Nanny And Duda

Nanny And Duda
Bab 101. Pamit Part 4



Daffa, Reza, Rafa dan Rio baru saja kembali dari pantai, mereka berpapasan sama yang lainnya di teras rumah. Dilla yang melihat Rio, Reza dan Rafa yang mendekat merasa sedih. 


Rio segera minta turun dari gendongan Dafa dan berlari ke arah Dilla, Dilla segera menyambut pelukan dari Rio.


"Kalian sudah puas mainnya?" tanya Rita.


"Sudah Nenek," jawab Reza dan Rafa.


"Omy ayo tita alan alan," ajak Rio.


Dilla mengusap pipi Rio pelan-pelan. Dia mau mengingat momen seperti ini. Hal ini tidak mungkin terjadi lagi.


"Maaf sayang, mungkin Mommy tidak bisa menemani Rio untuk bermain lagi," kata Dilla lirih.


Rio memiringkan kepalanya tanda dia tidak mengerti apa maksud perkataan Dilla.


"Omy ndak mau main agi cama Liyo?" tanya Rio salah paham.


Rio langsung sedih seketika.


"Bukan begitu maksudnya Mommy, Mommy harus segera pulang kampung," jawab Dilla.


"Omy mau te tanpyung, Liyo itut ya Omy. Liyo mau alan alan te tanpyung Omy" pinta Rio.


"Reza juga mau ikut mommy, reza juga mau ke kampung mommy," sahut reza.


"Kalian tidak bisa ikut, kalian di sini saja ya, sama Papa dan lainnya."


"Ndak mau, ndak mau," tolak Rio keras dengan air mata yang sudah keluar.


Dilla berusaha keras menahan air matanya agar tidak keluar.


"Kenapa kami tidak bisa ikut, kami mau sama-sama Mommy terus," sambung Reza yang hampir menangis.


"Reza, Rio sudah ya, Mommy tidak bisa mengajak kalian, karena Bibi nya Mommy sedang sakit. Jadi kalian tidak boleh ikut nanti bisa jauh sakit juga," Rita mencoba membantu Dilla.


Reza yang sudah sedikit besar bisa sedikit memahami situasi, dia juga tidak rela jika Dilla pergi. Tapi beda halnya dengan Rio yang masih kecil.


"Ndak mau, Liyo itut Omy, bial Liyo atit aca acal cama omy," bantah Rio.


"Rio, Rio tidak boleh bicara begitu, Mommy tidak suka Rio sakit," tegur Dilla.


"Liyo ndak uli, acal Liyo ica cama Omy," rengek Rio.


Rio sudah memegang erat leher Dilla, supaya Dilla tidak kabur. 


"Rio apa tega melihat Mommy sedih, Mommy akan sedih kalau lihat Rio sakit," kata Dilla dengan meneteskan air mata.


Dilla sangat tersentuh dengan kasih sayang anak asuhnya. Dia tidak bisa membendung air matanya yang mencoba menerobos.


Rio melepaskan pelukannya dan menatap Dilla, dia ikutan sedih saat melihat sang Mommy sedih. Rio menghapus air mata Dilla dan sekali jali menghapus air manya sendiri.


"Omy angan angis ya, Liyo ndak tan atit, liyo tan uwat," hibur Rio.


"Jadi Mommy bisa pulang kan?" tanya Dilla lagi.


"Ndak boleh ulang, Omy alus cama Liyo," jawab Dilla keras.


Dilla memutar otaknya agar bisa membujuk Rio.


"Kalau Mommy saat ini sakit terus Rio ada di rumah dan Papa melarang Rio pergi bagaimana?" pancing Dilla. 


"Liyo atan cali Omy, Liyo ndak mau engal Papa, papa ahat," geleng Rio. 


"Sekarang orang tua mommy lagi sakit di kampung, apa mommy ngak boleh pulang juga, kan kata rio papa jahat tadi," kata dilla memutarbalikkan kalimat rio.


"Liyo mau cama omy," 


"Rio kan masih ada papa dan lainnya juga. Apa rio nmtidak kasihan sama mommy, mommy lagi mengkhawatirkan keadaan orang tua mommy, apa rio mau jadi orang jahat,"


Rio menggeleng lemah.


"Jadi biarkan Mommy pulang ya?"


Rio diam, dia tidak mengiyakan dan tidak melarang. Dilla yang sudah mendapat respon positif dari Rio segera berpamitan sama yang lainnya.


Mereka juga merasa kehilangan atas kepergian Dilla. Dilla sengaja menahan diri untuk tidak menatap ryan lagi karena takut semakin sesak.


Sedangkan Ryan menatap Dilla dengan lekat tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun. Hati Ryan berteriak mencegah kepergian Dilla, tapi tubuhnya yang menahan semua itu.


Rio memegang kembali tangan Dilla saat Dilla mau naik taksi.


"Omy anji ya, angan ulang lama. Liyo atan tunggu Omy," kata Rio penuh harap.


"Iya Mommy harus balik lagi, Reza juga akan menunggu Mommy pulang," sahut Reza.


"Mbak jangan oergi lama-lama ya," sambung Rafa yang mendekati Dilla.


Rafa dari tadi memeluk kaki Jelita saat Dilla berpamitan. Rafa juga ingin mencegah kepergian Dilla.


Dilla segera merengkuh ketiganya dalam satu pelukannya. Mereka berempat menangis bersama. Yang melihatnya juga ikutan menangis. 


Ryan yang tidak tega  sama Rio segera mengambil dan mengendong Rio setelah kepergian Dilla.


Rio menangis histeris saat mobil Dilla telah menghilang, ryanbtaybjika anaknya berpura-pura kuat di depan Dilla. Reza dan Rafa juga menangis tapi tidak sehisteris Rio.


***


Setelah mengambil koper dan berpamitan sama Pembantu lain, Dilla segera berangkat ke stasiun kereta api di antar sama Pak Jaka.


Dilla duduk termenung sambil mengenang masa bersama Rio dan lainnya.


"*Oh maksud Rio Mommy ya."


"Omyyy…."


"Sekarang coba panggil Mbak Dilla ya sayang Emmm... baaak... Diiilll... laaa…."


"Omyyy...."


"Bukan Mommy sayang, Emmm... baaak... Diiilll... laaa…."


"Omyyy…."


"Ejaaa…."


___


"Tidak ini Mommy, Mommynya Rafa." 


"NDAK NI OMY LIYO DAN BANG EJA...."


"MOMMYNYA RAFA*…."


Masih banyak kenangan lain Dilla bersama yang lainnya. Dilla juga ingat pertemuan pertama sama Ryan dan kenangan lainnya.


"*APA YANG KAU LAKUKAN HAHHH."


"Menjemur."


"KAMU PIKIR SAYA KAIN JEMURAN, BAWA SAYA KE TEMPAT SEMULA."


___


"Ternyata benar kamu suka memeluk saya."


"Tuan…."


"Omyyy…."


"Mommy itu anaknya panggil, sudah ngantuk."


___


"Peyuk…."


"Rio, Mommy itu lebih suka memeluk Papa dari pada Rio, ini buktinya."


"Uwahhh... yukkk... Yo au yukkkk uga…."


"Rio jangan ditarik tarik dong, nanti Mbak Dilla sama Papa Rio bisa jatuh*."


____


Kring kring kring


Suara telpon menyadarkan Dilla dari dunia melamun. Dilla segera mengangkat telpon.


"Hallo Nak," panggil Paman Dilla.


"Iya Paman," sahut Dilla.


Dilla menghapuskan jejak air matanya.


"Keadaan Bibi sudah baikan, Bibi sudah siuman. Maaf ya jika Budi menggangu kerja Nak Dilla," ucap Paman Dilla tidak enak.


"Tidak apa apa kok Paman, Dilla kan juga mau pulang, jadi sekalian pulang saja," ujar Dilla.


"Sekarang kamu di mana?"


"Dila sudah di kereta Paman, nanti sore Dilla akan turun di stasiun kota kita," beritahu Dilla.


"Ya sudah kalau gitu, kamu hati-hati ya, nanti biar Paman suruh Nak Danang yang jemput kamu," ujar Paman.


"Tidak usah Paman, nanti merepotkan Bang Danang, Dilla bisa pulang sendiri," tolak Dilla.


"Kamu ini anak gadis Nak, tidak baik pulang sore sendiri, kamu akan sampai di rumah saat malam. lagian apa salahnya jika Nak Danang jemput kamu, dia kan calon suami kamu."


"Iya paman" sahut Dilla lemah.


"Ya sudah ya, Bibi sudah memanggil Paman."


"Iya Paman."


Dilla mematikan telepon dan menggenggam erat HP miliknya.


***


"Sudah Rio jangan menangis lagi," ujar Rita yang memeluk Rio.


"Liyo angen Omy Nek hiks hiks," jawab Rio di sela menangis.


"Kan baru tadi berpamitannya," kata Aditya.


"Api Liyo dah angen tek," jawab Rio lagi.


Mereka hanya bisa menenangkan Rio sampai Rio tertidur karena kelelahan. Ryan segera mengambil alih Rio dan membawa Rio ke kamar. Ryan mengusap pelan rambut Rio dengan hati-hati.


"Kemana Reza dan Rafa?" tanya Ryan yang tidak melihat Reza dan Rafa lagi.


"Mereka sudah Mama suruh istirahat, mereka pasti capek dan lelah," jawab Rita.


"Sekarang bagaimana acara jalan-jalannya. Mereka bertiga pasti tidak berminat lagi, terutama Rio," ucap Aditya.


"Lebih baik kita pulang saja Om, buat apa kita masih di sini tapi suasananya begini," usul Jelita.


"Itu terserah keputusan kita semua, kita sepakat dulu," sahut Aditya.


Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang kembali. Rio, Reza dan Rafa sudah tidak bersemangat lagi. Setelah turun dari mobil Rio segera berlari masuk, langkah Rio segera menuju ke kamar Dilla. Ryan mengikuti langkah Rio karena dia khawatir. Ryan bisa melihat Rio yang kembali berbaring di kasur yang ditempati Dilla.


'Dilla, apa kamu lihat seberapa besar pengaruh kamu dalam kehidupan anak-anak aku. Sekarang kamu pergi meninggalkan mereka.'


Ryan mendekati Rio dan menggendong Rio kembali ke kamar Rio sendiri.


'Kalian harus bisa melupakan Mommy Dilla, karena Mommy kalian itu tidak akan pernah kembali lagi ke sisi kalian. Kalian harus menjadi anak yang kuat.'


Setelah mencium kening Rio Dilla segera kembali kekamarnya sendiri.


Bersambung….