
"Tapi kenapa mereka bisa menyusul ke sini?" tanya Marni.
"Dilla juga tidak tahu Bisa," jawab Dilla.
"Mereka bertiga pasti sangat rindu sama kamu Dilla. Makanya mereka menyusul ke sini," sahut Danang.
"Terus bagaimana dengan kelanjutan pernikahan ini?" tanya Wulan tidak terima.
"Bu, biarkan Danang dan Dilla berbicara berdua dulu," tegur Yanto.
"Saya setuju sama usulan Pak Yanto. Kita berikan waktu buat mereka berdua, karena mereka berdua yang berhak memutuskannya," sahut Abdul membenarkan perkataan Pak Yanto.
"Tapi lebih baik kami membicarakannya besok saja, karena hari ini biarkan kami merenung kembali," putus Danang.
"Tapi Danang," bantah Wulan lagi.
Wulan tidak terima jika mereka gagal menikah. Wulan sudah terlalu suka dan cocok dengan Dilla. Dia ingin hanya ingin Dilla menjadi menantunya.
"Ibu, sabar Bu," kata Yanto.
"Bu, pernikahan itu tidak bisa dipaksa. Lebih baik kita pulang sekarang. Dillla kamu istirahat saja. Besok Bang Danang akan datang ke sini lagi. Kamu juga pikirkan apa keinginan dan keputusan kami. Abang akan menerima apapun keputusan kamu. Tapi ingat kamu jangan mengambil keputusan karena kamu merasa sungkan sama keluarga Abang," ujar Danang.
Dilla tersentuh mendengar perkataan Danang. Danang adalah lelaki yang sangat baik. Dilla semakin merasa bersalah sama Danang dan keluarganya.
"Lebih baik kamu menemani mereka bertiga. Mereka pasti sudah menunggu kamu dari tadi," ujar danang Danang.
Danang beserta Ayah dan Ibunya segera meninggalkan tempat itu setelah berpamitan. Dilla masih bisa mendengar suara protes Wulan yang tidak Terima dengan keputusan anaknya itu.
"Semua keputusan ada ditangan kamu Nak, Paman harap kamu bisa memilih masa depan kamu sendiri dengan baik," kata Abdul.
Abdul menepuk bahu Dilla sebentar, setelah itu dia pergi ke kamarnya.
"Sekarang kamu pikirkan lagi ya Nak, kamu juga harus menemui mereka bertiga terlebih dahulu," ujar Marni.
Marni juga menyusul sang suami.
Dilla segera memasuki kamarnya, dia berganti pakaian dengan baju biasa. Setelah itu Dilla menuju ke kamar Budi dan Yudi, karena mereka bertiga ada di kamar Budi dan Yudi. Dilla membukakan pintu, ternyata mereka bertiga sudah bisa berteman baik dengan kedua adik-adiknya. Dilla senang melihat hubungan baik mereka.
"Omy," teriak Rio yang melihat Dilla membukakan pintu.
"Bagaimana, apa yang kalian bahas?" tanya Dilla basa basi.
"Kami lagi cerita tentang kampung Mommy, ternyata kampung Mommy sangat keren," sahut Reza.
"Iya Omy, Liyo uga mau te cawah," sambung Rio.
"Besok kita jalan-jalannya ya," kata Dilla.
"Holeee."
"Horeee."
Teriak mereka bertiga senang.
"Sekarang katakan, kenapa kalian bertiga bisa ada di sini?" tanya Dilla.
"Liyo angen Omy," jawab Rio polos.
Dilla menepuk jidatnya. Dia padahal sudah menanyakan hal itu dan tau juga jawabannya.
"Baikah, sekarang katakan sama Mommy kalian pergi dengan siapa?" tanya Dila lagi.
Mereka bertiga hanya bisa tersenyum lebar tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Kenapa kalian tersenyum begitu?" tanya Dilla lagi.
Mereka masih diam dengan tersenyum lebar. Tiba-tiba Dilla melihat mereka dengan tatapan horror.
"Jangan bilang kalian bertiga hanya pergi bertiga?" tanya Dilla tidak percaya.
"Omy intel deh," puji Rio bangga.
Dilla masih shock berat, Dilla tidak menyangka bahwa mereka nekat menyusul dia ke kampung halaman. Mereka hanya anak yang berumur 7 dan 3 tahun.
"RIO, REZA, RAFA," teriak Dilla keras.
Mereka bertiga kaget dengan teriakan Dilla. Mereka tidak pernah melihat Dilla berteriak seperti itu. Sedangkan Yudi dan Budi mereka telah terbiasa dengan sikap bar-bar Dilla.
Marni dan Abdul yang menderita teriak Dilla segera mendekati Dilla. Dilla hampir terjatuh karena terlalu lemas, Abdul yang ada di belakang segera menopang tubuh Dilla dan mendudukkan Dilla di kursi. Mereka berlima juga keluar dari kamar.
"Ada apa Dilla, kenapa kamu teriak-teriak, sudah lama Bibi tidak mendengar teriakan kamu. Bibi jadi kangen," ujar Marni.
Dilla menatap Bibinya datar, dia tidak habis pikir, dari semua sifat Dilla kenapa Bibinya malah kangen sama teriakan Dilla.
"Kenapa kamu berteriak Dilla?" tanya Abdul kembali.
"Bagaimana Dilla tidak berteriak Paman. Paman tau, jika mereka bertiga menyusul Dilla kesini hanya mereka bertiga tanpa pengawasan orang dewasa. Bagaimana jika terjadi sesuatu sama mereka Paman," ujar Dilla menggebu-gebu.
"Kenapa kalian bertiga melakukan hal yang senekat ini. Kalian tau bahaya apa saja yang bisa menimpa kalian?" tanya Dilla yang sudah mendapatkan kekuatannya kembali.
"Kami sangat merindukan Mommy, makanya kami mau menyusul Mommy ke sini," sahut Reza.
"Liyo uga angen cama Omy, Omy Egi nya lama," sambung Rio.
Dilla merasa terharu dengan jawaban mereka.
"Tapi tetap saja apa yang kalian lakukan adalah salah. Bagaimana jika nanti kalian diculik atau kalian kesasar."
"Mommy tenang saja, kami ini anak yang pintar," ucap Reza bangga.
"Iya Mbak, masalah pergi begini kami tidak takut," sambung Rafa.
'Bukan kalian yang takut, tapi orang lain yang akan olahraga jantung.'
Dilla menghela nafas, mereka bertiga berhasil membuat Dilla menua lebih cepat.
"Bagaimana kalian bisa tahu rumah Mommy?"
"Apa Mommy lupa jika Mommy dulu pernah menunjukkan jalan ke sini. Mommy yang menggambarkan langsung petanya," ujar Reza sambil menyerahkan peta yang dia maksud.
Dilla mengambil peta itu dengan tangan gemetar. Dilla menepuk jidatnya dia tidak menyangka peta yang pernah dia gambarkan dulu akan membawa mereka ke sini. Dilla tidak tau harus bersyukur atau merasa bersalah.
"Terus kenapa kepala Rio bisa terluka?"
"Rio terjatuh dari tangga Mbak Dilla. Saat itu Rio bertengkar sama Papa, Rio kemudian kepeleset di tangga," terang Rafa.
"Kenapa Rio bertengkar dengan Papa sayang?"
"Papa ahat cama Liyo Omy, Papa ilang talau Omy ndak tan alik-alik agi," jawab Rio sedih.
Dilla menggangukan kepalanya.
"Apa kalian pergi kesini ada pamit sama yang lainnya?"
Dilla masih banyak stok pertanyaan buat mereka bertiga.
Mereka bertiga menggelengkan kepala. Dilla kembali menatap mereka horror. Dilla shock babak kedua.
"Kalau kami pamitan pasti mereka akan melarang kami pergi Mommy," jawab Reza.
Dilla bisa menerima jawaban mereka tapi tidak dengan tindakan mereka bertiga.
"Bi, apa Dilla boleh minta HP Dilla, Dilla mau menghubungi keluarga mereka. Pasti saat ini mereka sedang khawatir," kata Dilla.
"Sebentar ya, biar Bibi ambilkan dulu."
Marni segera mengambil HP dan menyerahkan pada Dilla. Dilla melihat begitu banyak pesan dan ratusan panggilan tak terjawab. HP Dilla dalam mode diam saat diberikan kepada Bibinya.
HP Dilla kembali berbunyi, panggilan itu berasal dari Jelita. Dilla segera mengangkat panggilan tersebut.
"Hal…."
Ucapan Dilla terpotong sama ucapan Jelita.
"Syukurlah kamu mengangkat teleponnya Dilla. Maaf jika Mbak mengganggu. Apa Rio, Reza dan Rafa ada bersama kamu. Reza dan Rafa membawa kabur Rio dari rumah sakit," ujar Jelita.
Dilla melihat ke arah mereka bertiga sebelum menjawab pertanyaan Jelita. Dilla yakin seribu persen jika keluarga Suherman sedang heboh saat ini karena mereka telah kehilangan ketiga cucu mereka.
"Mbak Jelita tenaga dulu, mereka bertiga telah sampai di sini dengan selamat," kata Dilla.
"Jadi mereka benar ada disana."
"Iya Mbak, mereka juga dalam keadaan baik baik saja" sahut Dilla.
"Syukurlah, kami sangat cemas sama mereka. Apa kamu bisa mengirimkan alamat rumah kamu, kami tidak tau rumah kamu ada di mana?"
"Baik Mbak, nanti akan Dilla kirimkan."
Dilla memutuskan sambungan telepon. Dilla menatap mereka bertiga dengan tatapan tajam. Yudi dan Budi yang sudah tau akan kebiasaan Dilla segera menutup kuping mereka. Marni dan Abdul juga ikut menutup telinga mereka.
"Kalian tau apa kesalahan kalian, kalian membuat semua orang khawatir. Apa kalian tidak pernah berpikir dulu apa yang kalian lakukan. Yang kalian lakukan ini bisa…."
"Kalian sebaiknya menutupi telinga kalian jika kalian tidak mau telinga kalian sakit," bisik Budi.
Mereka bertiga mengikuti saran Budi. Mereka belum pernah melihat Dilla daman mode cerewet seperti ini.
"Bagaimana jika hal buruk terjadi sama kalian, bla bla bla."
Siang hari itu trio R baru tau jika Dilla dalam mode marah bisa secerewet itu.
Bersambung….