Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 82. Pesta part 1



Seperti yang di katanya Jelita tadi pagi, Jelita dengan totalitas mempermak Dilla, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dia menggunakan semua keahliannya di bidang modeling. Dilla memang bukan gadis tercantik tapi dia gadis yang imut dan manis sehingga sangat membantu Jelita dalam merubah penampilan Dilla.


Rio, Reza dan Rafa sekarang sudah tidak ada lagi di rumah. Mereka sudah berhasil diajak Aditya sama Rita jalan jalan membeli mainan. Rio tadi sempat tidak mau ikut tapi setelah di sogok sama makanan dan mainan yang banyak baru mau ikut mereka.


Jam 7 malam Ryan telah sampai di rumah, dia sudah lengkap dengan jas nya yang rapi. Dia sengaja memakai di kantor karena takut telat.


Dilla datang menghampiri Ryan. Ryan yang melihatnya takjub, Dilla sudah berubah menjadi gadis yang sangat cantik atau lebih tepatnya tampak lebih dewasa.


Deg deg deg


Jantung Ryan berdetak kencang, Ryan bisa mendengar suara jantungnya sendiri, dia memegang sebentar dadanya dan berdehem untuk mengusir hal yang tidak tidak.


"Gimana cantikkan," ujar Jelita bangga.


Tidak rugi Jelita bergelut di dunia fashion dan modeling.


"Iya cantik," jawab Ryan spontan.


Ryan segera memalingkan wajahnya, dia tidak sadar telah memuji Dilla. Sekali kali dia melirik Dilla yang menunduk.


Dilla yang mendengarnya tersipu malu. Jelita tersenyum senang, akhirnya bisa membuat Ryan mengatakan ada wanita lain yang cantik selain Riana.


"Sudah sana pergi, nanti kalian bisa telat, aku dengar acaranya cukup jauh," saran Jelita.


"Ah iya ya," jawab Ryan gugup.


Ryan mencoba menenangkan diri. Dia tidak menduga Dilla akan berdandan seperti ini.


"Ayo Dilla," ajak Ryan setelah merasa cukup tenang.


"Semoga sukses ya," bisik Jelita.


"Terima kasih Mbak," balas Dilla berbisik.


Jelita hanya menganggukkan kepala saja. Ryan dan Dilla kini menaiki mobil dan berangkat ke tempat pesta.


***


Setelah menempuh perjalanan lebih dari satu jam mereka sampai ditempat tujuan. Sudah banyak tamu yang sudah datang.


Ryan membuka pintu untuk Dilla. Dilla keluar dengan sedikit gugup. Baru kali ini dia pergi ke pesta yang mewah. Dilla mencengkram gaunnya sangking gugupnya.


Ryan mempersilahkan Dilla menggandeng tangannya. Tapi Dilla tidak paham apa maksud dari Ryan. Ryan segera meraih tangan Dilla supaya bisa menggandeng tangannya sendiri.


"Tuan!" seru Dilla tambah gugup.


Kini Dilla bukan lagi gugup karena datang ke tempat asing. Melainkan karena ulah Ryan.


"Kamu tidak usah gugup, ada aku di sini. Tapi di dalam nanti aku harap kamu mau  memanggil nama aku langsung ya. Karena aku mengajak kamu kesini sebagai pasangan dan bukan pengasuh. Bicaranya juga santai saja, tidak usah terlalu formal," ujar Ryan.


"Tapi Tuan…," kata Dilla.


Ryan menutup mulut Dilla menggunakan jarinya.


"Panggil Ryan saja, atau kalau mau panggil Papa seperti dulu juga boleh," kata Ryan bercanda.


Dilla kembali mencubit gemas Ryan. Kini rasa gugupnya sedikit berkurang.


Mereka mulai memasuki area pesta. Kedatangan mereka disambut banyak orang karena Ryan banyak memiliki partner bisnis. Dilla pusing sendiri melihat Ryan yang menyapa beberapa temannya.


"Ayo kita pergi ke tempat yang punya acara terlebih dahulu," bisik Ryan karena tempat ini lumayan ribut.


"Malam Om, Tante," sapa Ryan.


"Malam juga, oh Nak Ryan ternyata. Mama sama Papanya tidak ikut?" tanya pemilik acara.


"Tidak Tante, soalnya mereka ada kegiatan lain. Mereka sudah merencanakan sejak dulu. Jadi sebagai gantinya Ryan yang mewakili.


Dilla segera memberikan senyuman terbaik. Dia tidak mau mencoreng muka Ryan.


"Perkenalkan ini Dilla Tante, pasangan Ryan malam ini," kata Ryan memperkenalkan Dilla.


"Malam Om dan Tante," sapa Dilla.


"Ya ampun, cantik dan juga sangat sopan sekali. Apa ini calon istri baru mu?"


Dilla dan ryan saling menatap sebentar.


"Bukan Tante, Tante jangan salah paham, karena malam ini harus datang berpasangan makanya Ryan mengajak Dilla pergi," ujar Ryan menjelaskan situasi.


"Kamu masih single Nak?" tanya Tante itu sama Dilla.


"Iya Tante," jawab Dilla sambil menganggukan kepala kecik.


Dilla tidak enak jika tidak menjawab.


"Tuh Ryan dia masih single, cantik lagi. Masak kamu tidak tertarik. Coba aja ada anak Tante yang masih lajang pasti akan tante jodohin."


Dilla tetap memasangkan senyumnya mendengar perkataan Ibu Ibu itu. Sedangkan Ryan hanya melihat Dilla sekejap baru kemudian melihat ke arah Ibu itu lagi.


"Nanti saya pikirkan lagi Tante," jawab Ryan.


Ryan tidak mau merusak suasana ini dengan menyebutkan nama orang yang sudah meninggal. Dia hanya memberikan  jawaban yang klise.


"Kamu ini gimana sih, udah di depan mata tapi masih nanti nanti. Ditikung sama yang lain baru tau rasa, sekarangkan lagi musim menikung." 


"Sudah lah Ma, biar mereka menikmati pestanya. Mama masih saja suka menjodohkan orang," tegur suaminya.


"Aduh Papa ini. Anak jaman sekarang gengsinya itu gede, segede langit. Kalau tidak dijodohkan bisa musnah populasi kita," jawabnya tidak terima.


"Iya iya Ma iya, kalian sebaiknya silahkan cicip hidangan yang ada ya." 


Dia tidak mau istrinya ini ikut campur urusan orang lain. Cukup anaknya yang sudah jadi korban walaupun hasilnya bagus.


Ryan dan Dilla segera pergi dari sana. Mereka juga sudah lapar. Dilla segera mengambil beberapa makanan yang kelihatan enak, tadi Ryan pamit sebentar ke kamar mandi sebentar.


"Dilla," sapa Daniel.


Daniel sengaja menghampiri Dilla saat melihat Dilla yang sedang makan makanan yang di saikan di atas meja.


"Tuan Daniel," sahut Dilla.


"Jangan panggil Tuan Daniel, panggil Daniel aja, kita sedang berada di acara pesta dan saya juga bukan majikan kamu" ujar daniel terkekeh.


"Baik, emm Daniel," kata Dilla sedikit sungkan.


"Kamu datang ke sini  siapa?" tanya Daniel.


"Saya datang kesini sama…." 


'Tidak mungkinkan Dilla bilang pergi Tuan, tadi Tuan bilang panggil namanya aja,' batin Dilla.


"Sama Ryan, Daniel " sambung Dilla.


"Oh datang sama Ryan, saya hampir lupa kalau kamu ini istrinya Ryan," kata Daniel sedikit kecewa.


Dilla tidak tau kenapa Daniel bicara dengan nada kecewa begitu. Dilla memilih tersenyum dan diam saja. Dan tidak mau meluruskan kesalahpahaman yang dulu.


"Jadi kamu ya yang suka menggoda suami saya, dasar perempuan tidak tau malu kamu, beraninya menggoda laki orang," tiba tiba datang seorang perempuan dan menghina Dilla.


Perempuan itu juga mendorong Dilla dengan keras, untung saja Dilla bisa menahan dorongan itu dan tidak terjatuh. Dilla memegang pada pinggiran meja makanan, tapi sayang makanan yang ada di tangannya terjatuh sehingga menimbulkan keributan dan kegaduhan.


Bersambung....