
Setelah Dilla menenangkan diri dari rasa takut, Ryan segera mengajak mereka pulang karena sudah malam. Tapi mereka tidak ingin pulang dulu dan hasil kesepakatan mereka adalah mereka akan naik kincir angin untuk permainan terakhir setelah itu mereka akan pulang.
Reza, Rafa dan Rio segera masuk pada giliran mereka. Saat Dilla mau masuk dia hampir terjatuh, Ryan segera merangkul pinggang Dilla.
"Kamu tidak apa?" tanya Ryan.
"Tidak apa apa," sahut Dilla.
Dilla segera melepaskan tangan Ryan dan duduk di dekat anak anak. Dilla tidak mau Ryan mendengat detak jantungnya. Ryan yang melihat Dilla segera bangkit, Ryan yakin bahwa Dilla baik baik saja.
Kincir angin mulai berputar dengan pelan pelan. Rio duduk di pangkuan Dilla, Reza dan Rafa duduk di sisi Dilla.
"Kenapa kalian tidak mau duduk di samping Papa?" tanya Ryan.
"Mau duduk di samping mommy," jawab Reza.
"Iya," sambung Rafa dan Rio.
Ryan hanya menghela nafas. Apa dia belum cukup membuat mereka memperhatikannya lebih sedikit.
Pada putaran ke dua, ketiga bocah itu sudah tertidur menyender pada Dilla. Mereka sudah pada batasnya.
Ryan segera mengambil HP dan mengabdikan momen ini.
"Apa yang Tuan lakukan," seru Dilla.
Dilla malu diambil foto sama Ryan.
"Kenapa panggil Tuan lagi, bukannya Papa," ujar Ryan.
"Mereka semua sudah tidur Tuan, jadi tidak apa jika Dilla memanggil Tuan dengan Taun lagi."
Ryan melihat foto itu, di foto itu Dilla terlihat sangat keibuan sekali. Dilla melihat ke arah Rio sembil mencium kening Rio.
"Tuan tolong di hapus fotonya."
"Kenapa harus dihapus, foto ini sangat bagus, coba kamu lihat."
Dilla melihat foto itu, fotonya memang sangat bagus dengan latar belakang yang menampakkan suasana taman bermain saat malam. Banyak lampu yang menyala.
"Foto ini akan saya tunjukan pada mereka besok, mereka pasti senang," kata Ryan.
Dilla tidak meminta foto itu di hapus lagi. Karena anak anak pasti akan suka sama foto itu
Dilla kembali menenangkan Rio yang mulai terusik. Dilla mengusap bahu Rio pelan, agar Rio tenang kembali.
Ryan memperhatikan apa yang Dilla lakukan. Ryan sangat kagum dengan Dilla. Diusianya masih muda, Dilla sudah memiliki sifat keibuan yang besar.
"Kenapa Tuan menatap Dilla begitu?" tanya Dilla.
Dilla merasa malu ditatap begitu serius sama Ryan.
"Siapa pun yang akan menjadi suamimu nanti, pasti dia lelaki paling beruntung kelak. Walaupun tadi saya sudah katakan sekali, saya ingin mengatakan sekali lagi. Kamu memiliki sifat keibuan yang sangat besar, saat kamu menikah nanti pasti rumah tangga kalian akan terasa hangat," ujar Ryan serius.
Dilla sangat tersipu mendengar pernyataan Ryan. Hati Dilla bagaikan sedang diterbangkan. Untung saja sudah malam sehingga Ryan tidak melihat wajahnya.
"Aku harap kamu bisa menikahi laki laki yang baik, yang bisa membimbing kamu."
"Tuan...," Seru Dilla yang semakin memerah.
"Kenapa?" tanya Ryanryan balik.
"Tuan jangan menjaili Dilla lagi dong," cicit Dilla dengan suara lemah.
Dilla tidak tau kenapa Tuannya berkata begitu, Dilla beranggapan jika Tuannya sedang menggodanya lagi.
"Dilla bagaimana lelaki tipe kamu," sambung Ryan lagi.
Dilla melihat Tuannya dengan malu malu.
"Yang penting orangnya baik," jawab Dilla seadanya.
"Hanya itu saja? apa tidak ada yang lebih spesifik."
Dilla menggelengkan kepalanya.
"Kalau begitu aku juga termasuk dong, kan saya orang baik."
"Tuan...."
"Maaf maaf, saya hanya bercanda saja. Kalau memang seperti itu saja pilihan kamu saya harap kamu bisa segera menemukannya."
"Asalkan saja kamu jangan jatuh cinta sama orang seperti saya, saya ini lebih tua sama kamu. Lagian saya sangat mencintai Riana, almarhumah istri saya. Saya tidak berniat menggantikan dia di hati saya," sambung Ryan bercanda.
Ryan terkekeh sendiri memikirkan jika Dilla suka sama dia. Boleh dong dia pede jika Dilla bisa saja suka sama orang seperti dia. Walaupun mereka beda usia Ryan juga masih bagi merayu.
Dilla yang mendengar ucapan terakhir Ryan seakan hatinya tercubit. Hatinya terasa sangat sakit dan tertusuk. Padahal Dilla tidak mau jatuh cinta sama Tuannya. Tapi sepertinya hatinya tidak bisa dikendalikan. Dilla yakin jika Dilla sudah terlanjur jatuh cinta sama Tuannya, jika tidak mana mungkin hatinya sesakit ini.
Tanpa Ryan sadari, Dilla meneteskan air mata. Dilla menyesali hatinya yang sudah terlanjur menyukai Tuannya. Padahal Dilla belum sepenuhnya yakin jika dia menyukai Tuannya. Tapi cintanya sudah terlanjur bertepuk sebelah tangan.
Mana mungkin Dilla bisa bersanding dengan Ryan. Ryan adalah Tuannya, mereka beda status dan juga usia, tapi yang paling penting adalah Tuannya masih sangat mencintai mendiang istrinya dan tidak berniat melupakannya.
Dilla segera menghapus air matanya tanpa sepengetahuan Ryan. Dilla kini tau bagaimana rasanya sakit saat ditolak sebelum dia menyadari sepenuhnya jika dia mencintainya. Dilla merasa menjadi orang paling bodoh.
Tiba tiba kembang api menyala pas mereka ada di puncak. Kembang apa itu berada di belakang Dilla. Ryan melihatnya begitu indah, saat sedang menggangumi kembang api yang begitu indah Ryan seperti melihat sosok Riana di belakang tubuh Dilla sambil menggelang.
"Riana," ujar Ryan pelan.
Sosok itu segera menghilang. Ryan segera mengedipkan matanya, tapi sosok itu tidak ada lagi.
'Apa tadi hanya ilusi saja karena aku sangat merindukan Riana.'
Walaupun Ryan berkata pelan tapi Dilla bisa mendengarnya dengan jelas. Dilla yang tadi sudah bisa sedikit menenangkan hatinya kini hatinya kembali berdenyut lebih sakit. Air mata Dilla keluar kembali, Dilla menunduk dalam agar Ryan tidak melihatnya.
'Ya ampun Dilla, apa yang kamu harapkan, dia sama kamu itu sangat berbeda, dia sudah ada seseorang di hatinya. Lagian kamu ini orang miskin mana pantas mencintai Tuanmu yang tidak sederajat sama kamu.'
Kincir angin itu telah berhenti. Dilla segera menghapus bekas air matanya lagi saat ryan melihat ke arah lain.
"Dilla biar aku yang bawa Reza dan Rio ya, kamu bawa Rafa saja," saran Ryan.
Dilla tanpa menjawab langsung menyerahkan Rio dan mengendong Rafa. Mereka segera menuju ke tempat parkiran dalam keadaan diam.
Saat sampai di mobil pun Dilla memilih bungkam. Untuk saat ini Dilla tidak mau berbicara sama Tuannya, takutnya hati dia semakin sakit.
"Dilla kamu baik baik saja," ujar Ryan yang melihat Dilla menjadi pendiam.
Biasanya Dilla akan balas menjailinya balik saat Ryan menggoda atau mengerjain Dilla.
Dilla hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.
"Kalau tidak apa apa sekarang kita berangkat pulang."
Mereka pulang dengan membawa luka di hati Dilla. Dilla tidak menyangka jika kepergiannya hari ini bisa membuat dia terluka. Jika dia akan tau, maka dia memilih tidak ikut saat Reza dan Rio memaksanya ikut.
Tapi apa boleh buat, jika semuanya sudah terlanjur. Tidak mungkin bubur bisa diubah menjadi nasi kembali. Setidaknya dia tidak akan mencoba membuka hatinya lagi buat Tuannya. Biarkan tempat ini menjadi saksi bisu. Dilla akan mengguburkan cinta itu di sini untuk selamanya.
Bersambung....