
Setelah pegawai itu pergi Dilla melihat ke arah Rio yang masih mengunyah coklat terakhir dengan santai di lantai.
"Rio apa yang Rio lakukan?" tanya Dilla.
"Agi matan otat omy" jawab Rio polos.
Dilla rasanya pengen sekali gigit pipi temben Rio sangking kesal karena kepolosan yang Rio miliki.
"Maksud mommy tadi kan Rio sudah janji, hanya beli satu buat di bawa pulang"
"Iya Liyo anji"
"Tapi kenapa Rio sekarang malah makan banyak coklat di sini?" tanya dilla lagi.
"Tan omy ilang bawa ulang atu, adi Liyo mau matan banaak di cini" terang Rio.
Dilla makin tambah greget mendengar jawaban Rio. Ini tidak salah Rio sepenuh nya, karena yang di katakan Rio ada betulnya juga. Tetap saja Dilla tidak boleh membiarkannya begitu saja.
'Ternyata sepandai pandainya Reza dan Rafa maka lebih pandai Rio lagi'
"Tapi dek Rio, coklat itu kan belum di beli, jadi Rio nggak boleh makan dulu sebelum bayar" terang Reza.
"Iya, kalau kita makan tanpa bayar itu namanya mencuri, kalau mencuri nanti tangannya bisa di potong lho" tambah Rafa.
"Huwaaa Liyo ndak mau angan liyo di otong omy, Liyo calah, Liyo calah" Rio kini menagis ketakutan mendengar perkataan Rafa.
Dilla tau maksud dari Reza dan Rafa baik untuk mengajarkan Rio tapi Rio malah menangis karena tangannya takut di potong benaran.
"Sudah sudah jangan menangis lagi"
"Liyo ndak mau angan Liyo di otong omy, ndak mau" Rio merengek.
"Iya iya, tangan Rio nggak akan di potong"
"Benelan omy" tanya Rio untuk memastikan.
Dilla menghapus air mata Rio. Dilla nggak tega melihatnya.
"Iya, tapi lain kali Rio nggak boleh begini lagi ya, dengarkan apa yang di katakan sama abang Reza dan Rafa tadi, nggak boleh makan dulu sebelum bayar, itu bukan punya kita kalau kita belum membayarnya"
Rio menganggukkan kepala nya dengan cepat.
"Untuk kali ini biar mommy yang bayarkan, sehingga tangan Rio tidak jadi di potong, lain kali mommy nggak mau bantu Rio lagi, karena Rio nakal"
"Liyo anji ndak atan natal lagi"
"Ya sudah, sekarang kita ke kamar mandi dulu buat bersihkan Rio yang sudah berlepotan terkena coklat, baru setelah itu kita bayar dan pulang"
"Baik mommy"
"Oteh omy"
Untung saja Dilla di berikan wewenang untuk memegang salah satu kartu kredit, jika Dilla perlu untuk membeli sesuatu keperluan mereka bertiga, sehingga Dilla tidak mengalami kebangkrutan mendadak.
Setelah membersihkan Rio dari sisa sisa coklat kini mereka mengantri di kasir. Dilla lebih memilih mengendong Rio dari pada nanti Rio berbuat ulah lagi. Reza dan Rafa juga ikut mengantri di samping kiri dan kanan Dilla.
"Ih lucunya" seorang ibu ibu yang ikut mengantri memegang pipi Rio dan sedikit mencubit gemas.
Rio menepis tangan ibu ibu itu tidak suka. Rio nggak suka jika ada orang asing yang suka pegang pegang pipi Rio apalagi mencubit nya.
"Ini anaknya ibu ya, lucu dan imut imut ya?" tanya ibu tersebut.
"Ah itu...." Dilla mau menjawab tapi di potong sama Reza, Rio dan Rafa.
"Iya ini mommy nya Rafa" Rafa memeluk Dilla dari arah kiri.
"Mommy nya Reza juga" Reza memeluk dari sebelah kanan
"Omy nya Liyo" Rio juga ikut memeluk leher dilla.
"Aduh beruntungnya jadi ibu, punya tiga orang anak yang lucu lucu begini" puji ibu itu.
"Kami yang beruntung, iya kan mommy" jawab Reza dan Rafa barengan menunggu respon Dilla.
"Iya, mommy juga beruntung punya kalian bertiga"
"Selain ibu beruntung punya mereka bertiga, ibu juga beruntung sudah melahirkan mereka bertiga tapi ibu masih langsing dan muda begini, apa sih bu rahasianya, ibu baru punya dua anak sudah melar begini" tanya ibu itu lagi.
Dilla nggak tau harus jawab apa, pertanyaan ibu itu sudah terlalu jauh.
"Mbak silahkan antrian selanjutnya"
"Permisi ya bu, sudah giliran saya"
"Ah iya bu, silahkan" ibu itu sedikit merasa kecewa.
Untung saja tukang kasir sudah memanggil Dilla sehingga Dilla bisa mengelak dari pertanyaan ibu itu.
Setelah membayar mereka langsung pulang ke rumah. Dilla meminta tolong ke pak Jaka untuk membawa belanjaan ke dalam dan memberikan kepada bi Imah. Nanti bi Imah yang akan merapikan belanjaan Dilla di dapur. Sedangkan snack punya Reza dan Rafa masih di tangan mereka. Mereka mau pegang sendiri katanya. Biar langsung di buka pas sudah sampai di rumah.
"Ayo rafa kita buka snack nya" kata Reza.
"Iya Reza, ayo kiya buka"
Begitu pantat mereka bersentuhan sama sofa mereka buru buru membuka snack masing masing.
Dilla yang melihat nya hanya bisa menggelengkan kepala. Padahal hampir tiap hari mereka makan cemilan. Tapi ngak pernah bosan. Biasanya mereka hanya makan cemilan buatan rumah tapi sekali kali mereka juga membeli cemilan ringan di supermarket biar ngak makan itu itu aja. Beli snack di luar juga nggak boleh banyak banyak karena nggak baik bagi kesehatan anak anak yang banyak mengandung bahan pengawet dan msg.
"Omy Liyo uga mau nek nek"
"Kan Rio tadi sudah makan banyak di supermarket"
"Uuhhhhh Liyo mau agi omy"
"Rio nggak baik makan banyak snack, lagian tadi Rio banyak makan coklat, nanti Rio bisa sakit gigi sayang"
Rio cemburu melihat abang abang nya yang begitu antusias makan nya.
"Ini buat Rio, jangan banyak banyak ya" Reza memberikan snack bagiannya untuk Rio.
"Ini ambil punya abang Rafa juga"
Rio senang di tawari snack.
"Rio hanya boleh ambil sepotong ya, abang Reza dan Rafa memang baik mau membagikan sama Rio, tapi Rio nggak boleh makan banyak snack lagi, habis makan snack itu Rio harus sikat gigi terus"
"Iya omy" rio tetap makan snack itu walaupun hanya sedikit.
"Kalian lanjut makan saja ya, mommy mau bantu Rio sikat gigi dulu, biar nanti nggak sakit gigi, sekalian mommy mau memandikan Rio"
"Baik mommy" sahut mereka barengan.
"Nanti kalian siap makan juga harus langsung mandi juga ya"
"Iya mommy"
Dilla pergi naik ke lantai dua mau membersihkan gigi Rio sekaligus mau memandikan Rio, hari sudah sore.
"Reza ayo kita gantian, aku mau coba punya kamu, nanti kamu makan punya aku"
"Baik, sini punya kamu, ini punya aku"
Mereka makan dengan secara bergantian sampai habis satu bungkus. Setelah siap makan mereka langsung naik ke atas mau mandi.
Bersambung...