
"AKU BILANG PERGI!" teriak Ryan.
Reza dan Rio yang mendengar teriakan Ryan jadi menangis seketika. Rita langsung mengendong Rio, sedangkan Dilla segera memeluk Reza.
Ryan ingin sekali menjambak rambutnya kalau bisa. Dia sudah janji pada dirinya sendiri agar tidak emosian di depan anak-anaknya. Tapi janji hanyalah janji, baru beberapa jam dia berjanji tapi sudah dia ingkari.
"Sayang kamu bawa Rio aja dulu ke dalam ya. Papa mau bicara sama Ryan dulu. Dilla kamu juga bawa Reza ke dalam ya," perintah Aditya, dia ingin bicara dengan anaknya.
"Baik Om."
Tanpa protes Rita dan Dilla membawa mereka ke dalam. Setelah mereka masuk Aditya memusatkan perhatiannya ke Ryan. Ryan yang di tatap papanya menoleh kepala ke samping, tidak ingin melihat papanya.
"Kamu ini kenapa sih Ryan, baru sebentar Reza dan Rio bisa bersama kamu. Sekarang kamu sudah buat mereka ketakutan begitu," ujar Aditya.
"Ryan tidak bermaksud gitu Pa, Ryan cuma tidak mau dipaksa pergi ke rumah sakit."
"Kejadian itu sudah lebih dari dua tahun Ryan. Kenapa kamu belum bisa move on juga sih."
"Ryan tidak bisa Pa."
"Ryan, ini juga demi kebaikan kamu. Kamu tidak kasihan sama anak-anakmu, terutama Rio, dia butuh kasih sayang orang tuanya. Bahkan kamu lihat sendiri diumurnya yang sekarang Rio masih belum bisa bicara. Dia perlu perhatian ekstra dari kamu Ryan. Mau sampai kapan kamu menyalahkan diri sendiri," Aditya berkata sedih.
Ryan merenungi perkataan Aditya, dia sebenarnya sedih saat tadi melihat keadaan Reza dan Rio. Tapi dia belum bisa melupakan Riana, semua itu salahnya. Jika dia membawa mobil lebih hati-hati maka kejadian itu bisa dihindarkan.
"Em... Ryan, aku pamit dulu ya. Nanti kalau sudah mau berobat, kabari aku lagi. Sekarang aku tidak akan lagi memaksa kamu, semua itu terserah kamu,” pasrah Sultan.
Ryan mengabaikan pamitan Sultan.
"Om saya pulang dulu ya," pamit Sultan selanjutnya pada Aditya.
"Iya hati-hati ya, makasih sudah mau datang ke sini. Jangan bosan datang ke sini."
"Iya Om."
Sultan di rumah ini sudah bagaikan anak sendiri. Sejak sekolah menegah Sultan sering main di rumah Suherman.
"Sekarang lebih baik kita kembali ke dalam. Tidak baik udara petang buat kamu."
Tanpa menunggu jawaban Ryan, Aditya langsung mendorong kursi roda Ryan.
***
Di dalam kamar Rio, Rio dan Reza mereka masih menangis walau tidak sekencang tadi. Dilla dan Rita dengan lembut menenangkan mereka, mengelus bahu kecil mereka. Mereka duduk di atas karpet dengan Rio di pangkuan sang nenek dan Reza duduk di sebelah Dilla.
"Sudah ya sayang jangan menangis lagi."
"Tapi Nek, tadi Papa marah-marah lagi. Tadi siang juga Papa marah-marah," cerita Reza.
Rita yang mendengarnya terkejut, dia melirik ke arah Dilla petanda minta penjelasan.
"Itu Tante, tadi Tuan Ryan marah karena Dilla yang memaksa Tuan keluar," terang Dilla.
"Tapi kenapa kalian bisa keluar bersama dan berada di halaman belakang?" tanya Rita.
Rita tau pasti, jika Ryan diajak keluar jauh-jauh dari kamar maka anaknya yang labil itu pasti akan marah-marah.
"Tuan Ryan mau keluar mungkin melihat ketakutan Rio dan Reza saat Ryan berteriak. Ryan ingin menenangkan mereka dengan cara pasrah diajak keluar Tante."
"Terima kasih ya Dilla."
Rita tau, dengan adanya Dilla di keluarganya ini, ada begitu banyak perubahan yang baik terjadi.
"Terima kasih untuk apa Tante?" tanya Dilla bingung.
"Tante berterima kasih karena kamu bisa ada di sini"
Dilla betul-betul senang ada di sini.
"Kok Reza sama Rio diabaikan sih Nek," rajuk Reza yang sudah berhenti menangis karena diabaikan.
Rio yang semula duduk di atas pangkuan Rita segera berpindah ke pangkuan Dilla. Rita yang melihat tingkah cucunya lekas tersenyum.
"Nah gini dong cucu Nenek. Kan tampan kalau tidak lagi menangis," ujar Rita.
Rita mencubit gemas pipi cucu-Cucunya.
"Sekarang kalian mandi dulu sama Mbak Dilla ya. Nenek mau menemui Kakek kalian. Kalian tenang saja, Papa kalian tadi tidak marah sama kalian. Papa tidak suka saja dipaksa sama Dokter Sultan tadi," setelah berujar Rita langsung keluar.
"Sekarang kalian mandi dulu ya, kalian sudah bau acem nih," kata Dilla dengan menutup hidung.
"Kami masih wangi kok," ngambek Reza.
"Masak sih, mana mana, sini Mbak Dilla cium."
Dilla berpura-pura mengendus mereka berdua.
"Tuh kan bau asem."
Dilla menutup hidungnya kembali.
Reza dan Rio mempout bibir mereka pertanda tidak setuju. Dilla gemas sendiri melihat mereka berdua begini.
"Hahaha... ayo kita mandi dulu."
Mereka bertiga langsung menuju ke kamar mandi. Dilla membantu Reza dan Rio mandi. Mereka dimandikan secara barengan, biar cepat selesai.
Setelah selesai mandi Dilla pergi sebentar ke kamar Reza untuk mengambil baju Reza. Setelahnya dia kembali ke kamar Rio lagi. Dilla memakai baju mereka dengan telaten dan tidak lupa mereka dipakaikan minyak telon dan bedak bayi oleh Dilla.
Sebenarnya Reza menolak tapi Dilla tetap juga memakaikan pada Reza. Kata Dilla kalau pakai bedak jadi tambah tampan, makanya Reza baru mau dipakaikan bedak setelah dipuji Dilla. Kini mereka sudah rapi dan wangi.
***
Rita memasuki kamarnya. Rita melihat suaminya yang mulai membuka jas. Rita segera membantu suaminya membuka jas.
"Pa bagaimana dengan Ryan."
"Ryan masih tidak mau untuk tetapi Ma, Papa tidak tau harus bagaimana lagi."
Rita meletakkan jas suaminya pada sandaran kursi.
"Terus bagaimana dengan Rio dan Reza?"
"Mereka sudah tidak menangis lagi Pa. Tadi ada Dilla juga yang membantu Mama."
"Untung kita ada Dilla saat ini. Dia bisa menjaga cucu kita dengan baik."
"Iya Pa kita sangat beruntung."
Aditya sudah tau bagaimana sifat baby sitter yang dulu merawat Rio. Rita sudah menceritakan semuanya. Aditya merasa sangat marah. Dia yang kakeknya saja tidak pernah memukul anak dan cucunya. Apalagi dia yang hanya seorang baby sitter saja belagu gitu. Jika tidak dihalangi sama Rita dulu, mungkin Aditya sudah memilih jalur hukum dan tidak akan pernah melepaskannya begitu saja.
"Mama juga sangat berterima kasih sama Dilla, walau bagaimana pun, Ryan mau keluar berkat dia juga. Kita yang sudah lama bersama Ryan sangat susah untuk membujuk anak kita itu keluar kamar dari dulu. Ryan mempunyai watak yang keras seperti kakeknya. Mama harap sikap keras kepala Ryan tidak ikut menurun kepada cucu-cucu kita nanti Pa."
"Iya Ma, Papa harap juga begitu, mengurus dua orang yang keras kepala sangat susah. Sudah cukup ada dua yang keras kepala, tidak usah yang lain ikutan," canda Aditya.
"Ah Papa bisa aja."
Bersambung....