ryan. Dilla segera meraih dasi milik Ryan dan membantu Ryan memasangkannya.
"Ya sayang," jawab Dilla tanpa melihat ke arah Rio karena masih fokus memasangkan dasi Ryan.
"Omy, Liyo mau uga patai tu," ujar Rio.
"Yang itu yang mana sayang?" tanya Dilla dengan melirik ke arah Rio.
"Tu Omy. Yang cama tek Papa pakai di lehel. Liyo uga mau," kata Rio.
Dilla merapikan dasi milik Ryan yang sudah selesai dia pasangkan. Baru kemudian dia melihat ke arah Rio. Rio masih menunjuk ke arah dasi yang dipakai oleh Ryan karena Rio tidak tahu namanya.
"Itu namanya dasi sayang," kata Dilla mengusap rambut Rio.
"Daci?" tanya Rio.
Dilla menganggukkan kepalanya.
"Liyo uga mau patai daci Omy," ulang Rio.
"Kenapa Rio mau pakai dasi hemm. Apa Rio cemburu melihat Mama yang memasangkan dasi Papa?" duga Ryan.
"Iya, mata na Liyo uga mau," jawab Rio.
Dilla semakin menggelengkan kepalanya. Rio semakin lama semakin cemburuan. Bila Dilla perhatian sama orang lain baik siapa pun maka Rio akan ngambek.
"Kenapa Rio suka cemburu sekarang hemm," kata Dilla sambil mencolek hidung Rio.
Rio menyentuhkan hidungnya.
"Talena Liyo angat angat angat cuta cama Omy," sahut Rio sambil membentangkan kedua tangannya.
"Mama juga sangat sayang sama Rio," balas Dilla dengan segera memeluk Rio yang masih melintangkan tangannya.
"Jadi Rio tidak sayang sama Papa?"
"Liyo cayang Papa tok. Tapi Liyo lebih cayang Omy," jawab Rio jujur.
"Talau Papa sedini, untuk Omy sedini," sambung Rio sambil membandingkan seberapa besar sukanya kepada Dilla dan Ryan.
Jika untuk Ryan hanya sebesar kepalan tangan tangan dan untuk Dilla sebentang tangan.
"Oh, jadi Rio hanya suka sama Papa sebesar itu. Ya sudah kalau begitu, tadinya Papa mau ajak Rio makan enak. Tapi tidak jadi karena Rio tidak sayang Papa sebesar Mama," kata Ryan dengan pura-pura kecewa.
"Papa," protes Rio tidak terima.
"Papa angan culang."
"Curang kenapa?"
"Omy, Papa natal," adu Rio pada Dilla.
"Kalian Ayah sama anak sama-sama saja. Sukanya bercanda mulu. Sudah sudah sekarang kita segera turun ke bawah nanti kita bisa telat," ujar Dilla.
***
Mereka turun ke bawah untuk sarapan pagi bersama.
Rio kali ini ikut serta pergi ke sekolah. Lebih tepatnya mengantar Reza dan Rafa ke sekolah. Rio juga sudah siap dengan tas pahlawan di punggung kecilnya. Tas Rio tidak lupa berisi buku dan perlengkapan sekolah sama seperti milik Reza dan Rafa.
Rio merengek meminta saat tau Reza dan Rafa mau dibelikan tas, buku dan perlengkapan sekolah lainnya. Rio mau semua barang yang sama atau Rio akan menangis. Dilla yang tidak tega akhirnya membeli lebih buat Rio, supaya Rio punya motivasi untuk belajar juga.
Bersambung....
Rekomendasi novel yang keren sambil menunggu up selanjutnya