
Dilla, Reza dan Rio sudah sampai di kediaman Suherman. Di depan rumah Suherman Dilla melihat ada beberapa mobil mewah yang bukan punya keluarga Suherman. Karena Dilla sudah tau beberapa mobil milik keluarga Suherman. Mobil mobil itu baru pertama kali dilihat sama Dilla.
'Mungkin lagi ada tamu, bahkan mobil tante dan om Aditya juga ada di sini,' batin Dilla.
Di ruang tamu memang lagi ada tamu. Mereka bertiga langsung mendekat ke ruang tamu. Dilla melihat ada tiga silut tamu yang asing baginya, di sana juga ada Rita, Aditya dan Ryan.
"Nenek... Kakek...," seru Reza menghampiri Rita.
"Oh cucu Nenek sudah pulang. Sini Reza, Rio beri salam dulu sama Kakek Buyut," suruh Rita.
"Kakek Buyut selamat siang," sapa Reza.
"Ciyang tek unyut," sambung Rio.
Mereka berdua menghampiri kakek buyut mereka dan memeluknya.
"Aduh cicit Kakek Buyut sudah besar, bahkan Rio sudah bisa berbicara sekarang," ujar kakek buyut.
'Ternyata ayahnya om dan tante.'
"Ayah kenalkan ini Dilla, baby sitternya Rio dan Reza. Baby sitter yang pernah Rita ceritakan ke Ayah," Rita memperkenalkan Dilla.
"Selamat siang Tuan," sapa Dilla.
"Panggil Kakek saja jangan panggil Tuan, seperti yang Ryan dan Dafa panggil," kata Akram ramah.
"Ah... baik Kakek," kata Dilla canggung.
"Dilla kalau yang ini namanya Dafa dan ini anaknya Rafa, sepupunya Ryan," tambah Rita.
"Selamat siang emm...."
"Dafa saja," ujar Dafa.
"Iya, selamat siang Tuan Dafa," ulang Dilla.
"Ya," jawab Dafa sekedarnya.
"Selamat siang Rafa," kini Dilla beralih ke Rafa.
Dari tadi Rafa terus menatap Dilla, bocah yang beberapa bulan lebih tua dari Reza tidak mengalihkan pandangan sedikitpun sejak ia melihat Dilla. Seakan Dilla adalah makhluk luar angkasa alias alien.
Rio yang tadi berada di pelukan kakeknya kini beralih ke arah Dilla.
"Omyyy...," ujar manja Rio.
Dilla hanya tersenyum canggung ketika semua mata mengarah padanya setelah Rio memanggilnya mommy.
"Mommy?" tanya Dafa dan Rafa barengan.
"Ya ini Mommy Reza dan Rio," jawab Reza yang masih betah duduk di samping kakeknya.
Pernyataan Reza membuat Dafa bingung, sejak kapan sepupunya ini menikah lagi, apalagi jika dilihat baik-baik gadis ini masih muda, apa mungkin baby face ya.
"Reza dan Rio sangat akrab sama Dilla, makanya Rio sering memanggil Dilla mommy. Tapi kalau Reza sendiri baru hari ini Rita dengar Reza memanggil Dilla mommy. Biasanya Reza memanggil Dilla dengan mbak Dilla," Rita menjelaskan.
"Aku pikir tadi Ryan sudah menikah lagi," ujar Dafa.
"Kamu ini ada-ada saja Dafa," sanggah Rita.
"Mommy...," lirih Rafa.
Rafa turun dari sofa menuju Dilla. Sesampainya di depan Dilla, Rafa langsung memeluk kaki Dilla erat. Rafa juga membenamkan wajahnya di perut Dilla.
"Mommy...," lirih Rafa lagi.
Dafa sangat terkejut dengan tingkah anaknya, biasanya anaknya tidak mau dekat dan bicara sama orang asing. Kini Rafa malah memanggil orang yang baru di lihatnya dengan panggilan mommy.
'Apa Rafa ingin seorang ibu baru ya, jika saja dia ada di sini sekarang mungkin Rafa tidak akan sependiam sekarang.'
"Ini Omy Liyo, butan Omy Bang Lapa," bantah Rio, Rio mencoba mendorong Rafa.
Rio tidak suka mommynya dipeluk Rafa. Rio takut Rafa akan mengambil Mommynya. Rafa tidak mau melepaskan pelukannya pada Dilla walaupun didorong oleh Rio, dia makin erat memeluk kaki Dilla.
"Omy na Liyo."
Reza segera bangkit dari sisi kakek. Reza juga mau membantu adiknya melepaskan pelukan Rafa.
"Epas epas, Liyo ilang epas, ni Omy na Liyo."
"Aduh jangan dorong-dorong nanti jatuh dan terluka," panik Dilla saat melihat Rio yang mendorong Rafa dan Reza yang kini malah membantu Rio dengan menarik Rafa.
"Rafa ayo lepaskan Tantenya, kasihan Tantenya," Dafa mencoba meleraikan mereka.
"Rio, Reza jangan begitu, tidak baik sayang," Ryan juga panik melihat anaknya yang bertingkah begitu.
"Tidak, ini Mommy, Mommynya Rafa," bantah Rafa.
Orang dewasa di sana terkejut mendengar jawaban Rafa. Karena biasanya Rafa adalah orang yang pendiam.
"NDAK NI OMY LIYO DAN BANG EJA...," teriak Rio karena Rafa tetap tidak mau melepaskan Dilla.
"MOMMYNYA RAFA...," Rafa juga ikut berteriak.
Suasana makin gaduh karena tiga bocah itu yang merebut Dilla. Para orang dewasa mulai membantu Dilla.
Rita memegang Reza agar tidak menarik Rafa terlalu keras. Dafa mencoba melepaskan Rafa yang memeluk Dilla begitu erat.
"Reza, Rio udah jangan saling dorong lagi ya, nanti kalian bisa terluka sayang," ujar Rita.
"OMY LIYO," Rio tidak mau mendengarkan perkataan Rita, Rio masih berusaha keras mendorong Rafa.
"Iya Mommy, Mommynya Rio, jadi jangan dorong lagi ya sayang," bujuk Dilla lagi.
Rio tidak mendorong Rafa lagi setelah mendengar ucapan Dilla. Rio senang karena Dilla adalah mommy Rio.
"TIDAK INI MOMMY RAFA," Rafa tidak mau mengalah.
Rio yang mendengar teriak Rafa mencoba mendorong Rafa lagi. Padahal tadi Rio sudah berhenti mendorong Rafa.
"Rafa lepas Mommy kami, ini Mommy kami bukannya Mommy Rafa," Reza juga masih menarik-narik Rafa.
"Udahan dong sayang, jangan ribut lagi, Mbak Dilla adalah Mommy kalian semua, Mommy Rio, Mommy Reza dan Mommy Rafa juga ya," lerai Rita.
Rita sudah kualahan memegang Reza. Rita sudah tidak terlalu muda lagi, jadi tenaganya kalah dari tenaga Reza yang masih kecil.
Rita juga kasihan sama Rafa, Rafa sudah dari tadi ditarik dan didorong yang kekeh tetap mempertahankan memeluk kaki Dilla. Mereka bertiga berhenti merebutkan Dilla. Akhirnya Rita dan Dafa bisa menghela nafas karena capek.
"Mommy adalah Mommy kalian bertiga mulai sekarang ya. Jangan bertengkar lagi, tidak baik sesama saudara saling dorong mendorong begitu. Nanti jika salah satu diantara kalian ada yang jatuh dan terluka bagaimana, nanti Mommy Dilla juga yang ikut khawatir," sambung Rita.
"Iya ini Mommy kalian bertiga, jadi jangan bertengkar lagi ya," tambah Akram.
"Baik."
"Aik."
Jawab mereka bertiga, mereka bertiga tidak mau jika mommy merasa khawatir sama mereka.
"Dilla kamu tolong bawa mereka bertiga ke atas ya, tolong kamu mandikan mereka termasuk Rafa juga ya. Sebentar lagi kita akan makan siang bersama," perintah Rita.
"Baik Tante," jawab Dilla
"Ayo kita ke atas," ajak Dilla.
"Endong...," Rio merentangkan tangannya.
Rio sudah sangat lelah dan capek mendorong dorong Rafa tadi. Dilla segera mengendong Rio. Rio langsung menyenderkan kepalanya pada bahu Dilla.
"Ayo kita ke atas," ajak Dilla lagi
Dilla meraih tangan Rafa, sedangkan Reza sudah memegang tangan adiknya.
"Kalau begitu kami pamit ke atas dulu ya Tante, Om, Tuan dan Kakek," pamit Dilla.
Setelah kepergian mereka berempat ke atas kini tinggallah lima orang dewasa lain dengan perasaan yang tidak karuan.
Bersambung....