
Begitu mereka sampai di depan tempat penginapan, Dilla terasa pusing. Kepala Dilla berdenyut, seakan berputar-putar. Saat Dilla turun dari mobil Dilla memegang kepalanya. Ryan jadi cemas melihat kondisi Dilla.
"Sayang,kamu tidak apa-apa?" tanya Ryan.
"Tidak apa-apa Mas. Hanya saja kepala Dilla sedikit pusing. Mungkin hanya mabuk mobil," kata Dilla.
"Tapi biasanya kamu kan tidak mabuk mobil?" tanya Ryan lagi.
"Dilla juga tidak tahu Mas. Dilla hanya sedikit pusing kok. Jadi tidak apa-apa, istirahat sebentar juga akan hilang," ujar Dilla berbohong.
"Ya sudah kalau begitu. Ayo kita segera masuk," ajak Ryan.
***
Ketika mereka sampai di dalam kamar, sakit kepala yang dialami sama Dilla semakin parah. Dunia Dilla terasa berputar. Dilla hampir saja terjatuh kalau tidak ditangkap oleh Ryan.
"Sayang, kamu tidak apa-apa," tanya Ryan.
Tadi Dilla membelakangi Ryan. Jadi Ryan berfikir jika Dilla hanya tersandung.
"Tidak apa-apa Mas. Dilla hanya lelah saja," kata Dilla lemah.
"Tapi kenapa wajah kamu pucat, kamu sakit?"
"Badan Dilla hanya lemas saja Mas," sahut Dilla.
"Kalau kamu sakit kenapa tidak bilang. Biar Mas yang bantu kamu," ucap Ryan.
Ryan segera mengangkat tubuh Dilla ke atas kasur.
"Bagaimana? apa yang terasa sakit?" tanya Ryan.
Kepala Dilla kembali terasa pusing dan berdenyut. Dilla mengangkat tangannya dan memijat kepala.
"Mas…," Dilla ingin menjawab pertanyaan Ryan, tapi Ryan malah memotong ucapan Dilla.
"Sebaiknya kita ke rumah saja ya?" bujuk Ryan.
"Mungkin Dilla hanya mabuk mobil saja Mas," tolak Dilla.
Saat mendengar kata rumah sakit, tiba-tiba Dilla jadi badmood. Dilla tidak mau ke rumah sakit. Dia lebih suka istirahat saja.
"Tapi kondisi kamu saat ini sangat mengkhawatirkan. Tidak biasanya kamu seperti ini. Kita ke rumah sakit saja ya. Mas takut terjadi sesuatu sama kamu," ucap Ryan.
"Dilla tidak ap… akh…," rintihan Dilla kesakitan.
Kepala Dilla semakin berdenyut, Dilla tidak bisa lagi menahan sakit kepalanya. Ryan semakin khawatir sama kondisi Dilla.
"Sayang, kita ke rumah sakit dan tidak ada penolakan," kata Ryan serius.
Dilla menyerah, kepala dia sudah tidak bisa diajak kompromi. Dengan lemas Dilla mencoba membangunkan tubuhnya dibantu sama Ryan. Ryan memegang bahu dan satu tangannya dia selipkan di bawah bahu Dilla. Saat hampir terbangun tiba-tiba tubuh Dilla kembali terasa pusing yang tidak tertahankan. Tubuh Dilla semakin lemas dan tidak ada tenaga sama sekali. Sehingga Dilla terjatuh kembali ke kasur.
Ryan tadi tidak sempat menahan tubuh Dilla sepenuhnya karena dia menduga jika dilla tidak ada kekuatan sama sekali. Untung saja Dilla tadi baru duduk di atas kasur. Ryan dengan panik mencoba menepuk pipi Dilla agar Dila membuka matanya. Tetapi Dilla tidak membuka matanya sama sekali. Dengan panik Ryan mencoba meraih HP yang ada di sakunya, karena terburu-buru HP Ryan malah terjatuh.
Ryan ingin mengambilnya kembali, tapi karena langkahnya yang cepat Ryan malah menendang HP itu dengan kuat, sehingga HP itu malah terlempar dan terbanting. HP itu bertabrakan dengan dinding dengan cepat dan kuat sehingga HP pecah dan berhamburan. Ryan berdecak kesal karena HP dia pasti tidak dapat digunakan lagi. Ryan akhirnya memutuskan ingin meraih telepon yang ada di kamar tersebut.
Lagi-lagi Ryan melakukan kesalahan. Kesalahan yang dilakukan oleh Ryan adalah Ryan tidak sengaja menarik telepon itu dengan kencang sehingga telepon itu juga ikut terjatuh dan hancur. Dengan cepat-cepat Ryan ingin memperbaiki kembali telepon itu. Tetapi telepon itu masih saja tidak berfungsi lagi. Sepertinya telepon itu bernasib sama dengan HP yang dimiliki oleh Ryan.
Diantara batas kesadarannya, Dilla membuka matanya walaupun kecil. Dilla bisa melihat Ryan yang begitu panik dan khawatir terhadap Dilla. Dilla ingin memanggil Ryan agar yang tidak terlalu ceroboh.
"Mas... sakit…," kata Dilla dengan kalimat yang terputus.
Karena tidak ada tenaga maka Dilla hanya mengucapkan dua kata saja. Ryan yang mendengarnya semakin panik. Ryan ingin segera membawa Dilla ke rumah sakit. Ryan baru teringat, jika dia ingin keluar maka dia tidak bisa membuka pintu dengan Dilla di gendongannya.
Ryan memilih membuka pintu terlebih dahulu, baru kemudian menggendong Dilla. Dengan langkah cepat Ryan berjalan ke arah pintu, kaki Ryan malah tersandung sama kakinya sendiri.
Buakkk.
Ryan malah terjatuh dengan suara yang keras. Ryan merintih kesakitan, dahi, dada dan tangannya terasa sakit. Ryan tadi tidak sempat menahan berat tubuhnya. Ryan tidak mempedulikan rasa sakit yang menyerangnya. Ryan lebih khawatir kondisi Dilla.
Dengan masih merintih kesakitan Ryan kembali bangun dan meraih pintu. Ryan membuka pintu itu selebar mungkin agar mereka bisa melewati pintu. Setelahnya Ryan kembali ke arah Dilla. Ryan segera menggendong Dilla dan membawanya keluar.
Di depan pintu keluar, Ryan bertemu salah satu pegawai hotel tempat mereka menginap. Pegawai yang tadi membantu mereka membawa barang
"Kamu tolong bantu saya tutup dan jaga kamar saya sebentar. Saya buru-buru ingin segera membawa istri saya ke rumah sakit," kata Ryan.
Tanpa menunggu jawaban, Ryan segera berlari meninggalkan pintu kamar yang masih terbuka beserta dengan pegawai hotel itu. Pegawai hotel itu bisa melihat wajah Dilla yang sudah pucat dan keluar keringat. Pegawai itu segera masuk untuk mengambil kunci kamar hotel dari dalam agar nanti bisa ditutup kembali. Pegawai itu terkejut melihat kondisi kamar sekarang yang sudah seperti kapal pecah.
Pegawai itu yakin jika penghuni kamar itu belum lebih dari lima belas menit masuk. Di mana telepon dan HP yang sudah hancur lebur. Kemudian matanya beralih kepada sebuah dompet yang terletak di atas meja.
"Bukankah ini dompet? apakah Tuan tadi pergi ke rumah sakit tidak membawa apapun," ujar pegawai itu.
"Lebih baik aku melaporkan hal ini kepada bos dulu," tambah pelayan itu.
Setelah mengambil kunci kamar tanpa mengambil dompet. Dia segera keluar dari sana dan menutup pintu kembali.
***
"Pak tolong bawa dengan cepat lagi," suruh Ryan pada sopir taksi.
"Ini sudah dengan kecepatan maksimal Pak. Saya tidak bisa membawa cepat lagi, nanti kita bisa dikejar polisi," ucap sopir taksi.
Ruang di belakang berdecak kesal karena memang kecepatan mobilnya sudah lumayan tinggi. Ryan hanya khawatir dengan kondisi Dilla yang sudah pucat dan juga berkeringat.
Setelah beberapa lama akhirnya mobil itu berhenti. Tanpa berkata apapun Ryan segera keluar dari sana dengan menggendong Dilla. Ruan pergi tanpa membayar ongkos taksi.
"Pak… Pak… Bapak belum bayar," teriak sopir taksi.
Sopir taksi itu segera meletakkan mobilnya pada tempat parkiran dan mengejar Ryan masuk ke dalam rumah sakit. Dia juga butuh uang untuk bayar sewa taksi.
Apakah yang terjadi sama Dilla? Kenapa Dilla pusing dan sakit setiba di hotel? Apakah Dilla mabuk perjalanan?
Nantikan jawabannya pada bab selanjutnya ya...
Bersambung....
Apakah kalian pernah melakukan sesuatu hal di saat kalian panik dan semua hal itu menjadi sangat berantakan. Jujur saya sering sekali saat saya panik. Saya sering bersikap ceroboh apalagi jika terburu-buru sehingga banyak barang yang tertinggal dan lupa.
Jadi intinya jika ada masalah dan buru-buru usaha jangan panik ya. Panik malah akan membuat semuanya menjadi berantakan.
Terima kasih telah membaca novel karya saya. Jangan lupa like dan komen serta Vote sebanyak-banyaknya agar novel ini bisa masuk peringkat.
Siapa tau juga kalian beruntung mendapatkan giveaway kecil-kecilan dari saya.
Terima kasih banyak. Salam manis buat sahabat ❤NAD❤.
Saya juga mau merekomendasikan novel yang bagus buat kalian sambil menunggu up selanjutnya.