
Dilla segera menyusul Rafa ke lantai atas. Dilla menemukan Rafa yang sedang pura pura tidur di atas kasur. Dilla menyibak selimut yang dipakai sama Rafa.
"Rafa," panggil Dilla.
Rafa diam.
"Rafa maafkan Mommy jika Mommy membuat Rafa marah ya."
Rafa masih diam.
"Apa Rafa tidak mau melihat Mommy lagi," ujar Dilla lagi.
Rafa mulai bangun, dia menatap Dilla dengan air mata di pipinya.
"Kenapa Rafa menangis sayang, apa Rafa ada yang terluka tau sakit, sini kasih tau sam Mommy biar Mommy obatin," kata Dilla cemas.
Dilla segera mengecek badan Rafa, Rafa malah memeluk leher Dilla erat dengan air mata yang terus keluar. Dilla berhenti memeriksa tubuh Rafa dan menepuk bahu Rafa pelan pelan.
"Apa Rafa mau cerita sama Mommy, Mommy akan selalu mendengar apa yang mau Rafa cerita," ucap Dilla lembut.
Rafa masih memeluk Dilla dengan erat. Dilla akan menunggu sampai Rafa mau bercerita.
"Mommy," panggil Rafa pelan.
"Iya sayang," sahut Dilla.
"Mommy tidak akan pernah ninggalin Rafa kan?" tanya Rafa.
Dilla diam, Dilla tidak bisa berjanji karena dia tidak tau bagaimana takdir membawanya nanti. Jika Dilla bisa memilih dia ingin selalu berada di rumah ini. Dilla sudah merasa nyaman di rumah ini. Tapi Dilla sadar diri jika dia bukan siap siapa di rumah ini. Dia pasti suatu saat akan memiliki keluarga sendiri. Kecuali jika dia dan Ryan bisa bersama.
"Mommy tidak bisa janji Rafa, tapi Mommy janji akan selalu menyayangi kalian baik sekarang maupun nanti," jawab Dilla jujur.
Dilla tidak mau memberi harapan palsu pada Rafa karena hanya untuk menyenangi hati Rafa untuk sesaat..
Rafa melepaskan pelukannya mendengar jawaban Dilla. Rafa tidak puas sama jawaban Dilla.
"Apa Mommy tidak peduli lagi sama Rafa lagi," ujar Rafa sedih.
Air mata Rafa kembali mengalir, Dilla dengan lembut menghapuskan air mata itu.
"Maksud Mommy bukan begitu sayang, maksud Mommy begini, Rafa tau kan jika saat kita besar nanti, nanti kita akan menjadi Daddy dan Mommy?" tanya Dilla hati hati.
Rafa menganggukan kepalanya mengerti. Rafa yang memang pada dasarnya pandai bisa mengerti ucapan Dilla.
"Jadi suatu saat nanti Mommy juga akan seperti itu. Mommy juga akan memiliki Daddy Mommy sendiri," ujar Dilla.
"Kenapa tidak jadi Mommy Daddy nya Rafa aja," usul Rafa.
"Rafa juga tau, kalau Daddy nya Rafa sudah ada Mommy Jelita."
"Rafa mau nya Mommy yang jadi Mommy Rafa," pinta Rafa memelas.
"Rafa tidak boleh begitu sayang, bagaimanapun Mommy Jelita adalah Mommy nya Rafa, Rafa harus berbakti sama Mommy Jelita. Rafa pasti juga tau kalau kita tidak boleh jadi anak durhaka," nasihat Dilla.
Rafa diam lagi.
"Apa Rafa sekarang mau cerita sama Mommy kenapa Rafa masih tidak mau memaafkan Mommy Jelita?" Dilla kembali menanyakan topik yang semula.
Rafa menatap Dilla fokus, Rafa bisa melihat wajah Mommy Dilla yang sabar menghadapi mereka. Rafa kembali memeluk Dilla.
" Rafa, Rafa takut Mommy," ujar Rafa pelan dengan nada bergetar.
Walaupun pelan Dilla bisa mendengarnya.
"Takut kenapa emm."
Dilla tau Mommy mana yang dimaksud sama Rafa.
"Tapi Mommy Rafa sudah mulai berubah sayang, kenapa takut, ayo cerita sama Mommy."
"Rafa takut jika Mommy ninggalin Rafa lagi seperti dulu, Rafa tidak mau ditinggal sendiri lagi. Rasanya di sini sakit Mommy," ujar Rafa sambil meremas dadanya.
"Padahal Rafa sangat ingin bermain sama Mommy tapi Mommy bilang selalu sibuk. Mommy tidak pernah ada waktu buat Rafa. Bahkan saat Rafa sakit Mommy tidak pernah merawat dan peduli sama Rafa, seperti Mommy merawat Rio dulu. Rafa juga mau dimanja Mommy," ujar Rafa menceritakan unek uneknya.
Dilla merasa kasihan pada Rafa, dia juga ikut merasa sedih. Dilla memang sudah kehilangan orang tua tapi masih ada Paman dan Bibi yang perhatian padanya.
"Jadi apa Rafa tidak mau memaafkan Mommy Jelita?" tanya Dilla.
"Rafa tidak mau melihat dia lagi. Rafa harap dia tidak pernah muncul di hidup Rafa lagi. Sekarang Rafa sudah ada mommy baru," Jawab Rafa marah.
"Rafa tidak boleh berbicara begitu sayang, perkataan adalah doa bagaimana jika Mommy benar benar pergi nanti," tegur Dilla.
"Rafa tidak mau di sini sakit lagi untuk yang kedua kali Mommy, rasanya sesak," tunjuk Rafa di dadanya.
"Rafa, apa tidak bisa Rafa memberikan Mommy Jelita kesempatan kedua. Setiap orang yang mau berubah menjadi lebih baik perlu diberikan kesempatan kedua. Dan Mommy harap Rafa bisa memberi Mommy Jelita kesempatan kedua."
"Sekarang coba Rafa bayangkan seandainya Mommy yang membuat kesalahan, apa Rafa juga tidak mau memaafkan Mommy?" tanya Dilla memancing Rafa.
"Rafa akan selalu memaafkan Mommy kok," jawab Rafa cepat.
"Nah kalau gitu coba Rafa memaafkan dan memberi Mommy Jelita kesempatan kedua. Jika Rafa tidak bisa memaafkan segera, Rafa bisa memulai dari mencoba menerima kehadiran Mommy Jelita di samping Rafa. Jika seandainya Mommy Rafa bisa berubah, Rafa harus bisa memaafkan Mommy Jelita ya," ujar Dilla panjang lebat.
"Tapi Rafa takut Mommy."
"Rafa tidak perlu takut, ada Mommy di samping Rafa, Mommy Jelita juga sedang berusaha menjadi lebih baik lagi."
"Bagaimana apa Rafa mau mencoba memaafkan Mommy Jelita?"
Rafa menganggukan kepalanya ragu ragu.
"Nah ini baru Rafa yang Mommy kenal, sebaiknya Rafa tidur aja dulu ya, pasti Rafa sudah lelahkan."
Dilla membantu Rafa rebahan.
"Tenang saja, ada Mommy di samping Rafa, Mommy akan selalu membantu Rafa," Ujar Dilla menenangkan.
Rafa mulai menutup matanya karena sudah lelah. Setelah memastikan Rafa tidur, Dilla segera keluar.
***
Jelita yang khawatir dengan Rafa juga ikut menyusul Rafa. Jelita menitipkan Reza dan Rio pada Mina. Jelita ingin mengintip pembicaraan Rafa sama Dilla. Dia tidak berani masuk,tapi niatnya dia urungkan karena mendengar perkataan Rafa.
"Rafa tidak mau melihat dia lagi. Rafa harap dia tidak pernah muncul di hidup Rafa lagi. Sekarang Rafa sudah ada Mommy baru."
Jelita kaget, Jelita tidak pernah membayangkan kalau Rafa menginginkan dia pergi dari kehidupan Rafa. Dengan langkah lemas Jelita meninggalkan tempat itu, dia sudah tidak sanggup lagi mendengar lanjutan pembicaraan Rafa dan Dilla.
Jelita yakin jika ini adalah karma yang harus dia terima. Sudah sepantasnya Rafa meninggalkannya. Sambil berjalan Jelita menepuk keras dadanya yang terasa sakit.
'Apa harus aku menjauh dari Rafa agar Rafa mau memaafkan aku, ya Tuhan ini terasa sakit sekali. Mungkin selama ini, ini yang telah Rafa rasakan. Aku tidak bisa memaafkan diri aku sendiri kalau begini. Jika Rafa memang mau aku menjauh maka aku akan pergi yang jauh asal Rafa bisa bahagia.'
Jelita yang hanya mendengar sepotong pembicaraan salah paham.
Dafa yang kebetulan lewat mencegah Jelita yang memukul dadanya. Jelita segera memeluk Dafa erat sambil menangis dalam diam. Dafa tidak akan bertanya dulu, Jelita pasti butuh waktu. Dafa menuntun jelita ke kamar mereka. Dafa tidak ingin yang lain melihat jelita lemah begini. Istrinya adalah orang yang kuat.
Bersambung….
Jangan lupa vote (poin) dan tip (koin) ya