Nanny And Duda

Nanny And Duda
S2 Bab 198. Perpisahan part 2



"Ma tita mau te mana?" tanya Lala yang belum paham. 


"Kita mau pulang sayang," jawab Bella. 


"Uyang?" tanya Lala lagi.


"Iya sayang. Kita akan pulang ke rumah Daddy dan abang Sam," sahut Daniel. 


"Lala ndak mau uyang Addy, Ma," ujar Lala tidak terima. 


Lala tidak rela berpisah sama Rio. Lala masih ingin bermain bersama Rio. Jika pulang Lala yakin tidak ada kawan bermain lagi. Main bersama Sam kurang menyenangkan bagi Lala.


"Kenapa Lala?"


"Lala macih mau belma-in cama Mais Liyo Ma," ujar Lala sambil melepaskan tangannya pada Bella. 


Lala berlari ke arah Rio. Lala memeluk lengan Rio dengan erat. Lala tidak mau berpisah sama Rio.


"Lala sayang, besok Lala bisa bermain lagi sama Rio," ujar Bella membujuk Lala.


"Lala ndak mau uyang. Lala mau cama Mais Liyo," tolak Lala.


"Lala jangan begitu. Jika Lala terlalu sering sama Rio nanti tidak mau main sama Lala lagi," bujuk Bella lagi.


Lala yang mendengar perkataan mama nya segera melihat ke arah Rio. Lala tidak mau jika Rio tidak mau main bersama Lala lagi.


"Mais Liyo mau tan belma-in cama Lala telus?" tanya Lala penuh harap.


Rio malah melirik ke arah Dilla dan Bella berkali-kali. Kemudian pandangan Rio berfokus pada Dilla. Rio tahu jika Dilla ingin mengatakan jika Lala harus pulang dulu.


"Liyo ndak mau belmain agi cama Lala," kata Rio sambil melepaskan tangan Lala pada dengannya. 


"Tenapa?" tanya Lala sedih dan kecewa.


Mereka semua yang menyimak obrolan dua anak kecil seperti melihat sepasang kekasih yang bertengkar. Dimana sang cewek tidak mau berpisah sedetikpun.


"Liyo ndak mau belmain cama anak natal," sahut Rio.


"Lala ndak natal Mais Liyo," bantah Lala tidak terima. 


"Lala natal. Lala ndak mau nulut cama Mama. Lala ndak mau denal tata Mama," ujar Rio 


Lala cemberut mendengar perkataan Rio. Lala masih mau bermain, jika Lala menurut maka Lala sama saja tidak bisa bermain sama Rio lagi. Tetapi jika Lala memaksa ingin bermain sama Rio, maka Rio juga tidak mau lagi bermain sama dia. Lala jadi bingung antara memilih pulang atau tetap nekat minta bermain bersama Rio. 


"Talau Lala macih di cini, Mais Liyo ndak cuta cama Lala?" tanya Lala hati-hati.


"Liyo butan ndak cuta cama Lala. Api Liyo ndak cuta cama anak natal," ralat Rio.


Bibir Lala bergetar ingin menangis. Mau pilih yang mana sama aja bagi Lala.


"Lala, dengarkan perkataan Rio. Nanti Lala bisa bermain lagi sini. Jika Lala tidak nurut nanti Rio tidak mau main lagi sama Lala lho," kata Dilla. 


"Oteh. Lala uyang," sahut Lala lesu kepada Dila.


Lala mendekat ke arah Rio. Lala mau berpamitan pulang sama Rio.


"Lala atan uyang ya Mais Liyo. Anti tita ma-in agi ya Mais Liyo," kata Lala meraih tangan kiri Rio penuh harap.


"...."


"Pasti Rio akan bermain dengan lagi. Iya kan Rio?" tanya Rio memotong pembicaraan Rio.


"Iya Omy," jawab Rio.


Lala tersenyum mendengar jawaban Rio. Kemudian Lala menatap ke arah Dilla.


"Maacih Ante," ucap Lala senang.


"Sama-sama sayang," sahut Dilla.


Akhirnya Lala mau diajak pulang. Setelah berpamitan lagi mereka keluar dari dalam rumah. Dilla dan lainnya mengantar mereka sampai depan rumah.


Bella, Daniel, Sam dan Lala sudah ada di dalam mobil. Lala duduk di pinggir jendela. Lala terus menatap Rio sampai mobil itu menjauh dari kediaman suherman.


***


Dilla menata barang yang sudah dibeli tadi siang di lemari penyimpanan kamar mereka. Selain ada di kamar mereka, ada juga barang untuk calon anak Dilla di kamar Rio, Reza dan juga ruang bermain. Kebanyakan barang yang dibeli adalah pilihan Rio.


Rio pasti akan membeli sesuatu yang menarik bagi dia untuk calon adiknya. Rio bahkan sudah jarang minta dibelikan mainan. Rio hanya mencari mainan buat adiknya.


Dilla menatap banyak barang yang belum dimasukkan ke dalam lemari. Barang-barang itu tidak muat lagi di dalam lemari mereka. Dilla juga sudah terlalu lelah untuk ke kamar Rio atau Reza. 


"Sayang, apa yang kamu lakukan di sina?" tanya Ryan mendekati Dilla.


"Ini sudah malam sayang. Kamu bisa menyelesaikannya besok," kata Ryan.


"Tanggung Mas," ujar Dilla.


"Sayang, kamu jangan berjongkok lagi di dekat lemari. Sini Mas bantu kamu bangun. Pasti capek jongkok di sana," ujar Ryan.


Ryan membantu Dilla berdiri. Ryan tidak mau Dilla oleng saat bangun.


"Sudah sini Mas bantu," pinta Ryan.


"Sudah Dilla rapikan Mas. Ini barang sisa yang tidak muat di dalam lemari Mas. Anak kita belum lahir tapi barangnya sudah banyak seperti ini."


"Kamu jangan mengeluh sama Mas sayang. Itu barang pasti Rio yang minta kan?" tanya Ryan.


"Iya Mas. Rio yang minta. Padahal Dilla mau beli buat Lala tapi Rio mau dibelikan untuk adiknya."


"Mas beneran angkat tangan sama anak kita yang satu itu."


"Mas ini ihh," sahut Dilla mencubit pinggang Ryan kecil.


"Mas, apa barang-barang yang sudah banyak ini perlu kita menyiapkan kamar. Kita bisa meletakkan disebuah kamar. Biar kita mudah mengumpulkan semuanya nanti," saran Dilla.


"Bagus juga ide kamu sayang. Kita bisa gunakan kamar yang ada di samping kamar anak-anak." 


"Bukannya ruangan itu tempat penyimpanan barang ya Mas?"


"Kita bisa memindahkan barang-barang tersebut ke tempat lain. Ruangan itu cukup luas dan memiliki banyak jendela. Kalau anak kita sudah besar, itu bisa menjadi kamar dia sendiri."


"Boleh juga saran Mas," sahut Dila.


"Saatnya kamu tidur. Ini sudah malam," ujar Ryan.


Ryan membimbing dilla berjalan ke arah kasur. Ryan membantu Dilla naik ke atas kasur. Setelah itu baru Ryan juga ikut naik ke atas kasur. Ryan membawa Dilla ke dalam pelukannya. Tangan Ryan mulai mengusap perut Dilla.


"Bagaimana dengan keadaan anak kita sayang?" 


"Dia baik Mas. Sama seperti Mama nya," sahut Dilla.


"Benarkah?" cuman Ryan.


Ryan meletakkan kepalanya pada perut Dilla. Saat kepala Ryan berada di atas perut Dilla, Ryan bisa merasakan gerakan bayi dalam perut Dilla. Beberapa kali anak mereka bergerak. Dilla juga ikutan geli. 


"Sayang, anak kita tahu jika Papa nya sedang ingin memeluknya," kata Dilla mengelus kepala Ryan lembut. 


"Tentu sayang. Anak kita tahu mana Papa nya. Apalagi punya Papa yang keren seperti ini," kata Ryan percaya diri.


"Mas bisa saja."


"Nanti anak kita ini mau kasih nama siapa ya. Mas mau memilih nama yang keren," ucap Ryan bersemangat.


"Sebaiknya Mas tidak usah mencari nama ya," sahut Dilla.


"Kenapa sayang? Apa kamu sudah ada nama buat anak kita?" tanya Ryan.


"Bukan Mas."


"Terus?"


"Mas seperti tidak tahu Rio saja. Rio pasti yang akan menamai anak kita nanti, " sahut Dilla.


"Sayang, Mas heran sama Rio. Selalu nomor satu buat adiknya. Bahkan kamu saja kalah dimata Rio sekarang. Belum ada aja sudah merebut semua hak atas nama adiknya. Mas hanya kebagian menanam saham saja."


"Nama aja anak-anak Mas. Apalagi Rio sendiri yang minta adik perempuan."


"Kalau begitu, setelah anak ini lahir mas mau anak laki-laki," pinta Ryan.


"Mas jangan macam."


"Iya sayang."


"Ayo tidur Mas, Dilla sudah capek," ujar Dilla sambil menguap.


"Iya sayang. Ayo kita tidur."


Bersambung....


Rekomendasi novel buat kalian dari author lainnya yang juga tidak kalah seru. Novelnya sangat keren dan bagus sambil kalian menunggu up saya selanjutnya.