
"Pak, apa ada mangga muda?" tanya Dilla dan Jelita berbarengan.
Di sana hanya ada mangga yang sudah matang atau yang setengah matang. Tidak ada mangga yang muda.
"Di sini yang ada mangga yang sudah matang," ujar penjual.
"Kira-kira ada tidak Pak di daerah sini yang menjual mangga muda," tanya Jelita.
"Tidak ada yang jual mangga muda di daerah sini Mbak. Buah mangga yang muda biasa rasanya masih asam. Jadi jarang orang yang beli mangga muda."
"Bagaimana ini Dilla?"
"Saya juga tidak tau Mbak. Dilla juga mau ingin makan mangga muda."
"Bagaimana kalau kita cari di tempat lain. Jika kita tidak bisa menuruti ngidam, kita tida bisa tenang," jabar Jelita.
"Mbak ini lagi ngidam ya?" tanya penjual buah yang tadi mendengar obrolan Dilla dan Jelita.
"Iya Pak. Kami berdua lagi hamil, jadi kami ingin makan mangga muda," jawab Jelita.
"Kalau Mbak mau, di rumah saya ada mangga muda, masih di atas pohon. Jika Mbak mau, nanti saya bisa menghubungi istri saya agar mengantar ke sini."
"Yang benar Pak," jawab Dilla dan Jelita barengan.
"Iya."
"Kalau begitu ayo Pak. Kita berangkat sekarang ke rumah Bapak. Kami jadi ingin petik langsung," ajak Jelita.
"Kalau sekarang tidak bisa Mbak. Saya harus jaga toko. Jika Mbak mau ke sana, tunggu Bapak satu jam lagi."
"Kenapa tidak bisa sekarang Pak?"
"Bukannya Bapak tidak mau. Biasanya kami tutup sekitar 1 jam lagi. Sebentar lagi ada pelanggan yang pulang kantor dan ramai pembeli."
"Bagaimana kalau kami tawa sepuluh kali lipat Pak. Anggap saja jatah pembeli sore ini," tawar Jelita.
"Yang bener ini Mbak?"
"Iya Pak."
Penjual itu segera menutup tokonya. Setelah Dilla membeli mangga muda buat Rio dan juga beberapa buahan lainnya.
***
Mereka telah tiba di rumah penjual buah-buahan. Dilla dan Jelita begitu tergiur melihat mangga muda yang masih berada di pohon. Mereka ingin segera buah itu ada di mulut mereka.
"Sebentar ya Mbak. Saya panggilkan istri saya untuk membantu kalian memetik mangga."
Sekitar tujuh menit, istri penjual buah datang dengan membawa galah.
Dilla dan Jelita segera mengikuti ibu itu. Pohon mangga tidak terlalu tinggi, tetapi masih harus menggunakan galah untuk memetik.
"Apa kami boleh ikut memetiknya?" tanya Jelita.
"Iya boleh."
"Apa saya boleh memanjat sendiri Bu?" tanya Dilla.
Dilla sudah lama sekali tidak naik pohon. Sekarang jiwa bar-bar Dilla meronta-ronta ingin naik ke atas pohon. Dilla jadi rindu saat dia di kampung.
"Kamu ini lagi hamil, pamali kalau naik ke atas pohon. Nanti takut terjadi apa-apa sama kandungan kamu."
Dilla mengikuti saran ibu itu. Dilla tidak mau terjadi apa-apa sama kandungan yang ia kandung. Jelita dan Dilla bergantian memetik mangga tersebut.
Dilla baru ingat kembali sama Rio. Untung saja Rio berjongkok tidak jauh dari mereka.
"Rio sayang lagi lihat apa?" tanya Dilla mendekati Rio.
"Liyo lagi liyat ewan lutu Omy," jawab Rio tanpa menoleh ke arah Dilla.
Rio dengan serius menatap hewan yang dimaksud.
"Memangnya Rio lagi lihat apa sih," kata Jelita yang juga mendekati Rio.
"Liyo agi liyat ini Mommy," ujar Rio.
Rio berbalik dan mengangkat hewan itu dengan menggunakan kayu. Hewan itu merayap-rayap di atas kayu.
"Kyaaa…," teriak Jelita dengan ketakutan.
Jelita melempar mangga yang dia pegang dan bersembunyi di belakang Dilla.
"Rio, ayo buang jauh-jauh itu ulat bulu," suruh Dilla.
Dilla ingin mendekati Rio, tapi Jelita sangat erat memegang Dilla. Dilla sebenarnya juga geli sama ulat bulu, tapi sekarang Rio dalam gawat darurat.
"Ayo sayang buang ya," bujuk Dilla.
Rio bukan membuang tapi malah mendekati Dilla dan Jelita. Dilla yang sudah terlalu geli ikut bersembunyi di belakang Jelita. Jelita kembali bersembunyi di belakang dilla. Mereka jadi saking dorong-mendorong.
"Tenapa Omy dan Mommy menali-nali?" tanya Rio salah paham.
"Sayang, buang itu jauh-jauh ya dan jangan dekat-dekat ke sini," kata Dilla memperingati tanpa berniat menjawab pertanyaan Rio.
"Tenapa?" tanya Rio sedih.
"Rio ayo cepat buang. Jika Rio tidak buang nanti… nanti lucu Rio pindah ke ulat bulu. Jika sudah seperti itu Rio jadi kurang lucu bagi Mama," ujar Dilla tidak masuk akal.
Rio segera membuang ulat itu. Rio tidak mau jadi jelek dan Dilla tidak menyukai dia.
"Udah uwang Omy," lapor Rio.
"Bagus," puji Dilla.
Dilla dan Jelita merasa lega. Mereka kembali mengutip mangga dan memasukkan ke kantong plastik. Setelah membayar mereka langsung pulang.
***
Begitu sampai di rumah, Dilla dan Jelita segera mencari pisau dan piring. Dilla dan Jelita berniat ingin mengupas dulu beberapa buah, sehingga nanti mereka bisa makan dengan santai. Mereka juga telah menyiapkan garam yang telah diberikan cabe yang sudah di ulek.
Dilla dan Jelita dengan semangat mengupas mangga. Mereka telah mengupas sekitar tujuh buah yang muda dan dua mangga matang buat Rio, Reza dan Rafa. Mereka bertiga begitu menikmati makan mangga.
"Kalian sedang apa?" tanya Dafa yang baru saja pulang.
Dilla dan Jelita tidak menyadari jika Ryan dan Dafa sudah pulang. Mereka terlalu larut dengan kegiatan mereka.
"Apa kamu tidak lihat jika kami sedang mengupas mangga," sahut Jelita cuek.
Ryan dan Dafa yang melihat mangga juga ingin. Mangga itu begitu menggiurkan bagi mereka. Mereka ikut duduk di sana.
"Hari ini kerja kantor begitu banyak ya?" ujar Dafa.
Comot, kunyah.
"Iya, tadi juga ada klien yang protes," sahut Ryan.
Comot, kunyah.
"Apa klien itu masih saja mengeluhkan tentang harga yang dulu Ryan?"
Ryan dan Dafa terus saja mengobrol sambil comot dan mengunyah mangga yang telah dikupas dan dipotong oleh Jelita dan Dilla. Mereka makan tanpa rem.
Jelita dan Dilla menatap Ryan dan Dafa dengan geram. Mereka sudah capek mengupas dari tadi. Sekarang hasil kupasan dan potongan mereka sudah dinikmati oleh Ryan dan Dafa dengan begitu santai. Mereka makan sudah habis setengah dari yang mereka potong.
"Terus bagaimana dengan perkembangan pembangunan gedung yang baru?"
Ryan dan Dafa kembali ingin mengambil potong mangga.
Plak plak.
Dilla dan Jelita menepuk tangan Ryan dan Dafa dengan keras.
"Kalian kalau mau bahas pekerjaan ya bahas pekerjaan saja. Tangan tolong di kondisikan. Dari tadi main ambil saja. Kami sudah capek mengupas dari tadi. Jika kalian kalau mau makan kupas aja sendiri," kata Jelita sambil menyerahkan pisau.
Jelita segera mengamankan mangga yang telah dikupas. Jelita membawa piring ke ruang sebelah. Dilla juga ikut pergi setelah menyerahkan beberapa mangga buat Dafa dan Ryan.
"Kenapa mereka jadi pelit seperti itu? Kita kan suami mereka," tanya Dafa.
"Mungkin mereka sedang mengidam dan sensitif," sahut Ryan.
"Bisa jadi sih, ibu hamil memang aneh. Hormon mereka berubah-ubah," ucap Dafa.
"Ryan, kami bisa kupas mangga. Aku lagi malas kupas."
"Aku juga lagi malas."
Mereka tidak jadi makan mangga lagi karena sama-sama malas mengupas.
Bersambung….
Rekomendasi novel bagus buat kalian. Novel karya teman saya.